
Silvie sudah menceritakan secara detail bagaimana bisa Ia terluka seperti ini tanpa di kurangi ataupun dilebih-lebihkan.
Silvie hanya ingin terbuka dengan Exel, seperti keadaannya sekarang. ya, wanita itu dalam keadaan terbuka, tidak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. bahkan Dokter perempuan yang ingin menangani lukanya langsung urung masuk begitu melihat keduanya di dalam sana. dimana Exel tampak telaten membersihkan luka di sekujur tubuh Silvie.
Silvie tetaplah Silvie, wanita yang selalu kalah selangkah di banding dua sahabatnya jika membahas ketangguhan. setelah mengetahui ternyata sekujur tubuhnya terdapat banyak sekali luka, tentu saja mode manjanya langsung on, apalagi di hadapan Exel, wanita itu langsung meringis berlebihan.
" Diem Sil, biar di bersihin dulu. bahaya kalo kena karat.. bisa tetanus. " omel Exel yang tengah membersihkan luka-luka tersebut menggunakan kain kasa dan cairan antiseptik yang tersedia di sana.
Walaupun melakukannya dengan hati-hati, tetap saja Silvie meringis hingga membuat Exel malah terkesan tega dan tak berperasaan. ya, semakin Silvie meringis, semakin tega juga Exel melakukannya.
" kenapa gak sama dokter aja sih.. " ucap Silvie di tengah rintihannya.
sementara Exel bukannya menyahuti, pria itu malah semakin menjadi dan sesekali tangannya nakal menoel sesuatu yang sensitif di area dada Silvie hingga istrinya itu memajukan bibirnya sebal.
" udah sama dokter aja.. panggil sana, abang mah gak beres-". seketika Silvie bungkam, Dia seolah susah untuk bernapas, dan menelan ludahnya kepayahan kala mendapat tatapan dari Exel yang sangat sulit sekali untuk di artikan.
" ma, ma, mau ngapain.. " ucap Silvie gelagapan ketika wajah Exel semakin dekat dengan wajahnya membuat wanita itu merasa jantungnya ingin loncat keluar.
Exel, bagaimanapun juga Dia seorang pria normal. disuguhi pemandangan seperti itu, tentu saja jiwa kelelakiannya berontak. apalagi sudah sekian lama hasratnya tak tersalurkan.
" siapa yang goda duluan, hemm? "
ceklek.. Dokter datang membuat aksi dua insan itu terhenti.
Exel menoleh dengan mendengus kesal, bahkan Silvie bisa mendengar helaan napasnya yang kasar. sementara Silvie, wanita itu langsung menghela napas lega, nasib beruntung masih berpihak kepadanya. segera Ia menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum dokter tersebut melihatnya.
" maaf Tuan, kalo belum selesai saya keluar lagi-"
" hmm, sepertinya istri saya lebih membutuhkan dokter, daripada percaya sama suaminya sendiri.. " sahut Exel dingin.
" eh gak gitu konsepnya bang.. " protes Silvie. namun Exel tidak menggubris lagi, suaminya itu bahkan langsung keluar dari ruangan tersebut.
...****...
Sementara di ruang perawatan Grace,
Leo sedang menatap Grace yang sudah terlelap. padahal Ia ingin sekali alias tidak sabar mengajak Grace berbincang. sayangnya istrinya itu mengeluh mengantuk hingga tidak bisa mendengarkannya bercerita.
__ADS_1
cup.. satu kecupan mendarat di kening Grace.
" cepet pulih istri tercantikku.. " bisik Leo lembut.
kemudian Leo keluar dari ruangan itu untuk mengantar Deti bersama yang lainnya sampai ke depan lobby rumah sakit tersebut.
" Gracenya jangan di paksa sayang, pelan pelan aja ngobrolnya. istrimu masih pemulihan.. " ucap Deti sambil menepuk bahu Leo. wanita itu ingat betul apa yang di sarankan oleh Dokter, jika menantunya belum pulih sempurna. dan sangat di sayangkan jika kejadian tadi akan di ulang kembali, dimana Leo malah mengajak Grace untuk berdebat.
" hmm.. "
" ck.. gak like, susah ngomong sama kamu mah.. " ucap Deti sewot.
" itu mobilnya udah dateng.. " ucap Leo kala mobil yang menjemput ibunya sudah tiba di depan lobby.
" hmm.. "
" mah.. " protes Leo. bisa-bisanya Ibunya itu cosplay ala dirinya.
" enak gak di gituin.. " celetuk Deti mendelik sebal. sementara Lilis dan juga Ratna, keduanya menunduk menahan kekehan agar tidak terdengar oleh sang majikan.
Leo diam tak menyahuti, pria itu lebih memilih mencium kedua anaknya yang sama-sama sudah terlelap.
Leo kemudian beralih ke bayi cantiknya, " cantiknya papi jangan rewel yah, bentar lagi papi bakalan ajak mami pulang, oke.. " bisiknya lembut seraya mengecup pipi bayinya.
" kalo gitu kita pulang dulu, kalo ada apa-apa jangan lupa kasih kabar-"
" mamah ngarepin ada apa-apa gitu? " sela Leo ketus membuat Deti memutar bola matanya jengah. sensitif sekali putranya itu.
" ck, udahlah kuy cabut.. "
sontak Lilis dan Ratna sudah tidak bisa lagi menahan kekehannya kala mendengar ajakan dari majikannya ala-ala anak jaman now itu.
" kuy nyah.. " sahut Lilis diangguki Ratna yang sama polosnya.
Leo masih bertahan menatap kepergian mobil tersebut sampai hilang dari pandangannya. kemudian Ia kembali masuk ke dalam rumah sakit itu untuk menjaga istrinya lagi.
Di tengah langkahnya, ponselnya berdering menerima panggilan telepon dari Bram ayah mertuanya. tadi Dia sudah memberi kabar tentang kondisi Grace kepada mertuanya. namun sayangnya mereka saat ini sedang berada di luar kota.
__ADS_1
" hmm, iya Dad gak papa, tadi Leo juga udah bilang sama Grace kalo Daddy sampainya besok.. "
".......... "
" iya, hati-hati di perjalanan Dad.. "
Setelah menutup panggilannya, Leo kembali melanjutkan langkahnya. tiba-tiba dia teringat akan istri sohibnya yang melahirkan di rumah sakit itu juga. Dia belum sempat melihat kesana karena terlalu sibuk menyambut Grace.
" gue liat bentar deh, mumpung si Grace juga lagi tidur.. " gumamnya pelan. bagaimanapun juga Ari sohibnya sudah meluangkan waktu untuknya. dan ini saatnya Dia membalas menjenguk istri sohibnya itu sebagai bentuk kesolidaritasan.
lantas Leopun memutuskan pergi ke bagian administrasi untuk mengetahui dimana ruangan Megan. sengaja Ia tidak menanyakannya kepada Ari melalui telepon, mengingat ponsel sohibnya itu memang tidak bisa di hubungi karena kehabisan daya. tetapi ada satu tujuan yang hendak Leo lakukan ke bagian administrasi itu, apalagi kalau bukan mengambil alih untuk melunasi tagihan sohibnya. kedermawanan pria itu memang tidak bisa diragukan lagi.
" si kamprett masih disini ternyata, itu lagi.. ngapain ribut sama cewek.. " gumamnya heran kala melihat sosok Exel yang tampak sedang berdebat dengan salahsatu bagian administrasi.
" biar sama saya aja mba, tolong di cancel.. " ucap Exel kekeh.
" mohon maaf Pak, tidak bisa-"
" kenapa gak bisa? saya masih mampu bayar.. "
" bukan gue doang ternyata yang keduluan, si kamprett juga.. ck kasian.. " gumam Leo terkekeh pelan memperhatikan perdebatan Exel. Leo pikir jika sohibnya itu berniat sama seperti dirinya yang akan melunasi tagihan Ari. sebab Dia tahu betul memang kedua sohibnya itu tak kalah murah hati daripada dirinya.
melihat petugas itu tampak ketakutan, lantas Leopun segera menghampiri ke sana untuk melerai dan menghentikan perdebatan itu.
" ngapain sih El, gak malu lo di liatin orang.. " ucapnya sambil menepuk bahu Exel membuat sohibnya itu menoleh terkejut.
" Le.. " sahut Exel menunduk gugup. sebelumnya Leo belum mengajaknya berbicara sekalipun sohibnya itu tidak menunjukkan sikap dendamnya selama di ruangan Grace tadi.
" ngapa lo ngotot banget El, kalo udah di bayar biarin aja, lagian si kunyuk juga keberatan kali kalo di bayarin.." ucap Leo berlagak menasehati, padahal dia sendiri juga berniat sama. tetapi Dia kembali berpikir jika Ari memang akan keberatan jika mereka harus terlibat melunasi tagihannya. terlebih pria itu sudah mengumpulkan dana sebelumnya.
sementara Exel mendongak tercengang mendengar itu. Kepalanya langsung menggeleng dengan mulutnya yang menganga, Dia ingin menjelaskan sesuatu tetapi seolah tertahan.
" lo gak mau kan kalo si kunyuk kesinggung.. dia udah nabung abis-abisan buat lahiran bokinnya.. " Lagi-lagi Leo berlagak menasehati Exel membuat sohibnya itu menggeleng cepat.
" bukan, gue bukan mau bayarin si kunyuk Le.. "
" terus mau bayar tagihan siapa, sampe lo berdebat sama cewek.."
__ADS_1
" bini gue Le, bisa-bisanya gue keduluan si Tua bangka.. "
" hahh..? "