
Dini hari seperti biasa Grace terjaga, namun kali ini dirinya terbangun sebab baru saja mengalami mimpi buruk. Buliran keringat dingin membasahi dahinya.
Grace menggelengkan kepala menepis pikirannya tentang mimpi buruk barusan dimana Leo meninggalkan Grace untuk selamanya itu terasa seperti nyata.
"Gue ikutin kemauan lo Grace.. Gue mau pergi jauh dari kehidupan lo.. selamanya.. selamanya.. "
"No..!!! "
Grace tersengal, ucapan Leo di mimpinya terngiang-ngiang terasa seperti nyata.
Grace mencoba mengatur napasnya lalu meraih gelas di samping ranjangnya dan meneguk air tanpa sisa.
"Lo gak boleh tinggalin gue Leo.. "
batin Grace mengusap kasar wajahnya.
Penyesalan hadir di benaknya, bagaimana tidak? dirinyalah yang meminta Leo untuk pergi jauh dari kehidupannya. dan saat ini Grace takut akan hal itu.
Grace harus segera menghampiri Leo saat ini juga. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati Anita bersama Deti tengah terlelap di sofa pojok ruangan.
Gracepun bangkit dari ranjangnya dan melangkah keluar ruangan dengan mengendap-endap takut Anita dan Deti terbangun dan pasti akan melarangnya keluar untuk menemui Leo.
Grace memaksakan dirinya melangkah dengan lemah disepanjang koridor rumah sakit tersebut dengan menopangkan tangannya pada dinding.
"Grace.. ngapain keluar? " suara Exel membuat Grace terkejut dan menghentikan langkahnya.
Exel yang baru saja dari pantry membawa dua cangkir kopi untuk Ari juga dirinya, tak sengaja mendapati Grace sedang berjalan lemah segera menghampirinya dengan cemas.
"Gue mau nemenin suami gue El.. " ucap Grace dengan lirih melanjutkan langkahnya.
Exel mensejajarkan langkahnya dengan Grace. menghela napas pelan, Exel harus membujuk Grace untuk kembali istirahat di kamarnya. dirinya tidak ingin kesehatan Grace menurun.
"Lo harus istirahat Grace.. bukan cuma lo doang yang belum boleh nemenin dia di dalem, tapi semuanya Grace..
Kita juga cuma bisa berjaga diluar.. lebih baik lo istirahat,
Ayo gue anterin.. "
Exel mengingatkan Grace perihal Leo yang masih dirawat secara intensif, dan tak sembarang orang bisa masuk kedalam, jika pun bisa, itu hanya jam-jam tertentu dan sangat singkat.
Tetapi bukan Grace namanya jika tidak keras kepala. Grace menggeleng, kekeh dengan pendiriannya,
"Gue mau harus nemenin dia El.." ucapnya kekeh terus memaksakan langkahnya.
" gimana kalo ketemu sebentar..?" ucap Exel membujuk, dan lagi-lagi Grace menggeleng, tetap kekeh,
" gak.. gue harus temenin dia.." timpal Grace bersungguh dan terus melangkah dengan tertatih membuat Exel harus berbuat sesuatu saat melihatnya lemas seperti itu.
Exelpun meletakkan kopi yang dibawanya sembarangan kemudian menggendong Grace ala bridal style.
Grace tersentak dengan tindakan Exel, Iapun memberontak dengan memukul dada Exel,
"El.. Lo jangan gila.. turunin gue.." ucapnya kesal, dan Exel malah terkekeh geli,
"Lo mau ketemu suami lo atau mau gue balikin ke kamar lo..? "
__ADS_1
ucap Exel memancing.
Grace memutar bola matanya kesal dengan tindakan Exel yang dirasa lancang,
"Tapi gak gini juga bambang.. Lo bisa kan mapah gue aja..?" ucapnya ketus.
"Kelamaan.. Keburu pagi lo baru nyampe.. " timpal Exel santai terus melangkah menuju ruang perawatan Leo.
Tak lama keduanya sampai didepan ruangan tersebut dan mendapati Ari bersama Hendri sedang berjaga disana.
Ari mengerutkan dahinya melihat kehadiran Grace yang berada di gendongan sohibnya. sementara Exel mengisyaratkannya agar diam dan tidak banyak bertanya.
" untung om Hendri tidur.. bisa di gibeg lo gendong gendong bini orang.. "
ucap Ari dengan ketus setelah Exel keluar dari ruangan tersebut.
" berisik lo.." timpal Exel tak kalah ketusnya seraya menoyor kepala Ari.
Grace menghampiri Leo yang masih terpejam tak kunjung sadarkan diri.
Ia bersimpuh di samping ranjang Leo seraya menggenggam tangannya lembut.
"I can't sleep tonight Leo.. " lirihnya menatap wajah Leo, dan kembali teringat akan mimpi buruknya tadi.
"Jangan tinggalin gue Le.. gue butuh lo.. Lo berharga buat gue.. "
Grace terus menatap menyusuri wajah Leo yang terpejam begitu tenang dengan alat bantu pernapasan melekat di sana.
Grace kembali teringat saat Leo mengeluarkan banyak darah dari mulutnya setelah mengucapkan kata-kata manis untuknya.
"i love you more.. " kata terakhir dari mulut Leo sebelum tidak sadarkan diri membuat Grace berteriak histeris saat itu.
"Gue egois Leo.. Seolah cuma gue yang terluka, padahal lo lebih tersiksa dan lebih sakit daripada gue.."
Grace mulai terisak, mengingat betapa kejam dirinya menanggapi Leo yang berusaha meraihnya.
"but, I know there's good times beyond that pain.. " ucapnya dengan lirih menyemangati diri sendiri.
"tentu saja.. gue yakin kalian gak bakalan terpisahkan.. Selamanya.. "
ucap Exel menghampiri Grace dan membawakan kursi roda untuknya.
dan Grace tersenyum tipis mendengar perkataan Exel membuatnya sedikit merasa tenang.
"Ayo.. ! " ajak Exel hendak membatu Grace untuk duduk di kursi roda.
sebelum keluar dari ruangan tersebut, Exel mendorong kursi roda Grace untuk menghampiri Leo sebentar.
"Leo.. gue balik dulu, Lo cepet bangun yah.. gue mau pulang sama lo.. "
lirih Grace mengusap dan mengecup pucuk kepala Leo.
___
"Sikunyuk malah molor.. " ucap Exel menggeleng mendapati Ari yang terlelap tanpa beban dan dosa.
__ADS_1
sementara Grace terkekeh melihat Ari tidur dengan mulut menganga,
" kesayangan Megan.." ucapnya menggeleng.
" abis ngambek dia.." timpal Exel santai sambil mendorong kursi roda menyusuri koridor rumah sakit tersebut.
"El.. "
"Hemm.. "
"Gue tadi mimpi buruk.. gue mimpi suami gue pergi ninggalin gue buat selamanya.. " ucap Grace gugup.
Exel menghela napas mencoba menenangkannya,
"Lo mimpi kan..? itu cuma bunga tidur, yaa.. walaupun kadang mimpi jadi nyata kaya gue.."
"Maksud lo..? " tanya Grace panik takut mimpinya akan menjadi kenyataan.
sementara Exel menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Ia merasa salah berucap dan malah membuat Grace semakin takut.
"Maksud Gue, contohnya nih gue sering mimpiin ponakan gue minta sesuatu misalnya makanan.. paginya gue langsung bikinin padahal seumur-umur gue gak pernah masak, nyokap gue aja sampe heran,
tapi bener si Leo lahap banget kalo gue bawain makanan.. "
ucapnya dengan jujur teringat sikap sohibnya yang terlihat menggemaskan saat menerima makanan darinya dengan sumringah.
"Serius lo..? " tanya Grace tak percaya di angguki oleh Exel,
"Hmm.. si Leo tuh gak pernah minta tapi selalu seneng kalo gue bawain dia sesuatu sampe gak mau berbagi sama siapapun..
kemarin terakhir tuh bikin rujakan, persetan gue sama orang-orang yang ledekin kita.."
timpal Exel malah terkekeh mengingat dirinya dengan tega melarang orang lain yang meminta makanan Leo, bahkan Silvie yang notabenenya pacarnya sekalipun.
Begitupun dengan Grace, Ia menggeleng mengingat kejadian tempo hari di taman sekolah.
"Hebat lo pada.. punya Camistry mendalam begitu.. " ucap Grace mengacungkan jempol memuji persahabatan Leo cs yang sudah tak dapat diragukan lagi kesetiaan juga kesolidaritasannya.
"Dah.. Istirahat sono.. "ucap Exel menyudahi perbincangan disepanjang koridor tersebut bertepatan tiba di depan ruangan Grace.
Grace mendongak ke arah Exel,
"Bantu gue El.. " ucap Grace memelas.
"Hemm.. "
Exelpun ikut masuk kedalam membantu Grace kembali berbaring di ranjangnya. tentu dengan mengendap-endap takut kedua besan terbangun.
Grace menatap poto Leo di ponselnya setelah kepergian Exel.
selagi menunggu rasa kantuk hadir kembali, Grace iseng membuka media sosialnya.
Grace terbelalak membaca postingan bertuliskan doa dan harapan untuk kesembuhan Leo dari para penggemar yang memenuhi berandanya.
"Lo itu spesial, bukan cuma buat gue.. tapi semua orang karena kebaikan yang ada di diri lo..
__ADS_1
Lo seperti malaikat tak bersayap, tapi bisa buat gue melayang terbang tinggi..
I love you Leonard.. "