Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 116


__ADS_3

plak.. tamparan keras mendarat di pipi kiri Exel. tetapi pria itu hanya menyunggingkan bibirnya. bahkan rasa nyeri di wajah tampannya tak Ia rasa.


" kurang ajar.. jadi ini maumu El? balikin putri kesayangan papih setelah kalian kehilangan anak? " ucap Shaw menggebu dengan tatapan sinisnya.


Pria paruh baya itu merasa kecewa dengan tindakan menantunya. emosinya tak tertahan lagi, bahkan ibu Silvie yang mengelus lengannya pun tak Ia hiraukan.


" maafin El.. " sahut Exel seraya menunduk seolah dirinyalah yang bersalah. Dia masih mencoba untuk tenang dengan tatapan datarnya. Exel masih menghargai mereka sebagai mertuanya.


Shaw menatap Silvie yang duduk di samping Exel, putrinya itu terlihat gelisah juga cemas yang berlebihan, membuat Shaw berpikiran buruk terhadap Exel.


" dasar gak tau diri. masih kurang ladang usaha yang papih kasih El? apa kamu udah gak mampu memenuhi kebutuhan Silvie sampai berani balikin ke sini? " ucap Shaw geram.


" kau tahu El? berkat siapa perusahaan papihmu bisa sebesar seperti sekarang? jadi jangan macam-macam. papihmu juga pasti kecewa sama anaknya yang gak tau diri.. "


Exel mendongak seraya mengeraskan rahangnya. tangannya mengepal merasa sakit hati dengan ucapan hina dari mulut mertuanya. Dia juga tahu majunya perusahaan Berwin ayahnya berkat campur tangan sang mertua. tapi apakah pantas Ia mendapat hinaan seperti ini?


" El balikin Silvie sama papih karna dia udah gak mau denger El lagi.. " ucap Exel tegas. ekormatanya melirik sekilas ke arah Silvie yang masih terdiam.


Exel bahkan menyesali tindakannya saat ini. selama ini Ia tidak ingin melibatkan orangtua maupun mertuanya ke dalam urusan rumahtanggnya. tetapi sikap keras kepala Silvie membuatnya nyaris menyerah. Dia masih bisa menerima jika Silvie hanya menyakitinya, tetapi kali ini ada orang lain yang menjadi sasaran sikap buruk istrinya itu.


Shaw menyerit heran dengan tanggapan Exel, begitupun dengan istrinya,


" sebenarnya kalian ada masalah apa nak?" Ibunya Silvie mengeluarkan suara mencoba mencairkan suasana yang tengah tegang itu.


Exel kini beralih menatap Ibu mertuanya. Dia merasa jika wanita paruh baya itu mau mendengarkan juga mencerna dengan baik ucapannya.


" sebelumnya maafin El mih, pih. El gak tau lagi harus gimana ngadepin Silvie.. "


Exelpun menuturkan penjelasannya dengan lancar dan tenang. mendapat kesempatan untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya membuat Exel sedikit merasa lega.


" sekali lagi maafin El.. "


Ibunya Silvie mengangguk paham seraya memandang putrinya dengan tatapan kecewa. sementara Shaw? pria tua itu memalingkan wajahnya dengan angkuh. walaupun Dia dengan jelas mendengar apa yang di sampaikan Exel, tetap saja Ia masih mempertahankan egonya dengan berlagak geram.


ya, Dia sudah terlanjur bertindak kasar terhadap sang menantu tanpa mendengar kejelasannya terlebih dulu.


" papih bisa dengar kan? intinya abang El belain si Grace.. " Silvie mencoba membela diri setelah melihat sang Ayah tampak tidak minat dengan penuturan Exel. wanita itu merasa punya tenaga. sepertinya sang Ayah pasti akan membelanya.


" Sil.. " sang Ibu menggelengkan kepalanya merasa kecewa.


" kenapa? mamih juga mau belain si Grace? sebenarnya yang anak mamih itu siapa? "


" minta maaflah sama Grace nak, bukankah kalian bersahabat udah lama.. "


" Silvie bahkan jadi lebih benci sama si Grace kalo kalian bener-bener ikut belain dia.." sahut Silvie dengan wajahnya yang terlihat murka.


Ibunya Silvie menggeleng, Ia tak habis pikir dengan sikap putrinya. wanita paruh baya itu semakin yakin bahwa Exel tidak salah bertindak. malah Ia memikirkan sesabar apa menantunya itu menghadapi istri kurang ajar seperti putrinya.


sementara Exel kini mengepalkan tangannya semakin kuat kala mendengar Silvie yang mengelak. lagi dan lagi Ia harus mendengar pembelaan itu.


Exel bangkit dari duduknya setelah mengambil napas dalam-dalam.


" kalau gitu El pamit mih pih.. "


" satu langkah kamu keluar.. siap-siaplah, kamu bahkan keluargamu jatuh miskin.. " ucap Shaw membuat langkah Exel terhenti.


kemudian Exel duduk kembali menoleh ke arah Silvie. Dia butuh penyemangat dari istrinya. tapi sialnya Silvie malah tersenyum penuh kemenangan.


" Sil.. gue harap lo bisa dengerin gue kali ini. gue mau lo yang dulu Sil. gue mau berjuang sama lo.. " Exel kini bersimpuh di hadapan Silvie seraya menggenggam erat tangannya.


Silvie berdecak kesal seraya menepis tangan Exel,


" abang ngelakuin ini karna gak mau jatuh miskin kan? dasar penjilat.. "


" tutup mulutmu Silvie..! " bentak Ibunya Silvie. Dia langsung menghampiri Exel yang masih bersimpuh. diraihnya bahu menantunya itu agar berdiri.


" pulanglah nak.. " ucapnya dengan lirih.


Exel mengangguk. kemudian Ia melangkah menghampiri ayah mertuanya yang masih duduk dengan angkuhnya.


" El pamit pulang pih, El nitip Silvie.. "


" Dia pasti baik-baik aja kalo tempatnya tepat.. inget pesan tadi.." sahut Shaw dengan sinis, sementara Exel mengangguk tersenyum menanggapinya.


sebelum Exel melangkah keluar, Ia menyempatkan diri untuk menatap Silvie yang merasa tidak berdosa itu.


Exel merasa langkahnya sudah tepat memberikan pelajaran kepada Silvie. Dia sudah terlanjur kecewa dengan istrinya itu. persetan dengan kondisi ekonominya nanti.


" gue harus belajar banyak dari si kunyuk.. "


masalah orangtuanya? Exel seolah tidak perduli. terlebih terhadap ayahnya yang terkesan memuja Shaw.


Exel tersenyum ketir melangkah menuju mobilnya. dia teringat akan perjodohannya dulu. sekarang Dia tahu mengapa ayahnya memaksa agar Ia mau menikah dengan putri rekan bisnis ayahnya itu. uang dan kekuasaan.


arhgggg.. Exel memukul kemudi dengan frustasi.


" kita liat aja.. sampai mana lo bisa bertahan.. "


...*...


Exel baru saja tiba dirumahnya, namun ketika melangkah hendak masuk ke kamarnya ada suara yang membuatnya menoleh ke belakang dengan cepat.


" dasar anak kurang ajar.. "


bughhh..


wajah Exel terpanting kesamping setelah mendapat bogeman mentah dari Berwin ayahnya.

__ADS_1


belum juga reda rasa nyeri di pipinya, sudut bibir Exel kini mengeluarkan darah segar.


Berwin kini mencengkram baju Exel dengan kuat membuat Indri yang baru menghampirinya menjerit histeris.


" papih stop.. jangan sakitin putra kita pih.. "


" Dia anak kurang ajar, gak tau diuntung. udah nikah aja masih nempel sama kita mih.. tapi apa balasan anak sialan ini? "


sahut Berwin menggebu-gebu seraya mendorong tubuh Exel dengan kasar membuat putranya itu terpental menubruk guci sampai pecah.


Lagi-lagi Indri berteriak histeris seraya menghampiri putranya yang kini berlumuran darah.


" stop pih..! " teriak Indri yang kini memeluk Exel. Ia mencoba melindungi putranya dari serangan Pria yang tengah di kuasai emosi itu.


Berwin seakan belum puas menyiksa Exel, Ia menghampiri Indri yang berusaha melindungi putranya itu.


" lepasin anak sialan itu.. "


" gak.. papih udah kelewatan, selama ini anak kita nurutin semua kemauan papih, kenapa papih tega siksa El? " sahut Indri dengan suara yang bergetar dan mengeratkan pelukannya.


Tetapi Berwin tidak perduli dengan ucapan istrinya. Dia melepaskan tangan Indri dengan kasar. kemudian Pria tua itu menyeret paksa Exel ke luar.


" lepasin El pih.. " teriak Indri.


brukghhh.. Berwin mendorong Exel.


" jangan injakan kaki di rumah ini sebelum kau mengembalikan semua kepercayaan mertuamu.. " ancamannya memperingatkan Exel.


para pegawai rumah tersebut bergidik ngilu melihat adegan tersebut. mereka menatap prihatin dengan kondisi Exel. walaupun majikannya itu terkesan dingin, tetapi mereka bisa melihat sisi hangat dari Exel yang dermawan.


Exel masih bersimpuh di lantai teras rumahnya, tak lama Berwin menghampirinya kembali. Pria tua itu melemparkan kunci motor milik Exel.


" papi rasa hanya itu harta milik kamu.." ucap Berwin tersenyum miring.


sementara Exel menatap Pria dihadapannya dengan tatapan nyalang. ayahnya itu terkesan meremehkannya.


" enyah kau.. " Ucap Berwin sambil menendang Exel.


" El sayang.. " Indri langsung menghampirinya Exel yang kesakitan.


Exel menggeleng mengangkat lengannya mengisyaratkan dia baik-baik saja.


" mami jaga diri baik-baik.. El pergi dulu.. " ucapnya seraya bangkit kemudian mengecup kening sang Ibu sebelum benar-benar pergi dari rumah itu.


Indri menangis terisak menatap nanar kepergian putranya, kemudian Ia menoleh ke arah Berwin yang tampak acuh.


" papih jahat..! " ucapnya dengan kesal sementara Berwin dengan acuhnya kembali masuk ke dalam.


.


.


.


" tunggu Den.. "


Exel membuka kaca helmnya, " kenapa pak? "


" anu Den, ini buat pegangan.. gak seberapa, tapi ini kolektifan dari yang lain.. "


pegawai tersebut mengasongkan gulungan uang kertas pada Exel.


tetapi Exel menggeleng menolak dengan halus,


" gak usah pak, saya ada ko.. simpen aja buat kalian. sebelumnya makasih ya pak.. "


Exel segera melajukan kembali motornya sebelum pegawai tersebut memaksanya menerima uang itu.


sementara si pegawai merasa haru. baru kali ini Ia mendengar kalimat panjang dari seorang Exel, bahkan terdengar lembut dan tulus.


" Ya Tuhan, lindungilah Den Exel kemanpun langkahnya.. "


...***...


Exel melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak tahu kemana arah tujuannya. pikirannya sangat kacau.


" bego.. bego.. bego.. " teriaknya dengan frustasi.


Ya, Exel megutuk kebodohannya. Kebodohan mengapa setelah menikah Ia tidak memiliki rumah sendiri. niat hati ingin menemani Ibunya agar tidak kesepian. tetapi ayahnya malah menyudutkannya dengan meremehkan seolah dirinya itu benalu.


penjilat, kata itu kini terngiang-ngiang di kepalanya. Exel tidak menyangka jika istrinya bisa berkata seperti itu.


" sialan, si tua bangka pikir ini bukan hasil keringet gue apa.. " Exel kembali mengumpat saat dirinya berada di gerai ATM.


semua kartu sakti yang dimilikinya sudah terblokir. hanya ponsel dan motor yang di tungganginya saja yang kini menjadi hartanya.


...****...


" Widih.. tumben malem-malem lo keluar, pawang lo gak ngintilin? " ucap Ari dengan nada mengejek.


Pria itu sedang mengelap meja-meja di kedainya karena sebentar lagi akan tutup. Tiba-tiba Ia di buat heran dengan kehadiran Exel.


" brisik lo.. masih ada makanan gak? " Exel kini sudah duduk di salah satu bangku.


" ada tinggal kuah noh.. mau lo? " sahut Ari cengengesan.


" bikinin mie kek, gue laper.. " timpal Exel sewot.

__ADS_1


Ari terkekeh mengangguk, " Yan..! "


" siap bos.. "


" bikinin Mie buat Tuan Exel.. "


" asyiap, laksanakan.. "


" tiga yan.. " teriak Exel membuat Ari melongo tak percaya.


sejenak Ari mengamati penampilan Exel. sohibnya itu terlihat berantakan sekali.


" Lo berantem sama siapa El? masa iya bini lo yang ngelakuin.. "


" Lo ngapain kerja sialan? lo baru aja keluar dari rumah sakit.. "


Exel malah mengalihkan pertanyaan Ari. tetapi ucapannya barusan benar-benar dari hatinya. Ia merasa cemas juga perduli dengan kondisi kesehatan sohibnya itu.


sementara Ari kini berdecak kesal.


" itu karna utang gue sama lo sialan.. belum sama si Leo bekas kemaren gue di rawat.. "


Exel menggeleng terkekeh pelan.


" sini lo.. duduk.. "


Aripun menghentikan aktivitasnya dan duduk di hadapan Exel.


" udah kumpul berapa duit lo buat bayar utang ke gue? " tanya Exel.


Ari tampak mengira-ngira dengan membuka layar ponselnya membuat Exel kembali menggeleng.


" lo masih aja nganggep omongan gue serius, gue bercanda sialan.. si Leo juga gak mungkin jadiin utang, kayak gak tau dia aja, jangankan elo, orang yang gak di kenal aja di bantu sama tuh anak.."


Exel menyambar ponsel yang berada di tangan Ari, Ia kembali terkekeh,


" ada untungnya juga, tabungan lo jadi gede gini.. "


Ari mengangguk, " iya kan gue kumpulin buat bayar hutang ke elo.. "


" simpen aja buat biaya bini lo lahiran.. " sahut Exel.


" jadi gak ada piutang antara kita nih? " tanya Ari memastikan.


Exel mengangguk, " tapi bukan berarti lo kejongjonan gak nabung.. "


Ari mengangguk patuh. " yah, gue suka duit, gue suka nabung.. "


.


.


.


.


Ari di buat bergidik merinding kala melihat Exel menyantap makanan yang baru saja di sajikan itu. Mie dengan jumlah tiga porsi di lahap dengan rakus oleh Exel. padahal kuahnya masih panas.


" gila.. lo kesurupan setan apaan sih El.. "


" laper anying.. "


" laper? lo kayak abis di usir, terus kelaperan.. "


" emang iya.. "


" serius lo? " Ari kini mengebrak meja membuat Exel terkejut begitupun dengan Iyan yang tengah mengantikan pekerjaan Ari.


" anjir hampir aja gue keselek.. " sahut Exel kesal.


" gue gak mau tau pokoknya lo harus cerita.. "


Dengan terpaksa Exel menceritakan semuanya kepada Ari. memang salahnya sudah menanggapi Ari.


" terus rencana lo apa El..? minimal lo sekarang mau tinggal dimana? .. "


Exel menggeleng kebingungan membuat Ari menghela napas panjang.


" aturan lo kayak si Leo El, invest rumah.. ya paling enggak kayak gue sewa sederhana juga gak papa yang penting mandiri gak ngerongrong orangtua.. "


Exel mengangguk, kali ini Ia setuju dengan ucapan Ari. bahkan Ia merasa kagum dengan kehidupan sederhana keluarga sohibnya itu.


" masalahnya bini lo mau gak kayak bini gue di ajak susah.." ucap Ari cengengesan.


" mertua gue juga gak kalah Sultan, tapi gue bersyukur mereka ngedukung setiap langkah gue, .. "


Lagi-lagi Exel hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ari. beruntung sekali sohibnya itu.


" bos ikut gue aja.. " celetuk Iyan.


...***...


Di waktu yang sama, Silvie kini tengah uring-uringan di kamarnya. baru berapa jam saja di tinggal Exel, Ia sudah gelisah karena merasakan kehilangan.


Ya, biasanya Exel selalu ada untuknya. menemaninya di setiap malam, mengingatkannya hal-hal kecil seperti minum obat vitamin.


Semenjak hamil Silvie tidak pernah melihat kesungguhan Exel yang selalu ada untuknya. hanya Leo yang dilihat juga di butuhkan olehnya saat hamil.

__ADS_1


akankah Silvie menyesali semuanya?


__ADS_2