Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 119


__ADS_3

" udahlah Me, tahan emosi lo.. gak kasian apa sama si jabang? " ucap Grace seraya mengusap bahu Megan. wanita yang masih merasakan sesak di dadanya akibat ulah Silvie.


Megan menghela napas panjang,


" si kermi udah kelewatan Grace.. " ucapnya lirih membuat Grace menganggukkan kepalanya.


" diantara kita lo yang paling sabar Me-"


Megan menoleh ke arah Grace seraya mengulas senyuman.


" menurut gue lo yang paling sabar Grace " ucapnya lirih. Wanita itu memuji kelapangan hati Grace.


" ini malah lempar-lemparan sabar sih.. lo berdua emang paling the best.. " celetuk Viola cengengesan. gadis itu tahu persahabatan mereka sedang tidak baik-baik saja.


Viola mau mereka tidak terus-menerus berkubang dalam masalah tersebut. Dia rasa Megan juga Grace harus bisa saling menguatkan, terlebih keduanya tengah hamil. seharusnya tidak terlalu banyak pikiran.


" by the way, anak-anak pada ngomongin si Exel noh.. " ucap Viola seraya menunjuk beberapa mahasiswi yang tengah bergosip di kantin tersebut, membuat Megan juga Grace beralih memandang ke arah sana.


" lo pada denger gak kalo mereka minat banget nungguin dudanya si Exel? ah kayaknya gue juga harus daftar.. gak papa bekas juga, kalo duren kayak Exel mah sikat.. " lanjut Viola manggut-manggut cengengesan.


sontak Mengan dan Grace pun beralih menatapnya dengan tajam.


" Lo orang pertama yang gue penggal lehernya.. " ucap Grace di angguki setuju oleh Megan.


Sementara Viola kini menelan ludahnya kepayahan, dua Ibu hamil di hadapannya terlihat menyeramkan dengan raut wajah bak iblis membuat dirinya memegang leher ketakutan.


" anjirr, gue bercanda keles.. " ucapnya terbata.


" bercanda lo gak lucu.. " sahut Megan ketus di angguki Grace.


" iya sorry.. lupa gue kalo backingannya suhu.. "


" itu lo tau, makannya gak usah ngadi ngadi kalo ngomong, sama aja ngedo'ain.. " sahut Megan ketus dengan wajahnya yang masam.


" si anying, lo duluan sialan yang ngomong pake teriak tadi.. " Grace menimpali seraya menoyor kepala Megan dengan gemas.


" emang iya..? " tanya Megan dengan polosnya membuat Grace kembali menoyor kepalanya.


" amnesia lo..? apa tadi lo kerasukan setan? "


perdebatan keduanya yang tengah berlangsungpun membuat Viola menggeleng terkekeh. terlepas dari rasa takutnya barusan, kini Viola merasakan lega, sebab tebakannya benar. mereka masih perduli dengan kehidupan Silvie. nampak jelas dari cara mereka melindungi sahabatnya itu.


...***...


Silvie merasa dadanya sesak kala matanya melihat pemandangan manis nan hangat. dimana kedua sahabatnya nampak saling melepas rindu dengan suami masing-masing yang sudah menunggu mereka di parkiran.


" ayo non.. " ucap sopir pribadinya dengan ramah.


Silvie mengangguk, kemudian Ia melangkah menuju mobilnya. namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika sebuah motor melewatinya membuat tenggorokannya merasa tercekat.


Exel membunyikan klakson motornya. pria itu tampak melambaikan tangannya ke arah empat orang yang masih berada di sana. tidak dengannya, suaminya itu melewatinya begitu saja.


belum duapuluh empat jam mereka berpisah, tetapi Silvie sudah merasa tersiksa dengan kehilangan sosok Exel. bahkan Ia merasa tertampar oleh kenyataan bahwa Exel, pria yang tulus menyayanginya selama ini sudah Ia sia-siakan.


dengan senang hati kita tunggu dudanya Exel. duren kelas kakap..


kalimat tersebut kembali terngiang-ngiang di benak Silvie membuat dadanya kembali terasa sesak, Dia membayangkan jika Exel benar-benar pergi dan melepaskannya tanpa kembali.


" apa yang harus gue lakuin..? " batinnya penuh penyesalan karena sudah bersikap egois selalu seenaknya memperlakukan Exel.


" berlian ko di buang.. situ udah ngerasa sempurna yah.. " celetuk salah satu mahasiswi yang berjalan melewatinya membuat Silvie terkejut.


Silvie menggigit bibirnya menahan tangis seraya mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa melawan dan menanggapi ucapan mahasiswi tadi yang memang benar adanya.


Silvie memilih langsung masuk ke dalam mobilnya, tetapi sebelum benar-benar masuk, Ia menoleh sejenak ke arah Grace juga Megan. sahabat yang selalu pasang badan jika dirinya mengalami kesulitan seperti sekarang.


" tanpa kalian gue bukan apa-apa, bahkan gue gak bisa ngelawan cewek tadi, tenaga gue ada sama kalian berdua.. "


...--------...


Hari sudah gelap. Exel memilih menutup diri di rumahnya. Pria itu jelas merasa risih kala mendapati beberapa Ibu-ibu berkumpul di sebrang rumahnya. entah sejak kapan tempat itu menjadi tempat tongkrongan.


kini Exel tengah duduk di tepi ranjangnya setelah menyantap makan malamnya. Ia merasa bersyukur karena di saat kondisi seperti ini masih ada orang yang perduli terhadapnya. bahan makanan juga keperluan lainnya yang melimpah dari para anggota Astro membuat Exel sedikit merasa tenang. namun entah sampai kapan dirinya mampu bertahan, Ia tidak mau terus merepotkan orang lain.


Exel merogoh dompet di saku celananya, seketika Ia berdecak.


" ck.. gope doang.. bakal modal usaha apaan duit segini.." gumamnya kesal.


" gue jual hape aja kali ya.. " kemudian Exel meraih ponselnya. Lagi-lagi Ia harus melihat wajah Silvie yang terpampang di layar ponsel tersebut.


" sementara gue gak bisa nafkahin lo Sil.. " Exel menggeleng tersenyum ketir. Dia tidak percaya bisa berkata seperti itu. sementara? entahlah, Ia merasa tidak ada penyesalan ataupun keberatan dari wajah Silvie ketika Ia meninggalkan istrinya itu. yang ada sebuah hinaan yang kini terngiang di benaknya.


" ya ya ya.. gue lupa kalo lo anak dari orang yang berkecukupan, punya segalanya.. " gumamnya terkekeh pelan, Ia merasa tidak perlu khawatir akan hal menafkahi Silvie.

__ADS_1


nafkah yang lain? bahkan Exel sudah terbiasa mendapat penolakan dari Silvie sejak kehamilan istrinya itu. Mereka tidak pernah bersentuhan lagi mengingat kondisi kandungan Silvie yang lemah kala itu. terlebih ngidamnya Silvie yang parah juga selalu terobsesi dengan Leo yang pastinya mengabaikan kehadiran Exel sebagai suaminya.


Bahkan setelah pulih dari keguguran pun Silvie selalu menolak dengan alasan trauma. dan itu membuat Exel merasa terbiasa dengan keadaan seperti sekarang.


.


.


.


Exel benar-benar mantap ingin menjual ponselnya. Dia segera membersihkan apa yang ada di dalam ponselnya sebelum Ia menjualnya. seketika Ia terhenti kala melihat potret sang Ibu yang nampak tersenyum itu membuat bola matanya memanas menahan tangis.


Exelpun mencoba menghubungi nomor telpon rumahnya. Dia ingin mengetahui kabar Ibunya karena merasa sangat rindu. mengingat jam segini ayahnya belum pulang kerja membuat Exel mempunyai keberanian untuk melakukan hal tersebut.


" hmm.. ini El bi.. "


" ya ampun Den, aden baik-baik aja kan? "


" El baik-baik aja bi, mami udah tidur bi? "


" kayaknya udah Den, Tuan juga pulang cepet tadi.. "


Exel menghela napas panjang, pupus sudah keinginannya mendengar suara sang Ibu.


" mami baik-baik aja kan bi..? "


" anu Den, nyonya seharian murung, makan aja baru tadi, itu juga di paksa sama Tuan.. "


" nanti tolong bibi bilangin sama mami kalo El baik-baik aja.. jangan lupa bibi ngomongnya pas papi gak ada.. "


" Siap Den.. "


" kalo gitu El mau istirahat dulu.. "


" jaga diri baik-baik den.. "


" hmmm.. "


tut..


" brengsekk...!!! " Exel melempar ponselnya ke arah ranjang. Ia menarik rambutnya ke belakang secara kasar. mengingat sang Ibu yang murung membuat Exel merasa cemas juga frustasi. Ia memijat dahinya yang terasa sakit, kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang mencoba memejamkan kedua matanya sampai benar-benar terlelap.


*


Sementara di tempat lain, Silvie nampak mondar mandir di depan cermin dengan wajah yang cemas. perasaannya tak menentu kala baru saja menghubungi Exel, namun nomor suaminya itu tidak bisa di hubungi.


Silvie duduk di tepi ranjang seperti posisi Exel yang kerap kali membujuknya untuk makan. Dia terisak dengan telapak tangan yang menutupi wajahnya.


" maafin gue bang.. " isaknya. sunyi sepi yang kini Ia rasakan terlebih ketika kedua orangtuanya mendiamkannya. Ya, Silvie tidak menyangka bahwa Shaw, ayah yang sempat membelanya di depan Exel, kini turut mendiamkannya.


" gue kangen bang.. maafin gue.. " gumamnya masih terisak, rasanya begitu sakit karena sudah tega membiarkan Exel tersiksa akibat ulahnya. Ia merasa berdosa, seharusnya sebagai seorang istri, Ia selalu patuh dengan apa yang di sampaikan suaminya itu.


" apa lo ngerasain yang sama bang..? "


...--------...


keesokan harinya, Exel terbangun dari tidurnya pagi sekali. Ia merentangkan kedua tangannya sambil menguap.


" hidup terus berjalan brother.. " quotenya pagi ini seraya bangkit dari tempat tidurnya.


Hari ini Exel berniat untuk mencari pekerjaan. Iapun melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


setelahnya, Exel menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. makanan sederhana sekedar mengganjal perutnya.


suara deru mobil di luar membuat aktivitas sarapan Exel terhenti sejenak.


" norak lo El, bisa aja tuh mobil punya tetangga.. "


tok.. tok.. tok.. suara ketukan pintu membuat Exel lagi-lagi merasa waspada. takutnya para Ibu-ibu yang kembali mengantarkan makanan untuknya. segera Ia melangkah mendekati kaca jendela hendak mengintip siapa yang bertandang sepagi ini.


" benerkan ini rumahnya..? "


suara seseorang yang sangat di kenalnya membuat Exel buru-buru membuka pintu.


tebakannya benar, Grace yang datang bersama si kecil juga di temani Lilis.


Matanya berbinar kala melihat sosok si kecil yang berceloteh mengosongkan tangan ke arahnya.


" Cio.. " ucapnya lirih seraya menggendong si kecil. rasa rindu yang menggebu membuatnya terus menghujani wajah si kecil dengan kecupan.


" Woah.. duren bodong udah rapih aja.. " celetuk Grace disusul kekehan Lilis.


sementara Exel tidak menanggapi, Ia lebih minat dengan si kecil. lebih tepatnya Ia membiarkan Grace mengejek sesukanya sebagai bentuk terimakasih karena sudah membawa si kecil.

__ADS_1


" papi tau gak kalo Cio kesini..? " tanya Exel kepada si kecil.


" orang dia yang nyuruh kita kesini.. " timpal Grace seraya mendudukkan dirinya di bangku teras terebut. wanita itu tampak mengedarkan pandangannya.


" rumahnya nyaman banget bang.. betah gue, adem.. "


" hmmm.. ini rumahnya sodara si Iyan.. "


Grace mengangguk sok paham,


" iyan ngibulnya udah pro.. " batinnya terkekeh. Grace jelas tahu asal-usul rumah tersebut.


" Grace.. " panggil Exel mebuyarkan lamunan Grace.


" kenapa? "


" maafin gue sama sikap Silvie sama lo... " ucap Exel lirih menatap Grace dengan sendu. membuat wanita itu berdecak kesal. jelas Grace tidak suka.


" hmmm ya ya ya.. lain kali gak usah bahas masalah ini, ngerusak mood gue aja lo... " sahut Grace ketus membuat Exel terkekeh pelan. bahkan Pria itu tak segan mengacak gemas rambut Grace.


dan interaksi hangat tersebut kini menjadi konsumsi para Ibu-ibu yang tengah beraktivitas seperti biasa, yakni berbelanja sayur sambil bergosip. mereka tampak mengigit jari merasa tertampar oleh kenyataan bahwa Exel ternyata bukan seorang lajang.


" ternyata si mas udah punya istri, mana cakep lagi.. "


" iya cocok banget, yang ganteng sama yang cantik.. "


" noh liat anaknya juga ganteng, lucu gemes.. "


" gemes sama anaknya apa sama yang gendong.. "


" dua-duanya, tapi gemesan istrinya, hamil aja bisa secantik itu, gimana pas gadisnya yaa.. "


.


.


.


Grace melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah tersebut hendak mengambil sesuatu. ekormatanya melirik sekilas ke arah para pengamat itu membuat Grace menggeleng.


kemudian Ia kembali menghampiri Exel dengan sebuah kantong menggantung di tangannya.


" baru aja lo jadi duren bodong, yang ngantri udah banyak noh.. " ucap Grace seraya menunjuk Ibu-ibu dengan dagunya.


sementara Exel menggeleng terkekeh pelan.


" duren bodong belom makan kan? nih gue bawain lo nasi uduk beli di tempat biasa.. "


seketika Exel menelan ludahnya kasar, pasalnya Ia baru saja makan. tetapi Ia juga tidak ingin Grace kecewa.


" tau aja lo kalo gue belum makan.. " sahutnya dusta.


Grace mengangguk kemudian beranjak dari duduknya.


" yaudah lo makan dulu gih .. biar Cio ma bi lilis.. "


" hmmm makan di sini aja sama Cio.."


" kalo gitu biar Bibi yang siapin non.. " celetuk Lilis di angguki Grace.


Lilispun masuk ke dalam dengan membawa kantong makanan tersebut hendak menuangkannya di piring.


" ini Den.. sini bang Cio sama bibi dulu.. " ucap Lilis seraya menyodorkan nampan dihadapan Exel juga Grace.


" Cio jadi abang yah? bentar lagi Cio ulangtahun, mau kado apa dari uncle hmm? "


" Do'anya aja uncle.. " sahut Grace di angguki Exel.


" selalu.. uncle selalu do'ain Cio... "


setelah menyerahkan si kecil kepada Lilis, Exelpun menyantap makanan yang dibawakan Grace dengan terpaksa. Ia melirik sekilas ke arah Ibu-ibu yang belum juga bubar itu.


Seketika Exel menyeringai membuat Grace terkejut dengan apa yang dilakukan sohibnya itu. saat ini Exel hendak menyuapinya.


" satu aja.. kalo nolak gue juga gak mau makan.. " ucapnya seraya menyodorkan sendok tepat dimulut Grace membuat wanita itu mengerjapkan matanya berulang kali.


Exel menaikturunkan kedua alisnya seraya menunjuk ke arah Ibu-ibu dengan dagunya. sepertinya Pria itu hendak memberi ultimatum kepada mereka.


Grace mengangguk paham melihat raut wajah risih dari Exel, kemudian Ia membuka mulutnya perlahan. sepertinya sedikit membantu Exel bukan ide buruk juga.


" pinter.. " ucap Exel seraya mengusap lembut pucuk kepala Grace.


keduanya tak kuasa menahan tawa sampai terbahak kala melihat Ibu-ibu langsung bubar karena tak kuasa melihat momen manis yang tersuguh.

__ADS_1


begitupun dengan Lilis yang menggeleng terkekeh melihat tingkah keduanya yang konyol itu.


" itu si non, makan buat den Exel malah di abisin.. "


__ADS_2