Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 85


__ADS_3

sekarang Leo sudah duduk di sofa bersama si kecil yang berada di pangkuannya, sebelah tangannya tampak sedang mengecek ponsel milik Ratna yang Ia temukan di dalam tas Grace.


sementara Grace duduk bersila di lantai masih anteng menyantap makanan yang sangat banyak itu tertata di atas meja. sesekali dirinya menuturkan kejadian pagi tadi tentunya sambil mengunyah.


Leo sudah bisa mencerna penuturan dari Grace, akan tetapi Ia sendiri belum bisa berspekulasi maksud dan tujuan dari Ratna.


" terus kenapa anak Astro yang lo suruh jaga di sana..? "


tanya heran sebab Leo saja jarang memberi tugas pada anak Astro.


" yah karna mereka yang nganggur hari ini.. " jawab Grace santai di tengah kunyahannya.


" terus tuh anak ada di sana juga dong Grace..? "


Iyan lagi yang jadi korban.


Grace yang paham siapa yang di maksud oleh Leo, kini dia berdecak kesal,


" kan gue bilang yang lagi nganggur boss.. " sahutnya sewot.


Leo nampak bodoh jika sudah dikuasai rasa cemburu.


" terus mau lo sekarang gimana..?" tanya Leo mengalihkan.


sementara Grace menghela napas berpikir sejenak, meskipun dirinya sedang kesal saat ini dengan Ratna yang lancang terhadapnya, akan tetapi untuk memberhentikan Ratna bekerja rasanya Grace tidak tega mengingat Ratna yang hanya seorang janda, bekerja dengan meninggalkan anak yang diurus oleh neneknya di kampung.


terlebih setelah Leo mengecek dengan teliti isi ponsel Ratna yang belum sempat Grace lakukan, disana tidak ditemukan hal-hal yang aneh.


benar, Ratna hanya sekedar mengoleksi potret kebersamaan keluarga majikannya.


adapun yang di bagikan di grup pesan perbabysitteran, itu potret potret lucu si kecil yang menggemaskan.


" itu sih terserah lo.. lo kan kepala rumah tangga.. so, gue serahin sama lo.. " sahut Grace enteng,


sementara Leo menggeleng berdecak,


" justru sebagai kepala keluarga, gue minta saran sama lo, apa sebaiknya si mba kita berhentiin..? " tanyanya seraya menaikan sebelah alisnya meminta tanggapan dari Grace.


Grace menggeleng cepat, " no.. menurut gue itu terlalu berlebihan, ada anak sama orang tua yang butuh biaya dari keringet dia.. " ujarnya begitu tegas membuat senyuman terbit dari Leo yang bangga terhadapnya.


tidak salah memang Leo mengagumi sisi lain dari seorang Grace yang selalu memikirkan nasib orang lain.


" intinya sekarang gue lagi males aja ketemu dia.. " lanjut Grace kembali, dan Leopun mengangguk paham.


🌿🌿🌿


sore harinya Leo bersama istri juga anaknya sudah tiba di kediaman Hendri, tentu itu membuat kondisi rumah tersebut menjadi heboh karena kedatangan mereka.


sebelumnya Grace menolak saat Leo mengambil alih si kecil dari gendongannya ketika turun dari mobil, tentu membuat Leo menggeleng dengan alasan Grace yang hendak pamer pada mertuanya sebab sudah mahir menggendong si kecil.


" eleh eleh.. si kasep dateng.. " sambut Esih antusias hendak meraih si kecil dari gendongan Grace,


" ish.. taro dulu serbetnya bi.. gak like.. " sahut Deti terkekeh membuat Esih lari untuk meletakkan alat tempurnya seraya membersihkan diri supaya lebih pantas menggendong si kecil.


" mah, gimana.. keren kan? "


celetuk Grace songong memamerkan kemampuannya menggendong Cio membuat Deti mengerucutkan bibirnya merasa kalah selangkah darinya.


sementara Leo hanya bisa menggeleng melihat interaksi kedua bidadari di hadapannya.


...----------...


Hari sudah gelap, Exel memutuskan untuk mampir terlebih dulu ke rumah Leo sebab merasa rindu dengan Lucio.


terlepas dari semua apa yang Exel capai dan miliki, Ia masih merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Jujur, Exel selalu mendambakan kehadiran anak di tengah keluarga yang baru di bangunnya.


Exel merasa sudah mantap dan siap menjadi orangtua, tidak kurang Ia terus berusaha untuk itu bersama Silvie.


sebelumnya Exel meragukan kesiapan Silvie menjadi seorang Ibu sebab Silvie yang masih bertingkah kekanakan. akan tetapi pernyataan Silvie yang tidak sabar dikaruniai anak, membuat Exel bernapas lega sekaligus bersemangat untuk berusaha tentunya seraya menyerahkan semuanya kepada sang Pencipta.


....


Exel mengerutkan dahi heran dengan kehadiran sebagian anak Astro di rumah Leo yang langsung membungkuk hormat kepadanya.

__ADS_1


lantas Exel pun menghampiri mereka dan mengajak salam ala pria sejati secara bergantian.


" sejak kapan lo pada di mari..? " tanyanya.


" sejak pagi bos kita berjaga disini.. " sahut salah satu dari mereka.


menaikan sebelah alis, Exel belum paham maksud mereka.


" suhu dari pagi pergi sama bos kecil.. " lanjut anak Astro.


" kita juga gak tau bos, suhu nyuruh kita buat jagain bi Lilis sama mba Ratna.. "


Exel malah semakin bingung mendengarnya, membuatnya berpikir akan menanyakannya pada Silvie yang dirasa tahu akan hal ini.


Exel mengambil ponsel di dalam saku jaketnya kemudian mengetikkan sebuah pesan,


" lo pada balik aja.. gue udah hubungi yang laen biar bisa ngaplus jaga.. " titahnya seraya mengantongi kembali ponselnya.


" baik bos.. kalo gitu kita cabut dulu.. " sahut mereka kompak membungkukkan badan dihadapan Exel.


" nih buat kalian seneng-seneng.. "


Exel menyodorkan beberapa lembar uang merah membuat mereka terbelalak.


" gak usah bos, kita juga disini udah seneng di kasih makan sama bi Lilis.. suhu juga udah kasih kita buat jajan.. "


" ini beda lagi.. lo pada udah loyalitas lebih dari jam kerja.. "


Exel memasukkan paksa uang tersebut kedalam kantong jaket anak Astro.


memang Exel selalu begitu setelah para anggota menyelesaikan tugasnya. dan itu membuat mereka yang notabenenya masih di bawah pimpinan Sony merasa bangga atas kedermawanan Exel juga bersyukur karena sifat tersebut sudah menular pada Sony yang dulunya terkenal arogan.


selepas kepergian mereka, Exel masih duduk di teras rumah tersebut menunggu kedatangan anggota yang akan bergantian berjaga di sana.


sorot lampu mobil yang memasuki pekarangan membuat Exel terkesiap karena silau.


rupanya mobil Leo yang masuk ke pekarangan.


" gue suruh balik, kasian.. ini gue lagi nunggu yang laen buat gantian jaga, sebenernya ada apaan si Le..? " tanya Exel penasaran seraya mendudukkan kembali dirinya di di bangku teras.


Leopun turut menghempaskan bokongnya disana,


" adek lo.. " Leo langsung menyerahkan ponsel Ratna yang menjadi biang masalah itu.


" jangan dibuka El.. intim semua isinya.. " ucap Leo kesal menyambar kembali ponsel yang sempat di cek oleh Exel.


" lah elo bego, bukannya di apus dulu.. udah deh ini sebenernya ada apaan..? " sahut Exel sewot.


" ck.. gue pikir lo udah tau dari bini lo.. " ejek Leo terkekeh membuat Exel semakin kesal.


" elah.. kebanyakan iklan lo.. " Exel masih sewot.


" lo udah kayak beneran abangnya si Grace.. " goda Leo kembali terkekeh melihat raut wajah Exel yang ditekuk persis seperti Grace jika sedang kesal terhadapnya.


lantas Leopun hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, " jadi gini abang ipar.. "


" Leonard.. " kini Exel tak segan memiting kepala Leo di balik ketiaknya, membuat Leo semakin tergelak.


Exel menggeleng terkekeh setelah mendengar penuturan dari Leo yang mengatakan jika Lilis bertingkah barbar.


" didikan suhu.. " ucapnya di angguki Leo setuju.


setelah merasa puas mengghibah tentang istrinya, Leopun masuk ke dalam rumah di ikuti Exel.


meskipun ini bukan ranahnya, tetapi Exel menuruti kemauan Leo yang memintanya ditemani untuk menemui Ratna dan Lilis.


glek.. Lilis menelan ludah kasar saat dua pria dingin menghampirinya.


" panggil si mba kesini bi.." titah Leo yang kini sudah duduk di sofa ruang televisi bersama Exel.


" baik den.. "


tak lama Lilispun kembali bersama Ratna dibelakangnya.

__ADS_1


" duduk.. " titah Leo menunjuk sofa kosong pada keduanya yang tiba-tiba bersimpuh di hadapannya.


keduanya pun dengan ragu nan gugup duduk di sana, melihat raut wajah sang majikan yang dingin juga datar membuat mereka tak berani mendongak.


" jelaskan.. " titah Leo kembali, walaupun Ia sudah mendengar itu dari Grace, tetapi Leo ingin mendengar dari mulut mereka langsung agar tidak mengambil keputusan yang salah nantinya.


sementara keduanya saling sikut ketakutan.


" bi Lilis duluan.. " ucap Leo.


Lilispun mengangguk sebelum menjelaskan dengan rinci kejadian sebenarnya, setelahnya Ratna juga menjelaskan versinya.


Leo menghela napas dalam-dalam dan beralih memberi nasihat untuk keduanya.


baik Lilis maupun Ratna hanya mampu mengangguk patuh tanpa berani menyela atau membela diri.


bahkan keduanya baru kali ini melihat sisi lain dari sang majikan, dimana biasanya irit sekali berbicara, itu juga dingin dan datar.


akan tetapi kali ini mendadak berbicara panjang lebar memberi wejangan dengan bahasa yang halus dan terdengar hangat.


sementara Exel yang sedari tadi memperhatikan Ratna yang sempat Ia curigai sebagai komplotan peneror, kini menepis semua kecurigaannya setelah mendengar juga mencerna penuturan mereka.


kini Exel beralih memperhatikan sohibnya yang terlihat begitu dewasa dan bisa berpikir dengan jernih menyelesaikan masalahnya.


minta maaflah dengan bersungguh-sungguh. kata terakhir dari Leo untuk Lilis dan Ratna setelah berjabat tangan untuk berdamai.


" udah pada damai El.. bi Lilis gak bakalan hajar si mba lagi, udah lo suruh mereka balik aja.. "


ucap Leo melihat kehadiran para anggota di depan rumahnya.


" nanggung Le, lagian sekalian jagain bibi sama si mba, kalo di sini cuma ada mereka berdua, gimana kalo tiba-tiba ada maling..? " timpal Exel nyerocos tanpa jeda, ketularan sang istri mungkin.


" ck.. lebay lo El, lo gak liat di depan komplek satpam segitu banyaknya.. maling juga mikir kali, mau nyolong apaan, secara rumah gue paling kecil.."


lo gak tau aja Le, satpam aja gak ngejamin keamanan keluarga lo.. batin Exel teringat akan kejadian si peneror yang berani merekamnya di area rumah Leo.


" tadinya kesini mau ketemu anak gue.. kangen berat .. " sahut Exel seraya merangkul bahu Leo.


" lo bawa apaan lagi buat anak lo..? " tanya Leo terkekeh mengingat Exel yang terkesan lebay selalu membawakan Lucio mainan yang belum bisa di mainkan oleh bayi itu.


" cuma itu.. " sahut Exel santai menunjuk motornya yang terdapat kantong menggantung di sana.


Leo menggeleng terkekeh melihat benda yang sedikit menyembul dari kantong tersebut.


" Lo mau ngajak Cio main catur El.. kenapa gak ama gue aja.. "


" lo payah.. sama si Grace aja kalah.. " ejek Exel membuat Leo mencubit kasar pinggangnya.


tanpa mereka sadari, di kejauhan seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka, kini mengeraskan rahang serta mengepalkan tangan penuh kebencian.


...------------...


Leo sudah berada di kediaman orangtuanya, Iapun menghampiri kedua malaikat yang di pastikan sudah terlelap.


Leo masuk ke dalam kamar yang desainnya sudah di sulap sedemikian rupa bertemakan khas bayi laki-laki, tentunya itu ulah sang mama yang kelewat excited lebih tepatnya lebay.


benar, Grace sudah terlelap bersama si kecil di sampingnya. raut wajah yang tenang dan damai dari Grace membuat Leo enggan mengganggunya. tentu saja tidak akan menggangu, toh Grace sedang berhalangan.


Leo memijat kedua pelipisnya. setelah berhasil mendamaikan kedua pekerja rumahnya, mencari tahu siapa pelaku yang sudah meracuni Grace adalah PR nya kali ini. terlebih Exel sudah memberi tahu tentang kedatangannya tadi di kampus yang mendapatkan hasil nihil membuat Leo akan berusaha ekstra mencari tahu siapa pelakunya.


...-------------...


sebelumnya di tempat lain.


Exel sedang dalam perjalanan pulang tiba-tiba terhenti saat melihat sosok perempuan menangis sesenggukan dan terlihat kacau seperti habis di jambret.


melihat sekeliling yang sepi terlebih ini sudah larut, lantas Exel pun berniat menolong perempuan tersebut.


Exel mendekati perempuan yang menunduk tersebut.


" mbak.. " panggilnya menghentikan tangisan si perempuan, belum sempat melihat wajah perempuan tersebut..


buggghhh...

__ADS_1


__ADS_2