
saat ini Grace sedang menunjukan sikap cueknya terhadap Leo. sejak suaminya itu membuat lelucon yang sangat sensitif baginya. tentu saja Grace tak suka.
" ayolah Grace, gue cuma bercanda doang.." Leo mencoba berusaha mengembalikan mood Grace. namun sayangnya istrinya itu memilih dian seribu bahasa.
" jangankan punya niat ngeduain lo, ngebayangin aja gue gak pernah.." lanjut Leo sambil membuntuti Grace yang tengah mengganti pakaian dan bersiap hendak tidur.
" prettt.. bulshit, kalo gak ngebayangin, ngapa bisa ngomong kek gitu?" batin Grace seraya melirik Leo sekilas dengan tatapan sinisnya. kemudian wanita itu segera naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana.
Sementara Leo hanya bisa menghela napas panjang kala melihat Grace yang benar-benar mendiamkannya.
" ck, salah lagi.. Auto libur ini mah.." batinnya seraya turut berbaring di samping Grace yang kini memunggunginya. meskipun begitu setidaknya istrinya itu masih bersedia tidur bersamanya.
di usapnya kepala Grace dari arah belakang. seperti biasa, Leo memanjatkan doa untuk kebaikan keluarganya sebelum tidur.
" good night sayang.." bisiknya tepat di telinga Grace. kemudian di kecupnya kening istrinya itu sebelum Ia kembali ke posisi semula.
Tidak ada sahutan juga pergerakan dari Grace membuat Leo kini memberanikan untuk mendekap istrinya sambil mengelus perut buncitnya dengan lembut penuh perasaan.
" good night cantiknya papi.." ucapnya ditengah aktivitas elusannya itu.
lagi-lagi tidak ada pergerakan dari Grace membuat Leo tersenyum menyeringai, terlebih sesuatu yang mulai mengeras di balik celananya ketika lututnya tidak sengaja menyikap dress tidur milik Grace.
" ehem.. gue mau nagih janji lo semalem boleh?" ucapnya ragu, namun tidak ada jawaban dari Grace membuatnya menghela napas panjang. Leo tidak akan menyerah begitu saja sampai keinginannya itu terlaksana.
" tadi kata dokter juga harus getol kan-"
Glek... belum selesai Leo berucap, dia di kejutkan dengan Grace yang tiba-tiba membalikan badannya hingga kini terlentang.
" jadi boleh nih..?" tanya Leo ragu seraya menaikan sebelah alisnya menunggu tanggapan dari Grace.
Tidak ada suara maupun pergerakan dari Grace, tetapi dengan posisi istrinya yang sekarang seolah mengisyaratkan bahwa Dia mengiyakan kemauan Leo.
" okelah kalo begitu.." ucap Leo seraya menggosok kedua telapak tangan sebelum melancarkan aksinya itu.
Ini kali pertama bagi Leo yang harus bekerja keras sendirian, sebab Grace benar-benar diam tak mengimbanginya. bahkan suara merdu yang biasa keluar dari mulut Grace, sama sekali tak terdengar. Istrinya itu nampak menahannya dengan menggigit bibirnya. dan Leo harus ekstra bersabar seraya berusaha agar Grace mau mengimbangi permainannya.
" sial.. udah kayak maen sama manekin aja.."
...***...
Di tempat lain, Exel baru tiba di kediaman mertuanya. Dia sudah mantap dengan niatnya yang hendak menjemput Silvie.
__ADS_1
" malam den.." sapa para penjaga rumah itu dengan kompak sambil membungkukkan badan. Sementara Exel menanggapinya hanya dengan anggukan juga tersenyum tipis di balik helm fullface yang masih melekat di kepalanya.
Kemudian Exel memarkirkan dulu motornya dengan apik sebelum melangkah menuju pintu utama rumah itu. untuk kesekian kalinya Exel mencoba mengatur napasnya sebab perasaan grogi tiba-tiba menyerangnya begitu saja. Padahal tadi Ia sudah mengumpulkan nyalinya sebelum menyambangi rumah itu.
" come on El, lo pasti bisa.." gumamnya ketika hendak mengetuk pintu.
ceklek.. belum sempat Exel mengetuk, namun pintu tersebut sudah terbuka dan menampilkan sosok wanita yang ditujunya saat ini.
" sil.." sapanya dengan lembut seraya menatap Silvie yang berada di hadapannya dengan berdecak kagum. penampilan Silvie sangat berbeda, jauh lebih cantik dari biasanya. Istrinya itu tampak seperti hendak pergi.
" mau kemana malem-malem gini?" tanya Exel. Pria itu sangat menunggu jawaban dari Silvie. Tak dapat di pungkiri ada perasaan rindu yang menyeruak di dadanya. dan kini Ia harus di hadapkan dengan perasaan cemas sekaligus penasaran, sebenarnya mau kemana istrinya?
Sementara Silvie diam tak menyahuti pertanyaan Exel, sedari tadi Ia melebarkan matanya melihat penampilan suaminya kini. Ya, di mata Silvie, Exel terlihat berantakan.
" ehem.." deheman Exel membuat Silvie mengerjapkan mata tersadar ari lamunannya.
" gue boleh masuk..?"
" gue mau pergi.." sahut Silvie dengan cepat membuat Exel menghela napas mencoba sabar menghadapinya.
" pergi sendiri?" tanya Exel seraya menaikan sebelah alisnya.
" bukan urusan lo, gue mau pergi kemana ke, sama siapa ke.." sahut Silvie setengah membentak.
" oke, kasih gue waktu sebentar, habis itu lo bebas mau kemana aja.."
Silvie terdiam, tetapi gerak tubuhnya seolah mempersilahkan Exel untuk masuk ke dalam rumahnya. Kemudian Exelpun masuk mengikuti langkah Silvie.
Exel mendudukkan dirinya di sofa bersama Silvie dengan posisi yang kini bersebrangan. Sejenak Exel mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. rumah itu tampak sepi, hanya ada beberapa pelayan saja di sana.
" mami papi kemana?" tanya Exel dan langsung mendapat sahutan dari Silvie berupa decakan.
" langsung ke intinya aja, gak usah basa-basi.." sahut Silvie ketus seraya menyilangkan kedua tangannya di dada, membuat Exel menggelengkan kepalanya. jika biasanya sikap Silvie terkesan menggemaskan, tetapi entah mengapa kali ini istrinya itu malah terlihat angkuh di mata Exel.
Exel mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dari dalam saku jaketnya, kemudian menyerahkannya kepada Silvie.
" itu buat lo Sil.." ucapnya kala Silvie meraih amplop tersebut.
di bukanya amplop itu oleh Silvie, amplop yang berisikan lembaran uang merah yang lumayan besar nominalnya bagi Exel tetapi tidak dengan Silvie. wanita itu langsung meletakan kembali amplop tersebut tepat di hadapan Exel.
Silvie terkekeh pelan dengan sorot mata yang terkesan meremehkan,
__ADS_1
" bawa balik aja bang.."
Exel menahan napasnya sejenak saat menoleh ke arah Silvie yang tampak menyunggingkan bibirnya. Kemudian Ia menunduk menatap amplop yang di tolak istrinya itu.
Ceklek.. pintu terbuka membuat keduanya langsung menoleh ke arah sana yang menampilkan sosok kedua orang tua Silvie. lantas Exelpun segera menghampiri mereka hendak bersalaman.
Exel merasa heran dengan ayah mertuanya, sebab pria tua itu sama sekali tidak keberatan untuk menyambut uluran tangannya. Dia berpikir jika ayah mertuanya akan menolak bahkan langsung mengusirnya dari sana. Hal itu yang di takutkan oleh Exel sedari tadi, namun kenyataanya ayah mertuanya itu malah mempersilahkannya untuk duduk kembali.
" ada apa gerangan El? apa udah mau jemput Silvie..?" tanya Shaw terdengar lembut, bahkan Exel sampai berani mendongak menatap ayah mertuanya tanpa berkedip dengan bibir sedikit menganga.
" emmh, El ke sini mau ngasih ini buat Silvie.." ucap Exel seraya menunjukan amplop tersebut. kemudian Dia menunduk kembali,
" maaf kalo telat pih, El baru bisa ngumpulin segini buat nafkahin putri papi.."
" ck..recehan buat apaan? " sela Silvie membuat kedua orangtuanya tercengang menatap tajam ke arahnya. sementara Exel hanya tersenyum tipis menunduk kembali. Kini Exel sudah tak perlu jawaban lagi mengapa Silvie menolak pemberiannya.
" Silvie.." suara Shaw terdengar geram menatap tajam ke arah Silvie. sialnya putrinya itu malah mendelik malas membuat Shaw menggeleng seraya menghela napas kasar.
Kemudian pria tua itu beralih menatap Exel yang terlihat memalingkan wajah. Shaw tahu menantunya itu mencoba menahan perasaan kesalnya kala mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Silvie.
Selama ini Shaw diam-diam memperhatikan setiap langkah Exel melalui orang suruhannya. Sengaja Ia melakukan itu agar bisa mengetahui siapa yang bersalah dalam masalah ini. Shaw juga merasa penuh penyesalan sebab sudah berlebihan dalam bertindak terhadap menantunya.
pria tua itu mengakui kegigihan Exel dalam bekerja keras. bahkan menantunya itu sama sekali tidak neko-neko selama berjauhan dengan putrinya. Benar-baenar hanya kuliah, kerja dan selebihnya Exel menghabiskan waktu di rumah.
" Sil, mami sama papi gak ngajarin kamu kurang ajar yah.." kini ibunya Silvie mengeluarkan suaranya, sama dengan Shaw, wanita paruh baya itupun merasa geram dengan sikap angkuh dari putrinya.
" apa..? Kalian mau belain dia ? yang anak kalian siapa sih..?" timpal Silvie ketus membuat ibunya menggeleng, sementara Shaw kini bangkit dari duduknya dan menghampiri Exel.
di tepuknya bahu Exel dengan bangga, kemudian pria tua itu beralih menatap Silvie. Dia tidak mau anak menantunya terus menerus berkubang dalam masalah rumit tersebut.
" papi gak mau tau, sekarang kamu harus ikut kemanapun suamimu pergi.." ucapnya bersungguh-sungguh membuat Silvie terbelalak.
" tapi pih, Silvie gak mau.." sela Silvie menolak. Dia merasa belum siap jika harus menata kembali biduk rumah tangga bersama Exel di tengah kehidupan yang sederhana.
Sementara Shaw menghela napas dalam-dalam sebelum menyahuti putrinya. Dia sudah mantap dengan apa yang diucapkannya barusan.
" kalo kamu nolak perintah papi, jangan harap mami sama papi mau nampung kamu lama-lama.."
" gak..!"
" ikut atau kamu menderita di sini? Jangankan uang menurut kamu receh, kamu bahkan dipastikan gak bakalan kenal uang lagi sebelum kamu nurutin perintah papi.."
__ADS_1
deg...