
" oh ayolah boy.. jangan panggil papi kayak gitu lagi oke.. "
Setibanya di rumah, Leo di sambut oleh si kecil Cio yang langsung meminta untuk di gendong. anak itu kembali memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel apapun membuat Leo terkekeh gemas.
" Cio abis nangis yah.? " tanyanya pada si kecil yang nampak bernapas tersengal-sengal itu. sudah bisa Leo tebak jika si kecil baru berhenti menangis.
si kecil tidak menjawab, tetapi tangannya menunjuk sebuah kamar yang pintunya terbuka membuat Leo melangkah ke sana.
" hmm, Cio hebat jagain ade yah..? " di kecupnya pipi si kecil dengan gemas.
" Cio tadi tiba-tiba rewel, nagisnya kejer banget gak ketahan. si Mbak aja sampe kewalahan, mamah bingung, makannya nyuruh kamu kesini.. denger mobil papinya langsung berhenti.. "
Deti tidak berbohong, tadi sebelum Ari menelponnya, si kecil memang sudah rewel. sebuah kebetulan menjadikan alasan menyuruh Leo pulang ke rumah.
" sekarang gantian adeknya.. " keluh Deti yang sedang menimbang cucu perempuannya. wanita itu tampak sangat kelelahan.
" sini biar sama Leo, mamah istirahat aja.. " Leo mengambil alih untuk menggendong putri kecilnya setelah Ia menurunkan si kecil Cio di atas tempat tidur.
bayi itu langsung berhenti menangis kala Leo menggendongnya sambil duduk di tepi ranjang. melihat itu, Detipun merasa sedikit lega, kemudian Ia memberikan botol susu kepada Leo.
pemandangan yang menyesakan dada bagi Deti. dimana Leo sedang memberitakan susu kepada bayinya serta si kecil Lucio yang setia berdiri dengan melingkarkan tangannya di leher Leo sambil mengamati adiknya yang tengah menyusu .
berilah kekuatan untuk putraku Tuhan.. Deti menyeka buliran bening di sudut matanya. Dia seolah tahu, dibalik sikap tenangnya Leo, ada perasaan sakit yang tak kunjung sembuh sebelum mendengar kabar baik tentang kondisi Grace.
" Cio pikir ini boneka hmm..? ah, bener juga ade lucu kaya boneka yah.. " ucap Leo kala si kecil yang terlihat antusias memegang botol susu untuk adiknya. dan Leo sama sekali tidak merasa terganggu, bahkan Ia tidak keberatan membiarkan si kecil memegang botol itu dengan didampinginya.
" nat.. nat.. " panggil si kecil sambil menunjuk ke arah botol susu membuat Leo terkekeh gemas. sepertinya Pria itu akan membiasakan dirinya di panggil seperti itu oleh anaknya sendiri.
" abis, ade haus ternyata.. makasih abang.. " Leo mengusap lembut kepala Lucio, dan langsung di tanggapi oleh si kecil dengan tepukan tangan seolah membanggakan dirinya sendiri.
" yah Cio abang yang hebat buat Ade.. " sahut Leo menepuk bahu si kecil dengan bangga. namun di lubuk hatinya yang terdalam ada perasaan bersalah terhadap putranya itu. dimana Ia harus membagi semuanya di saat si kecil belum kenyang menikmatinya. si kecil yang di paksa dewasa sebelum waktunya oleh keadaan.
sementara Deti yang melihat interaksi di dihadapannya, kini sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. maka dari itu Ia memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
" mah.. " panggil Leo pelan membuat Deti menghentikan langkahnya. tetapi wanita itu bertahan untuk tidak membalikkan badan agar putranya tidak bisa melihat pipinya yang sudah basah.
" ah iya nak kenapa..? "
" terimakasih.. " hanya itu yang mampu Leo ucapkan untuk sang Ibu. satu kata yang sangat berarti dan begitu banyak penjabarannya. berterimakasih atas semua yang sudah Ibunya lakukan untuknya dari kecil hingga sekarang.
sementara Deti menanggapinya hanya dengan anggukan kepala dan segera keluar dari kamar itu. Dia tidak tahan jika terus-menerus berada di sana.
mama gak nyangka kamu bisa sehebat ini Leonard, padahal mama sama papa didik kamu lempeng-lempeng aja..
...***...
Di tempat lain.
Tidak seperti biasanya Exel merasakan perasaan sangat gelisah. walaupun setiap harinya Dia kelelahan karena harus mengerjakan pekerjaan rumah berlanjut bekerja di bengkel, tetapi Exel tidak pernah merasakan badannya lemah seperti saat ini.
" shittt.. " jari Exel hampir terjepit di antara gier rantai motor yang sedang dikerjakannya. Ini kali kedua yang Exel alami hari ini karena kurangnya konsentrasi.
" sekali lagi bisa putus tuh jari.. " celetuk Ronald, Pria yang sedari tadi mengawasi pekerjaan Exel. Ronald juga merasa heran dengan Exel yang bisa lalai dalam bekerja, padahal selama ini Exel terbilang cekatan dan apik dari montir lain yang lebih dulu darinya.
" mending lo pulang El.. gak bakalan bener-"
" sorry bang.. gue bakal lebih hati-hati lagi.. " lirih Exel seraya mengusap motor dihadapannya. Dia takut melakukan kesalahan pada motor tersebut.
Ronald terkekeh melihat apa yang dilakukan Exel,
__ADS_1
" gue gak masalahin nih motor, gue cuma gak mau lo kenapa-napa, dari tadi gue perhatiin, kayaknya lo lagi banyak pikiran, makannya lo mending pulang dulu dah buat nenangin pikiran lo.. "
Exel terdiam sejenak, kemudian Ia mengangguk mengiyakan. Ronald benar, Exel harus menenangkan pikirannya dulu, tetapi tidak dengan pulang ke rumah. Pria itu memiliki tempat lain yang akan ditujunya, dimana seseorang yang selalu terlintas di benaknya. seorang yang akan Ia jumpai sekarang dan mungkin akan membuat perasaannya sedikit lebih tenang.
" kalo gitu gue pergi dulu bang.. sorry nih kerjaannya gak kelar.. "
" hmm don't worry.. serahin aja sama gue.. "
" makasih bang.. "
...****...
Sementara di rumah sakit.
Silvie berdiri di depan pintu ruang perawatan Grace menunggu para dokter yang tengah melakukan penanganan untuk sahabatnya di dalam sana. Dia menunduk dengan wajah cemasnya. mulutnya tampak komat-kamit memanjatkan do'a untuk Grace.
" lo apain si Grace hah..? "
Silvie mendongak lemah kala Ari tiba-tiba menghampirinya dengan raut wajah yang emosi.
" gue gak ngapa-ngapain si Grace. gue baru nyapa tiba-tiba Dia kejang-kejang-"
Ari tak bisa lagi mengontrol emosinya, Pria itu langsung mencengkeram dagu Silvie yang menurutnya masih saja mengelak membela diri. para pengawal tak tinggal diam, mereka segera mendekat ke arah Ari hendak mencegah tindakannya itu. tetapi mereka urung begitu Shaw mengangkat sebelah telapak tangannya mengisyaratkan agar mereka tidak melakukan itu.
Ari menyunggingkan salah satu sudut bibir atasnya kala melihat Shaw yang malah membiarkan aksinya itu dengan menjadi penonton. seolah mendapat dukungan dari Shaw, Ari semakin menjadi, Dia semakin menguatkan cengkeramannya di dagu Silvie hingga wanita itu terpentok di tembok.
"gak kapok lo yah? udah gue peringatin , jangan kesini.. lo bebel juga.. " ucap Ari dengan nada tinggi sambil menunjuk wajah Silvie dengan jarinya. sementara tangan yang sebelahnya masih setia mencengkram dagu Silvie membuat wanita itu meringis kesakitan.
" gue juga gak bakalan kesini kalo bokap gue gak nyeret maksa nemuin si Grace.. " sahut Silvie tak kalah tinggi. sejujurnya Dia takut melihat Ari yang menatapnya tajam seperti ini. tetapi emosinya malah tersulut terlebih melihat sang Ayah malah membiarkannya.
Silvie tidak menyadari dan memikirkannya lebih dulu atas ucapannya barusan yang malah membuat Ari semakin emosi,
" Oh terpaksa yah.." sahut Ari geram, kemudian Ia melirik ke arah Shaw yang masih asyik menontonnya. ck, pantesan tuan Takur diem aja.. gak heran sih gue..
" ck, pengecut lo.. bisanya ngelawan perempuan doang.. " ejeknya tersenyum meremehkan membuat Ari yang tengah mengepalkan tangannya merasa terpancing kembali, bahkan Pria itu kini tak segan untuk mencekik leher Silvie.
" ck, persetan..! lo bukan perempuan, bahkan lo bukan manusia tapi iblis.. " ujarnya dengan dada yang kembang kempis, Ari terus mencekik kuat leher Silvie hingga ada tangan yang melepaskannya dengan kasar.
Wilson. salah satu dokter yang di undang khusus untuk menangani Grace. Dia keluar setelah mendengar keributan mereka.
" udah Ri, lo mau bikin anak orang mati hmm? " ucapnya mencegah Ari yang hendak kembali mendekati Silvie yang tampak terbatuk-batuk itu.
" bodoamat.. biar dia jadi setan beneran.. " sahut Ari dengan napas yang terengah-engah menatap tajam ke arah Silvie.
sekuat tenaga, Wilson berusaha menahan tubuh Ari. tangannya terulur untuk mengusap dada Ari agar pria itu sedikit lebih tenang.
Wilson menggeleng tersenyum tipis kala melihat ayah Silvie yang malah terlihat santai tanpa beban dan dosa.
" sebaiknya om ajak Silvie pulang.. " ucapnya hati-hati kepada Shaw.
" oh oke.. " sahut Shaw santai menggiring Silvie pergi dari sana.
" Sil.. setan aja ogah di samain sama lo..!!! " Ari berteriak seolah belum puas kala melihat Silvie yang melenggang pergi.
sementara itu, Wilson langsung menyeret Ari dan mendudukkannya di bangku. kemudian membawa Ari kedalam dekapannya.
" lain kali tahan emosi lo Ri, lo mau pas anak lo lahir bapaknya di bui? " ucapnya pelan sambil menepuk punggung Ari.
Ari menggeleng, kemudian Ia melepaskan pelukannya dan mendongak ke arah Wilson.
__ADS_1
" Si Grace bang.. si Grace.. " Ari langsung menangis tersedu dan kembali ke dekapan Wilson.
Wilson mengusap punggung Ari dan membiarkannya melepaskan emosinya dalam tangisan.
" lo sayang si Grace kan..? " tanyanya pelan di angguki oleh Ari.
" emangnya si Exel sialan doang yang boleh sayang sama si Grace, yang boleh anggep dia kayak ade sendiri.." sahut Ari di tengah isakannya membuat Wilson terkekeh geli dengan perubahan tiba-tiba dari sosok Ari. yang tadinya seperti singa buas, kini tampak seperti anak kucing yang menggemaskan.
" coba lo bilang sayang sama si Grace-"
" ogah, yang ada tuh anak nimpuk gue pake konci Inggris, si Grace kan gak suka.. " sela Ari lagi-lagi membuat Wilson terkekeh geli.
sama seperti Ari, Wilson pun menyayangi dan sudah menganggap Grace seperti adiknya sendiri. dan yang di ucapkan oleh Ari memang benar adanya, Grace akan berlagak ingin muntah jika mendengar kata kata itu dari mereka.
" yah, si Grace juga gak suka kalo orang-orang yang di sayangnya ribut apalagi bawa-bawa nama dia.. lo ngerti kan maksud gue..? " ucap Wilson pelan. Dia ingin menasehati Ari agar tidak bertindak seperti tadi, dengan caranya sendiri yakni perlahan dan hati-hati supaya Ari dapat menerimanya dengan baik.
Ari mengangguk paham kemudian melerai pelukannya. tiba-tiba Ia teringat akan ucapan Silvie tentang Grace yang kejang-kejang tadi.
" jadi gimana kondisi si Grace sekarang bang..? " tanyanya tak sabaran.
" ada kemajuan, kemungkinan besar bentar lagi si Grace siuman, lo do'ain aja.. " sekali lagi Wilson mencoba menyampaikan dengan bahasa yang mudah di cerna oleh Ari. dimana Ia tidak mengucapkan dengan bahasa medisnya.
" selalu bang, tanpa lo minta, gue selalu do'ain si Grace.. "
" hmm anak pinter.. " sahut Wilson mengacak rambut Ari membuat pria itu berdecak sebal.
" gue balik ke dalam yah.. " lanjutnya sambil berdiri dan kembali masuk ke ruangan itu tanpa menunggu Ari menyahutinya.
" ck bisa dokter transit dulu jadi wasit.. ? sialan, transit jadi dosen aja bisa.. " gumam Ari terkekeh pelan kala mengingat Wilson yang rela menjadi dosen atas perintah sohibnya.
ah Leo, sohibnya itu harus tau dan tidak boleh ketinggalan sedikitpun informasi mengenai kemajuan kondisi Grace.
" bisa di telen hidup-hidup gue.. " segera Ari menghubungi Leo. Pria itu tampak menelpon berulangkali, namun tidak ada jawaban dari sohibnya.
"bego.. kenapa gak dari tadi.. " umpatnya setelah melihat riwayat panggilan yang tertera nama Deti di sana. lantas Ia pun segera menelpon ibu dari sohibnya itu.
baru saja Ari selesai menelpon dan hendak menyimpan lagi ponselnya di kantong, Dia dibuat terkesiap dengan kehadiran Exel yang sudah duduk di sampingnya.
" jangan usir gue Ri.. " ucap Exel tiba-tiba dengan wajah melasnya membuat Ari tersenyum kecut.
" terserah lo.. tapi gue gak bisa jamin keselamatan lo, kalo si Leo nanti liat lo disni.." sahut Ari sinis. Dia berusaha tidak terpancing emosi lagi sesuai apa yang di sarankan Wilson tadi. terlebih dengan tindakannya terhadap Silvie tadi sudah lebih cukup untuk melampiaskan kekesalannya.
" makasih Ri.. " ucap Exel singkat sambil menepuk bahu Ari. walaupun raut wajah Ari tidak bersahabat, tetapi setidaknya sohibnya itu tidak mengusirnya kembali. Dia sudah mendengar percakapan Ari dan Deti barusan. dan itu membuatnya sedikit merasa lega.
sementara Ari memalingkan wajahnya tanpa menyahuti Exel. bahkan Ia sama sekali tidak berniat membahas kedatangan Silvie yang membuat Grace kejang-kejang. Dia masih punya sedikit perasaan agar sohibnya itu tidak kesal dengan Silvie.
...****...
Leo sedang menggendong bayinya di tepi ranjang menghadap ke arah jendela kamarnya. sementara si kecil Lucio tampak sedang bermain di bawah sana beralaskan karpet tebal.
Leo menatap bayinya yang sudah tertidur pulas, tetapi Ia enggan untuk memindahkannya. Dia sedang melepas rindu sebab waktunya selalu di habiskan di rumah sakit.
" udah mau sebulan gue nungguin lo buat ngasih nama putri kita Grace.. " lirihnya seraya menatap kosong ke depan.
Deti membuka pintu perlahan karena takut cucu perempuannya terbangun dan kembali menangis. Wanita itu terbelalak saat mendapati Leo masih berada di posisi yang sama dengan terakhir kali Ia melihatnya.
" sayang.. itu adeknya gak di pindahin.. " ucap Deti membuyarkan lamunan Leo.
" eh iya mah.. " sahut Leo sedikit linglung. kemudian Ia meletakkan bayinya di atas ranjang.
__ADS_1
" barusan Ari nelpon mamah, katanya ada kemajuan dari Grace.. " ucap Deti hampir keceplosan menyampaikan secara lengkap cerita dari Ari tadi.
" ayo kita ketemu mami .. "