Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 91


__ADS_3

Sepanjang jam kuliahnya, Grace dilanda kecemasan tingkat tinggi sebab dirinya belum juga mendapat kabar mengenai Silvie dari Exel.


Hingga akhirnya Grace menyerah dan mengadu semuanya kepada Leo suaminya, sebelum Leo tahu dari Ari mengingat Megan yang mengetahui akan hilangnya Silvie, tentu tidak diam menyimpannya sendiri.


tampak gurat kecewa pada diri Leo terhadap Grace yang tidak mempercayai dirinya sebagai tempat sandaran bercerita mengenai masalah yang di alami selama ini.


akan tetapi Leo masih bisa menguasai emosinya saat ini, Ia menyampingkan egonya terlebih dulu.


Sekuat tenaga Leo mencoba menenangkan Grace yang menangis di dekapannya sekarang.


sebelumnya Leo meninggalkan agenda pentingnya bersama kliennya yang kemungkinan akan menyebabkan kerugian nantinya. itu semua demi menemui Grace yang lebih membutuhkannya.


" Si Silvie juga manusia biasa Le.. keliatannya aja dia sabar, fine fine aja ngeliat lakinya perhatian sama keluarga kita apalagi sama gue.. gue yang liat lo boncengan sama dia aja cemburu, apalagi dia yang kenyang liat si El lebih perhatian sama kita.. "


Entah mengapa Grace bisa berpikir ke sana, kesabaran dan ketabahan Silvie seperti bom waktu yang pada akhirnya akan meledak juga. kecemburuannya tertutup rapat dengan tampangnya yang bodoh dan selalu ceria. pikir Grace.


sementara Leo yang sedari tadi mendengar penuturan dari Grace hanya bisa diam tanpa menyela.


Ingin sekali ia menumpahkan kekesalannya terhadap Grace, akan tetapi waktu yang dirasa kurang tepat membuat Leo mengalah.


" mangkanya dia pergi tanpa kabar kali Le.. mungkin gara-gara si El ketemuan sama gue diem-diem.. " lanjut Grace kembali ditengah isakannya.


Leo mengeraskan rahangnya, jelas Ia kecewa terhadap istri juga sohibnya, namun Ia kembali menetralkan perasaannya, mencoba untuk tenang dalam berpikir.


Leo menangkup pipi Grace yang masih basah, lalu menatap dengan sendu mata yang tak hentinya berair itu.


" lo tenang yah.. kita tunggu kabar dari si Ari, gue udah nyuruh yang lainnya ikut nyari dia juga.. "


" tapi Le.. "


shyuttt.. Leo meletakkan jarinya di bibir Grace membuatnya bungkam dan menunduk.


kemudian Leo kembali meraih dagu Grace agar mendongak kearahnya.


" Liat gue Grace.. "


akhirnya Gracepun mendongak menatap sorot mata Leo yang Ia yakini akan menatapnya dengan tajam. namun dugaan Grace salah, Leo menatapnya begitu hangat.


" Gue ini suami lo kan..? " ucap Leo lembut seraya menaikan sebelah alisnya dan langsung ditanggapi anggukan oleh Grace.


" selain gue ini suami lo, gue juga mau jadi sahabat lo Grace, gue mau jadi pendengar setia buat lo, dan sebaliknya, bagi gue Lo itu rumah tempat dimana gue bercerita, melepas penat dan berbagi segalanya tanpa ada yang ditutupi.. "


pecah sudah unek-unek yang ada di benak Leo sedari tadi.


" walaupun gue gak paham sepenuhnya mengenai norma dan adab dalam rumah tangga, tapi dengan perginya lo kemanapun tanpa ijin atau sepengetahuan gue sebagai suami lo, gue yakin itu gak baik Grace.. di agama manapun itu gak bener Grace.. "


entah mengapa Grace merasa tertampar dengan semua ucapan suaminya barusan, akan tetapi suara lembut juga pembawaannya yang santai membuat Grace lebih tenang.


" selama ini gue bebasin lo dalam segala hal, hobby lo.. mau lo bergaul sama siapa aja gue gak pernah ngelarang atau ngekang lo.. gue gak mau lo ngerasa gak nyaman hidup sama gue, tapi bukan berarti lo gak tau aturan dan batasan.. lo ngertikan maksud gue..? "


blugghh.. tanpa aba-aba Grace memeluk Leo dengan erat.


lagi, tangisannya semakin pecah kala mendapat pencerahan dari suami yang biasanya menjengkelkan itu.


" maaf.. maafin gue yang belum bisa jadi istri yang baik buat lo.. " ucapnya dengan lirih.


" gue yang masih jauh dari kata baik sebagai suami lo Grace, sampe lo gak percaya penuh sama gue.. "


deg.. lagi lagi Grace merasa tertampar dengan ucapan Leo.


" jangan nyerah le, bimbing gue terus, jangan berhenti ajari istri barbar lo kebaikan.." ucapnya dengan lirih.


.


.


.


.


.


.


Sementara di tempat lain, Exel semakin kalang kabut mencari keberadaan Silvi, dibuat semakin frustasi setelah mendapat pesan dari si peneror yang menggunakan nomor telepon Silvie berupa keberadaan juga kondisi istrinya sekarang.


" Motor sama tas bini lo kita temuin di jalan Xxx.. " ucap Ari dari sebrang telepon.


" agrhhh.. brengsek.. gue kecolongan.." umpat Exel mengacak kasar rambutnya.


sejenak Exel menatap layar ponsel yang menampilkan potret dirinya bersama Silvie. Exel teringat saat Silvie merengek meminta poto tersebut dijadikan wallpaper di ponselnya.


Exel tergelak sejadi-jadinya bak orang terganggu kejiwaannya.


Biarkan dirinya dikatakan sebagai pengecut sebab menelan sendiri masalah ini. Ia sudah gagal menjaga kepercayaan Shaw terhadapnya. Ia tak becus menjaga putri semata wayang Shaw.


terlepas dari itu semua, Exel bersama kedua sohibnya memang tidak pernah membawa orang tua mereka di ikut sertakan dalam masalah yang menimpa. terlebih Exel yang bisa digantung hidup-hidup baik oleh ayahnya yang suka kejam itu, atau malah Shaw mertuanya yang akan menghukumnya jika mengetahui Exel gagal menjaga istrinya itu.

__ADS_1


" gue emang brengsek Sil.. lo berhak benci sama gue.. gue suami gak berguna buat lo.."


.


.


.


.


.


kembali ke kampus.


Grace yang masih berada di taman bersama Leo, menerima pesan yang sama dengan Exel.


dengan tangan gemetaran, Grace memberikan ponselnya pada Leo agar turut membacanya.


deg... sontak mata Leo melotot, dirinya yang hanya sekedar sahabat, begitu tersayat melihat kondisi Silvie sekarang, apalagi Exel sebagai suaminya.


"gimana jadinya kalo anak lo ngalamin juga kayak dia.. " begitulah isi pesan setelah poto keadaan Silvie diterima.


" brengsek... " umpat Leo begitu geram.


" Gue kan yang dia mau.. gue juga yang bakal habisin tuh pecundang.. " gumam Leo seraya mengepalkan tangannya.


Grace yang terkena serangan panik, mencoba untuk tenang dengan menghirup napas dalam-dalam agar lebih rileks.


" ikut gue Le.. " ucap Grace seraya menarik paksa tangan Leo agar mengikuti langkahnya.


Keduanya berjalan melewati gedung tempat dimana Grace belajar. Sontak semua yang melihatnya berteriak histeris dengan ketampanan Leo yang jarang sekali mereka jumpai.


" Oh my God.. Sisain gue satu pangeran kek dia.. "


" bukan kaleng kaleng.. "


" serasi banget anjirr.. meleleh gue meleleh.. "


mendengar teriakan teriakan tersebut, tentu membuat Grace kesal, andai kalau bisa rasanya Grace akan mengantongi Leo agar ketampanan suaminya itu tidak dilihat juga di nikmati oleh orang lain.


Akan tetapi kali ini Grace mengalah, Ia lebih memilih fokus kepada tujuan utamanya untuk menemui seseorang.


" bang tunggu..!!! " teriak Grace memanggil Wilson yang sedang berjalan di koridor gedung tersebut.


Sontak semua melongo tak percaya dengan panggilan Grace terhadap Dosen killer itu. begitupun dengan Leo yang menggeleng tidak habis pikir dengan tingkah Grace yang sama sekali tidak ada anggun anggunnya.


Sementara yang menjadi pusat perhatian malah terlihat cuek dan masa bodoh.


Wilson begitu senang jika istri dari sepupunya itu bisa menganggapnya dan tidak berbicara dengan formal lagi, terlebih saat Grace mengetahui siapa Wilson sebenarnya, disitulah Grace mengurungkan niatnya mengundurkan diri sebagai asistennya, tentu baik Leo maupun Wilson sendiri senang mendengarnya.


" kenapa lo malah manggil dosen mesum itu sih.. noh liat.. kesenangan kan dia.. "


gumam Leo berdecak kesal seraya memperhatikan Wilson berjalan dengan senyuman terpatri diwajahnya.


" ribet gue kalo harus nyari tuh orang, kalo lewat dosen kan sat set sat set.. sekalian kita pinjem ruangannya buat interogasi.."


" serah lo Grace.. " sahut Leo yang masih memasang muka cemberutnya.


" ada apa Grace.. kenapa teriak-teriak..? " tanya Wilson sok heran kenapa Grace bisa bicara nonformal di area kampus.


" Sorry bang.. eh maksudnya pak, "


" udah santai aja.. kayaknya lo berdua ada masalah.. " sahut Wilson menyela ucapan Grace.


" gue perlu bantuan lo bang.." timpal Grace seraya melanjutkan rencananya dengan berbisik memberi penjelasan semuanya.


" kenapa gak lo samperin aja, gue tunjukin kelasnya.. " timpal Wilson.


" bodoh.. kalo lo yang manggil atas nama dosen, auto nurut.. kalo kita yang maranin ke kelasnya lo taukan gimana dia.. "


akhirnya Leopun mengeluarkan suaranya seraya menunjuk Grace dengan lirikan ekor matanya.


Wilson mengangguk terkekeh seraya mengajak Leo hivi, sementara Grace berdecak kesal,


" apa..? lo berdua mau bilang gue barbar iya kan..? " sahut Grace sewot.


nah kan.. baru saja Leo menjelma menjadi suami bijak, penyakit menjengkelkannya kumat lagi.


" udah ayo.. jangan buang buang waktu.. " ajak Wilson cari aman.


" huhhh.. curang.. "


Jangan lupakan para mahasiswi yang sedari tadi memperhatikan tiga mahluk yang populer juga berpengaruh di kampus tersebut. tak hentinya mereka berbisik,


" sumpah demi apa.. si Grace ternyata adeknya pak Wilson.. "


" pantesan pak Wilson pasang badan kalo ada yang nyakitin dia.."

__ADS_1


" iyah anjirr.. si Siska aja kena tamparan mautnya. . "


" gila.. pantes aja si Grace dijadiin asistennya.. takut di duluin dosen lain.. "


" kalo Leonard punya di Grace.. gue gak papa jadi kakak iparnya aja.. "


" anjirr.. ngarep banget lo dapetin pak Wilson.. "


" sungkem again buat grace.. "


.


.


.


.


.


Lolita, gadis yang di maksud oleh Grace itu. Ia tampak tenang berjalan menuju ruangan Wilson setelah mendapat panggilan dari dosen tersebut.


" masuk.. "


ceklekkkk...


deg.. Lolita merasa sesak sesaat, susah payah menelan ludahnya. pasalnya saat dirinya masuk keruangan tersebut, langsung disambut oleh tatapan tajam dari tiga orang dingin sekaligus.


" duduk.. " titah Wilson pada Lolita yang masih berdiri mematung di dekat pintu.


glek.. dengan gemetaran, Lolita pun mendudukkan dirinya di kursi yang sudah ditunjuk oleh Wilson.


" lo orang suruhan si Tege kan..? " tanya Grace datar membuat Lolita mengerutkan dahinya bingung siapa yang di maksud olehnya itu.


" yang jelas Grace.. " sela Leo menggeleng kesal.


begitupun dengan Wilson yang menahan tawanya, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini kedua mahluk itu membuatnya ingin tertawa.


" Lo suruhannya si Siska kan..? " ucap Grace kembali langsung mendapat gelengan kepala dari Lolita.


" okeh kalo bukan.. to the point aja.. selama ini lo kan yang udah neror gue.. ? " lanjut Grace dengan nada tinggi membuat Leo langsung menggenggam tangannya.


" pelan-pelan Grace, kalo lo salah tuduh... "


" Lo gak salah tuduh kok Grace.. " sela Lolita memotong ucapan Leo barusan.


Lolita tampak lebih tenang dan santai sekarang,


" karna gue suka sama suami Lo.. gue mau dia seutuhnya buat gue tanpa ada seorangpun pengganggu.. " lanjut Lolita begitu tenang.


" termasuk anak gue..? " tanya Grace geram dengan sorot mata yang memanas.


sialnya Lolita begitu santai mengangguk mengiyakan dengan senyuman lebarnya.


plakkk... tamparan keras mendarat di pipi Lolita.


" Sial tangan gue terlalu berharga buat nyentuh cewek licik kayak lo.." ucap Grace seraya mengibaskan tangannya yang barusan menampar Lolita.


jelas Grace mengelak, selama ini dirinya memang berusaha agar tidak tersulut untuk menyakiti perempuan secara fisik. namun nalurinya sebagai seorang Ibu, membuatnya tak tahan hingga melakukannya barusan.


Ibu mana yang tak tinggal diam jika anaknya menjadi sasaran kejahatan orang lain.


sementara Lolita yang menahan rasa panas yang menjalar di pipinya, malah tergelak dengan keras. sungguh tingkahnya sama sekali tidak sesuai dengan penampilannya yang lugu alias cupu.


" lo serahin aja Leonard buat gue.. " ucap Lolita di tengah tawanya.


sementara ketiganya langsung menatap tajam mengepalkan tangannya.


" sekarang jawab gue.. dimana lo sembunyiin si Silvie..? "


" jawab sialan.. gue tau lo gak suka kan sama sahabat gue karna pernah ngatain lo cupu.. " bentak Grace kembali kala Lolita tak kunjung menjawabnya.


ketiganya dibuat heran sekaligus kesal dengan diamnya Lolita yang sama sekali enggan memberitahu keberadaan Silvie.


" okeh.. sebaiknya kita serahin sama pihak yang berwajib.. "


celetuk Wilson dingin nan datar membuat Lolita mendongak gemetaran.


" bukan dia yang ngelakuin ini semua.. "


glekkk...


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2