Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 113


__ADS_3

" sayang.. udah siap belum? " teriak Leo.


Grace mendengus kesal. Ibu hamil itu segera menyelesaikan aktivitas dandannya, kemudian melangkah keluar dengan tergesa-gesa menghampiri suami beserta anaknya.


" gak usah teriak juga keles.. " ucapnya ketus.


sementara Leo berdecak kesal karena harus menunggu Grace. istrinya itu lama sekali berdandan. padahal Ia sudah memandikan si kecil, tetapi Grace belum selesai juga berdandan.


" lagian make gincu aja lama.." sahutnya tak kalah ketus.


" serah lo.. gue lagi males berdebat.. "


kali ini Grace memilih mengalah daripada rencananya tertunda atau malah gagal hanya karena meladeni suaminya.


ya hari ini keduanya berencana menjenguk Ari di rumahnya setelah Pria itu pulang dari rumah sakit kemarin. tak lupa Leo mengajak si kecil Cio ke sana.


Leo terkekeh menanggapi Grace yang pasrah. biasanya istrinya itu tidak mau kalah jika harus beradu mulut. malah istrinya cenderung merajuk jika kalah berdebat.


" ya udah ayo, mami yang nyetir yah.."


" serius..? " sahut Grace tersenyum sumringah.


sementara Leo mengangguk mantap. Dia ingin menyenangkan istrinya. ah lebih tepatnya cari aman agar Grace tidak merajuk.


.


.


.


.


Grace benar-benar semangat mengemudikan mobilnya. dia membawa dengan kecepatan sedang guna menikmati perjalanan santainya bersama suami juga anaknya yang duduk di samping.


Grace menoleh ke samping ketika berhenti di lampu merah. Dia tersenyum bahagia melihat si kecil begitu aktif memukul-mukul jendela mobilnya sambil berceloteh, kakinya yang berisi terus menghentak di kaki Leo.


" Cio suka iron man yah..? " ucapnya ketika melihat penghibur jalanan yang cosplay jadi ironman.


si kecil begitu excited saat jendelanya di buka. kakinya terus menghentak di paha Leo hingga pria itu meringis kewalahan.


" ini pak.. " Leo menyodorkan uang kepada penghibur tersebut.


si penghibur langsung membungkuk hormat, perasaannya sungguh bahagia ketika Leo memberi uang dengan nominal yang cukup besar.


" terimakasih Tuan.. " ucapnya begitu sumringah.


Leo mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapinya. dalam hatinya meringis, dia mendengar suara barusan adalah suara perempuan. Dia tidak tega jika perempuan harus bekerja kasar menjadi tulang punggung keluarga.


menoleh sejenak ke arah Grace, Dia berjanji kepada dirinya sendiri akan menjadikan istrinya itu sebagai ratu dalam hidupnya.


" I love you istriku.. "


ukhukkk.. seketika Grace merasakan gatal di tenggorokannya saat mendengar ucapan tiba-tiba dari suaminya.


" bapak kesambet ? " tanyanya tak percaya.


Leo menggeleng dengan tersenyum semanis mungkin, " gue janji berusaha buat nyenengin lo, gak bikin lo kecapean, kerepotan terus.. "


" terus nyuruh istrinya nyetir itu apa sialan? " sela Grace seraya menyunggingkan senyuman.


" itukan salah satu yang bikin lo seneng " sahut Leo santai.


" lagian kalo gue yang nyetir, lo yang mangku Cio, gak kebayang perut lo takut kenapa-napa. gak liat Cio aktif banget " lanjutnya membuat Grace manggut-manggut setuju.


" baiklah, berhubung gue emang seneng kalo di suruh nyetir.. so, gak masalah.. " ucap Grace. Lagi-lagi wanita itu tampak malas meladeni suaminya. Dia tidak sabar ingin segera sampai untuk menjenguk Ari.


sementara Leo tersenyum penuh kemenangan. istrinya itu kembali mengalah dalam berdebat.


.


.


.


setibanya di depan rumah Ari, Grace memutar kembali mobilnya sebab ada mobil lain di halaman rumah tersebut. karena halamannya tidak cukup untuk menampung banyak mobil, jadi Grace mencari tempat parkir terlebih dulu.


.


.

__ADS_1


.


blughh..


" numpang sebentar yah pak.. " ucap Leo kepada pemilik rumah yang merupakan tetangga Ari.


" silakan nak, santai aja.. " sahut pemilik rumah tersebut.


Leo dan Grace dengan kompak mengangguk tersenyum ramah.


" terimakasih pak.. " ucap keduanya di angguki pemilik rumah tersebut.


keduanya berjalan menuju rumah Ari. dimana si kecil berada di gendongan Leo, sementara Grace menggoda si kecil dari belakang.


" si El juga ada di sini Le.. " ucap Grace seraya menunjuk mobil Exel yang terparkir di halaman rumah Ari.


glek.. seketika Leo kesusahan menelan ludahnya. sudah di pastikan Silvie juga ada di dalam. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya jika Silvie bertemu dengan istrinya.


" iya kali.. " sahutnya terdengar cuek. namun percayalah jantungnya terasa mau copot.


Seperti biasa keduanya nyelonong begitu saja masuk kedalam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


deg.. begitu pintu terbuka langsung menampilkan empat orang yang tengah bercengkrama di ruang tamu.


Grace menghela napas pelan, dia berusaha terlibat santai dengan pembawaannya yang tetap tenang.


" Loh Sil, gimana kabar lo? sorry gue gak tau kalo lo udah pulang dari rumah sakit.. " tanyanya terdengar tulus.


" udah lama Grace.. " Exel yang menyahuti karena Silvie membisu. padahal sebelum kehadiran keluarga Leo, istrinya itu tampak ceria bercanda bersama Megan.


sementara Ari juga Megan tampak saling pandang, mereka tidak ingin ada kecanggungan di antara para sahabatnya. tetapi sepertinya Silvie yang memulai dengan sikap dinginnya.


Begitupun dengan Leo yang nampak cemas dengan Grace. Dia tahu perasaan istrinya pasti sangat sakit hati mendapat sikap tak menyenangkan dari Silvie.


" hmm.. syukurlah kalo lo udah baikan Sil.. " ucap Grace seraya melangkah menghampiri Silvie. tetapi wanita itu langsung bangkit dari duduknya.


" Me, gue cabut duluan.." ucap Silvie seraya menarik paksa lengan Exel.


sementara Exel terkesiap saat Silvie menarik lengannya. Ia baru saja hendak mengambil Lucio dari gendongan Leo. Exel merasa rindu dengan si kecil karena sudah lama tidak bertemu.


Exel mengangguk pasrah, " semuanya, kita cabut duluan yah.. " ucapnya seraya hendak melangkah ke luar.


seketika langkah Exel terhenti ketika si kecil mengasongkan kedua tangannya sambil berceloteh seolah meminta dirinya agar mau menggendong si kecil.


" ayo bang.. lama banget sih " ucap Silvie kesal.


" bentar aja Sil, gue kangen Cio.. " sahut Exel menatap Silvie dengan penuh permohonan.


" terserah.. gue balik sendiri aja.. " ucap Silvie kesal seraya menghentakkan kakinya ke luar membuat yang lainnya menggeleng melihat sikap buruknya.


begitupun dengan Exel. Pria itu mengeraskan rahangnya, merasa harga dirinya sebagai suami sudah tidak ada nilainya. Silvie sudah menjatuhkannya dihadapan orang lain.


Sebelum Exel menyusul Silvie yang merajuk, Ia menyempatkan menghampiri si kecil dulu. di ciumnya pipi si kecil seraya mengusap kepalanya.


" Cio sayang, jagoan uncle. sebentar lagi Cio jadi abang. sehat terus yah sayang, Cio pinter.. "


si kecil nampak tersenyum gemas dengan tangannya yang terus terangkat meminta Exel agar mau menggendongnya.


" nanti uncle ajak Cio main yah, sekarang uncle mau pulang dulu.. bye Cio.. "


seketika si kecil Cio langsung menangis sejadi-jadinya. tangannya terus menunjuk punggung Exel yang melangkah ke luar sampai menghilang. pipi gembul si kecil sudah basah menangisi kepergian Exel.


Si kecil terus saja menangis sampai berkeringat membuat Leo kewalahan menenangkannya. ini kali pertama anaknya menangis begini sebab si kecil memang tipe anak yang aktif juga murah senyum. hanya melihat sosok Exel yang sudah lama tak dijumpainya dan dengan cepat menghilang begitu saja, membuat si kecil bisa menangis seperti ini.


sementara Ari langsung bangkit menghampiri si kecil ketika melihat Grace yang hendak mengambil alih Cio dari Leo. Ari tidak mau perut Grace kenapa-napa, mengingat si kecil yang menangis sambil menghentakkan kaki di dada Leo dengan kuat.


" sini Cio sama uncle Ari yang gak kalah ganteng dari uncle El.. " ucapnya dengan bangga membuat Leo berlagak mau muntah.


.


.


.


akhirnya si kecil berhenti menangis saat Ari menggendongnya membuat Leo bernapas lega. bagaimana tidak, tubuhnya yang di jadikan sasaran amukan si kecil, terasa begitu nyeri.


lantas Leopun mendudukkan dirinya di sofa bersama Grace di sampingnya. istrinya itu nampak diam sedari tadi. tangannya terangkat mengelus rambut Grace.


" are you okay? " tanyanya setengah berbisik.

__ADS_1


Grace mengangguk pelan seraya tersenyum menunjukkan jika dirinya baik-baik saja.


" Me, lo ada tamu agung gak di kasih minum nih..? " tanya Grace mencoba mencairkan suasana.


sontak Meganpun terkesiap, " eh iya sorry.. tunggu, gue bikinin minum dulu.. " ucap Megan cengengesan seraya bangkit dari duduknya, kemudian Ia mengambil gelas bekas Silvie juga Exel sekalian membawanya ke dapur.


" gila si El, gak bisa didik bini sendiri. malah tunduk gitu aja.. susis gak tuh? "


celetuk Ari yang masih berdiri menggendong si kecil. pria itu berhasil membuat si kecil tertidur di gendongannya.


" terus bedanya apa sama lo yang suka make daster.. " sahut Leo dengan nada mengejek. " ini tumben lo make sarung kayak abis sunatan aja lo, apa disuruh bini lo juga..? " lanjut Leo.


" bedalah anying.. itukan bawaan si jabang, gue make sarung emang lagi pengen aja.. " sahut Ari tidak mau kalah.


" massa..? " ucap Leo seolah tak percaya.


" bodo.. "


" ehem.. Ri, sorry nih gue baru bisa jengukin lo.. " suara Grace membuat perdebatan keduanya terhenti sejenak.


Ari mengangguk seraya meletakkan si kecil yang terlelap di sofa karena merasa pegal.


" gak papa bos, tapi.. " Dia sengaja menggantung kalimatnya membuat Grace menaikan sebelah alisnya penasaran. sementara Leo mendesah kesal.


" tapi.. lo gak bawa apa-apa nih nengokin gue? " lanjutnya.


" bawa nih, tagihan rumah sakit.. " Leo menimpali dengan santai membuat Ari berdecak kesal.


" ck.. gak ikhlas banget lo.. "


" gak papa Grace, lagian kita seneng kalo lo nyempetin ke sini.. " ucap Megan seraya meletakkan gelas di atas meja.


" gimana kabar lo? " tanya Megan seraya mengelus perut Grace.


tak dapat dipungkiri, Megan sangat rindu dengan sahabatnya itu, terlebih Grace yang sengaja menutup semua akses komunikasi membuat Megan tidak bisa mengetahui kabar Grace. Dia juga memang di sibukkan dengan urusan kedainya selama Ari berada di rumah sakit.


" seperti yang lo liat Me, gue selalu baik-baik aja.."


Megan tersenyum kemudian Ia memeluk Grace begitu erat. rasa rindu juga perasaan bersalah menjadi satu. Dia tidak mau persahabatan yang sudah lama di bangun renggang begitu saja.


" maafin gue Grace, gue gak ada buat lo. gue udah berusaha nasehatin si Silvie, jangankan gue, lakinya aja gak di denger.. "


Grace mengangguk tersenyum tipis. dadanya terasa sesak jika mengingat kembali sikap Silvie. Dia tidak tahu mengapa sahabatnya itu menjadi keras kepala, lebih tepatnya keras di hatinya.


" gue gak papa ko Me.. oh ya, lo masak gak Me, gue laper.. " ucapnya cengengesan.


Megan terkekeh, " kuy.. kebetulan gue bikin sayur asem.. " ajaknya seraya menarik lengan Grace.


" kanda mau ikut makan gak? " tanya Grace kepada Leo, wajah wanita itu sengaja di buat semengemaskan mungkin.


Leo menggeleng dengan cepat. " Dinda aja, kanda masih kenyang.. " sahutnya.


sementara Megan juga Ari menggeleng bergidik geli melihat pasangan yang mulai mode gila itu.


...****...


Sementara di tempat lain.


Silvie tampak menghentakkan kaki memasuki kamarnya. bahkan Dia melewati mertuanya yang tengah duduk di ruang keluarga begitu saja.


" kenapa lagi si El..? " tanya Indri kepada putranya yang baru masuk itu.


Exel menyalami tangan sang ibu, kemudian Ia turut duduk disampingnya.


" biasa mih, adatnya kumat. tadi ketemu si Grace.. "


kini Exel membaringkan tubuhnya di sofa dengan menjadikan paha sang ibu sebagai bantalan kepalanya.


Exel mencurahkan isi hatinya kepada sang ibu. rasa lelahnya menghadapi sikap buruk Silvie, rasa bersalah terhadap keluarga Leo, termasuk rasa rindu akan si kecil Lucio.


Sementara Indri mengusap kepala putranya yang tiba-tiba bersikap manja itu. Dia sangat antusias sebagai pendengar yang baik. mencoba menghilangkan kegundahan sang putra agar merasa lebih tenang.


" mami tau, El selalu kuat, sabar.. inget selalu ucapan mami El, jangan bersikap kasar sama Silvie, jaga mentalnya, bagaimanapun juga Dia masih merasa kehilangan El.. "


" dengan nyalahin Leo sama Grace mih? " sela Exel.


Indri menghela napas panjang, dia juga merasa tidak enak dengan nama yang di sebut oleh putranya. terlebih dengan Grace yang sudah di anggap seperti anaknya sendiri.


" terus berusaha kasih pengertian El, mami yakin lambat laun Silvie pasti luluh juga.. "

__ADS_1


" sampai kapan mih, El gak kurang terus nasehatin istri El.. "


" jangan nyerah..!!!"


__ADS_2