
Grace memajukan bibirnya kesal terhadap Leo yang langsung bersikap berlebihan. Suaminya ini mengajak Grace untuk segera memeriksakan dirinya ke dokter.
Satu hal lagi yang membuat Grace kesal, Leo mengajaknya langsung pergi dari kedai milik Ari, padahal dia belum puas menyantap makanan lezatnya. terlebih Leo dengan sengaja memesan taksi online untuk mereka pergi dan meninggalkan motor Grace di sana.
Leonard nyebelin. sepanjang perjalanannya Grace terus saja menggerutu kesal, dia lebih suka menaiki motornya.
Grace memilih memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, Dia nampak sibuk memandangi langit yang sebentar lagi akan gelap. semua yang dilakukan wanita itu tak luput dari perhatian Leo yang sedari tadi melirik kearahnya.
" apa kita periksa ke tante Ester aja..? " tanya Leo mencoba memecahkan keheningan.
" terserah.. " jawab Grace singkat. Dia nampak tak minat untuk sekedar menengok ke arah Leo.
Leo meraih tangan Grace untuk digenggamnya, " kalo dugaan lo bener.. gue seneng banget Grace.."
deg.. Grace terdiam. dia tak berani menyahuti Leo. ucapan pria disampingnya terdengar penuh harap.
Grace menghela napas panjang dan kembali memilih pura-pura sibuk menatap jalanan. Dia mengutuk ucapan bodohnya tadi. Grace merasa bersalah sudah membuat harapan untuk suaminya.
ting..ting..ting.. pesan beruntun masuk di ponsel Leo.
lantas Leopun membuka layar ponselnya. matanya melebar, Ia nampak menelan ludahnya kasar kala membaca pesan beruntun dari kedua orangtuanya yang menanyakan keberadaan dirinya bersama Grace.
bahkan Bram ayah mertuanya pun turut menghujani pesan untuknya. setahu Leo mertuanya itu sedang berada di luar negeri, kenapa sekarang tiba-tiba sudah di rumahnya.
Leo mengeraskan rahangnya, Dia harus siap menerima apapun yang akan di lakukan mereka terhadapnya nanti.
Leo melirik sekilas ke arah Grace, istrinya itu masih saja mengacuhkannya. Seringai di wajahnya kala mendapat ide bagus yakni jurus Exel sohibnya yang mampu membungkam orangtuanya dengan kabar kehamilan Silvie.
Sepertinya Leo juga akan melakukan hal yang sama dengan sohibnya untuk membungkam rentetan pertanyaan orangtuanya nanti.
" Mudah-mudahan lo beneran hamil Grace.. " batinnya penuh harap.
Seketika Leo menggeleng membuang jauh ide bodohnya. Apa yang akan mereka katakan jika mengetahui dirinya membiarkan Grace berkelahi dengan beberapa pria jika benar istrinya itu tengah hamil.
Leo mengusap wajahnya kasar, sebelum mereka menyalahkan dirinya yang tak becus menjaga Grace, dia terlebih dulu mengutuk dirinya sendiri.
Grace menoleh ke arah Leo. Ia mengerutkan keningnya bingung, pasalnya pria itu baru saja terlihat bersemangat, namun kali ini Grace melihat Leo tengah gusar.
Kemudian Grace dengan cekatan meraih tangan Leo yang terlihat mengepal kuat.
sementara Leo langsung terkesiap dan menatap Grace yang juga menatapnya.
" kita pulang aja yah.. " Grace menjeda ucapannya bersamaan dengan Leo yang mengerutkan dahinya bingung.
" gue takut bikin lo kecewa, takutnya gue pehape in lo.. " ucap Grace dengan lirih seraya menunduk.
Leo menggeleng, lalu menangkup wajah Grace,
" apapun hasilnya nanti, gue terima ko Grace.. emang kita bisa apa kalo emang Tuhan udah berkehendak? yang penting kita periksa dulu yah.. "
Gracepun mengangguk setuju dengan bujukan Leo. setidaknya Leo tidak menuntut apapun hasilnya nanti, dan itu membuat Grace sedikit merasa lega.
...********...
Gadis malang yang mengalami kerumitan di hidupnya, kini tengah menunduk gugup di hadapan Wanita paruh baya. setelah melakukan pemeriksaan, Dokter itu mengajak Lolita berbicara empat mata.
Ester ibu dari Wilson kini tengah duduk di samping ranjang dan tak hentinya menatap gadis di hadapanya. Dia tak menyangka jika putranya akan secepat itu mengambil keputusan untuk menikahi Lolita.
Perasaan bersalah hadir di benak Dokter itu, selama ini dia terlalu menuntut putranya agar segera mendapat pendamping hidupnya.
Dia merasa jika tindakan Wilson yang tiba-tiba melamar Lolita merupakan akibat dari sikapnya yang terkesan menekan dan memaksa. terlebih saat mengetahui Leo keponakannya sudah beristri dan memiliki anak, membuat Ester menginginkan hal yang sama pada putranya.
mengingat usia Wilson sudah matang dan jauh dari Leo yang sudah memiliki pendamping hidup duluan, tentu Ester merasa iri dengan kehidupan keluarga Hendri yang terlihat lengkap itu.
akan tetapi entah mengapa Ester malah tertarik dengan gadis di hadapannya untuk dijadikan sebagai menantu.
Putranya sudah menjelaskan serangkaian cerita mengenai masalah Lolita selama ini. dan Ia tidak keberatan sama sekali mengenai kisah gadis tersebut yang sempat terjerumus di dunia kejahatan.
Bahkan Ester tidak mempermasalahkan asal usul gadis tersebut. memang keluarga besarnya menanamkan sifat yang tidak pernah memandang status sosial.
" bagaimana nak..? Ibu tahu ini terkesan mendadak, tapi ibu bisa jamin kalo putra ibu itu anak baik dan bertanggungjawab.. "
glek.. kata " Ibu " membuat Lolita merasa terenyuh. sudah lama dirinya tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu. Lolita di paksa oleh keadaan yang membuatnya bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga.
Lolita tidak menampik apapun yang di ucapkan Ester padanya. memang semuanya benar adanya. hanya saja Lolita merasa tidak pantas jika harus masuk ke dalam lingkungan keluarga yang kastanya sangat jauh dengan dirinya.
" maaf dok.. "
" panggil saja Ibu.. "
__ADS_1
glek.. " eh iya bu.. maaf, saya rasa.. saya gak pantes buat putra Ibu, saya sadar saya ini siapa.. "
gadis itu terus saja menunduk. pikirannya kembali bergelut, disisi lain dirinya merasa tidak pantas, akan tetapi Dia juga tidak enak mengingat kebaikan dan ketulusan Wilson bersama ibunya itu.
huhh.. bukankah Dia berhak memberi keputusan..?
Ester meraih tangan Lolita dengan lembut membuat gadis itu mendongak dengan gugup. seulas senyuman terbit di bibirnya kala menatap manik mata Lolita yang terlihat menyejukkan. apa mungkin putranya juga merasakan yang sama ketika menatap mata indah itu, mungkin itu alasan putranya tertarik dengan gadis polos ini.
" dengar ibu nak.. Ibu gak masalah darimana asalmu, selama itu pilihan terbaik putra Ibu.. Ibu akan menerimanya dengan lapang.. "
Ester terkekeh pelan melihat raut wajah Lolita yang memerah malu sebab ditatap olehnya.
" Ibu bersyukur kalo akhirnya putra Ibu bisa segera menikah. selama ini anak itu selalu sibuk sama kerjaannya sampe lupa sama masalah pribadinya.. "
Ester menjeda ucapnya lalu menghela napas panjang. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya. namun egonya untuk memiliki menantu begitu kuat saat ini. selama ini Ester merasa kesepian setelah ditinggal pergi sang suami untuk selamanya begitupun dengan Wilson yang harus melanjutkan pendidikan di luar negeri.
" kamu berhak ngambil keputusan apapun, Ibu tidak keberatan kalo kamu menolak putra Ibu, dan itu gak bakalan ngubah rasa suka Ibu sama kamu nak.. "
ucap Ester dengan lirih. Dia terlalu mengharapkan kehadiran anggota baru di kehidupannya. Cucu, kata itu selalu terngiang-ngiang dibenaknya.
" Bu.. "
" eh iya.. kenapa nak..?" Ester terkesiap dan langsung menyeka air mata yang tiba-tiba jatuh barusan.
Lolita menghela napas dalam-dalam,
" apa boleh saya memeluk Ibu..? " ucapnya ragu. Dia tidak memikirkan tanggapan Ester nantinya, gadis itu terlalu rindu dengan sosok seorang Ibu yang ada pada diri Ester sekarang.
deg.. Lolita terbelalak, Ester memenuhi keinginannya. wanita itu memeluknya dengan erat.
.
.
.
" tante.. periksa yang akurat.. " suara seseorang yang tergesa membuat Ester mengurai pelukannya. Dia beralih menatap pria itu dengan kesal sebab sudah merusak momen hangat barusan.
" akurat apaan Leo.. ngomong yang jelas.. " sahutnya.
" tau..udah nyelonong, ngomong gak jelas.. " celetuk Grace yang baru saja menemukan suaminya.
Ester melongo tak percaya, sebelum akhirnya menggeleng menetralkan ekspresinya.
" yaudah, ayo sayang ikut tante.."
" disini aja tante.. " sahut Leo tidak sabaran.
Ester hanya mengangguk pasrah, kemudian mengambil peralatan untuk memeriksa Grace.
akurat, sesuai permintaan keponakan kurang ajarnya, Ester pun memberikan alat tes kehamilan kualitas tinggi dengan tingkat keakuratannya mendekati seratus persen pada Grace.
" bukannya bagusan pagi habis bangun tidur yah tan..? " tanya Grace.
" coba aja dulu sayang.. udah gih.."
Grace mengangguk patuh, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mengetes alat tersebut pada urinnya.
" ngapain lo ikut..? " tanya Grace geregetan dengan Leo yang turut masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
" gue orang pertama yang harus nyapa anak gue.. " sahut Leo santai.
Grace berdecak kesal, Leo benar-benar mengharapkan dirinya hamil. padahal belum tentu akan hasilnya nanti.
Grace pasrah dan malas jika harus berdebat dengan Leo. terlihat Grace begitu cuek buang air kecil di hadapan Leo yang antusias mengamatinya.
" biar gue aja Grace.. " ucap Leo menyambar alat tes kehamilan dari tangan Grace.
Leo begitu antusias mencelupkan alat tersebut ke dalam gelas berisi air urin istrinya tanpa ada rasa jijik sama sekali.
deg..
deg..
deg...
" Hay.. cantiknya papi.. "
plak..
__ADS_1
Grace yang terbelalak melihat hasilnya, tiba-tiba di kejutkan dengan ucapan Leo yang mengelus perutnya. bisa-bisanya Leo dengan mudah mengira jenis kelamin calon anaknya.
padahal umurnya saja belum di ketahui, lebih tepatnya kebenarannya pun belum tepat. Dia akan meminta Ester untuk memeriksanya secara menyeluruh.
klek...
" gimana Grace..? " Wilson tiba-tiba sudah berada di depan kamar mandi tersebut.
" ck.. woless dong.. " sahut Leo sewot.
Leo mengacungkan alat tersebut tepat di depan wajah Wilson. Dia menaikturunkan kedua alisnya seraya tersenyum bangga.
Leo menepuk bahu Wilson yang masih terpaku, " segerakan brooo..!!! " ucapnya dengan nada mengejek.
Wilson berdecak kesal
" periksa dulu Grace, takutnya kenapa-napa, secara lo abis baku hantam.. " ucapnya pada Grace, namun pandangannya tertuju untuk sepupunya.
deg.. Leo menelan ludahnya paksa. Dia menoleh ke arah Ester, menatapnya penuh harap.
" tante.. please.. jangan bilang sama mama papa.."
" gak usah pasang muka kayak gitu anak nakal.. " sahut Ester ketus. akan tetapi bibirnya bergetar menahan tawa melihat ekspresi gemas dari keponakannya.
.
.
.
.
Setelah melakukan pemeriksaan yang menyeluruh dan mendapat hasil yang akurat yakni Grace benar tengah hamil, merekapun memutuskan untuk segera pulang membawa kabar gembira.
Keduanya kembali memesan taksi online setelah menolak Wilson yang menawarkan mobilnya.
Leo mengusap perut Grace, " cantiknya papi.. "
deg.. Leo mendongak terkejut kala mendengar Grace tiba-tiba terisak.
" lo dari tadi cantik cantik mulu.. "
Leo langsung menggeleng dan menyela ucapan Grace.
" tau.. gue juga tau Grace kalo belum ketahuan jenis kelaminnya. bukannya ucapan adalah doa yah.. bukan gue gak nerima apapun nantinya. cuma, gue berharap kalo anak kita ini cewek, biar lengkap.."
Grace menggeleng dan masih terisak. Dia setuju dengan harapan Leo, akan tetapi entah mengapa Grace merasa Leo tak peka terhadap perasaannya.
" cantik cantik mulu.. gue yang cantik buat lo Leonard.. "
Leo terkekeh merasa gemas dengan Grace yang menangis hanya karena pujian cantik bukan untuk dirinya saja.
Dia membawa Grace ke dalam dekapannya " hmm.. istriku selalu cantik.. " ucapnya seraya mengecup kepala Grace.
merasa tidak ada pergerakan dari Grace, Leopun mengangkat kepala Grace yang bersembunyi di dadanya.
Leo menggeleng tersenyum, secepat itu istrinya terlelap di dekapannya. Dia mangut paham, rupanya tingkah manja dan cengeng Grace akhir-akhir ini mungkin efek kehamilannya.
.
.
.
.
.
" bangun Grace.. "
Leo menggoyangkan bahu Grace berulang kali.
Grace mengerjapkan matanya " eh udah sampe yah.. "
Langkah keduanya terhenti kala melihat mobil berjejer di halaman rumahnya.
deg..
" Daddy.. "
__ADS_1