
pekerjaan Exel sudah selesai dari tadi, dia sudah menaruh hasil karyanya di dalam kulkas. Exel juga membuat lebih untuk kedua pegawai di rumah tersebut karena sudah membantunya merapihkan dapur yang Ia buat berantakan bersama si kecil tadi. walaupun itu memang tugas mereka, tetap saja Exel merasa harus berterimakasih.
sekarang Exel sedang menyuapi si kecil sambil membiarkan batita itu memainkan ponsel miliknya. sebelumnya Exel juga sudah memandikan si kecil selagi menunggu Leo dan Grace yang tak kunjung keluar dari ruang kerja itu.
" mami sama papi lama banget yah, tapi gak papa yang penting uncle bisa main sama Cio.. " ucapnya sambil menyuapi kembali si kecil.
si kecil berceloteh sambil menunjuk ponsel milik Exel membuat pria itu menatapnya bingung.
" itu Cio mau nonton kartun kesukaannya kali den.. " celetuk Lilis melihat kebingungan Exel.
" biasanya Cio nonton di hape mami papinya.. " lanjut Lilis membuat Exel tercengang.
" ck, anak kecil udah di cekokin hape.. " ucap Exel ketus membuat Lilis langsung pergi mencari aman.
" gak boleh yah nak, mata Cio entar sakit.. " bujuknya dengan lembut, tapi sayangnya si kecil malah merengek membuat Exel menghela napas pasrah.
Exel menyerah. Iapun menyalakan ponsel dan langsung membuka tayangan yang di sukai si kecil. melihat si kecil kegirangan dan berceloteh mengikuti apa yang ada di tayangan tersebut, berhasil membuat Exel merasa bahagia dan melupakan sejenak segudang masalah di hidupnya.
drettt.. drett.. ponsel tersebut berdering membuat Exel terbelalak.
" mampus, ceroboh banget lo El.." Exel mengutuk kebodohannya sendiri. dimana sedari tadi Ia sengaja mematikan koneksi internet di ponselnya agar Silvie tidak bisa mengetahui keberadaannya.
Exel hendak meraih ponselnya di tangan si kecil. terlambat, tangan si kecil mengusap layar ponsel tersebut hingga panggilan itu pun langsung terhubung. dan sialnya lagi si kecil malah mengalihkan panggilan tersebut ke sambungan videocall. terpangpanglah sosok Silvie di layar sana bersebrangan dengan wajah si kecil.
...***...
sebelumnya...
Silvie moodnya sudah lebih baik karena selama perjalanan pulang, tak hentinya Ia di buat tergelak dengan kelakuan random dari Ari juga Megan sahabatnya. Dia bahkan melupakan kekesalan terhadap Exel yang pergi begitu saja bersama Leo dan Grace, terlebih mendengar penjelasan dari Ari membuatnya sedikit percaya dengan suaminya.
" gak mampir dulu lo pada. ? " tanya Silvie ketika mobil yang ditumpanginya berhenti di tepi jalan sebrang rumahnya.
" gak usah, kita langsung cabut aja.. " sahut Megan.
" busettt dah gini hari tuh emak-emak pada nongkrong, gak takut sawan apa..? bukannya masak buat makan malem anak lakinya malah asyik ghibah.." celetuk Ari seraya menggeleng berdecak kala melihat beberapa ibu-ibu di sana.
" udah biasa kali pada ngumpul gitu, lagian mereka nongkrong juga abis kerjaan rumah kelar, masak juga pada gak lupa keles.." timpal Silvie sewot.
" ko ibu bisa tau..? " celetuk Megan membuat Silvie memutar bola matanya malas.
" gue pernah ikut juga-"
" widih circle lo laen lagi Sil.. ? yaudah turun gih, siapin makan malam buat laki lo.. " sela Ari dengan nada mengejek membuat Silvie memajukan bibirnya sebal.
" udah bisa masak kan bu? " celetuk Megan disusul gelak tawa dari Ari. pria itu teringat akan dirinya sempat memergoki Exel yang membuang bekal dari Silvie dan memilih menyantap makan siang yang dibawakan olehnya.
" gak bisa, gue bisanya dandan.. puas kalian? " sahut Silvie sewot membuat pasangan itu terkekeh.
" cantik doang masak aer-"
" biar mateng.. "
" cakep.. "
" bacot lo berdua..!!! " Silvie langsung turun dan menutup pintu mobil tersebut dengan kerasnya.
" Sil.. minimal masak nasi.. " celetuk Ari setengah berteriak membuat langkah Silvie yang tergesa itu langsung terhenti dan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Silvie hanya bisa menghela napas panjang kala Ia tersadar di sana banyak pasang mata yang menyorotnya. Dia harus menahan kekesalannya dengan bertingkah seanggun mungkin di hadapan ibu-ibu yang sudah mengenalnya.
kemudian Silvie mengirimkan pesan yang berisikan umpatan di tujukan untuk pasangan tersebut.
sontak saja Ari dan Megan kembali tergelak sambil hivi dengan kompak setelah membaca pesan tersebut. parahnya si pengirim pesan tersebut terlihat melambaikan tangan sambil memberikan senyuman kala mobil itu hendak pergi dari sana.
" definisi laen di mulut laen di hati. "
" apaan anjir gak jelas.. "
" lah emang kita gak jelas kan bie.. "
.
.
.
Silvie benar-benar mengikuti saran Ari yang sempat di umpatnya tadi. minimal masak nasi, itulah yang di lakukan wanita itu, selebihnya Ia akan meminta Exel untuk membeli lauknya nanti.
ah, suaminya itu sedari tadi susah sekali di hubungi.
" gue harus kabarin dia kalo udah gue di rumah.. " gumam Silvie sambil mencoba kembali menghubungi Exel.
nihil. Lagi-lagi Exel susah untuk di hubungi membuat Silvie merasa gelisah. Wanita itu tampak mondar-mandir dengan perasaan cemas sekaligus cemburu mengingat suaminya itu tengah pergi dengan Grace, seseorang yang belum sepenuhnya Ia terima di hatinya.
sejenak Silvie menghela napas dalam-dalam mencoba membuang pikiran negatifnya mengingat di sana juga ada Leo, sudah bisa di pastikan jika Exel tidak akan berbuat macam-macam dengan Grace.
Silvie terkekeh karena sudah berburuk sangka terhadap suaminya sendiri. kemudian wanita itu tampak mengetikkan satu pesan untuk Exel.
" bang El, Silvie udah di rumah di anter Megan sama Ari.. kalo bisa abang pulangnya beli lawuhan, soalnya Silvie cuma masak nasi doang. hati-hati di jalan yah suamiku.. "
beberapa menit kemudian Silvie melihat laporan jika pesan itu terkirim, bahkan sudah dibaca juga oleh si penerima.
" berarti udah aktif nih.. " gumamnya tersenyum senang. kemudian dengan segera Ia menghubungi Exel kembali.
" aaa.. bang El minta videocall.. " Lagi-lagi wanita itu kegirangan sambil merapikan rambutnya, bagaimanapun juga Dia harus terlihat cantik di depan suaminya.
deg. seketika senyuman di wajah Silvie lenyap begitu saja begitu panggilan itu terhubung, nampaklah sosok anak kecil yang selalu membuatnya cemburu.
Lucio, anak yang selalu dirindukan oleh Exel, anak yang sering membuatnya terabaikan karena selalu di prioritaskan oleh suaminya.
anak itu berceloteh seolah menyapa Silvie, wanita itu bisa mendengar juga melihat sosok suaminya yang memang tak sengaja tersorot kamera.
" Cio.. sini, uncle pinjem hapenya bentar yah.. " ucap Exel di sebrang sana.
tanpa membuang waktu lagi, Silvie langsung memutuskan panggilan tersebut, dan mematikan ponselnya.
Silvie menangis sejadi-jadinya. baru saja Dia mendapat harapan baru tentang nasib baik pernikahannya bersama Exel, tapi kini Ia merasa tertampar. terlebih jika ingatannya mengarah tentang anak membuatnya merasa pesimis.
" arggghhh.. sialan.. " Silvie melemparkan ponsel yang berada di genggamannya ke tembok hingga ponsel tersebut hancur berkeping-keping seperti hatinya saat ini.
Dia tidak pernah segila ini sebelumnya. memang sejak kehilangan calon anaknya, mental Silvie sedikit bermasalah hingga mengharuskan sang ayah membawanya ke psikiater, tetapi Silvie selalu menolak dengan dalih Dia tidak gila.
kemudian wanita itu meringkuk seperti bayi di atas sofa. tangisannya mulai reda, tetapi dadanya masih terasa sesak.
" jahat, lo jahat.. " gumamnya sambil terisak. Dia merasa hatinya retak kala harus menerima kenyataan jika Exel masih dan lebih perduli terhadap orang lain daripada dirinya.
__ADS_1
...****...
Sementara di tempat lain, Exel segera memilih pergi dari rumah Leo tanpa berniat berpamitan terlebih dulu kepada tuan rumah, mengingat mereka yang tak kunjung keluar juga.
" gak nunggu Den Leo sama Non Grace den..? " tanya Lilis kala Exel menghampirinya untuk berpamitan sekaligus menitipkan si kecil kepada wanita paruh baya itu.
Exel menggeleng, " enggak bi, kelamaan.. lagian mereka kalo maen durasinya panjang.. "
" hah, apanya Den, bibi gak ngerti.. " sahut Lilis bingung.
" biasa, mabar game online.. "
" oh itu, bener den, mereka kalo maen game suka lupa waktu.. " timpal Lilis dengan wajah polosnya membuat Exel menghela napas lega.
tadinya Exel berpikir jika Lilis mengerti akan ucapannya yang mengarah ke hal yang berbau sensitif. beruntung wanita paruh baya itu tidak memahaminya.
" hmm, bilang sama Tuan besar, kalo El make motornya yah bi.. "
" Siap Den, tapi tunggu dulu sebentar Den.. " sahut Lilis sambil berlari kecil menuju dapur membuat Exel mau tak mau menunggunya.
tak lama Lilispun datang kembali dengan sebuah kantong yang menggantung di tangannya.
" ini Den, bibi masak banyak.. semoga Den Exel suka.. makasih buat salad buahnya.. "
" makasih bi.. "
Setelah berpamitan dengan Lilis, Exel pun segera pulang dengan membawa motor milik sohibnya mengingat motornya yang masih tertinggal di kampus. Dia tidak punya banyak waktu jika harus mengambil motornya dulu ke sana. Dia harus segera menemui istrinya.
Exel melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang nampak lengang itu. beruntung motor yang d tungganginya itu bertenaga ekstra tinggi hingga membuat Exel tak butuh waktu lama untuk tiba di rumahnya.
" karya si bos emang gak pernah gagal.. tenaga lo nyaingin si Rosi yah.. " gumamnya sambil menepuk motor tersebut.
Dia memang sedang memuji kinerja Grace juga tenaga motor wanita itu. sengaja Ia tidak menyebut nama itu mengingat ini sudah di depan rumah. Dia takut jika Silvie mendengarnya akan memperburuk keadaan.
ceklek.. Exel tertegun sejenak kala pintu itu terbuka langsung menampilkan sosok Silvie yang tengah meringkuk di atas sofa dengan mata terpejam.
kemudian Exel berjongkok di hadapan Silvie, dia bisa melihat mata istrinya itu yang sembab, juga helaan napas yang tersendat-sendat membuatnya merasa bersalah.
" sorry.. udah buat lo nunggu lama.. " gumamnya seraya mengusap lembut kepala Silvie.
Exel terbelalak, kala ekor matanya tak sengaja mendapati ponsel milik Silvie hancur berceceran.
" brensek lo El, lo emang pengecut.. " umpatnya pada diri sendiri.
Exel semakin di buat frustasi dengan sikap Silvie yang kembali berubah itu. Ia juga tahu akan hal mental istrinya itu. maka dari itu Ia berusaha secara perlahan untuk mengendalikan Silvie agar seperti dulu lagi.
" sialan.. " Exel bingung harus bagaimana, Dia menginginkan Silvie benar-benar kembali seperti dulu lagi termasuk menerima kehadiran Grace dengan lapang dada. tapi nyatanya wanita itulah yang selalu menjadi alasan rusaknya mental Silvie.
Exel merasa usahanya kembali sia-sia. Dia hampir menyerah. di tatapnya wajah yang terlelap itu dengan sendu.
" gue gagal.. lo boleh balik lagi sama orangtua lo Sil.. tenang, gue gak bakal ngemis cinta lo lagi kalo emang lo ngerasa gak nyaman hidup sama gue yang masih suka peduli sama orang laen.."
Exel tersenyum ketir, Dia tidak percaya bisa berkata seperti itu. entah benar atau salah, Ia merasa lelah dan nyaris menyerah.
" yah, lo emang harus balik ke orangtua lo Sil.. gue bukan rumah lo-"
" gak mau..!!! "
__ADS_1
deg.