
Sekarang Grace berjalan menuju kelasnya bersama Leo yang menemaninya. sepanjang mereka melangkah, keduanya saling menggenggam tangan begitu erat.
Mereka melawati koridor dimana beberapa penghuni kampus yang sedang bercengkrama langsung menyoroti keduanya dengan tatapan kagum sekaligus iri dengan keharmonisan pasangan muda tersebut.
" pagi-pagi cuci mata liat yang seger.."
" gila sih pesona papa muda emang gak ada saingannya.."
" andai kata gue gak tau kalo doi pemilik nih kampus pun, gak ngurangin minat gue buat ngefans sama dia.."
mendengar suara bisikan-bisikan itu sukses membuat Grace kesal hingga wanita itu merasa kupingnya terasa panas.
" ck, pada gak mikir apa.. udah jelas ada bininya, masih aja ganjen.." gumam Grace masih terdengar jelas oleh Leo yang kini berusaha menahan sakit di tangannya sebab Grace mencengkeramnya begitu kuat.
sebagai mahasiswa terpopuler sekaligus pemilik kampus tersebut, Leo memang jarang sekali bertandang ke fakultas kedokteran kecuali mengantarkan Grace saja. Itu sebabnya para penghuni fakultas tersebut sangat menantikan momen di mana pria itu mengantar Grace ke kelasnya.
Grace semakin geram karena bisikan mengagumi sosok Leo masih saja terdengar di telinganya. Grace menguatkan cengkeramannya sampai membuat Leo benar-benar tidak kuat dengan tenaga istrinya yang tengah cemburu itu.
" lo mau jari gue patah semua.." bisik Leo sambil meringis membuat Grace langsung melepaskan cengkeramannya.
" gak lah.. kalo sampe pada patah, entar siapa yang nyari duit.." sahut Grace ketus namun berhasil membuat Leo terkekeh pelan melupakan rasa sakit di tangannya.
" kalo bahas soal duit lo langsung gercep.." ucap Leo enteng sambil mencubit gemas pipi Grace yang semakin tembem itu.
Grace tidak mau kalah. wanita itu menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Leo.
" gue sih realistis aja.. lo sendiri lupa kalo bahas masalah duit sama gue sifat ogah rugi lo langsung kumat.." ujarnya sambil berlagak merapihkan kerah kemeja yang di jadikan outer oleh Leo. tak lupa senyuman termanis terbit dari bibirnya.
" gue ogah rugi..? terus apa bedanya sama lo yang suka maunya untung doang.." sahut Leo sambil merapihkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantik Grace. Dia juga membalas senyuman istrinya.
" jelas beda lah, lo ogah rugi sama bini lo doang.. kalo sama orang lain sifat dermawan lo kelewat akut.." timpal Grace seraya membenarkan topi di kepala Leo. benda yang wajib tersedia dan harus di gunakan ketika Leo mengantarnya ke kelas, guna menyembunyikan ketampanan suaminya agar tidak terekspos sempurna seperti saat ini.
" ini lo ngumpat apa muji suami lo.."
" ya lo pikir aja sendiri.."
adegan manis dari keduanya itu semakin membuat orang di sekitar berdecak kagum sekaligus iri. mereka tidak tahu saja jika pasangan gila itu tengah berdebat di balut adegan romantis.
Bukan tanpa alasan Leo meladeni Grace dengan kekonyolan itu. terlepas agar Grace bisa melupakan kejadian tadi di parkiran, Leo juga merasakan hal yang sama geramnya seperti Grace. Leo mendapati beberapa mahasiswa yang menatap kagum penampilan Grace yang sialnya semakin besar perutnya itu semakin meningkat pula kadar kecantikannya.
Leo benar-benar tidak rela jika orang lain turut menikmati ke indahan yang di miliki istrinya.
" ck, calon dokter cabul.."
" apa lo bilang..? gue calon dokter cabul..?" sahut Grace susah payah mengontrol raut wajahnya. dia masih terlihat anggun.
" bukan lo.. noh, cowok-cowok yang liatin dari tadi.." Leo menonjolkan pipinya mengarah ke para mahasiswa tersebut.
.
.
.
Keduanya masih melakukan drama konyol itu hingga seseorang datang menghampiri mereka.
" lo cabut gih, biar gue bareng sama si Megan.." ucap Grace sambil meraih tangan Leo kemudian mencium punggung tangan tersebut dengan lembut.
Leo tak kalah gilanya. Dia semakin menunjukan sisi romantisnya di hadapan para penonton. dimana Leo tak segan-segan menghujani wajah Grace dengan kecupan. mulai dari kening sampai berani mengecup bagian bibir, walaupun sekilas tetapi sukses membuat semuanya tercengang termasuk istrinya sendiri.
" kalo gitu gue cabut dulu.. belajar yang bener yah calon dokter.." ucapnya lembut di akhiri dengan mengusap kepala Grace.
Setelah puas membuat istrinya tersipu, Leo lalu pergi dengan santainya melenggang melewati para penonton yang tampak masih melongo tak percaya akibat ulahnya barusan.
sementara Grace mencoba menormalkan kembali perasaannya, dia menoleh ke arah Megan yang turut melongo itu membuatnya terkekeh.
" Me.. woyy.." Grace menepuk pundak Megan hingga sahabatnya itu terkesiap.
" eh iya.. Kuy.." sahut Megan gelagapan di angguki Grace yang masih terkekeh, kemudian keduanyapun pergi menuju kelasnya.
.
.
" oh yah Grace, katanya si kermi udah bareng lagi sama si El yah.. berarti tuh anak mau bareng kita lagi dong.. " ucap Megan sambil menaruh tasnya di bawah bangku.
Grace yang baru saja duduk, kini menghela napas dalam. Dia menatap malas ke arah Megan yang nampak menunggu tanggapannya.
__ADS_1
" kita kesini mau belajar.. bukan ghibah.. you know dosa..?"
" ck.. lagu lo Grace bahas dosa, terus yang lo berdua lakuin tadi itu apa..?"
" elah kita kan udah halal keles, dosa dari mananya coba.."
" dih bego.. lo berdua malah udah nambah list dosa orang yang pada liat adegan membagongkan tadi.."
" woah, roman-romannya ada yang iri nih.."
" ck.. Jaka sembung bawa golok.. Gak jelas anying.."
" widih nyoya Ari jago pantun juga ternyata.."
" ******.."
" wih.. Santai dong, jutek amet.. entar cantiknya ilang.."
Grace tergelak melihat raut wajah Megan yang masam karena ulahnya. Dia sengaja bersikap menyebalkan, dia mengalihkan agar sahabatnya itu tidak membahas Silvie. Dia juga tidak ingin Megan merasa kecewa seperti dirinya yang berharap Silvie akan kembali seperti dulu lagi.
Grace masih menggoda Megan hingga seseorang mendekat membuatnya langsung menghentikan candaanya dan berlagak fokus membaca buku di hadapannya.
" hi Sil.. baru nyampe lo..?" tanya Megan sumringah. dia tidak ingin ada kecanggungan di antara mereka.
" iya.. ini Me, buatan abang El.. siapa tau keponakan gue lagi kepengen makan ini.."
" salad buah.. Wah mantap nih, thanks ya Sil.."
Keduanyapun melanjutkan perbincangan sambil menunggu dosen datang. di mana Megan belum menyadari sikap hangat Silvie hanya di tujukan untuknya tidak dengan Grace. Wanita yang kini mati-matian menahan airmatanya.
Ya, Grace mendengar percakapan kedua sahabatnya barusan. Mereka terlihat langsung akrab begitu saja tanpa ada rasa canggung sama sekali. Dia pikir Megan juga akan mendapat sikap yang sama seperti dirinya. nyatanya sikap yang di tunjukan Silvie sangat kontras antara kepadanya juga Megan. dan itu membuat dadanya terasa sesak.
" btw, thanks ya Me, selama abang El sendiri, lo sama laki lo udah merhatiin dan ngejamin makannya dia.. "
" ck, biasa aja.. harusnya lo bilang makasih juga sama si Leo, lewat tangan dia, rejeki laki lo-"
" lah bang El kan kerja di bengkelnya.. jadi gak cuma-cuma dong.. "
Megan ingin menyahuti kembali ucapan Silvie, namun kedatangan dosen membuatnya tak punya cukup waktu hingga pada akhirnya Ia hanya bisa menghela napas pasrah saja.
...*******...
Tiga pria tampan menghabiskan waktu istirahat di salah satu warung pinggir jalan dekat kampus mereka. Ketiganya memang jarang bersama dalam formasi lengkap seperti sekarang.
" jadi gimana bro rasanya..?" tanya Ari sambil menepuk bahu Exel membuat sohibnya itu menyerit bingung.
" rasa apaan? rasa mie ini..? enak, kayak biasanya.." timpal Exel sambil menunjuk makanan di hadapannya.
" ck, belaga polos lo.. maksud gue, setelah lo jadi duda sementara, gimana rasanya-" dengan santainya Ari memperagakan hal yang berbau sensitif dengan kedua tangannya membuat Leo hampir tersedak makanan karena tingkah frontalnya itu.
" gue sih gak yakin kalo ni anak langsung ngegas.." sahut Leo di susul kekehan Ari yang mengangguk setuju.
sementara Exel memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Pria itu membiarkan kedua sohibnya yang sedari tadi terus meroastingnya. setidaknya dia bisa melihat tawa lepas dari mereka. apalagi dengan Leo yang sempat kesal dengannya.
" gaskeun lah bro.. biar cepet ngasih kita keponakan-"
" diem anying gue lagi makan.." sela Exel ketus membuat kedua sohibnya kembali tergelak.
" kali ini biar gue yang traktir lo berdua.. lo pada boleh nambah sampe kenyang.." celetuk Ari menepuk dada bangga.
" wihh, banyak duit lo bos.. abis dapet warisan yah.." kini Exel menimpali di tengah kunyahannya.
" bonyok gue masih idup woyy.." sahut Ari kesal sambil melempar tisu ke arah Exel.
" lagian gue gak pernah ngarepin apa-apa dari bonyok gue selain ngeliat mereka sehat, lo inget itu.."
" gue setuju sama bapak satu ini.." Leo menimpali sambil menepuk bahu Ari dengan bangga.
" terus lo dapet duit banyak darimana sampe bisa traktir kita.. boleh nyolong kah..?"
Sontak saja Ari langsung menoyor kepala Exel yang berucap barusan.
" mulut lo El.. kagak bisa di filter apa.."
" emang lo aja yang bisa nyablak, sekali mah gantianlah.." timpal Exel santai.
" sekali lo bilang.. udah keseringan kali bro.." Leo ikut menimpali membuat Ari mengangguk setuju.
__ADS_1
" tau ni anak kayaknya ketularan bininya.." timpal Ari santai membuat Leo terkekeh, sementara Exel langsung memasang wajah cemberutnya.
" emang kalo gue traktir lo berdua harus banyak duit dulu apa, terus kemaren-kemaren gue yang suka nganterin lo makan siang, bukan traktir namanya ya..?"
" ck, pamrih.. lo totalin sono, biar gue ganti.." sahut Exel ketus membuat Ari menoyor kembali kepalanya geregetan.
" gak gitu juga anying.. susah ngomong sama orang belet kek lo mah.. lo emang ketularan-"
" apa..? lo mau bilang kalo gue ketularan lemotnya bini gue, iya?"
" nah itu lo tau.."
Sementara Leo tampak antusias melihat perdebatan kedua sohibnya itu, dengan menjadikan kedua telapak tangan sebagai tumpuan dagunya sambil melirik ke arah mereka secara bergantian. Pria itu merasa terhibur dengan perdebatan sengit mereka sampai bisa membuatnya tertawa lepas.
" intinya gini dah biar lo gak loading, gue mau traktir lo pada, karna emang gue lagi ada rejeki lebih aja.."
" oh yah..?" sahut Exel sok terkejut membuat Ari lagi-lagi menoyor kepalanya gemas.
" biasa aja anjir.." ucap Ari ketus.
" emang akhir-akhir ini gue lagi ketiban rejeki gede.. tiap hari ada pesenan dari orang baik yang sama sekali gue gak kenal, terus tuh orang selalu pesen buat panti-panti.. auto ikut beramal dong gue.."
" itu rejeki buat anak lo bro.." celetuk Leo diangguki keduanya.
" yoi, rejeki tetangga gue juga.. gue gak tau harus ngomong apaan sama orang baik itu, gue cuma mau bilang maksih banyak karna berkat tuh orang, gue bisa buka lapangan pekerjaan dadakan buat tetangga-tetangga gue yang emang lagi pada butuh duit.."
" kali ini gue suka gaya lo bos.." celetuk Exel seraya menepuk bahu Ari.
" tadinya gue mau lo ambil alih bagian nyuci piring El.. tapi gue gak bisa nyaingin bos bengkel kalo masalah upah.." timpal Ari cengengesan tanpa dosa.
" sialan.." umpat kedua sohibnya kompak.
" so.. lo percaya dong kalo banyak anak banyak rejeki.. "
Ari mengangguk menanggapi ucapan Exel barusan,
" yaps, lo liat aja noh papinya Cio, si Cio mau punya adek, usaha bapaknya tambah maju.." sahutnya sambil menunjuk Leo.
" berarti lo siap dong punya anak banyak, rejeki lo juga jadi banyak.."
" ck, gak jelas lo.. gue bukan gak mau punya anak banyak, mau anak gue sebelas aja gue gak takut ngempanin.. yang gue takut tuh gak bisa ngedidik anak-anak gue nanti.."
prok..prok.. Leo langsung standing applause menatap bangga pada sohibnya.
" anjayy.. Lord Ari emang the best.."
" makannya lo cepetan garap dah tuh bini lo.. biar cepet punya anak lagi.. biar rejeki lo lancar jaya kayak bos Leonard.." ujar Ari santai membuat Exel berdecak kesal.
" satu lagi El, selain karna kehadiran anak.. rejeki si bos Leo jaya juga karna sifat dermawan-"
" tau gue.. dia emang kang sedekah.." sela Exel memotong kalimat Ari.
Leo yang kini sudah duduk kembali, Ia hanya menggeleng terkekeh mendengar pujian tiba-tiba dari mereka.
Sementara Ari langsung teringat sesuatu kala membahas kebaikan Leo. Dia teringat dengan Iyan yang keceplosan bercerita mengenai Leolah yang sebenarnya membelikan rumah yang Exel tempati saat ini.
Kemudian Ari menoleh ke arah Leo yang tampak santai menyantap kembali makanannya itu. pria itu menatap sohibnya dengan sorot mata curiga.
" jangan-jangan lo orang baik itu Le.." tanyanya menuding Leo membuat sohibnya itu kembali mengalami tersedak makanan.
" lo yang selama ini suka pesen besar-besaran itu kan.."
Leo berdecak kesal karena Ari sudah dua kali membuatnya tersedak makanan. kemudian pra itu menggeleng membantah tuduhan sohibnya barusan,
" ck, kurang kerjaan banget gue buang-buang duit.."
ting.. pesan masuk di ponsel Leo.
" temui gue di parkiran sekarang.. gak pake lama.."
Pria itu menyerit heran kala melihat nama pengirim pesan tersebut yang tak lain adalah Grace. pasalnya Grace tidak suka di ganggu olehnya ketika berada di kampus.
" gue cabut duluan.. makasih traktirannya bos.." Leo berdiri lalu pergi dengan tergesa untuk menghampiri Grace.
setibanya Leo di parkiran, Grace langsung memeluknya begitu erat membuatnya terkejut dan heran kala melihat wajah istrinya,
" hey.. kenapa nangis..?"
__ADS_1