
" Grace.. kita cabut duluan gapapa kan.." seru Megan seraya menepuk bahu Grace yang melangkah menuju area ruangan para dosen.
Gracepun mengangguk pelan,
" iya gak papa.. santai aja.. tar gue mampir deh ke kedai lo .." sahutnya santai, sebetulnya Grace berharap pulang bersama kedua sahabatnya, tetapi panggilan dari Wilson yang mengharuskan Grace menemui dosen tersebut di ruangannya membuat Grace tidak bisa pulang bersama mereka.
" mampir mau ketemu bias.." goda Silvie cengengesan langsung mendapat toyoran dari Megan.
" okeh gue tunggu Grace.. bye.." ucap Megan seraya menyeret paksa Silvie.
Grace menghela napas kasar menatap kepergian kedua sahabatnya, dengan langkah malas Grace menggerutu kesal
" ck.. gara-gara tuh dosen killer gue jadi makin sibuk.. boro--boro gue bisa ngelola bengkel, waktu buat Cio aja banyak kesita.." gumamnya.
Ingin rasanya Grace meminta kedua sahabatnya menunggu dirinya selagi berurusan dengan dosen killer tersebut, tetapi Grace mencoba mengerti akan posisi mereka sekarang, terlebih dengan Megan yang harus membantu Ari mengelola kedainya.
suara decitan pintu membuat Grace menoleh antusias,
Grace dibuat terbelalak sebelum akhirnya Ia menyeringai tersenyum devil tatkala mendapati Siska si senior yang menjadi rival barunya tersebut keluar dari salah satu ruangan dosen dengan terburu-buru seraya merapikan pakaian beserta rambutnya.
Grace melangkah santai dengan satu tangan di dalam saku celananya dan satu lagi memegang jaket yang menjuntai di pundaknya. dengan sengaja Grace menubruk Siska seraya bersiul saat berpapasan dengannya membuat Siska meringis lalu mendongak,
" oh Shitttt.. pake mata dong kalo jalan.." ucap Siska kesal,
" jalan pake kaki kali.." sahut Grace santai menyunggingkan senyuman membuat Siska menatapnya geram,
" dasar preman kampus.. cewek jadi-jadian kayak lo cocoknya nagkring di pasar kalo gak di terminal.." ucap Siska sinis seraya menatap penampilan Grace yang terkesan maskulin itu,
sementara Grace terkekeh mendengarnya,
" so.. kalo gue preman kampus... yang pantes dapet julukan ayam kam.."
ucapan Grace terhenti saat Siska mendorongnya sampai terbentur dinding,
" lo.. jangan macem-macem sama gue.. gue bisa hancurin lo kapan aja.." ancam Siska yang saat ini mencengkram rahang Grace yang sialnya malah kembali terkekeh,
" iyuuuww.. takut banget..." ejek Grace seraya meniup permen karet yang sedari tadi dikunyahnya hingga balon tesebut meletus tepat di hadapan wajah Siska.
" Lo.." geram Siska seraya menunjuk mata Grace,
dengan santainya Grace menurunkan tangan Siska kemudian melengos, dan baru dua langkah Grace berjalan, Iapun memundurkan langkahnya kembali menghampiri Siska
" btw.. kemeja lo belum di kancing tuh.. " bisik Grace santai menaikturunkan alisnya lalu bergegas pergi.
" sial.. " gumam Siska yang langsung merapikan pakaian yang belum terkancing dengan sempurna dan menampakan beberapa kissmark di area dadanya.
" gue harus bikin perhitungan sama tuh cewek.." gerutunya kembali.
...****************...
Grace mengatur napas terlebih dulu sebelum memasuki ruangan Wilson,
tok..tok..tok..
" masuk.. " sahut Wilson dari dalam.
ceklek.. Gracepun memasuki ruangan tersebut, aura dingin nan datar dari wajah Wilson membuat Grace menunduk gugup.
" ngapain kamu masih berdiri disitu.. duduk.." titah Wilson, namun Grace masih berdiri mematung.
krikk.. suara kursi Wilson yang bergeser membuat Grace mendongak waspada.
sementara Wilson mengerutkan dahinya heran terhadap Grace yang malah membuka lebar terlebih dulu pintu ruangannya sebelum duduk,
" maap pak.. saya hanya antisipasi.." ucap Grace santai,
" kamu pikir saya bakalan macam-macam..?" timpal Wilson dengan sorotan tajamnya membuat Grace menelan ludahnya.
" maksud saya bukan gitu pak.." sahut Grace gelagapan sambil menunduk.
" lantas apa maksudmu..?" tanya Wilson seraya menaikan sebelah alisnya.
" saya cuma gak mau ada kesalah pahaman.." ujar Grace memberanikan diri mendongakkan kepalanya,
" kesalhpahaman apa..?" tanya Wilson kembali.
" anu .. emh..skandal mahasiswi dan dosen.." gumam Grace jelas terdengar oleh Wilson yang langsung tergelak,
" omong kosong macam apa itu..?" tanya Wilson seraya menggeleng terkekeh.
" sial.. bodoh banget lo Grace.. gara-gara ngeliat si tege tadi, otak gue jadi koslet.." batin Grace mengutuk kebodohannya.
" maaf pak.. saya gak bermaksud.." ucap Grace gugup.
" kalo pun iya saya ada niatan begitu, tentu saya tidak akan tertarik dengan gadis urakan seperti kamu.." timpal Wilson sinis, sementara jantung Grace terasa berdetak kencang juga desiran darah seperti mendidih saat mendengarnya.
" biar kata saya urakan.. saya masih laku.." sahut Grace tak kalah sinis seraya mengepalkan tangannya.
" oh ya..? saya jadi penasaran sama pria yang kurang beruntung itu..."
" yang jelas suami saya lebih segalanya dari pada dosen yang katanya idol seantero kampus ini.." sahut Grace tak terima.
sementara Wilson malah kembali menggeleng terkekeh,
" suami..? apa kamu juga sudah memiliki anak..?"
" iya.. kenapa? bapak gak percaya atau heran kerena saya terlihat masih gadis.." sahut Grace songong.
" cih.. saya gak heran.. cuma menebak aja kalo anak kamu masih bayi.." timpal Wilson langsung memalingkan wajahnya setelah tak sengaja memandang sekilas area sensitif Grace.
" sial.. dasar dosen mesum " gumam Grace yang langsung menutup area dadanya dengan jaket sebab Asinya keluar hingga membuat bajunya sedikit basah.
" apa kamu bilang..?" tanya Wilson setengah berteriak, beruntung suasana area tersebut sudah sepi.
__ADS_1
" gak.. lupain aja.. lagian bapak jadi ngedadak bawel.. udah to the poin aja, ada apa bapak nyuruh saya kesini..?"
" gak jadi.. mood saya jadi buruk gara-gara kamu.." sahut Wilson enteng.
" apa..? justru mood saya rusak gara-gara bapak.. jangan main-main pak.. saya kalo badmood bisa nelen orang gak pandang bulu.. apa lagi orang yang udah bikin saya kesel kaya bapak.." timpal Grace geram,
" udah kamu pulang aja.. kasian bayimu.."
" ck.. buang-buang waktu.." gumam Grace melongos begitu saja membuat Wilson menggeleng mengulum senyuman.
...----------------...
sementara di tempat lain Leo cs yang saat ini sedang di parkiran hendak pulang terhenti saat Silvie dan Megan menghampiri mereka.
" si Grace mana..?" tanya Exel heran.
" masih ada urusan sama dosen killer.." sahut Megan malas,
" dia kan jadi asdos.. orang mah pada antusias, lah si Grace malah ogah ogahan.." lanjut Silvie menanggapi Exel yang masih kebingungan.
" terus lo mau gitu sil..?" goda Ari.
" mau banget.." sahut Silvie antusias dan langsung mendapat tatapan tak suka dari Exel,
" tangan yang di plintir, otaknya juga ikutan kena.." ledek Silvie cengengesan melihat Leo senyum-senyum sendiri.
" tau.. lo gak marah le, si Grace jadi asisten pak Wilson..?" tanya Megan heran,
Leo mengangkat bahu seolah masa bodoh menanggapi pertanyaan dari Megan, sementara kedua sohibnya mangut-mangut terkekeh kompak.
melihat itu Silvie dan Megan bergidik,
" lo bertiga kelamaan nangkring disini, jadi pada sengklek.." ucap Megan seraya menunjuk pohon beringin besar yang ada di sana.
" yoi.. penunggu pohon aja tertarik sama ketampanan kalian.." sahut Silvie enteng langsung mendapat toyoran dari Megan,
" bego.. lo malah muji mereka sih.." ucap Megan kesal membuat Leo cs terkekeh,
" abang El ayok.. entar kesambet beneran lo.." ajak Silvie seraya menggandeng lengan Exel,
" sil jadi mampir ke kedai kan..?" tanya Megan di angguki Silvie,
" jadi dong.. si Grace juga mau nyusul kan.." sahut Silvie yang mulai menaiki mobil bersama Exel.
" anijir.. cabut bie.." ucap Ari langsung mendudukkan dirinya di jok belakang motor yang di naiki Megan.
" heran gue sama sohib lo, giliran denger si Grace mau ke kedai responnya gitu, masih cemburu apa sama si Iyan..? lah si Grace jadi asdos anteng aja tuh anak.." ucap Megan keheranan.
" udah jalan.. entar gue ceritain.." timpal Ari seraya menepuk bahu Megan agar segera melajukan motornya.
ting.. sebuah pesan masuk ke ponsel Leo,
" bukan maen.. bini lo emang lain dari pada yang lain.."
...----------------...
Grace tak hentinya mengumpat kesal saat hendak ke parkiran sampai suara pesan masuk di ponselnya membuat langkahnya terhenti,
" ingat.. jauhin Leonard kalo lo mau aman.." begitulah isi pesan yang lagi-lagi dari nomor yang tak di kenal.
setelah membaca pesan tersebut, Gracepun langsung mengantongi kembali ponselnya tanpa ada niatan membalasnya.
saat sudah sampai di parkiran dan menaiki motornya, Grace kembali mendapat pesan dari nomor tadi yang berisikan poto dirinya saat tengah berjalan sambil mengantongi ponsel tadi.
deg.. dia ada di sini.. gumam Grace yang langsung melepas kembali helm yang baru Ia kenakan dan mengedarkan pandangan waspada ke setiap arah. nihil, Grace tak mendapati siapapun.
" keluar lo pengecut..!!! " teriak Grace
blug.. seseorang yang mendudukkan dirinya di jok belakang membuat Grace menoleh terkesiap,
" lo ngatain suami sendiri pengecut..?"
" iya.. karna lo sembunyi kek bocah.." elak Grace yang sedikit bernapas lega dengan kehadiran Leo yang dirasa tepat waktu.
" ck.. tadinya gue mau bikin kejutan.." sahut Leo santai.
" sayangnya gue gak terkejut tuh.." timpal Grace ketus.
" hmm.. yaudah jalan.." titah Leo menepuk bahu Grace.
" turun lo.." ucap Grace ketus seraya menurunkan kembali standar motornya,
" tangan gue masih sakit Grace.. lo tega ninggalin gue..?" rengek Leo seraya mengacungkan lengannya,
" gak usah sok kiyowo gitu.. si El seneng liatnya, lah gue.. rasanya pengen muntah tau gak.."
ucap Grace seraya turun dan masih membiarkan Leo duduk di atas motornya,
" ck iya..iya.. tapi gue beneran Grace.. ini tangan masih sakit, jadi gak bisa bawa motor.."
Leo kembali merengek sebab tak mendapat sahutan dari Grace yang malah menghampiri motor Silvie yang masih terparkir disana. Leo berpikir jika Grace ingin memakai motor Silvie tetapi ternyata..
" nih.. lo pake dulu.." titah Grace menyodorkan helm milik Silve.
sontak Leopun menggeleng menolak memakainya karena Helm milik Silvie terlalu feminim untuk Ia kenakan,
Grace menyunggingkan senyuman,
" lo mau pake.. atau mau gue pesenein taksi.." ancamnya menahan tawa, dan dengan terpaksa Leopun menyambar helm tersebut.
" pasangin.." titah Leo dengan nada manja membuat Grace memutar bola mata jengah,
" gue bilang kan kalo lo mau masang wajah kayak gitu mending sama si Exel jangan sama gue " omel Grace saat memakaikan helm di kepala Leo,
__ADS_1
" hmm, yaudah jalan.. mau mampir ke kedai kan?"
" gak jadi.." timpal Grace datar mulai melajukan motornya keluar dari area kampus,
" kenapa gak jadi..? padahal gue mau kesana juga.."
" gak ngantor lo..?" tanya Grace heran
" gak, kan aset gue buat naf.." Leo langsung menghentikan ucapannya takut-takut Grace kembali marah karena kesalahan mulutnya,
" mamah lagi di rumah.. jadi bisa lah kita nongkrong bentar.." ucap Leo mengalihkan,
" hmm.. pegangan.. udah lama gue gak ngebut.."
" sakit Leonard..!!! gila lo.." teriak Grace seraya memukul kasar tangan Leo yang nakal,
" katanya suruh pegangan.." sahut Leo santai
" ya gak di situ juga bambang.. makin basah kan jadinya.." timpal Grace kesal.
...****************...
brummm..
Ke empat kawan laknat tergelak menyambut kedatangan pasangan absrud tersebut,
" turun..!!!" titah Grace dengan meyikut ke belakang
" lo tidur..?" tanya Grace kesal sebab Leo tak kunjung turun dan malah mempererat pelukannya,
dengan masa bodonya Gracepun turun meninggalkan Leo, dan dengan sengaja tanpa menurunkan standar motornya terlebih dulu, dan alhasil..
brugkk.. motorpun terjatuh tentunya bersama Leo yang langsung meringis,
sontak kedua sohibnya pun langsung menghampirinya,
" lo gak papa le..?" tanya Ari terkekeh seraya mengangkat motor tersebut.
" gak papa pala lo.. sakit anjirr.." sahut Leo ketus.
" sorry.. lagian lo cari gara-gara, udah tau bini lo kaya induk ayam.." timpal Ari masih terkekeh,
" gak lucu.." sahut Leo ketus
" Le.."
" hmm.."
" sini gue bantu bukain.." ucap Exel seraya meraih helm yang di kenakan Leo.
" geli gue liat lo bedua.." ucap Ari bergidik geli melihat adegan yang terkesan romantis itu.
" kalo gitu buang mata lo.." sahut Leo kesal,
" Le.."
" hmm.."
" anying.. najis banget lo bedua.." sahut Ari berlagak ingin muntah kembali melihat adegan romantis dimana Exel meraih tangan Leo dengan lembut,
" tangan lo masih sakit Le..?"
" idih.. udah pada punya lubang buaya, mau aja lo ama liang lahat.." cerocos Ari kembali muak,
" udah enggak sih.." sahut Leo,
" kalo gitu, timpuk le.." titah Exel menyodorkan helm tadi seraya melirik Ari yang masih mengoceh.
di tengah ocehannya, Ari terbelalak saat melihat Leo yang hendak melayangkan helmnya,
" woy b*ngs*t.. mau ngapain lo..? " tanya Ari gelagapan.
" banyak bacot lo.. " timpal Exel menoyor kepala Ari seraya mengajak Leo masuk,
" huh.. binyik bicitt.. sahut Ari menye-menye.
......................
Grace mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kedai milik sahabatnya sambil mangut-magut,
" si Iyan gak ada.. dia lagi belanja ke pasar.. " tebak Megan cengengesan.
" ck.. nething lo.. " sahut Grace ketus,
" ya terus lo ngapain clingak clinguk gak jelas.. "
" kedai lo nyaman Me.. gue tertarik buat ngasih sedikit mural di sana.. " ucap Grace seraya menunjuk bagian dinding yang terlihat polos tersenyum.
" Gue sih boleh-boleh aja.. "
" nih lo pada makan.. " titah Ari menghidangkan beberapa makanan di atas meja.
" Ri, gue boleh mural di sini yah.. please.. " ucap Grace memohon dan mendapat anggukan dari Ari,
" yess.. thanks ya.. " ucap Grace sumringah.
Leo yang memperhatikannya pun tersenyum melihat Grace yang saat ini ceria. hal itu menjadi alasan mengapa dirinya tidak melarang Grace untuk menyalurkan bakat seninya tersebut.
sekali lagi, kebahagiaan Grace adalah energi untuk seorang Leonard.
ting.. 📩
oh.. shittt..
__ADS_1
" kenapa Le..? "