Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 165


__ADS_3

Grace melengos pergi bukan untuk menyusul Leo ke dalam rumah, melainkan menghampiri Silvie yang tengah berkumpul dengan circlenya.


" jadi angsuran Neng Silvie tinggal tiga kali lagi yah.. " ucap seorang Pria tua yang terlihat menuliskan sesuatu di buku catatan tebal.


" beres bang.. boleh ngambil lagi gak..? "


" lo punya utang Sil..? " celetuk Grace sambil memegang pergelangan tangan Silvie hingga wanita itu menoleh menatapnya.


" yoyoy.. " sahut Silvie tanpa dosa bahkan terkesan bangga.


Grace menghela napas panjang seraya melepaskan cengkeramannya. kedua tangannya kini beralih menyentuh pundak Silvie dan menatapnya secara intens.


Silvie yang semula terlihat santai, kini langsung menunduk menelan ludahnya kepayahan. entah mengapa Dia tidak berani sekedar membalas tatapan Grace. tatapan yang menurutnya penuh kekecewaan.


" Sorry.. lo pasti malu ya punya temen kek gue yang punya utang.. " ucap Silvie terdengar lirih dan masih tak berani mendongakkan kepalanya.


Grace menggeleng tersenyum tipis mendengar itu. Dia heran mengapa Silvie mau berhutang, apakah Exel sudah tidak mencukupi kebutuhannya. padahal jika dipikir, gaji yang Exel dapat dari bengkelnya sangatlah besar, belum bonus dan tips setiap Pria itu menyelesaikan pekerjaannya. lantas apa yang membuat sahabatnya itu punya masalah hutang piutang.


" kenapa lo bisa ngomong kek gitu Sil..? "


" tatap gue kalo lagi ngomong.. "


Silvie mendongak ragu, beberapa kali Ia menelan ludahnya kepayahan. namun tatapan Grace kini menjadi sayu.


" lo bisa mikir kek gitu sih.. lagian siapa yang bakalan malu? harusnya omongan lo berlaku buat laki lo sendiri.. Dia malu kagak punya bini yang berutang. yak kali si El gak nyukupin kebutuhan lo.. "


Silvie terdiam kembali menunduk, Dia sama sekali tidak menyalahkan ucapan Grace yang memang benar adanya. Dia tidak berpikir ke arah sana sebelumnya. beneran bego otak gue..


Diamnya Silvie membuat Grace merasa seolah di beri kesempatan untuk memberi sahabatnya wejangan. bagaimanapun juga di dalam persahabatan mereka harus saling mengingatkan.


" gue tanya Sil.. si El gak nyukupin kebutuhan lo..? "


Silvie hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Grace.


" terus kenapa lo berhutang? lo ngutang apaan sih sampe mau ngambil lagi..? "


" Daster.."


" Daster? yang gue pake ini..? " taya Grace sambil menunjukkan pakaian yang dikenakannya. tadi Dia memang meminjam dari Silvie demi kenyamanannya saat tidur.


Silvie mengangguk membuat Grace menggeleng tak habis pikir.


" berapa duit..? "


" kalo cash cepe dapet tiga.. kalo ngutang jatohnya gocapan satu.. "


seketika Grace langsung menoyor gemas kepala Silvie. mengapa sahabatnya ini bodoh sekali. " lo tibang cepe dapet tiga, ngapa kagak cash aja sih.. "


" murah kan.. adem juga kan bahannya.. "


Grace memijat dahinya frustasi mendengar Silvie yang mengelak. bukan dia tidak membenarkan ucapan Silvie, baju itu memang benar nyaman Ia pakai, apalagi harganya sangat ramah di kantong. tapi fokusnya bukan membahas barang, melainkan tindakan Silvie.


" gue tanya sekali lagi, lo ngutang bukan karena lo kekurangan kan..? "


Silvie mengangguk cepat dan mendekatkan mulutnya ke arah telinga Grace hendak membisikkan sesuatu.


" sensasinya Grace.. apalagi lancar bayar terus dikasih lagi, auto iri ibu-ibu disini.. "


Grace berdecak kesal kembali menoyor kepala Silvie, " udah gue duga.. gak mungkin lo kekurangan.. "


" beresin utang lo.. jangan ngambil lagi.. kalo perlu gue borong tuh daster biar lemari lo penuh.. "


Silvie menggeleng takut kemudian meraih tangan Grace penuh permohonan.


" gak gitu konsepnya Grace.. lo mah apa-apa ngegampangin pake duit. yang ada entar ibu-ibu disini pada ilfil sama gue, kesannya gue blagu udah borong.. "


Grace menghela napasnya panjang, mencoba bersabar menghadapi Silvie yang tidak paham juga.

__ADS_1


" Sil.. lo boleh bergaul sama siapa aja, bonyok kita juga gitu kan ngajarin nya.. tapi gak semua kelakuan lo ikutin juga kali.. lo bela-belain ngutang cuma biar di akuin circle emak-emak disini iya..? "


Silvie mengangguk,


" lo gak perlu segitunya Sil.. lo jalanin aja seadanya. entar juga orang pada nyamperin sendiri buat gaul sama lo.. dan lo tau..? lo gak sadar apa yang lo lakuin itu ngaruh sama harga diri laki lo Sil.. apa jadinya kalo masalah ke begini nyampe ke telinga bonyok lo atau mertua lo.. "


Silvie terdiam sesaat membuat Grace lagi-lagi menoyor kepalanya gemas. sahabatnya itu terhitung lambat untuk mencerna setiap ucapannya.


" jadi gue salah ya..? "


" menurut lo..??? "


" yaudah lunasin utang gue.. mumpung abangnya belom pergi.. "


" hmm.. "


" borong juga kan??? "


" hmm.. "


" asyik..!!! "


" Sialan.. tadi aja sosoan nolak.. "


...*...


Hari ini merupakan hari keberuntungan bagi ibu-ibu tetangga Silvie. bagaimana tidak, mereka mendapat pakaian baru cuma-cuma dari Grace. apalagi pria tua yang paling merasa beruntung saat ini, semua barang dagangannya diborong habis. seandainya dia membawa stok lebih banyak mungkin Grace tidak keberatan untuk memborongnya juga.


" neng.. kita juga mau kaya neng Silvie utangnya di lunasin.. "


" boleh gak bang..? " Grace malah bertanya kepada Pria tua itu. Dia bukan keberatan memenuhi permintaan ibu-ibu disana. hanya saja Grace merasa tidak enak takutnya Pria tua itu kapok karena sudah tidak mempunyai daftar orang yang berhutang kepadanya.


" boleh pake banget neng.. " si Pria tua tampak sumringah. Lagi-lagi rejeki tak terduga dari Sang Pencipta melalui tangan Grace sebagai perantaranya.


" neng serius..? " salah satu ibu mewakili yang lainnya tampak tercengang. padahal mereka hanya bercanda tadi. menerima baju cuma-cuma saja mereka sudah senang dan sangat berterimakasih kepada Grace. apalagi sekarang wanita cantik itu membebaskan hutang piutang mereka tanpa perhitungan.


Silvie mengangguk paham dan membenarkan ucapan Grace. ya alasan ibu-ibu disana berhutang tentu karena ekonominya yang kurang cukup, berbeda dengan dirinya yang hanya ingin merasakan sensasi bagaimana ketika di tagih juga merasa tertantang membujuk agar di Pria tua mau memberinya hutang lagi.


" lo emang amazing Grace.. "


...****...


urusan Silvie sudah beres. sekarang tugas Grace ialah menghampiri Leo yang tengah merajuk gara-gara mendengar ucapan Ari yang membawa-bawa nama Iyan. Grace sudah merasa tidak aneh lagi, bukan sekali dua kali suaminya akan mendiaminya hanya karena mendengar nama Iyan.


" No.. ini milik adek.. "


Belum sampai Grace melangkahkan kakinya ke dalam, suara ribut dari kedua anaknya membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan langsung menghampiri kedua anaknya di halaman rumah.


" ada apa ini..? " tanya Grace sambil bertolak pinggang menatap tajam kedua anaknya yang langsung menghentikan aksi saling berebut mainan. mereka siap ancang-ancang untuk saling membela diri kepada mami-nya.


" abang rebut mainan adek.. "


" no.. adek duluan yang rebut, ini kan punya abang mami.. "


" padahal gua bikinin dua, masih aja rebutan.. " Ari turut menimpali membuat Grace yang mati-matian menahan kesabarannya malah semakin kesal. bisa-bisanya dua pria dewasa di hadapannya tidak bisa melerai kedua anaknya.


menurut Grace, baik Exel maupun Ari terlihat sengaja membiarkan Cio dan Gwen berebut mainan. biasanya kedua anaknya akan patuh pada Exel, namun sepertinya Pria itu sengaja membiarkan bahkan menikmati momen ributnya kakak beradik itu, membuat Grace tak habis pikir sekaligus kesal tentunya.


apalagi terhadap Ari si biang kerok, karena gara-gara Pria itulah kedua anak Grace ribut.


Grace menengadahkan sebelah telapak tangannya ke arah kedua anaknya, sementara yang sebelah lagi masih setia bertolak di pinggangnya.


" sini.. kasih ke mami mainannya.. "


Cio dan Gwen menggelengkan kepalanya sambil berusaha menyembunyikan mainan itu di kepalan tangan yang kini berasa di balik punggung mereka. jangan lupakan raut wajah kedua anak itu tampak ketakutan, dan Exel bisa melihat dan merasakannya.


" cepet.. sebelum mami murka.. "

__ADS_1


" kasih aja, sebelum macan ngamuk.. " Lagi-lagi Ari ikut menimpali membuat Pria yang berada disampingnya tak segan menoyor kepalanya. sementara orang yang di samakan dengan macan itu, semakin tersulut menatap tajam ke arah mereka.


pada akhirnya akhirnya Cio dan Gwen menyerahkan mainan baru mereka kepada Grace dengan perasaan berat campur takut.


salah satu sudut bibir atas Grace terangkat bersamaan dengan tatapan mengejek mengarah kepada Ari si pembuat mainan tersebut.


" beginian kalian rebutin..? "


mainan sederhana yang hanya terbuat dari tutup botol minuman soda yang sudah di pipihkan dan ditambah tali karet agar tutup botol tersebut berputar karena pegasnya.


" tapi itu sangat menyenangkan mami.. " protes Cio dengan menundukkan kepalanya takut.


sementara dua pria dewasa yang memang sudah terbiasa dengan bahasa baku Cio dan Gwen itu, kini tengah menunggu tindakan Grace. bukan mereka tidak tahu akan Grace yang sama sekali tidak keberatan dengan mainan sederhana itu, hanya saja, melihat bagaimana raut wajahnya sekarang, mereka begitu yakin wanita itu tengah menahan kekesalannya. apalagi Exel, Dia sudah ancang-ancang takut Grace mengeluarkan umpatan kasar untuk kedua anaknya.


" no mami.." ucap Cio dan Gwen terdengar lirih bahkan nyaris tak bersuara hingga membuat Exel langsung memeluk dua anak itu, entah mengapa Exel begitu merasa ikut sakit hati melihat mereka tak bersuara, lebih baik mereka berteriak saja seperti biasanya pikirnya.


Exel menatap tajam Grace yang sudah tega merusak mainan kedua anaknya. tebakannya salah, Ia pikir Grace akan mengumpat, namun wanita itu dengan entengnya merusak mainan yang direbutkan Cio dan Gwen. tangannya tak henti mengusap punggung kedua anak itu secara bergantian supaya merasa lebih tenang.


sementara Grace, dengan acuhnya hendak melenggang pergi meninggalkan mereka yang nampak seperti drama itu. menggelikan pikirnya. namun langkahnya terhenti ketika Exel bersuara setengah berteriak,


" sekali lagi lo nyakitin keponakan gue-"


ucapan Exel terpotong saat Grace membalikkan badan dan menatap tajam ke arahnya. Exel bahkan bisa melihat buliran bening yang sebentar lagi akan jatuh dari mata Grace.


" apa lo bilang..? " Grace seperti meminta pengulangan atau malah meminta penjelasan dari apa yang diucapkannya, pikir Exel. entahlah, Exel hanya terpancing emosi saja begitu melihat dua anak kecil disakiti ibunya sendiri.


" gue bilang.. sekali lagi lo nyakitin keponakan gue.. gue gak segan.. "


" Le, kita pulang.. sekarang! "


Lagi-lagi kalimat Exel terjeda, bersamaan dengan kehadiran Leo di ambang pintu. dan sialnya sohibnya itu masih tampak merajuk.


Leo terdiam, entah mengapa dirinya masih dihantui rasa kekesalan atas ucapan Ari. namun melihat bagaimana raut wajah Grace sekarang, sepertinya istrinya itu tengah merasa kesal juga bahkan melebihi dirinya sendiri kadarnya.


" si El jahat Le, dia udah gak sayang lagi sama gue.. "


Leo menyerit bingung mendengar aduan Grace, apa yang sudah Exel lakukan terhadap Grace hingga istrinya itu tampak kesal bahkan murka.


" ck.. abang lo emang jahat Grace.. " sial, Leo malah sengaja mengompori Grace. bukankah menyenangkan melihat mereka bertengkar?


sementara Ari yang sedari tadi menyaksikan drama itu berlangsung, kini mendengus kesal. mereka benar-benar berlebihan alias lebay.


Ari kemudian menatap Exel yang kini tengah terlihat kebingungan bahkan tak sadar dua anak sudah berpindah di pelukan Leo. sohibnya itu tak peka juga apa kesalahannya sehingga membuat Grace menyebutnya jahat.


" Cio sama Gwen lo sebut apa tadi..? " bisik Ari sambil berlagak mengorek telinganya. sejujurnya Ari juga merasa senang jika antara Grace dan Exel bertengkar.


" shiiiittt.. "


sekarang giliran Ari yang tak segan menoyor kepala Exel dengan gemasnya,


" paham gak lo..? "


Exel mengangguk paham, namun terlihat bodoh di mata Ari yang kini terkekeh mengejek. Exel paham akan kesalahannya sekarang pada Grace. dan Dia harus segera meminta maaf bahkan melupakan masalah barusan sebelum Grace benar-benar membencinya.


" Grace sorry.. "


Sial, Grace sama sekali tidak mendengar. dengan cueknya wanita itu melenggang menuju mobilnya. sementara Leo menyeringai, namun mempertahankan sikap merajuknya.


Grace sudah menyuruh kedua anaknya untuk segera masuk ke dalam mobil tanpa bantahan. bahkan Dia tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berpamitan terlebih dulu kepada Exel.


" uncle.. uncle.. " kedua malaikat itu mengetuk-ngetuk jendela mobil berharap Leo dan Grace yang masih diluar mau membukakan pintunya barang sebentar.


" Cio.. Gwen.. anak uncle.. "


jangan lupakan Pria yang kini hendak muntah karena semakin muak dengan drama di hadapannya. siapa lagi kalau bukan Ari.


seketika Ari dibuat melotot kala pikirannya teringat akan gelagat sepasang manusia itu akhir-akhir ini.

__ADS_1


" wah jangan-jangan Cio mau punya adek lagi.. "


__ADS_2