Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 136


__ADS_3

" sunset, spot bagus gak boleh di lewat nih.. "


Silvie tengah menikmati senjanya di tepi pantai, menantikan momen tenggelamnya sang surya dengan di temani deburan ombak yang indah.


Wanita itu segera menyiapkan kamera yang di bawanya untuk merekam momen yang ditunggunya. Dia meletakkan jarinya di tombol kamera bersiap dalam hitungan detik merekam momen tersebut.


" mama.. mama.. " tiba-tiba seorang anak kecil menghalangi spot yang ditujunya. Anak laki-laki itu tersenyum melambaikan tangan ke arahnya membuat Silvie langsung melirik keadaan sekitar. Tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya juga anak itu, lantas mengapa anak itu menunjuk juga memanggilnya dengan kata itu? bahkan Silvie sendiri tidak tahu siapa anak itu.


" hey..jangan jauh-jauh, nanti kamu bisa keseret ombak..!!! " Silvie berteriak ketika anak itu melangkah mendekati ombak, sayangnya anak itu malah tersenyum sambil tak hentinya melambaikan tangan seolah mengajak Silvie untuk bermain ombak bersamanya.


" no..jangan, itu bahaya !"


terlambat. Silvie melotot berteriak kaget kala ombak besar menyeret anak itu di depan matanya. seluruh tubuhnya bergetar hebat kala harus menyaksikan tangan mungil itu terangkat ke permukaan air.


rasanya Silvie ingin berlari segera menolong anak itu, tetapi entah mengapa seluruh tubuhnya terasa sangat sulit untuk di gerakan. bahkan untuk berteriak meminta pertolongan pun mulutnya terasa berat seolah terkunci.


Grace..


Silvie ternganga kala melihat sosok Grace berlari ke arah anak itu.


Abang El, Leo.. Kalian semua.. Wanita itu di buat semakin terkejut dengan kehadiran Exel bersama sahabat yang lainnya yang ikut menghampiri Grace untuk menolong anak itu. Mereka terlihat acuh seolah tidak melihat kehadiran Silvie.


Grace berhasil menggapai tangan anak itu dan segera menggendongnya ke tepi pantai. sementara Silvie hanya bisa menjadi penonton saja dikala mereka nampak mengerubuti anak yang kini berada di pangkuan Grace. Mereka terlihat tengah berupaya memberikan pertolongan agar anak itu bisa bertahan.


Nahas, anak itu sudah tidak bernapas lagi membuat Grace berteriak histeris. dan Silvie hanya bisa menitikkan airmatanya kala melihat sosok Exel tampak turut menangisi kepergian anak itu.


Semuanya tampak terkulai lemah terkecuali Ari yang kini mengambil alih menggendong anak itu. Dia terlihat tegar membawa jasad anak itu, sementara yang lainnya mengikuti di belakang Ari dengan langkah yang lunglai meninggalkan Silvie yang tersisa di sana.


Silvie kembali di buat terkesiap ketika mereka menyempatkan untuk menoleh ke arahnya. tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, hanya tatapan kecewa yang bisa Silvie tangkap.


kemudian mereka kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke arah Silvie, terkecuali Ari. ya, lagi-lagi pria itu yang berbeda dari yang lainnya. Dia terlihat ingin mengucapkan sesuatu kepada Silvie hingga membuat wanita itu penasaran dan menunggu apa yang akan di sampaikan oleh Ari kepadanya.


pembunuh, lo yang sebenernya pembunuh buat anak lo sendiri..


" ahrgghhh... gak, gue bukan pembunuh.."


Silvie terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah juga wajah yang sangat pucat. Dia menyeka keringat yang membasahi wajahnya, bahkan seluruh tubuhnya pun di banjiri keringat dingin.


" sial, mimpi itu lagi.." gumamnya sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Lagi-lagi Ia harus mengalami mimpi yang terasa sangat nyata itu. terlebih panggilan dari anak yang berada di mimpinya itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. juga ucapan Ari yang menuduhnya sebagai seorang pembunuh masih melekat dan membuatnya berdecak kesal.


" tuh anak, gak di dunia nyata gak di alam mimpi, mulutnya julid mulu.." gumamnya kesal.


Kemudian dia menghirup napas dalam-dalam sampai perasaannya mulai tenang. Setelah merasa tubuhnya membaik, Silvie kemudian beranjak dari tempat tidur dan melangkah pelan keluar dari kamarnya.


Dia menatap meja makan yang sudah tersaji beberapa masakan untuk dirinya makan. Silvie menghela napas, selalu saja begini. Di saat Ia terbangun dari tidurnya, Dia tidak mendapati Exel di sana. Padahal Silvie ingin sekali bercerita mengenai mimpinya kepada Exel.


sejak kejadian di rumah sakit tempo hari, Silvie dan Exel menjalani kehidupan seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. tetapi Slvie tidak merasakan kehadiran Exel sebagai sosok yang hangat kali ini. suaminya itu selalu acuh kepadanya, bahkan berbicarapun hanya seperlunya saja.


Exel mulai terbiasa ke luar rumah sebelum Silvie bangun dari tidurnya, begitupun ketika pulang, sudah pasti di saat Silvie sudah terlelap. Pria itu seperti sengaja menghindari istrinya.


" miris banget hidup gue.. semuanya ngejauhin gue. punya suami juga kek pajangan aja, bikin gue keliatan jadi istri gak berguna buat dia. mau masak udah di masakin, kerjaan apa aja udah di duluin.. Jadi gue musti bersyukur gitu punya suami modelan kek dia? "


Silvie menyantap makanannya sambil terus mendumel, sampai suara ketukan pintu pun dapat umpatan dari wanita itu karena merasa terganggu.


Suara ketukan pintu semakin keras terdengar oleh Silvie hingga membuatnya benar-benar kesal. Dia terpaksa menghentikan aktivitas sarapannya dan segera melangkah kesana.


" ck.. Siapa sih, ganggu kenikmatan orang aja.."


ceklek..


" papi.." Silvie tercengang kala melihat sang ayah sudah berdiri di depan pintu bersama beberapa pengawalnya, membuat Ibu-ibu yang biasa berbelanja di sebrang rumahnya kini berbisik-bisik melihat kehadiran ayah Silvie.


" Mba Silvie simpenan om-om kaya yah..?"

__ADS_1


" huss, kalo ngomong itu jaga, siapa tau itu bapaknya.."


" bapak darimananya? gak ada mirip-miripnya. mukanya muka bollywood mana cocok jadi bapaknya Mba Silvie.."


" yeh, siapa tau cantiknya Mba Silvie dari emaknya yang hollywood.."


" sampean so tau.."


" situ duluan yang so tau.."


Silvie jelas saja melihat kebiasaan Ibu-ibu itu. Dia merasa tidak nyaman dengan tatapan curiga yang mendominasi dari mereka. Tetapi untuk sekedar menjelaskannya saja Dia merasa enggan juga tidak penting. Dia lebih memikirkan tujuan ayahnya yang tiba-tiba ke rumahnya sepagi ini.


" masuk pih.." ajaknya pada Shaw agar mereka tidak menjadi bahan pembicaraan para ibu-ibu di sana lagi.


" gak perlu, papi minta kamu ikut papi sebentar.."


" hmm, yaudah Silvie mandi dulu-"


" sepuluh menit..'


...***...


Leo sudah sedikit berdamai dengan keadaan. meskipun hatinya merintih, namun Ia berusaha untuk terlihat hebat dan kuat dihadapan orang-orang yang dicintainya.


Kedua anaknya yang membuat Leo bangkit dari keterpurukan. juga dukungan positif dari orang-orang terdekat membuatnya bisa sekuat sekarang.


baik kedua orangtuanya maupun orang tua Grace, tidak ada yang menyalakan Leo. Pria yang sudah gagal dan lalai menjaga istrinya. kali ini pria itu termasuk beruntung.


" semuanya takdir semesta, kamu sudah berusaha. hanya sedikit ketepatan waktu saja. jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini. " seorang Dokter spesialis hipnoterapi di utus oleh Bram untuk mengatasi kecemasan berlebihan yang menyerang menantunya.


Dokter itu berusaha melakukan pendekatan dan mensugestikan hal-hal yang positif agar Leo merasa tenang dan damai ketika pria itu kembali menyalahkan dirinya sendiri dengan menyeracau.


seandainya gue gak gak biarin lo keluar sendiri. seandainya gue datang lebih cepat. seandainya dan seandainya yang membuat Leo menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.


.


.


.


" gue yang bangga sama lo Grace.. " seperti biasa, Leo berinteraksi dengan istrinya yang masih terbaring lemah itu.


setelah beberapa kali menjalani hipnoterapi, tidak ada kecemasan dan pikiran negatif lagi di benak Leo. bahkan Pria itu sama sekali tidak memikirkan orang lain setelah dirinya yang bersalah atas apa yang di alami Grace, tak terkecuali tersangka perampokan yang sudah mendapat hukumannya.


Leo benar-benar hanya fokus mengurus keluarga kecilnya termasuk setia menunggu istrinya.


" makan dulu Le.. " Ari, sohib yang masih setia menjadi tameng untuk keluarga Leo. pria itu selalu datang ingin mengetahui kondisi Grace sekaligus membawakan makan untuk Leo setiap harinya seperti sekarang.


" hmm..entar aja, taro di situ dulu.." sahut Leo seraya menunjuk meja yang berada di ruangan itu.


" gak bisa, lo harus makan sekarang.. " Ari kini memaksa Leo untuk pindah duduk ke sofa sudut kamar dengan cara menarik paksa lengannya.


" duduk.. " titah Ari tegas kala Leo hendak bangkit lagi membuat sohibnya itu mendengus kesal tapi menurut juga.


" lontong sayur.. " lirih Leo ketika Ari membuka wadah makanan yang di bawanya. salah satu makanan kesukaan istrinya.


Leo mulai memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya dengan perlahan. di suapan berikutnya, Leo merasa kesulitan untuk menelan makanannya kala melihat sekilas ke arah ranjang. Dia tidak tega dengan Grace yang harus menyaksikannya melahap makanan yang wanita itu sukai.


" kenapa malah bengong? " tanya Ari heran.


" gak enak " sahut Leo singkat tapi sukses membuat Ari mendengus kesal.


" sialan.. gue masak sepenuh hati khususon buat lo. nih dari mulai bikin lontongnya pake beras pulen biar lo gak seret nelennya. kurang apa lagi, kuah? santennya aja gue bikin sendiri, marut dulu kelapanya, sampe gue manjat pohon kelapa punya tetangga biar bisa milih kelapa yang bagus buat lo-"

__ADS_1


" ck.. bawel lo.." sela Leo sambil menutup kembali wadah makanannya membuat Ari ternganga.


" wah parah lo gak ngehargain kerja keras orang.. gue buru-buru ke sini begitu tuh sayur mateng, sialan lo yah,," Ari kini bertolak pinggang kembali mengomeli Leo, kemudian dia membalikan badan menghadap ke arah ranjang, dia ingin mengadukan kelakuan sohibnya kepada Grace.


" Grace, noh liat laki lo.. sialan kan, masa makanan kesukaan lo di kata gak enak-"


Leo menggeleng memutar bolamatanya malas melihat Ari yang malah mengajak istrinya berinteraksi, Leo bangkit sambil menenteng makanan yang sudah di kemasnya lagi barusan. Kemudian Dia mengampiri Ari yang masih ngedumel itu dengan memiting lehernya kesal.


" berisik lo.. Entar si Grace bangun.."


Sontak saja Ari di buat melongo mendengar ucapan Leo, dia langsung menoyor gemas kepala sohibnya itu. " bego.. bagus dong kalo si Grace bangun.." ucapnya terkekeh, sedetik kemudian Ia melongo kembali melihat Leo yang malah keluar dari kamar itu dengan tentengan di lengannya.


" woy, Le.. jangan di buang anying.."


" gue makan di luar aja, lo berisik.."


" ck.."


Bukan tanpa alasan Ari kembali bersikap menyebalkan di mata Leo. Dia hanya ingin merangkul sohibnya kembali, dia juga tidak ingin terlihat iba kepada Leo, mengingat sohibnya itu tidak suka dikasihani walaupun selemah apapun kondisinya.


Aripun menyusul Leo ke kantin yang berada di rumah sakit itu, dia sedikit merasa lega karena sohibnya masih sudi menyantap makanan yang di bawanya. kemudian Ari ikut duduk bersebrangan dengan Leo setelah dirinya memesan makanan dulu.


" gitu dong makan.." ucapnya sambil mengacak gemas kepala Leo membuat sohibnya itu berdecak sebal.


" wihh.. Sop dengkul bos.." celetuk Leo.


" yoi, lo bayarin yah.." sahut Ari cengengesan sambil menyendok sambel cabai di hadapannya membuat Leo langsung mencekal lengannya.


Ari menyerit heran dengan tindakan Leo, " kenapa..? Lo gak mau bayarin, ya elah Le, itung-itung barter-"


" bukan itu bego, gue mau bayarin asal jangan pake sambel-"


" ck, beginian mana enak kalo gak pedes.."


" lo mau lambung lo kambuh lagi? Silahkan.. kalo lo mau ngelewatin momen bini lo lahiran-"


Sontak mata Ari berbinar mendengar itu, dia tidak menyangka Leo akan sepeduli ini dengan penyakit yang bahkan dia sendiri sudah lupa alias tidak perduli lagi.


" anjay, gue terhura Le, lo peduli sama keadaan gue lo emang sohib ter the best.."


di tengah kondisi bini lo yang kritis, lo masih inget sama orang laen.."


" yah, gue gak mau lo di rawat lagi karna ogah ngutangin.." sahut Leo santai namun berhasil membuat Ari langsung mendengus sebal.


" ck, si anying.."


Tiba-tiba mata Ari melotot melihat Silvie bersama ayahnya di kejauhan. Mereka sedang berjalan di koridor yang mengarah ke ruang perawatan Grace. Ari mengepalkan tangannya di bawah meja, ingin sekali Ari mengusir Silvie walaupun Ia tahu jika rumah sakit ini milik ayahnya, dia bahkan tidak segan mengusir pemilik rumah sakit itu jika mendukung putrinya berbuat macam-macam kepada Grace.


Ari melirik Leo yang masih asyik dengan makanannya. Dia bingung, bagaimana cara mengusir mereka juga mengalihkan perhatian Leo agar tidak menyadari kehadiran Silvie. Dia tidak ingin dengan ke hadiran Silvie bisa membuat mental sohibnya kembali terganggu.


" tunggu bentar.. Lo jangan kemana-mana. kalo ilang, gue ribet nyarinya.." Ari menepuk bahu Leo dan segera meninggalkannya.


" ck.. Lo pikir gue anak kecil apa.."


Ari segera melangkah menuju ruang perawatan Grace untuk memastikan Silvie tidak berbuat macam-macam yang akan mempengaruhi kondisi Grace nantinya. tetapi sebelumnya Dia menghubungi orangtua Leo yang kini sedang bertugas mengurus cucunya.


" hmm, tante cari alasan apa ke biar Leo mau pulang dulu ke rumah.."


" emangnya ada apa sih nak, kamu ngebet banget nyuruh tante biar Leo mau pulang..?"


" ada Silvie sama om Shaw, tante ngerti kan maksud Ari? "


setelah itu, Ari kembali mengintai ruangan Grace, seketika matanya membola kala melihat beberapa staf medis masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah darurat. melihat Silvie dan ayahnya keluar membuat Ari langsung menghampiri dengan dada yang kembang kempis di kuasai amarahnya.

__ADS_1


" lo apain si Grace hah..? "


__ADS_2