Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 130


__ADS_3

di waktu yang sama Silvie nampak sedang berbincang dengan beberapa ibu-ibu yang memang sudah biasa nongkrong di saung kecil sebrang rumahnya di waktu tersebut.


Sepulangnya tadi dari pasar, wanita itu mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. beruntung sebelumnya Exel memang rajin melakukan pekerjaan tersebut sehingga membuat pekerjaan Silvie kali ini tidak terlalu berat.


" mba, suaminya pulang noh.." celetuk salah satu ibu membuat Silvie menyerit heran.


" biasa mba, bu Mina emang udah hafal sama suara motor si masnya.."


" betul mba, radius tiga kilo aja masih hafal.."


Silvie terkekeh mendengar celetukan-celetukan itu, sedari tadi Ia merasa terhibur dengan candaan mereka.


" pulang gih mba, keburu suaminya nyampe, entar gak di izinin ngumpul lagi.."


Silvie mengangguk terkekeh, " kalo gitu saya duluan bu ibu.." ucapnya sambil bangkit dari duduknya dan segera bergegas menuju rumah.


terlambat. baru saja Silvie berjalan tiga langkah, namun Exel sudah menepikan motor tepat di hadapannya. Kemudian pria itu membuka helmnya membuat Silvie menelan ludahnya kepayahan.


" bang.." ucapnya gugup seraya mencium punggung tangan Exel yang baru saja di raihnya.


Sementara Exel menanggapinya dengan senyuman termanis seraya mengusap lembut pucuk kepala Silvie hingga sukses membuat ibu-ibu di sana menggigit jari kompak.


" pinsan berjamaah ini mah kalo kelamaan liat keuwuan mereka.."


.


.


.


Exel duduk di sofa sambil melepas sepatunya. Pria itu kemudian terdiam di tempat duduknya menatap Silvie yang melangkah menghampirinya dengan nampan berisikan segelas air dingin di lengannya.


" di minum bang.." ucap Silvie seraya meletakan gelas tersebut di atas meja.


Sementara Exel diam tidak menyahuti. Pria itu malah asik memperhatikan wajah cantik istrinya.


Silvie memang selalu terlihat cantik dalam keadaan apapun. Seperti saat ini yang mengenakan daster rumahan sederhana, tetapi tidak mengurangi kadar kecantikannya.


" ehem.."


" eh iya.. makasih Sil.." sahut Exel gelagapan, kemudian Ia langsung meneguk habis minumannya.


" gak usah Sil.." Exel segera mencegah Silvie yang hendak menaruh sepatunya.


" sini duduk.." lanjutnya sambil menepuk tempat di sampingnya.


Silvie mengangguk, segera Ia duduk di samping Exel hingga membuat suaminya itu langsung tersenyum senang dan mengubah posisi hingga berhadapan dengannya.


" ehem.." Exel meraih tangan Silvie tanpa penolakan dari wanita itu.


Sejenak Exel mengamati penampilan Silvie. ada sedikit rasa nyeri di dadanya kala mendapati istrinya mengenakan pakaian murah jauh dari kebiasaan sebelumnya yang mewah.


" maafin abang Sil, karna abang Silvie terpaksa hidup kayak gini.." ucap Exel lirih menatap nanar sang istri.


Silvie menunduk diam, tetapi Ia merasakan detak jantungnya berdetak lebih kencang sebab mendengar kembali kalimat kejutan dari mulut suaminya barusan.


" kalo Silvie gak nyaman atau gak betah-"


" betah ko bang.." sela Silvie sambil mendongak membuat Exel terkekeh pelan.


" Silvie betah ko bang, tetangganya asyik-asyik.. Apalagi emaknya si Iyan.."


Exelpun tersenyum menanggapi Silvie yang berceloteh menceritakan kegiatannya hari ini. ini yang di rindukan oleh Exel, yakni sifat bawel istrinya. terlebih istrinya itu mampu mengimbangi gaya bicaranya.


" oh ya, abang gak usah nyuci baju sambil mandi lagi, kan sekarang udah ada istrinya.." ucap Silvie cekikikan membuat Exel mengangguk terkekeh pelan.


" hmm, sejak tinggal di sini abang jadi terbiasa apa-apa sendiri.." sahut Exel santai sukses membuat Silvie merasa tertampar. wanita itu merasa sudah berdosa sekali terhadap suaminya.


" rumah ini nyaman banget yah bang.. kalo ada rejeki lebih beli aja bang.." ucapnya Silvie dengan nada bercanda. Wanita itu jelas mengalihkan pembicaraan.


" oh iya, ngomong soal rejeki nih, abang ada rejeki hari ini khusus buat istri abang.."


Exel segera merogoh sesuatu di dalam saku jaketnya, kemudian Ia memberikannya kepada Silvie.


tangan Silvie sontak saja gemetaran ketika menerima sebuah amplop yang berisikan uang dengan jumlah yang cukup banyak itu. tetapi bukan itu yang membuat Dia gemeteran, melainkan ucapan dan sikap manis Exel terhadapnya.

__ADS_1


" banyak banget bang, ini gajih abang semua?" ucap Silvie dengan hati-hati. Silvie merasa dejavu, maka dari itu Dia tidak ingin menyinggung kembali perasaan pria di hadapannya kini.


Exel menggeleng cepat, " bukan, itu bonus yang abang dapet hari ini.. gaji mah laen lagi.."


" itu khusus buat keperluan pribadi Silvie, yang lainnya serahin sama abang.." lanjut Exel seraya menaikturunkan kedua alisnya membuat Silvie mengangguk terkekeh,


" okeh, tapi entar abang gak usah nanyain uangnya abis di pake apaan yah.. Silvie juga gak bakalan nanyain pendapatan abang berapa-berapanya, pantang tau.." ucap Silvie sambil mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Exel seolah akan melakukan perjanjian saja.


Exelpun menyambut dengan menautkan jari kelingkingnya dengan milik Silvie, kemudian Ia tersenyum tipis menatap wajah istrinya itu.


Silvie nampak sangat tidak minat sama sekali intuk sekedar mengucap syukur juga terimakasih kepada orang yang sudah memberikannya pekerjaan yang tak lain yakni Leo juga Grace. Dan itu salah satu pr terbesarnya untuk mendidik Silvie.


Exel menghela napas panjang ketika tiba-tiba bayangan seseorang yang sangat penting hadi di benaknya kini.


" sil.."


" eh iya bang kenapa..?"


" kemungkinan besok mami bakalan ke sini, emang seminggu sekali biasa kesini.."


" kenapa gak kita aja yang ke sana bang? bukannya lebih bagus kalo anak yang nengokin orangtuanya.. bukan malah sebaliknya.."


satu kemajuan dari sikap Silvie hari ini sukses membuat Exel tercengang. Dia kembali memantapkan niatnya yang akan merubah Silvie menjadi Silvie dulu lagi.


" sedikit lagi sampe lo bisa nerima sahabat lo sendiri Sil.."


...----...


Waktu menunjukan pukul sembilan delapan malam, tetapi pasangan Leo dan Grace sudah mau istirahat saja.


Entahlah, mungkin karena keduanya merasa kekenyangan sebab terlalu banyak makan sore tadi. Mungkin juga keduanya merasa kelelahan dengan aktivitas seharian ini. atau mungkin kelelahan yang lainnya?


" satu ronde aja nih jhon.." ucap Grace menantang sambil tangannya nakal menggerayangi bagian sensitif Leo. wanita itu merasa belum puas membuktikan siapa yang payah di antara dia dan suaminya itu.


" ck.. gak usah goda.. gue capek banget.."


" jadi siapa nih yang payah..?"


" iya gue yang payah.. gue beneran mau istirahat, capek.." sahut Leo pasrah sambil menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut.


" hmm, apa lagi Grace.." sahut Leo dengan suara beratnya.


" itu tadi gue lupa nanyain ke lo daddy sama Ibu ada ngomong apa sama lo..?"


" hmm itu Daddy mau acara pesta nanti di gelar di rumahnya.."


" terus lo nanggepinnya gimana Le..?" tanya Grace penasaran.


" menurut lo..?" sahut Leo sewot membuat Grace terkekeh geli.


" terima dong.. " timpal Grace terkekeh sambil memaksa tangan Leo untuk berhivi dengannya.


" hmm lumayan budgetnya buat beli ducati iya gak? " celetuk Grace enteng membuat Leo berdecak kesal sebab di ingatkan lagi dengan kemauan istrinya yang horor itu.


Leo melirik Grace dengan tatapan malasnya. kemudian pria itu kembali ke posisi semula yakni memunggungi istrinya. dia benar-benar kelelahan hingga membiarkan Grace mengoceh sendiri.


" sialan lo malah merem duluan.. terus dari tadi gue ngoceh siapa yang dengerin? kampret emang lo.. "


...*...


pagi harinya Grace nampak merajuk karena kesal semalam Leo mendahuluinya untuk tidur. Wanita itu menyantap sarapannya dalam diam, namun begitu lahap juga sangat cepat menghabiskannya hingga membuat Leo menggelengkan kepalanya.


Grace menghela napas kasar kala menatap Leo yang malah ikut-ikutan terdiam seperti dirinya. Dia menunggu suaminya peka dan mengucapkan sebuah kalimat bujukan untuknya, sayangnya Leo benar-benar mengacuhkannya.


" ck.. resse.." Grace meletakan sendok di piringnya dengan kasar, kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah dengan menghentakkan kakinya.


Leo terkesiap, dia segera mengakhiri sarapannya dan ikut berdiri sambil menatap heran ke arah Grace.


Tidak ingin membuang waktu, Leopun segera mengejar Grace dan..


grep.. dengan entengnya Leo menggendong Grace ala bridal style membuat istrinya itu terkejut karena aksi mendadak itu.


" ck.. gue tau lo lagi ngambek.." ucapnya seraya menatap Grace yang masih memajukan bibirnya kesal. tingkah Grace yang merajuk malah membuatnya terlihat kekanakan. dan Leo suka itu.


" nyebelin.." sahut Grace sambil memukul pelan dada bidang Leo membuat pria itu terkekeh geli.

__ADS_1


Leo merasa jika tingkah Grace kali ini berhubungan dengan kehamilannya, maka dari itu Ia akan memperlakukan istrinya lebih istimewa lagi. Seperti saat ini Ia sangat bersemangat menggendong Grace sampai menuju garasi rumahnya.


.


.


.


Hari ini baik Leo maupun Grace sama-sama ada jadwal kuliah pagi hingga mengharuskan mereka berangkat bersama menuju kampusnya.


dengan mudahnya Grace berubah mood karena tindakan manis Leo tadi. apalagi suaminya itu membelikannya banyak cemilan saat mampir di minimarket pinggir jalan tadi.


" buka mulutnya dong.." ucap Grace yang hendak menyuapi Leo dengan cemilannya itu.


Leo menurut. walaupun dirinya merasa kenyang, namun Ia tidak ingin merusak kembali mood istrinya itu.


Grace terus menyuapi Leo yang sedang mengemudi itu. entahlah, hanya itu kemauannya saat ini. Grace sendiri bingung mengapa bisa merasa sebahagia ini ketika melihat suaminya mengunyah.


di menit berikutnya Grace dibuat melongo tak percaya ketika matanya tak sengaja melihat dua orang yang sangat di kenalnya dengan menunggangi motor sport.


" woah.. liat noh manten rujuk.." celetuk Grace tiba-tiba membuat Leo tersedak dengan makanan yang masih berada di mulutnya.


" sorry.." ucap Grace cengengesan sambil menyodorkan air minum kepada Leo. beruntung suaminya itu hanya mengangguk tersenyum menanggapinya.


" tadi gue liat motor si El nyalip, ternyata dia juga bonceng si kermi.."


lagi-lagi Leo hanya mampu tersenyum menanggapi istrinya hingga suasana menjadi hening. Leo melirik ke arah Grace, dia bisa melihat raut bahagia dari wajah istrinya.


semetara Grace sedang bersama dunianya sendiri, dia tampak terkekeh pelan mengingat semua memorinya bersama Silvie. kegilaan yang mereka lalui itu merupakan kenangan yang sangat sulit untuk di lupakan.


" gue seneng kalo lo balik kayak dulu lagi Sil, gue kangen lemotnya elo Sil.."


.


.


.


Mobilpun tiba dan berhenti di parkiran kampus. Leo segera membantu Grace yang tampak kesulitan membuka sabuk pengamannya. Kemudian Leo bergegas keluar hendak membukakan pintu untuk Grace. tetapi sebelum benar-benar keluar, pria itu dengan santainya mengecup bahkan m*l*m*t ganas bibir Grace tanpa permisi hingga membuat istrinya itu terkejut langsung memukul kasar bahunya.


" kampret lo Leonard.. malu tau kalo di liat orang.." ucap Grace ketus berlagak mengelap bibirnya di hadapan Leo.


" ck.. malu tapi mau juga kan.." sahut Leo sambil langsung turun karena Ia menghindari pukulan yang akan kembali Grace layangkan untuknya.


Gracepun turun dari mobilnya bertepatan dengan motor Exel yang tiba-tiba mendekat ke arahnya. Pria itu memang sengaja akan menurunkan Silvie di sana agar istrinya itu berjalan bersama Grace menuju kelasnya.


" perasaan gue liat tadi lo duluan El, kenapa baru nyampe..?" tanya Leo kepada Exel yang sudah membuka helmnya di ikuti oleh Silvie, tetapi wanita itu terlihat enggan turun dari motor tersebut.


" tadi isi bensin dulu.."


" subsidi..?"


" mana ada anying.. mentang-mentang gue lagi kere-"


" ck.. baper lo kayak.." seketika ucapan Leo langsung terhenti kala menyadari kehadiran Silvie di sana. hampir saja dia salah berucap.


" gue tau lo mau ngomong apaan.." bisik Grace terkekeh pelan sambil menyikut Leo yang tampak kikuk itu.


" makannya punya mulut selain maen nyosor gitu aja, jaga juga biar gak maen nyeletuk kayak barusan.." lanjut Grace dengan nada mengejek membuat Leo memutar bolanya malas.


Kemudian Grace beralih menatap Silvie yang tak kunjung turun juga dari motornya. seulas senyuman terbit dari bibir manis Grace, dia sangat antusias menyambut kembalinya Silvie seperti dulu lagi.


" hi Sil, kuy bareng ke kelas.." ajaknya pada Silvie, bahkan gaya bicaranya terdengar santai seolah tidak terjadi sesuatu antara keduanya.


Sementara Silvie diam tidak menyahut, wanita itu malah memalingkan wajahnya ke sembarang arah. dan Leo melihat itu, sedari tadi Ia diam-diam mengamati Silvie sambil mengajak Exel berdebat. Dia bisa melihat tatapan tidak bersahabat dari wanita itu kepadanya juga Grace.


Leo beralih menatap Grace yang masih mengulas senyuman. Dia tahu jika istrinya itu berusaha menyembunyikan perasaan kecewa di balik senyuman itu. Leo mengeraskan rahangnya kuat, dia merasa sesak melihat istrinya yang lagi-lagi tersakiti oleh Silvie.


Begitupun dengan Exel, dia pikir dengan perubahan sikap Silvie yang begitu drastis terhadapnya, itu juga berlaku kepada Leo juga Grace. Dia juga bisa melihat wajah sohibnya yang menunjukan raut marah.


" ayo gue anter aja.." Leo kini merangkul pinggang Grace dengan lembut. Grace mengangguk setuju, dia memilih pergi ke kelasnya di antar Leo dari pada harus membuang waktu menunggu sahabatnya yang entah sampai kapan mau menerimanya kembali. Grace hanya ingin tetap menjaga kewarasannya, itu saja.


Keduanyapun melangkah pergi dengan mesranya meninggalkan Exel dan Silvie di sana. namun sebelumnya, Leo mendekat ke arah Exel lebih dulu. Pria itu menyunggingkan salah satu bibir atasnya membuat Exel menelan ludahnya susah payah, terlebih saat Leo membisikkan sesuatu yang sukses membuatnya mengepalkan tangan sangat kuat.


" ck..belum bisa didik bininya.. pengecut tetaplah pengecut.."

__ADS_1


__ADS_2