
" kenapa mami sama papi tidak berangkat bersama? apa kalian sedang bertengkar..? "
Lucio yang tengah menikmati sarapan bersama Gwen tidak bisa tidak bertanya mengenai kedua orangtuanya yang memegang kunci kendaraan milik masing-masing.
Lilis yang mendengar pertanyaan dari anak majikannya itu hanya bisa terkekeh pelan. terlebih mengenai kata bertengkar yang sudah jelas makanan sehari-hari majikannya. ah, rupanya bertengkar versi si kecil berbeda dengan orang dewasa.
" mami sama papi ada urusan kerjaan dulu bang, abis itu baru langsung ke kampus.. "
sahut Leo lembut sambil mengusap lembut kepala Jagoan kecilnya.
" bekerja? mami juga bekerja..? apa tempat kalian bekerja itu berbeda? "
Leo mengangguk tersenyum, Ia sudah tidak aneh dengan Cio yang selalu menghujaninya dengan pertanyaan sampai puas dengan jawabannya. bahkan orang di sekitarnya pun sudah hatam dengan cara bicara Cio yang baku.
Sementara Grace berlalu begitu saja dan enggan menjelaskan apapun kepada Lucio, sebab semakin Ia menjelaskan, semakin bertambah rentetan pertanyaan ketidakpuasan dari anak pertamanya itu. maka dari itu, Grace membiarkan Leo yang meladeni anaknya. terlebih Ia juga memang buru-buru dengan pekerjaan barunya. namun sebelum itu, tidak lupa Ia mencium dua malaikat kecilnya terlebih dulu.
" mami pergi cari recehan dulu, bye.. "
Leo dibuat kesal dengan berlalunya Grace. selain tidak mendapat jatah kecupan paginya, Leo juga kesal sebab baru saja Grace meninggalkan kata yang belum dipahami oleh Lucio, itu berarti Ia akan kembali di tuntut menjelaskan kata tersebut.
" papi, recehan itu apa? apa itu benda yang hilang sehingga mami harus mencarinya..?"
" sialan, si Grace sengaja banget kayaknya.. "
...***...
Selain Grace sengaja sedikit memberi pelajaran kepada Leo dengan membuat suaminya itu terjebak dalam situasi memusingkan, Grace juga memang benar-benar harus segera bergegas menunaikan pekerjaan barunya.
Pekerjaan yang merupakan tantangan dari Ari untuknya dan juga Leo ketika mereka melakukan permainan Truth or dare tempo hari.
dimana Grace tertantang untuk melakukan pekerjaan sebagai driver ojek online, sedangkan Leo sebagai driver taksi online. terkesan konyol memang, namun apa daya, itu kewajiban keduanya saat ini.
" ck, katanya suka tantangan.. suhu kita payah.. " begitulah kalimat yang dilontarkan oleh si pemberi tantangan ketika Grace melayangkan protes.
tentu saja nyali Grace merasa terusik, Ia bukanlah pecundang yang tidak bisa menunaikan kewajibannya. apalagi kondisi dirinya yang harus menanggung ngidam atas kehamilan kedua sahabatnya, membuat Grace mudah sekali tersinggung.
Namun Grace tetap merasa heran mengapa tidak Leo sebagai driver ojek online, dan sebaliknya. itu terkesan tidak adil menurutnya, belas kasih seorang Ari terkesan hanya untuk Leo, pikirnya.
.
.
.
Disinilah Grace saat ini, melajukan motornya perlahan mengikuti arah navigasi yang berada di ponsel miliknya, dan berhenti tepat di depan sebuah gang kecil pemukiman padat yang masih berada sekitar tempat tinggalnya, lebih tepatnya pemukiman padat belakang komplek yang di batasi oleh pagar tembok tinggi, sehingga Grace harus keluar ke jalan raya terlebih dulu.
Grace tampak menimang apakah Ia harus benar-benar masuk ke gang sempit itu, atau menyuruh penumpangnya agar menghampirinya?
wanita itu kemudian mengetikkan satu pesan di ponselnya.
" pagi kak, saya sudah tiba di depan gang. maaf, kakak bisa samperin saya gak? kayaknya motor saya gak bisa masuk.. "
pesan terkirim. Grace masih setia menatap layar ponselnya yang tersimpan di holder dadakannya. menunggu pesan balasan dari sang penumpang.
[ gak bisa gitu dong, harus sesuai titik. ojol lain aja biasanya sampe depan rumah. gimana sih.. ]
membaca pesan balasan itu membuat Grace menghela napas kasar dan melayangkan pukulan ke udara kala bayangan wajah tengil Ari hadir tiba-tiba. Jika ada pilihan lain atau dirinya boleh menawar tantangan itu, rasanya lebih memilih mendaki tiga gunung tertinggi sekaligus dari pada harus di hadapkan dengan berbagai karakter penumpang yang kebanyakan membuatnya naik darah.
" kalau gak salah, ini gang buntu ya kak? motor saya benar-benar gak bisa masuk, buat muter aja kayaknya gak muat kak.. "
Grace kembali menunggu pesan balasan selanjutnya dari penumpang. bukan Ia tidak mau membatalkan orderan tersebut, hanya saja Ari akan selalu mengecek aplikasi miliknya dan tidak memperbolehkan hal itu terjadi. bahkan si pemberi tantangan akan memeriksa setiap rating dan ulasan dari penumpang, jika dibawah rata-rata maka misinya dinyatakan gagal dan kata pecundang akan tersemat untuk dirinya. menyebalkan bukan?
sudah terhitung sekitar lima menit, penumpang tak kunjung membalas pesannya sehingga membuat Grace pada akhirnya menyerah dan mau menghampiri sesuai titik tujuan. " bared bared dah motor gue.. "
baru saja Grace menyalakan kembali mesin motornya, orang yang sedari tadi ditunggunya tiba-tiba sudah muncul di hadapannya. dan itu membuat keduanya sejenak terdiam saling menatap satu sama lain, dan berakhir dengan Grace yang mulai membuka suaranya.
__ADS_1
" dengan kak Rania..? " tanyanya terdengar lembut disertai senyuman di balik maskernya.
orang yang dipanggil Rania itupun mengangguk pelan dengan mulut masih menganga sejak Ia mengetahui siapa driver yang ingin diomelinya tadi.
" Grace, ini beneran lo Grace..? " tanyanya memastikan, walaupun nama Grace tidak hanya satu, namun wanita itu yakin driver dihadapannya memanglah Grace hanya dengan melihat motor mahal yang selalu mencolok dikampusnya.
semula wanita itu sudah ancang-ancang ingin mengomeli driver yang tidak mau menghampirinya di depan rumah. karena jika dilihat di aplikasi, motor yang terdaftar adalah motor metik biasa sehingga menjadi alasannya untuk memberi ulasan buruk nanti. sebab biasanya driver lain yang menggunakan motor metik tentu bersedia menjemputnya sampai di depan rumah, karena memang muat.
Grace mengangguk mengiyakan,
" silahkan dipakai helmnya kak.. " titahnya seraya menyodorkan helm yang Ia dapat dari perusahaan aplikasi ojek onlinenya. lalu Ia melihat ponselnya kembali untuk mengetahui kemana tujuan penumpang tersebut, sampai sejenak membuatnya berdecak.
lagi enak-enaknya nikmatin kepinteran gue bisa baca maps. tujuannya kampus, ck.. maps kagak guna
.
.
.
si penumpang memakai helm tersebut tanpa mengeluarkan pertanyaan lagi. namun dibenaknya tersimpan beberapa pertanyaan mengenai sosok Grace, apakah wanita sepopuler dan setajir Grace sekarang sudah bangkrut? itu satu diantara pertanyaan yang hinggap dikepalanya. wanita itu kemudian mengeluarkan ponselnya dengan seringaian di wajahnya. dan Grace melihat sekaligus menyadarinya.
" lo mau bikin konten..? "
" ngelive di ige doang.. " sahut si penumpang santai.
kemudian wanita itu tersenyum sumringah ketika mendapat anggukan kepala dari orang yang bertanya barusan, itu berarti Grace sama sekali tidak keberatan. maka dari itu Ia segera membuka salah satu media sosial untuk melakukan siaran langsung sebelum suara dari depan menghentikannya dan membuat Ia beberapa kali menelan ludah dengan tubuh gemetaran.
" silahkan, biar folowers lo langsung komen bela sungkawa.. So, lebih baik lo berdoa semoga hari kematian lo bukan sekarang.. "
setelah mengatakan itu, Grace mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya yang kebetulan masih terlihat lenggang. persetan dengan ulasan buruk yang kemungkinan nantinya Ia dapatkan.
sebelumnya Ia sudah menjalankan peran dengan apik dan profesional sebagai seorang driver, namun begitu melihat penumpang lancang, tentu membuatnya kepalang kesal apalagi moodnya yang memang mudah berubah di tambah dengan penderitaan ngidamnya. lengkap sudah... ck.
" No.. jangan Grace, please.. gue masih mau idup.. " gue belom kawin,
Wanita itu memohon ketika Grace hendak membawa motornya melawan arah dan memasuki jalur khusus bis kota. sepertinya jika ada lintasan kereta, Grace tak segan membawa motornya ke sana dan membuat keduanya semakin dekat dengan maut, pikirnya.
Grace menyunggingkan bibirnya mendengar itu, terlebih melihat bagaimana tangan yang melingkari pinggangnya dengan erat, terasa semakin gemetar saking takutnya. pada akhirnya Iapun menuruti permohonan wanita itu dengan menormalkan kembali laju motornya di jalur yang seharusnya.
" Sorry, gue gak maksud__
gue cuma speechless aja dapet driver__ "
" maaf yah kak, barusan di luar kendali. kakaknya gak papa? " sela Grace terdengar lembut dan kembali ke mode protagonisnya sebagai driver.
alih-alih merasa tenang, wanita itu malah semakin takut dengan mulutnya yang menganga. kemudian dengan cepat Ia menggelengkan kepalanya.
" gak papa, gue baik-baik aja.. " ucapnya dusta.
jika saja itu driver lain sudah pasti akan kena omelannya. terlepas dengan selogan penumpang selalu benar, itu memang kebiasaannya kepada para driver. dan sekarang lihatlah, baru kali ini Ia tunduk kepada driver, bahkan mencium kakinya pun sepertinya Ia akan sudi lahir batin.
" berhenti disini aja Grace.. " ucapnya seraya menepuk pundak Grace begitu motor yang ditumpanginya tepat berada di persimpangan.
" loh kenapa kak, tujuannya masih jauh loh, Kira-kira duaratus meteran lagi.. " sahut Grace mulai melambatkan laju motornya dan memperlihatkan tampilan peta di ponselnya pada si penumpang.
Si penumpang yang memang sedari tadi grogi, mentalnya kembali di uji begitu melihat ponsel milik Grace. buset apa gak sayang tuh hape pake narik..
" gak papa, disini aja.. "
" benaran? "
" iya gak papa.. "
Grace mengangguk menghela napas berlagak pasrah. kemudian Ia benar-benar menepikan motornya. sejenak Ia menggeleng menahan tawanya ketika pandangannya tak sengaja mengarah ke plang nama tempat dimana mereka berhenti. Sewa mobil plus supir.
__ADS_1
" ck, Kira-kira berapa duit ngeteng tibang dari sini ke kampus..? "
" ini Grace helmnya..? " ucap si penumpang sembari menyodorkan helm yang dipakainya barusan.
" eh iya.. " sahut Grace kaget dan segera meraih helm tersebut kemudian membungkusnya seperti sediakala.
what, harga sarung helmnya aja setara sama motor baru, si Grace jadi driver ojol gabut apa gimana..
begitulah suara hati seorang penumpang menatap takjub sang Driver yang kini tengah melepas jaket kebanggaannya.
Wanita itu masih setia dan antusias memperhatikan Grace yang nampak memasukkan jaketnya kedalam ransel kecil. penampilan orang yang tengah Ia perhatikan sekarang berubah jauh dari sebelumnya. padahal Grace hanya melepas jaketnya saja menyisakan kaos longgar putih polos berpadu dengan celana jeans robeknya. akan tetapi, aura maskulin dan kesan keren seorang Grace langsung tersemat menurut penglihatan si penumpang.
" woyy..!!! " suara orang yang tengah wanita itu kagumi membuatnya terkesiap dan membuyarkan lamunannya.
" eh iya.. kenapa Grace.. ?"
" lo bayar tunai kan..? " ucap Grace seraya menengadahkan tangannya hingga membuat si penumpang melongo tak percaya. si Grace beneran kere?
" lo ngarep gratis? "
tanpa sadar si penumpang mengangguk dengan cepat membuat Grace menggeleng terkekeh.
" lo udah make kode promo, masih minta gratis.. "
" gue pikir lo gak mau duit receh.. " sahut si penumpang gugup dengan tangan gemetaran mengosongkan selembar uang merah ke tangan Grace yang masih setia menengadah itu.
Grace hanya terkekeh renyah sambil memasukkan uang barusan ke dalam saku celananya dan merogoh uang lain untuk kembalian.
" eh gak usah Grace, anggep aja itu tips buat lo.. " tolak si penumpang mantap, namun membuat Grace menyerit heran, bukankah baru saja wanita itu meminta gratis?
" udah lo ambil aja, mayan buat ngeteng nyampe kampus.. " ucap Grace memberikan uang kembalian itu setengah memaksa, namun lihatlah yang ditunjuk dengan dagunya membuat si penumpang mengepalkan tangannya kuat. dan Grace dengan santainya terkekeh renyah.
" eits, jangan lupa bintang lima sama ulasan bagus.. kalo gak, lo tau akibatnya kan manis? "
si penumpang semakin kuat mengepalkan tangannya menatap kepergian Grace yang berlalu begitu saja. ingin rasanya Ia melakukan sesuatu yang buruk terhadap Grace. namun apa daya, selain Ia tahu siapa sebenarnya sosok Grace, wanita itu juga sekarang sudah memegang kartu as-nya membuat Ia tak bisa berkutik.
" huh, kalau ada bintang tujuh gue kasih asal selamet.. "
.
.
.
Grace, Ia akan menjadi terkesan perhitungan jika mengenai pekerjaan barunya itu. meskipun argo receh yang selalu Ia dapat dan bahkan tidak sesuai dengan harga bahan bakar motornya, namun Grace tetap akan menerima dan menyimpannya dengan baik uang hasil bekerjanya itu.
Bukan apa, uang itu selalu di tagih oleh Ari setiap harinya dan akan disumbangkan kepada yang lebih membutuhkan selain penerima dana sumbangan yang selalu terjadwal di agenda geng mereka.
itu salah satu alasan mengapa Grace pada akhirnya menerima tantangan itu dengan suka rela, dan tentunya Ia akan memberikan uang hasil kerjanya itu, utuh tanpa potongan seperti saldo di aplikasi dan pengeluaran bensin, bahkan Ia akan menambahkan nominalnya cuma-cuma.
" akhirnya si oliv dateng juga.. " seru Silvie menyambut kedatangan Grace dengan kotak bekal ditangannya. sayur bayam buatannya yang menjadi menu favorit Grace.
tanpa menyahut, Grace langsung menyambar kotak tersebut, kemudian melahap isi didalamnya sambil duduk di jok motor miliknya. tentu saja itu membuat Silvie tersenyum bangga, tidak dengan Megan yang bergidik geli, apalagi melihat tampilan makanan itu yang sama sekali tak menggugah selera.
" lo abis narik Grace..? " tebak Megan melihat Grace tanpa jaket mahalnya.
" hmm, mayan dapet searah. kuliah dimari juga.. "
" Siapa..? " tanya Silvie antusias. Ia penasaran dengan penumpang malang begitu mengetahui Grace.
Grace menyodorkan ponsel miliknya yang menampilkan riwayat pekerjaan barusan dan menunjukkan nama penumpang yang tertera disana, membuat kedua sahabatnya tampak berpikir hingga satu diantara mereka menjentikkan jarinya.
" si vlogger mobil mewah, naik ojol..? "
" yoi, naik ojol bakal transit doang.. "
__ADS_1