Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 127


__ADS_3

Silvie mengerjapkan matanya berulang kali seraya menelan ludahnya kasar kala mendengar kembali beberapa kalimat yang keluar dari mulut Exel.


Dia sempat di buat tersanjung dengan tindakan pria itu, tetapi nyatanya itu semua berada di bawah kesadaran Exel yang kini kembali terlelap.


Rupanya Exel tengah mengigau, terbukti dengan kembali berbicara seolah dirinya tengah mengobrol dengan rekan kerjanya di bengkel.


" ck, apaan sih balancing spooring segala.." gumam Silvie menanggapi racauan Exel. wanita itu menggeleng terkekeh pelan, mungkin saking lelah dan baru bisa tidur di dini hari membuat suaminya itu bisa mengigau seperti sekarang.


Suara berisik dari luar membuyarkan lamunan Silvie, hingga wanita itu tersadar akan tujuan awalnya. Dia merasa tidak tenang dengan kehadiran ibu-ibu tersebut, dia takut kelakuan mereka akan mengambil perhatian suaminya.


Silviepun bangkit dari duduknya dan segera melangkah menuju pintu, kemudian dia membuka pintu tersebut.


" pagi ibu-ibu, ada perlu apa yah..? " sapa Silvie tersenyum ramah.


Sementara ibu-ibu yang disapanya malah terdiam dengan mata melongo juga mulut yang ternganga sempurna. hingga salah salah satu dari mereka berdehem dan menormalkan kembali ekspresinya.


" kita mau anterin sarapan buat si masnya.." ucap ibu tersebut gelagapan.


Silvie mengangguk paham, kemudian Ia kembali memberikan senyuman hangatnya kepada mereka,


" sebelumnya makasih ya ibu-ibu atas perhatiannya, tapi maaf.. bukannya saya menolak rejeki, biar saya yang memasak sarapan buat suami saya.."


Silvie terkekeh geli, dia sendiri tidak percaya mengapa bisa berucap demikian. Dia hanya mengikuti nalurinya yang berusaha membangun benteng pertahanan rumah tangganya itu. Dia tidak mau kalah saing, titik.


Sementara mereka kembali di buat melongo tak percaya dengan pengakuan wanita cantik itu.


" oh si mbak istrinya.." celetuk salah satu di antara mereka, dan Silviepun mengangguk mengiyakan.


Ibu itu manggut-manggut paham,


"berarti bukan mbak yang waktu itu bawa-"


" dia sahabat saya.." sela Silvie, tentu wanita itu tahu siapa yang di maksud ibu itu yang tak lain adalah Grace.


Seketika Silvie merasakan sesak di dadanya ketika di ingatkan dengan kejadian itu. tetapi Ia tidak menunjukan kesedihannya di hadapan mereka, dia berusaha bertingkah anggun untuk meladeni fans dadakan suaminya itu.


" woah, mungkin bos muda yang turun dari sedan cakep itu lakinya.." celetuk ibu itu dengan gaya sok tahunya membuat semua temannya mengangguk setuju.


Sementara Silvie sejenak terdiam menunduk. Dia merasa seperti tertampar oleh fakta yang sebenarnya bahwa Leo juga ada di sana pada hari itu. dia sempat berfikir yang tidak-tidak dengan Grace, dia berfikir jika sahabatnya itu sudah mengkhianatinya.


segera Silvie mendongak dan kembali tersenyum ramah,


" iya itu suaminya, dia juga sahabat suami saya.."


" oohhh.." kekompakan yang hakiki dari mereka sambil manggut-manggut paham.


" terus si mbaknya kemana aja, kok gak keliatan..?" lagi-lagi Ibu itu menyeletuk seolah belum puas mengorek informasi mengenai keluarga Silvie.


" maaf bu, kayaknya saya harus segera masak. kalo boleh tau, yang jualan sayur dimana yah..?" Silvie mencoba mengalihkan pertanyaan yang terdengar menyebalkan baginya. Mereka sudah melewati batas.


" biasanya kalo pagi bang rohim nongkrong di sana.." sahut salah satu Ibu seraya menunjuk tempat di sebrang rumah tersebut.


" kalo jam segini paling di gang sana mbak, lewat tiga rumah dari sini.." lanjut ibu itu.


Silvie mengangguk,


" baik ibu-ibu, kalo gitu saya permisi ke dalam dulu.." ucapnya seraya merengkuhkan badan.


" tunggu mbak.." celetuk ibu itu lagi membuat langkah Silvie terhenti lalu membalikan badan ke arah mereka.


" maaf karna kita udah lancang, sebenernya suami mbak gak pernah nerima pemberian dari kami.." ucap Ibu itu gelagapan.


" bener mbak, kitanya aja yang gak kapok.. abis tak pikir masnya lajang atau duda gitu.." timpal ibu satunya lagi sambil cengengesan dan langsung mendapat sikutan dari temannya.

__ADS_1


Mereka nampak berusaha menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman hingga membuat rusaknya rumah tangga tetangganya itu.


Mereka rasa Silvie adalah pribadi yang baik dan mudah berbaur dengan mereka. Terbukti dari sikapnya yang ramah ketika berbincang dengan mereka saat ini.


melihat wajah Silvie yang terlihat mulus dan terawat, membuat mereka berpikir jika wanita itu bukanlah dari kalangan biasa. tetapi dengan sikap ramah dan merendahnya wanita itu membuat mereka yakin tidak ingin mengganggu lagi kehidupan Exel dengan tingkah konyol seperti pagi ini.


Silvie mengangguk paham,


" gak papa bu, saya maklum.. Kalo begitu saya permisi yah.."


Satu senyuman terbit di wajah seseorang yang kini langsung memejamkan mata dan kembali ke posisi semula berlagak masih tidur kala melihat Silvie kembali masuk.


" ck.. gila, sampe ngantri gitu.. Pada gak mikirin anak lakinya di rumah apa? itu juga nenek yang bawa pisang goreng, ngarepin apaan dari laki gue? mau jadiin berondong apa mau buat cucunya..?"


Silvie terus menggerutu kesal saat melangkah menuju kamarnya. Dia tidak menyadari bahwa Exel mendengar semua ocehannya. bahkan pria itu sekuat tenaga menahan getaran bibirnya yang hendak tertawa kala mengamati setiap gerak gerik istrinya.


Silvie terlihat ragu saat memandang amplop coklat yang tergeletak di meja tv. Dia sempat menolak bahkan meremehkan isi amplop tersebut.


" ah inikan buat dia juga.." gumamnya seraya meraih beberapa lembar uang di dalam amplop itu.


Kemudian Silvie segera melangkah keluar dengan mengenakan jaket Exel semalam yang menggantung di cantolan pintu. Dia menutupi penampilan kusutnya dengan jaket tersebut.


" anjir.. masak apaan yah..?"


...****...


Sementara di kediaman keluarga Leo, nampak pasangan suami istri yang tengah serius dengan ponselnya masing-masing. Leo benar-benar menuruti kemauan Grace yang mengajaknya bermain game online. mereka sangat berambisi menjadi pemenang dalam permainan tersebut, bahkan kehadiran si kecil yang mengganggu, tak di hiraukan oleh keduanya yang sedang fokus itu.


" sini, Cio duduk sini.." ucap Leo seraya menepuk kakinya yang bersila itu. si kecilpun menurut dengan mendudukkan dirinya di pangkuan sang ayah.


" ok boy, kita kalahkan si cewek mamba.." ucap Leo seraya melirik sekilas ke arah Grace.


" ck.. Siapa takut.." sahut Grace sewot.


Sementara Lilis yang sedang melakukan aktivitasnya, kini hanya bisa menggeleng melihat kelakuan random pasangan itu. di mana mereka duduk secara lesehan di atas karpet depan televisi yang menyala menampilkan tayangan animasi kesukaan si kecil.


" minimal jasnya di buka dulu den.." gumamnya ketika melihat penampilan Leo, di mana pria itu masih mengenakan setelan kerjanya, bahkan kaos kakipun masih membungkus kaki pria itu.


" itu juga si non, gak seret apa yah.." gumamnya lagi. dia menggeleng terkekeh pelan ketika melihat mulut Grace yang di penuhi cemilan. bahkan Grace tak hentinya mengeluarkan kata kasar khas gamers. begitupun dengan Leo, bukannya menegur istrinya, dia malah ikut-ikutan mengumpat.


baik Leo maupun Grace malah saling lempar umpatan kasar dengan berteriak, mereka tak memperdulikan si kecil yang nampak terkejut kaget.


" mami sama papi jangan di tiru yah Cio ganteng.."


...***...


Kembali ke keluarga kecil Exel.


sepulangnya dari belanja sayur, Silvie segera bergegas menuju dapur. dia begitu bersemangat memasak untuk Exel. dia berusaha untuk menyenangkan suaminya itu.


ceklek.. suara pintu kamar mandi membuat Silvie menoleh. saking asyiknya masak, dia tidak menyadari bahwa suaminya sudah tidak ada di sofa ketika dirinya melewati sofa tersebut.


dan kini Silvie di buat terbelalak dengan mulut yang sedikit menganga kala melihat sosok pria yang keluar dari kamar mandi tersebut yang kebetulan posisinya tak jauh dari tempatnya berdiri.


Silvie menelan ludahnya beberapa kali ketika melihat tubuh atletis yang hanya di balut handuk itu, terlebih air yang menetes dari rambut yang basah membuat pikirannya tak karuan.


" Sil.." panggil Exel langsung membuyarkan lamunan Silvie hingga wanita itu tampak gelagapan mengerjapkan matanya .


" eh, pake baju dulu bang, abis itu makan sebentar lagi masakannya mateng.." sahut Silvie gelagapan sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Exel mengangguk patuh, padahal dia ingin sekali memeluk Silvie saat ini juga. tetapi melihat raut wajah istrinya yang tampak grogi juga syok membuat Exel terpaksa menahan diri. Dia tidak mau dengan tindakannya yang tiba-tiba itu malah membuat Silvie merasa tidak nyaman.


Setelah mengenakan pakaian, Exelpun menghampiri Silvie yang sudah menunggunya di meja makan. pria itu mengulas senyuman kala melihat sang istri yang terlihat telaten melayaninya. dimana istrinya itu menyendokkan nasi beserta lauknya dan segera meletakan di hadapannya. sungguh perubahan yang drastis.

__ADS_1


" makasih.. " ucapnya dengan lembut di angguki oleh Silvie. sebelum menyantap makanannya, Exel melirik piring di hadapan Silvie yang terlihat masih kosong.


" lo gak makan Sil..?"


Silvie menggeleng cepat,


" nanti aja, belum selera.."


Exelpun mengangguk tersenyum, kemudian Ia segera menyantap makanannya. Exel memejamkan matanya sejenak saat makanan tersebut berhasil masuk ke dalam mulutnya. rasanya sangat tidak karuan. Dia melupakan kelemahan istrinya yang tak pandai memasak.


" kenapa bang.. gak enak yah, sorry gue belum sempet nyicipin.."


" enak ko.." sela Exel. dengan cepat Ia melahap makanannya sampai habis. dia tidak mau mengecewakan istrinya yang sudah berusaha itu.


" kalo boleh semuanya di bungkus Sil, buat gue bekal entar makan siang.." Exel tidak mau jika Silvie turut mencicipi makanan tersebut yang pastinya Ia akan ketahuan berbohong.


" yah adem dong bang, entar gue masakin lagi deh kalo pas jam makan siang sekalian gue anter ke bengkel.."


" gak usah Sil, gapapa adem juga.. panas juga ujung-ujungnya gue tiup dulu kan, lagian kan ke bengkel cukup jauh.."


" yah, terus entar gue makan apa dong kalo ini semua abang bawa.."


Sontak Exelpun menepuk jidatnya,


" oh iya, lo pesen online aja yah.. " bujuknya.


Silvie mengangguk setuju, dia merasa senang jika Exel suka dengan masakannya, sampai suaminya itu mau membawa semua sisanya ke tempat kerja.


kemudian Silvie bangkit dari duduknya melangkah menuju rak piring mencari kotak makanan.


" oh ya bang.. boleh gak kalo gue makan di luar aja .. sekalian beli baju, di sini pasar deket kan..?"


sontak Exel terkejut dengan sikap Silve yang tiba-tiba minta izin kepadanya. bahkan istrinya itu berniat berbelanja baju di pasar, sangat jauh dari kesan mewah bagi seorang Silvie.


" hmm, boleh.. tapi jangan sendiri yah.."


Silvie yang sedang sibuk membungkus bekal untuk Exel itu langsung menoleh menatap suaminya bingung.


" sama siapa? Abangkan harus kerja.." ucapnya seraya meletakan bungkusan tersebut di meja makan.


" nanti biar abang yang minta emaknya si Iyan buat nemenin.. sekarang abang berangkat dulu yah.."


sontak Silvie di buat tercengang kala mendengar kalimat barusan. entah mengapa perasaanya sangat bahagia saat ini. ternyata menjalani hidup sederhana tidak buruk juga. bahkan Silvie bisa merasakan kehangatan, padahal belum genap duapuluh empat jam dia tinggal di sana.


" hmm yaudah deh.. "


Silvie mengangguk mantap dan yakin akan memerankan sosok ibu rumah tangga ala orang sederhana. dia sudah berniat akan berbaur dengan orang di sekitar rumahnya seperti yang dilakukannya pagi tadi di teras depan. bahkan wanita itu sudah membuat list baju yang akan di belinya nanti di pasar. daster rumahan yang akan mendominasi belanjaannya nanti.


Melihat sikap istrinya yang sama sekali jauh dari kata bantahan membuat Exel sedikit merasa lega.


sejenak Ia mengerjapkan matanya, seolah tersadar dari lamunannya. tiba-tiba perasaan bersalah terhadap Silvie hadir di benaknya.


Silvie tampak tersenyum lembut ke arahnya, membuat Exel mengulurkan tangannya dan memberanikan diri untuk menyentuh wajah sang istri.


Exel ikut tersenyum sambil mengelus pipi Silvie dengan lembut. Ia merasakan nyeri di dadanya kala melihat senyuman istrinya itu.


keduanya saling menatap satu sama lain dengan nanar, bahkan kini tangan Silvie menangkap telapak tangan Exel yang masih menempel di pipinya dan menggenggamnya dengan erat.


mereka terdiam hanya bisa berucap di dalam hatinya masing-masing.


" maafin gue Sil, gara-gara gue lo harus ninggalin hidup mewah lo.."


" maafin gue bang, gue udah banyak dosa sama lo.."

__ADS_1


__ADS_2