Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 144


__ADS_3

" cantiknya mami gemoy banget yah.. " Grace menatap haru baby Gwen yang sudah terlelap di pangkuannya. rasa rindunya sangat terobati, tetapi ada perasaan bersalah juga si hatinya. dimana Ia merasa gagal menjadi ibu yang sempurna untuk putri kecilnya, Dia tidak bisa menyusui layaknya ibu-ibu pada umumnya.


Grace tersenyum ketir dengan wajahnya yang memerah. dan Leo seolah paham dengan apa yang dirasakan istrinya itu.


" Gwen cantik kayak maminya.. " ucapnya pelan seraya mengusap punggung Grace. Leo kemudian mengambil bayi itu dan meletakkannya di ranjang.


" mimpi indah cantiknya papi.. " bisiknya pada bayi itu. " mami juga harus istirahat hemm.. " ucapnya sambil menoleh ke arah Grace yang masih duduk di pinggiran tempat tidur.


Grace mengangguk tersenyum melihat bagaimana cara Leo memperlakukannya juga Gwen dengan lembut. tetapi masih ada yang mengganjal di dadanya membuat Grace masih bisu terhadap suaminya itu.


" diminum dulu vitaminnya.. " ucap Leo seraya menyodorkan vitamin dan juga segelas air kepada Grace. Leo hanya bisa tersenyum kala Grace mengangguk dan menelan vitaminnya. walaupun belum ada sepatah katapun untuknya, tetapi setidaknya Grace masih mau menurutinya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi keduanya masih terjaga. tidak ada obrolan sama sekali di sana, tetapi Grace seolah membiarkan Leo melakukan apapun terhadapnya. seperti saat ini suaminya itu tengah mendekapnya dari belakang sambil mengelus rambut panjangnya.


" Grace.. " panggil Leo pada akhirnya. Dia bersuara dengan pelan agar putri kecilnya tidak terbangun.


" kenapa lo diemin gue terus, kasih tau gue kalo ada salah.. " lanjutnya di balik tengkuk Grace membuat wanita itu menggeliat karena helaan napasnya terasa menggelikan.


Leo menghela napasnya panjang kala kembali tidak mendapat jawaban dari Grace. beberapa detik kemudian suasana menjadi hening. tetapi ada sesuatu di bawah sana yang memberontak karena tak sengaja bersentuhan dengan kulit mulus Grace ketika istrinya itu menggeliat kembali.


oh shiiittt, bakalan di tolak gak yah.. Leo memberanikan diri untuk menggerakkan tangannya yang masih menempel di perut Grace.


" Grace, boleh gak..? " bisiknya yang mulai serak di balik tengkuk leher Grace.


tidak ada sahutan baik suara maupun gerak tubuh dari Grace membuat Leo tidak kehabisan akalnya. Dia sudah tidak tahan lagi untuk menuntaskan hasratnya itu. kemudian Leo dengan beraninya membalikkan badan Grace hingga wanita itu kini berposisi terlentang.


Leo menelan ludahnya kepayahan, serta merasakan debaran jantungnya terpacu hebat kala berhasil mengukung Grace. sementara wanita itu masih nampak tenang tanpa perlawanan.


tanpa bisa mengendalikan dirinya lagi, Leo kemudian memulai melancarkan aksinya dengan di awali menghujani wajah Grace hingga leher jenjangnya dengan kecupan. Leo terkekeh pelan kala mendengar lenguhan yang berusaha di tahan oleh Grace.


" lo boleh diemin gue, tapi buat sekarang.. gue minta lo kooperatif oke? " bisiknya sanbil meninggalkan jejak disana.


pertempuran pun terjadi, mereka melepaskan kerinduan dengan saling memberikan kehangatan di malam ini. dimana Grace benar-benar menuruti ucapan Leo untuk turut bekerjasama dan tidak menahan apa yang seharusnya keluar dari mulutnya.

__ADS_1


" gue harap setelah ini suara lo menggema kayak sekarang.. "


...***...


di waktu yang sama. berbeda dengan pasangan Leo dan Grace yang baru memulai permainannya, pasangan yang satu ini baru saja menyelesaikan tugas mulianya yang dimulai sejak petang tadi.


Silvie, wanita itu tampak kelelahan karena Exel sudah menghajarnya habis-habisan. memang sejak Dia sembuh dan luka lecetnya sudah kembali sedia kala, suaminya itu tidak pernah absen satu malampun untuk meminta haknya. terlepas dari rasa rindunya selama ini yang tertahan, Silvie mengiyakan ajakan tugas mulia itu sebab ingin segera memberikan anak untuk Exel.


" sekarang Silvie setuju kalo abang mau pasang AC... " ucapnya yang kini berada di dekapan Exel.


Exel mengangguk terkekeh pelan, Dia tahu jika setiap malam istrinya itu harus merasa kegerahan akibat ulahnya.


" hmm, besok abang beli sekalian pasang.. "


Silvie langsung membalikkan badannya menghadap Exel, Dia menatap manik mata pria itu lalu mengerjap lucu.


" jangan besok juga kali bang, kitakan harus nemuin si Grace, katanya dia udah balik.. "


jangan sekarang sekarang, si Grace lagi badmood kayaknya..


" gimana kalo entar aja bareng si Ari sama istrinya hemm? " ucap Exel hati-hati.


" ishh, gimana si bang.. Silvie gak papa kalo dari kemaren gak bisa ketemu sama si Grace, tapi kan sekarang udah di rumah, masa di tunda mulu sih..? " protes Silvie. Dia merasa sudah sangat siap untuk mengakui dosanya kepada Grace. dan tentunya dia ingin sekali bertemu dengan sahabatnya itu. apapun responnya nanti, Silvie akan menerimanya dengan lapang.


" bukan gitu Sil, kalo kita berdua kesana yang ada malah canggung, beda kalo di temenin sama mereka.. "


" gak bakalan canggung bang, tau sendiri kan si Grace gimana orangnya.. Silvie yakin ko kalo dia langsung nerima kita lagi kayak lakinya.."


" tapi abang besok harus ketemu sama supplier.. " Exel tidak bohong, besok memang dirinya ada kepentingan untuk mewakili Leo selama sohibnya itu fokus menjaga Grace.


" Silvie juga bukannya giliran jaga Ray yah, si Dila kan lagi ujian.. " lanjut Exel dengan membawa nama anak Ari dan Megan. nama pemberiannya khusus untuk anak sohibnya itu.


Reyner dengan arti penasehat yang kuat, sesuai dengan sikap yang ditunjukkan Ari ketika anaknya masih dalam kandungan. sering bijak menasihati dan kuat di bully. ck..

__ADS_1


" oh iya.. si Dila kan besok mulai ujian.. " sahut Silvie sambil menepuk jidatnya kasar membuat Exel terkekeh gemas.


Obrolanpun berlanjut tanpa membahas masalah Silvie yang tidak sabar menemui Grace, sampai jam menunjukan pukul dua belas malam, Silvie mulai menguap karena kantuk yang mulai menyerangnya.


" ck.. baru juga mau nambah, udah cari aman.." batin Exel terkekeh pelan kala melihat Silvie yang sudah memejamkan matanya.


kemudian Exel mengecup kening Silvie sebelum dirinya turut terlelap memeluk istrinya itu.


" good night.. besok malam kamar ini udah ada AC-nya.. "


...***...


keesokan harinya, Grace baru bangun dari tidurnya sekitar pukul tujuh pagi. wanita itu segera mencari keberadaan kedua anaknya. walaupun sekarang Ia tidak di repotkan dengan masalah menyusui bayinya, tetap saja sebagai seorang ibu, Grace juga ingin mengurus anaknya dengan baik.


Grace berdiri mematung di ambang pintu dapur yang menghadap ke arah kolam belakang rumahnya. Dia menatap pemandangan yang sangat hangat hingga mematik kehangatan juga didadanya. di gazebo tepi kolam sana, Lucio sedang menyantap makanannya sendiri dengan di awasi Leo yang tengah berdiri sambil menjemur Gwen.


" mami.. mami.. " teriak Lucio sambil mengetuk-ngetuk sendok di piringnya membuat Grace terkesiap, begitupun dengan Leo yang langsung menoleh ke arah istrinya itu.


Grace tersenyum dan langsung menghampiri mereka di sana.


" wah abang hebat maem sendiri.. " ucapnya sambil mengelus kepala Lucio. putranya itu tampak belepotan membuat Grace terkekeh, namun perasaan bersalah kembali menyerang dadanya. dia merasa si kecil terlalu dini untuk mandiri seperti ini, si kecil yang dipaksa berbagi semuanya dengan adiknya.


" mba kemana bang.. ko abang makan sendiri sih..? "


" abang mau nemenin adek berjemur, masa mbanya harus ikut.. nanti mami marah gimana yah bang.. "


" mau nemenin adek jemur, ya abang ikut berjemur juga lah, masa malah makan gini, mana belepotan.. "


" tapi abang udah laper mami.. "


Grace dan Leo terus saja saling menyahuti, dimana si kecil Lucio yang jadi perantaranya. bagi Leo itu sebuah peningkatan yang cukup dari istrinya. terlebih semalam Dia sudah mendapat yang lebih.


" oh yah, mami mau liat babynya aunty Megan gak..? kasian aunty Megan juga sakit keras sekarang.. "

__ADS_1


sontak saja Grace menoleh kearah Leo dengan mata yang melotot membuat Leo menelan ludahnya kepayahan.


" si Megan sakit? kenapa lo baru bilang Leonard..? "


__ADS_2