Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 117


__ADS_3

"good night boy, jangan rewel lagi yah dan jangan gocan kayak mami.. "


Leo membisikkan seraya berdoa kebaikan untuk si kecil yang sudah terlelap, lalu si kecil di letakan di ranjang miliknya. ranjang yang sengaja di pindahkan ke kamar mereka selagi pengasuh si kecil masih di kampung.


kemudian Pria itu melangkah menuju sofa sudut kamar. Ia melawati Grace yang tengah berbaring di tempat tidur, bahkan Leo tidak melihat raut wajah istrinya yang tengah cemberut.


" nyebelin.. " gumam Grace kesal.


Wanita itu menunggu sesuatu yang di janjikan Leo tadi di perjalanan. sayangnya Leo tidak peka. suaminya itu malah sibuk dengan laptopnya, membuka beberapa laporan di kantor juga bengkel yang kembali di ambil alih oleh Leo.


" ehem.. " Grace berdehem seraya menggoyangkan headboard. Dia mencoba mencari perhatian suaminya yang tengah sibuk itu.


berhasil. Leo langsung menoleh dengan tatapan herannya.


" gak usah nungguin, tidur duluan aja.. " ucap Leo. kemudian Pria itu kembali sibuk dengan laptopnya membuat Grace berdecak kesal merasa terabaikan.


" Leonard.. " panggil Grace menahan kesal.


" hemm.. " sahut Leo yang masih sibuk itu.


" lo lupa sesuatu.. "


" apa? minta di kelonin? tidur duluan aja, Cio aja tidur sendiri.. "


Grace berdecak kesal sebab Leo berbicara tanpa menatapnya. Leo memilih sibuk dengan pekerjaannya.


" bukan itu, tapi lo ngelupain niat lo yang tadi pas di jalan.. " sahut Grace sedikit manja.


Leo menghela napas seraya menutup laptop yang berada di pangkuannya. kemudian Ia menghampiri Grace yang hampir merajuk itu.


sementara Grace menelan ludahnya kepayahan ketika Leo menghampirinya. Grace semakin gugup kala Leo mendekatkan wajahnya. Dia tidak bisa menebak apa arti tatapan dingin suaminya itu. yang jelas saat ini Grace tidak kuat dengan ketampanan suaminya dari jarak dekat.


" apa yang udah gue lupain? " tanya Leo dingin membuat Grace mengerjapkan matanya berulang kali. Grace bisa merasakan hembusan napas suaminya itu.


" tadi katanya kalo udah di rumah mau pakein gue-"


Suara ponsel milik Leo yang berdering membuat ucapan Grace terjeda. keduanyapun dengan kompak menoleh ke arah nakas tempat dimana ponsel tersebut tergeletak.


Leo segera meraih ponselnya sebelum Grace menyadari siapa yang menghubunginya itu. Dia langsung melangkah menuju balkon untuk mengangkat panggilan tersebut.


Sementara Grace semakin kesal dengan Leo. suaminya itu malah memilih mengangkat telepon dari pada mendengarkan keluhannya.


" ada apa? " tanya Leo yang tidak suka berbasa-basi. Pria itu kini mendengarkan dengan serius apa yang di sampaikan orang di seberang sana.


" okeh, kalian atur aja. jangan sampai dia curiga, gue gak mau dia ngerasa gak nyaman.. "


" siapa Le..? "


deg..


seketika Leo menutup panggilan tersebut dan langsung mengantongi ponselnya kala melihat Grace yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengintimidasi.


" Siapa yang nelpon barusan? lo gak nyembunyiin sesuatu kan? lo gak selingkuh di belakang gue kan..? "


Leo menggeleng dengan cepat saat Grace melangkah mendekatinya.


" jawab Leonard. jangan bikin gue curiga.. " kini Grace menuding wajah Leo yang tampak panik itu.


cup.. kecupan singkat namun hangat mendarat di pipi Grace.


sialnya Grace tidak tersentuh. Dia malah semakin curiga terhadap suaminya.


" sini hape lo, gue mau tau siapa yang nelpon barusan.. "


Leo menggeleng menolak membuat Grace tidak menyerah. wanita itu kini menggeledah kantong celana Leo hingga akhirnya berhasil mengambil ponsel tersebut.


Grace mengerutkan keningnya kala melihat nama si penelopon barusan, kemudian Ia terkekeh pelan seraya melirik Leo yang kini berwajah masam.


" kenapa? papi masih cemburu? " ucap Grace dengan nada mengejek membuat Leo berdecak kesal.


" ya gue antisipasi aja, kali aja lo ngidam aneh lagi kayak dulu.. " sahut Leo sewot.


sementara Grace menggeleng terkekeh, " lo pikir tiap gue hamil ngidamnya bakalan sama? yak enggaklah, so.. papi gak usah lebay.."


Leo masih memasang wajah masam, tetapi Ia sedikit merasa lega mendengar ucapan Grace. sebelumnya Leo takut jika istrinya itu kembali terobsesi dengan orang yang menghubunginya barusan.


" btw.. kenapa tuh anak bisa nelpon lo? lebih tepatnya dia nekat sih.. "

__ADS_1


...***...


malam semakin larut.


Exel memutuskan untuk ikut bersama Iyan karyawan Ari sekaligus anak buahnya itu.


Sebelumnya Ari sudah mengajak Exel untuk tinggal di rumahnya atau di rumah Leo. tetapi Exel menolak dengan alasan lebih memilih ikut Iyan yang masih lajang daripada harus mengganggu keharmonisan keluarga mereka.


Exel tidak ingin membebani keluarga kecil kedua sohibnya. terlebih dengan Ari yang menjalani kehidupan sederhana membuat Exel mantap menjadikan Iyan yang masih lajang sebagai alasan.


.


.


.


Exel mengerutkan dahinya heran ketika tiba di tempat tujuannya. Ia turun dari motornya seraya melepaskan helm yang melekat di kepalanya.


" ini rumah lo yan? ko anak-anak juga pada di sini? rumah lo di jadiin markas? "


Iyan menggeleng terkekeh, baru kali ini dirinya mendengar Exel banyak bertanya.


" sebenarnya rumah gue di belakang situ bos " ucapnya seraya menunjuk gang kecil.


" jadi ini markas kalian? " tanya Exel seraya menunjuk beberapa anak Astro yang tampak menyambut kehadirannya.


Lagi-lagi Iyan menggeleng, " ini rumah sodara gue yang kerja di saudi bos, rumahnya kosong minta gue buat rawat ni rumah, jadi si bos bisa bebas tinggal di sini.. "


Exel magangguk paham. keputusannya ikut dengan Iyan tidak sia-sia, dia bisa tinggal sementara di rumah yang tampak nyaman itu.


" oke, gue bakal rawat ni rumah selama gue tinggal disini.. " ucapnya seraya mengamati rumah tersebut, rumah yang sederhana namun bersih juga nyaman membuat Exel yang baru melihatnya saja sudah betah.


" yaudah bos, kalo gitu gue ke rumah dulu. mau nganterin pesenan emak.. " ucap Iyan seraya mengangkat kantong berisikan makanan.


" gue ikut.. gue mau nyapa emak lo dulu, masa iya gue nyelonong tinggal disini.. " sahut Exel.


Iyan menggeleng cepat seraya menelan ludahnya kasar,


" tar dulu bos, si bos tunggu disini dulu sama anak anak.."


" yan.. " teriak Exel kesal melihat Iyan yang berlalu begitu saja meninggalkannya.


" kita cabut dulu bos.." celetuk Soni ketua Astro.


Exel menyerit heran, baru saja Ia tiba, mereka main pergi saja.


" lo pada gak tidur di sini? " tanya Exel heran.


" si bos istirahat aja.. kita mau ke markas dulu.. " sahut anak Astro sambil menaiki motornya masing-masing.


" terus ini gak pada lo bawa? " Exel menunjuk beberapa kantong belanjaan yang berisikan beberapa bahan makanan juga keperluan lainnya.


" itu sengaja buat si bos.. "


Exel menggeleng menolak, mendapat tempat teduh saja Ia merasa sangat cukup.


" jangan di tolak bos, ini gak seberapa kalo di bandingin sama kebaikan bos selama ini sama kita.. "


akhirnya Exel mengangguk tersenyum tipis. bagaimanapun juga Exel tidak mau mengecewakan mereka.


" okeh makasih semuanya, gue bakalan inget terus kebaikan kalian.. "


sontak anak Astro mengangguk tersenyum bahagia kala mendengar ucapan tulus dari Exel.


" kalo gitu kita cabut bos, si bos kalo ada perlu apa-apa jangan sungkan hubungi kita.. "


" oke.. "


...****...


Sementara Iyan kini tengah mendapat serangan bertubi-tubi dari Ibunya. beberapa perabotan rumah tangga melayang menghujani tubuhnya.


" lo nyolong duit dimana sampe bisa beli rumah depan? "


" dengerin Iyan dulu mak, gak enak di denger tetangga.. " Iyan berusaha membungkam mulut Emak, tetapi si Emak malah memukulnya dengan sapu.


" bodo amat tetangga denger juga.. emak udah kepalang malu kalo lo beneran ngerampok.. "

__ADS_1


" ya ampun mak, kecilin suaranya, ini udah malem.. mak udah Iyan beliin martabak masih ngoceh aja.. "


" oh jadi lo nyogok nih.. "


" ampun mak.. ampun.. " Iyan meringis kala mendapatkan jeweran di telinganya.


" mak inget si bos Leo kan? "


sontak emakpun menghentikan aktivitasnya, " Oppa yang beliin emak kebon itu kan? " tanyanya terbelalak.


Iyan mengangguk dengan tangan memegang kupingnya yang merah juga panas itu.


" iya, dia juga yang udah beli rumah di depan nyuruh Iyan langsung tadi pas mau pulang kerja.."


" apa lo bilang? " emak terlihat syok karena terkejut.


" jadi kita bakalan tetanggaan dong sama Neng Grace.. "


" itu rumah buat temennya mak, bukan buat bos Leo.. belinya juga ngedadak tadi, makannya Iyan nyuruh bos Soni buat transaksi, Iyan mana ngerti gituan.. "


" Jangan-jangan Oppa beli buat simpenannya, padahal neng Grace cantik banget.. "


" cowok mak cowok.. emak ngadi ngadi aja kalo ngomong, lagian temen bos Leo juga bos kita juga, salah satu petinggi geng kita mak.. Bos Exel, masa mak gak tau sih.. "


Emak manggut-manggut cengengesan.


" lo beruntung tong bisa gaul sama orang-orang baek, temen geng lo juga ngikut insaf.. "


Iyan mengangguk setuju. " ini juga saatnya kita bales kebaikan mereka mak, bos Exel lagi kesusahan.. "


" jadi tugas emak apa yan? "


" tugas emak iyain aja apa kata Iyan. nanti kalo bos Exel nanya tuh rumah punya siapa, emak bilang aja punya encing.. "


Emak tampak mengangguk paham kala mendengarkan instruksi dari Iyan. keduanya harus menjalani rencana yang disarankan oleh Leo.


Setelahnya, Iyan kembali menghampiri Exel.


" gue pikir lo gak balik lagi.. " ucap Exel ketus kala membukakan pintu.


" sorry bos, tadi gue buru-buru nganterin martabak keburu emak ngamuk kan berabe.. " sahut Iyan cengengesan.


" emak lo udah merem belum? kalo belum gue mau nyapa emak lo dulu.. "


" belom bos.. yaudah ayo, tadi juga gue udah ngomong sama emak.. "


Exelpun mengangguk seraya mengikuti langkah Iyan. keduanya berjalan kaki menyusuri gang kecil.


" masih jauh yan? " tanya Exel. Pria itu sedikit meringis merasakan nyeri di wajahnya. luka yang sedari tadi di tahannya kembali terasa.


" ini kita udah nyampe.. " sahut Iyan seraya menunjuk rumahnya.


" mak..!!! " teriak Iyan seraya menggedor kasar pintu rumah tersebut membuat Exel menggeleng.


pintupun terbuka menampilkan sosok emak yang mengenakan daster rumahan serta tak lupa beberapa roll menggulung rambutnya.


" berisik Iyan.. entar tetangga pada bangun.. " ucap emak terdengar lembut membuat Iyan berlagak ingin muntah.


" malem mak.. " sapa Exel membungkukkan badannya, kemudian Ia mengasongkan tangan hendak bersalaman dengan emak.


Tetapi Emak malah melongo dengan mulut menganga.


" Yan.. emak di apelin Sehun.. "


sontak Iyan menggeleng berdecak kesal, " eling mak eling.. " ucapnya menyadarkan membuat mengerjapkan matanya.


" eh iya, ayo oppa masuk.. " ucap Emak lembut membuat Iyan menepuk dahi malu.


Exel mengangguk tersenyum, kemudian Ia masuk bersama Iyan. Lagi-lagi Exel di buat terenyuh melihat rumah yang di sambanginya sekarang. rumah sederhana tetapi di dalamnya penuh kehangatan.


sementara Emak sangat antusias berbincang dengan Exel. mendengarkan dengan baik setiap apa yang di sampaikan Pria itu.


" maaf nih oppa, emak bukan ngusir.. tapi emang ini udah malem banget, lebih baik oppa istirahat.. "


ucap Emak ragu, walaupun sebenarnya merasa betah harus berlama-lama berbincang dengan pria setampan Exel, tetapi Ia tahu Exel harus istirahat.


Exel mengangguk tersenyum. Dia juga merasa lelah harus segera beristirahat. Ia ingin memenangkan pikiran. luka di wajahnya tak begitu sakit di bandingkan luka di hatinya yang di dapat dari orang-orang yang sangat Ia sayangi.

__ADS_1


" emak mau gak kompresin dulu luka El..? "


" aaapa..? "


__ADS_2