
Dini hari Grace juga Leo baru bisa pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan dari keduanya. Baik Leo maupun Grace sama-sama tidak mengeluarkan suara sedikitpun. dan Grace memilih memejamkan matanya, sementara Leo fokus mengemudi mobil yang dipinjamnya dari Wilson.
Leo memikirkan bagaimana esok di kampus mengingat Aldo sudah terlanjur menyebarkan berita palsu tentang Grace. dan Grace tidak mengetahui akan hal itu.
Leo melirik sekilas ke arah Grace yang tengah terlelap dengan tenang, akan tetapi Ia tahu Grace menyimpan beban yang begitu dalam, Leo tahu Grace belum sepenuhnya merasa lega akan kejadian yang menimpa.
Walaupun Leo bersama kedua sohibnya mencoba menghibur Grace dengan beberapa lelucon, tetap saja dirinya bisa melihat kepura-puraan Grace yang terlihat baik-baik saja itu.
tutttt... Leo memanggil seseorang lewat panggilan telepon tanpa memperdulikan orang yang di telponnya kemungkinan sedang beristirahat mengingat ini sudah dini hari.
" kita harus lakukan sesuatu.. tolong atur semuanya.. "
tut..
Leo menghela napas panjang kala menoleh kembali ke arah Grace seraya mengusap tangannya.
" semua akan baik-baik aja Grace.." gumamnya.
Tidak hanya Leo yang peka terhadap perasaan Grace saat ini, melainkan kedua sohibnya juga turut merasakan. maka dari itu mereka terus membuat lelucon agar Grace terhibur walaupun pada akhirnya Grace tetap merasakan kembali kegusaran pada dirinya.
Terlebih Exel yang mengetahui tindakan Aldo setelah Leo bercerita kepadanya. jelas Exel marah dan tidak segan untuk menghabisi Aldo saat itu juga.
Bahkan Exel langsung hendak melakukan sesuatu agar nama baik Grace kembali bersih. akan tetapi Leo mencegahnya.
bukan, Leo bukan cemburu terhadap Exel yang hendak maju selangkah darinya menindak lanjuti masalah Grace. hanya saja kali ini Leo tidak akan membiarkan Exel membantu dirinya yang nantinya akan membuat Grace sungkan dan kembali merasa bersalah jika Exel memprioritaskan keluarga Leo, terlebih saat ini Silvie lebih membutuhkan peran Exel sebagai suaminya.
akhirnya si keras kepala Exel yang bersikukuh itu bisa menurut juga setelah mendengar penjelasan dari Leo dengan alasan logisnya.
yah, Silvie lebih membutuhkan dirinya. mungkin untuk sementara waktu mereka akan menjalani posisinya masing-masing.
dimana Grace akan merasa aman dan nyaman di tangan Leo, begitupun dengan Exel yang tidak harus menomorduakan kehidupan pribadinya hanya untuk melindungi Grace yang sudah jelas berada di tangan yang tepat yakni Leo suaminya.
.
.
.
.
Setibanya di rumah, Leo langsung menggendong Grace yang masih terlelap menuju kamarnya. setelahnya, Leo menyempatkan diri untuk melihat si kecil yang ditinggalnya cukup lama itu.
Seulas senyuman terbit di bibirnya kala mendapati si kecil tidur pulas dengan di apit kedua nenek sekaligus.
" anak pintar.. "
ceklek... pintu kamar si kecil ditutup kembali bersamaan dengan helaan napas dari Leo.
Sepertinya Ia harus menyiapkan beberapa jawaban terhadap rentetan pertanyaan yang kemungkinan di layangkan dari Deti Ibunya esok hari.
" semoga mamah gak kepo.. huhh mudah-mudahan tante Ester bisa dipercaya.. "
Leo mengganti pakaian yang masih melekat di tubuh Grace sejak siang tadi dengan pelan-pelan nan apik takut istrinya terbangun. mungkin saking ngantuk juga lelahnya, Grace sama sekali tidak terganggu dengan aktivitas Leo pada dirinya.
deg.. Leo terpaku, rahangnya mengeras, lidahnya kelu tak bisa digerakkan kala menatap tubuh polos istrinya terdapat beberapa luka memar kebiruan di sana.
Leo menghela napas berat, Ia kembali mengutuk kebodohannya yang tertipu dengan ucapan istrinya jika dia baik-baik saja dan hanya menunjukkan luka di sudut bibirnya saja.
" Lo emang brengsek.. " umpatnya pada diri sendiri.
sebagai seorang suami, kali ini Leo nampak seperti pecundang yang membiarkan istrinya melawan dua pria bertubuh kekar sekaligus, walaupun pada akhirnya Grace juga yang memenangkan pertarungannya.
julukan Suhu yang terdengar seperti lelucon bagi Grace, memang pantas di sematkan untuk dirinya sebagai seorang perempuan yang mampu menumbangkan beberapa lawan dalam waktu yang cukup cepat.
Lagi, sebagai ketua dari tiga kelompok sekaligus yang dipimpinnya, Leo tetap tampak seperti pecundang ditengah gempuran Grace yang selalu di agungkan oleh para anggotanya.
selama ini Leo sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, akan tetapi kali ini Leo benar-benar merasa gagal sebagai suami yang harus melindungi istrinya.
.
.
.
Setelah mengoleskan salep gel pada beberapa luka memar di tubuh Grace dan mengenakan baju longgar untuk istrinya, Leopun membersihkan dirinya sebelum ikut berbaring di samping Grace.
__ADS_1
Seperti biasanya Leo mengusap kepala Grace yang berada di dekapannya dengan lembut seraya bergumam mendoakan kebaikan untuk keluarganya.
" gue tau, lo itu kuat Grace.. semua akan baik-baik aja sayang.. "
cup.. satu kecupan mendarat di kening Grace sebelum Leo turut memejamkan matanya.
tanpa Leo sadari, Grace mendengar semua gumaman doanya. terkadang pria menyebalkan di hadapannya ini bersikap romantis membuat Grace tersentuh akan doa yang tadi didengarnya.
gue kehabisan alasan buat gak semakin jatuh cinta sama lo Leonard..
πΏπΏπΏ
Sementara di tempat lain, Exel memutuskan untuk tidak pulang dari kediaman Wilson mengingat kondisi Silvie yang masih lemah.
Berbeda dengan Leo yang menyiapkan sejuta alasan untuk orangtuanya, Exel nampak acuh jika nanti orangtuanya menanyakan mereka yang tidak pulang. kabar kehamilan Silvie lah yang Exel yakini mampu membungkam semua rentetan pertanyaan dari orangtuanya.
Kediaman Wilson nampak di jaga dengan ketat oleh para anggota yang sudi berjaga di sana sesuai instruksi dari sang Leader yakni Leo. mengingat di sana ada pasien yang di paksa sembuh lebih tepatnya pelaku juga dalang dari masalah ini.
Leo mengingatkan kepada anggotanya agar tidak lepas pengawasan terhadap Aldo sebelum rencananya terealisasikan.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Grace terbangun dari tidurnya yang hanya terhitung beberapa jam saja itu.
walaupun Grace masih mengantuk juga rasa nyeri masih terasa di sekujur tubuhnya, Ia tetap memaksakan diri untuk tetap bangun di pagi hari sebab sudah sangat rindu dengan si kecil.
" tidur lagi Grace.. ini masih pagi, jam ngampus lo entar kan jam sepuluh.. " gumam Leo seraya mencekal tangan Grace yang hendak bangkit dari tempat tidurnya.
" hmm.. gue mau nyusuin Cio dulu.. sakit kalo gak di keluarin.. " sahut Grace santai menunjuk area dadanya.
" hmm kalo bisa hari ini gak usah ngampus dulu Grace.. "
sontak Gracepun melotot seraya memukul Leo yang menurutnya berotak jorok setelah dirinya menunjukkan mainan kesukaan Leo yang mungkin tergoda sampai bisa menyuruhnya libur.
" ck.. modus lo.. omes emang.."
" maksud gue lo harus banyak istirahat.."
Grace menelan ludahnya dengan paksa, suami dihadapannya membuatnya salah tingkah hingga wajahnya merah.
" Woah.. masih pagi istriku sudah berpikir jorok.. " ucap Leo kembali mengejek, jelas Ia suka sekali melihat Grace salah tingkah sebab malu atas pikirannya.
" brisik lo.. " sahut Grace sewot seraya melarikan diri ke luar kamar untuk menghampiri si kecil.
πππ
Silvie menatap laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya dengan membawa nampan berisikan semangkuk bubur hangat untuknya sarapan.
" makan dulu Sil.. "
Silvie mengangguk dengan senang hati menerima suapan dari suaminya. Ia jarang sekali mendapat perlakuan romantis dari Exel.
ah ayolah.. dia sadar akan hal itu, dan Ia sudah menerima suaminya yang terkesan dingin itu kedalam hidupnya.
Silvie tersenyum, matanya berbinar mengingat ada nyawa lain di dalam rahimnya. ini semua masih seperti mimpi.
mungkin dengan kehadiran anak di tengah keluarga kecilnya akan membuat Exel jauh lebih hangat juga romantis kepadanya.
Yakin, Silvie sangat optimistis, Exel akan lebih hangat dan perduli dengan dirinya yang sedang mengandung itu.
untuk sohibnya saja Exel akan melakukan apapun dan sifatnya berubah drastis menjadi lebih lembut kala menuruti semua kemauan Leonard yang ngidam dulu, apalagi untuk istrinya yang jelas mengandung buah cintanya.
Dia harus menjaga dengan baik titipan dari Tuhan untuknya, maka dari itu Silvie memakan makanannya dengan lahap walaupun terasa hambar dilidahnya. ini semua demi janin yang di kandungnya.
mengingat sikap hangat Exel waktu Grace mengandung dan Leo yang mengalami ngidamnya membuat Silvie teringat akan nasib sahabatnya saat ini.
Ia tahu betul semalam Aldo sudah menyebarkan berita palsu tentang Grace.
" Grace.. lo baik-baik aja kan..? " gumamnya seraya menunduk masih terdengar jelas oleh Exel.
" dia pasti baik-baik aja Sil.. " sahut Exel seraya meraih tangan Silvie yang kembali gemetaran. Exel tak suka melihat Silvie murung dan kembali terserang paranoidnya.
__ADS_1
Silvie menggelengkan kepalanya,
" no.. gue tahu dia.. lo harus lakuin sesuatu bang buat bersihin namanya.. gue percaya sama lo.. "
Exel menelan ludah kasar, tenggorokannya benar-benar sakit. Ia kembali teringat akan ucapan sohibnya yang melarang dirinya membantu mereka.
" ada suaminya Sil.. si Leo juga tau apa yang harus dia lakuin buat istrinya.. "
" ya tapi kan tetep lo harus bantuin dia.. "
melihat Exel diam saja, membuat Silvie berdecak kesal.
" yaudah kalo abang diem aja, gue sekarang berangkat ke kampus.. "
Exel langsung mencekal lengan Silvie yang masih tertusuk jarum infusan, tidak seperti biasanya Silvie menjadi keras kepala.
" jangan gila Sil.. okeh gue ke kampus sekarang.. "
" gitu dong.. "
" sekalian gue mau ajuin cuti buat Lo.. "
Sontak Silvie mengerjapkan matanya, baru saja Ia mendapat angin segar dengan kesudian Exel membantu sahabatnya, sekarang Ia harus menerima keputusan menyebalkan dari suaminya.
" cuti..? ogah.. gue bosen bang kalo gak ngampus.. gak bisa cuci mata liat cogan.. " seketika Silvie langsung menutup mulutnya kala mendapat tatapan tak suka dari Exel.
" ck.. apa suami lo kurang tampan Sil..? " sahut Exel seraya mendekatkan wajahnya dengan mata Silvie agar istrinya bisa dengan jelas dan leluasa mengamati wajah tampan Exel yang dirasa kurang di syukuri oleh Silvie.
Silvie terkekeh pelan seraya menjauhkan wajah Exel dengan tangannya, sungguh Ia tak kuasa jika berlama-lama adu tatap dengan suaminya yang terlewat tampan itu.
" kalo emang bosen dan mau cuci mata liat cowok-cowok ganteng, gak usah nanggung Sil.. mau gue datengin aktor-aktor Bollywood, Hollywood, Korea.. "
Silvie menggeleng dengan cepat, belum sempat dirinya menyahut, Exel kembali menawarkan.
" atau mau gue undang artis K-pop.. ah iya bias bias lo Sil.. kim namjoon . . kim Seokjin.. min.. "
Silvie terkekeh geli, " Stop bang..!!!" selanya menghentikan ocehan Exel.
Silvie tak habis pikir mengapa suaminya ini tiba-tiba banyak bicara dan bertingkah menggemaskan. bahkan Exel sangat hafal dengan yel-yel salah satu fandom boyband luar negeri.
apakah Exel suka mengamati Silvie yang selalu excited jika mendengarkan lagu-lagu kpop favoritnya. entahlah, intinya saat ini Exel terlihat menggemaskan sekali.
" gimana Sil..? " tanya Exel seraya menaikan sebelah alisnya.
Silvie kembali menelan ludah kasar, walaupun terdengar seperti lelucon. tapi Ia tahu jika Exel selalu tidak main-main dengan ucapannya.
" cuti ya.. okeh kayaknya itu bukan ide buruk.. " ucapnya pasrah.
...--------------...
Grace tengah berdecak pinggang di halaman rumahnya yang di penuhi motor para anggota. baru saja dirinya merasa lega. tadi sebelum Leo berangkat ke kantor, Leo mengambil alih menjawab serentetan pertanyaan dari ibunya yang malas Grace jawab karena harus mencari alasan.
" lo semua belom pada tidur kan..? " tanya Grace tegas.
" kita beda lagi suhu.. yang malem laen lagi, udah pada cabut.. " sahut salah satu anggota.
Grace manggut-manggut paham, semalam dirinya tidak terlalu memperhatikan satu-persatu anggota yang berjaga di kediaman Wilson. Grace melupakan sesuatu, dirinya tidak hapal betul wajah para anggota yang sangat banyak itu.
Grace juga tidak mengetahui dengan terbaginya para anggota yang sebagian bergantian menjaga kediaman Wilson dan sisanya di tugaskan untuk mengawal dirinya.
brumm.. Grace mulai menyalakan mesin motornya.
" knalpot baru bos.. " celetuk anggota.
" yoi.. tau aja lo.. kuy modif di bengkel gue, diskon buat lo mah.."
sahut Grace songong seraya menggeber motornya. jiwa marketingnya tiba-tiba hadir, Grace terus menggeber mengompori mereka berharap tergiur dengan tawarannya.
seketika aktivitas Grace langsung terhenti kala mendapati mama mertua bertolak pinggang menggelengkan kepalanya.
" Cio baru aja merem Grace.. "
Grace langsung melayangkan tangannya ke atas " Vis mah.. " ucapnya cengengesan tanpa dosa.
" kuy.. cabut..!!! " ajak Grace pada para anggota yang sempat melongo melihat interaksi antara mertua dan menantu laknatnya itu. suhu mereka terlihat menggemaskan bak anak nakal yang mendapat teguran dari ibunya.
Deti menggeleng berdecak menatap kepergian segerombolan motor sport keluar dari area rumah anaknya.
__ADS_1
" untung sayang.. "