Malu Malu Kucing

Malu Malu Kucing
part 54


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Grace hanya bisa terdiam menatap kosong keluar jendela, gedung-gedung tinggi juga pepohonan disepanjang jalan seolah tidak ada dalam pandangannya.


Hanya bayangan Leo yang telah mengkhianatinya dan berani mengusirnya dengan kasar yang terngiang dipikirannya.


Grace memutuskan pulang sebentar kerumahnya untuk mengemasi semua barangnya dan segera pergi dari rumah yang telah menjadi saksi cintanya untuk Leo, dan memaksanya dewasa sebelum waktunya.


Dengan langkah tergesa Grace menyeret kopernya bahkan Lilis yang bertanya pun hanya dijawabnya dengan kata maaf juga terimakasih seraya mengulas senyuman.


Tak lupa Grace memberikan selembar kertas tempo hari kepada Lilis yang lupa Ia sampaikan untuk Leo.


Grace menatap rumahnya sejenak sebelum kembali menempuh perjalanannya.


Tak terasa buliran air mata membasahi kedua pipinya saat melihat beberapa tanaman bunga yang Ia tanam bersama Leo dengan penuh cinta, terlihat begitu segar memancarkan gradasi warna yang indah sangat berbeda dengan dirinya yang kini merasa kacau muram tiada harapan.


Grace kembali melanjutkan perjalanan yang tak tahu kemana arah tujuannya, hingga dirinya memutuskan untuk mengadu pada pusara sang Ibu.


Grace bersimpuh di pusara sang Ibu dan mulai terisak mengingat nasib percintaannya bersama Leo laki-laki yang sangat Ia cintai dan bisa membuatnya melayang setiap saat.


Namun hari ini Leo benar-benar menjatuhkannya ke dasar palung terdalam menggoreskan luka dihatinya.


dari sekian masalah yang menerpanya, Ia hanya memikirkan Leo yang dengan mudahnya tak mengakui anak yang dikandungnya.


Grace menundukkan kepala menatap tanah yang menimbun jasad Ibunya, mengadu dengan menangis sesenggukan tanpa berucap, langit yang mendung menurunkan air hujan seolah mewakili perasaannya saat ini.


Grace terhenyak dan langsung mendongak melihat seseorang telah memayungi tubuhnya yang basah karena air hujan.


"Nak.. " ucap Anita seraya mengulurkan tangannya mengajak Grace bangkit .


"Ibu... " Grace menghambur memeluk Anita tanpa menahan tangisannya.


Anita terdiam tak mampu berkata bahkan sekedar menanyakan apa yang terjadi pada Grace enggan Ia lakukan.


Anita hanya bisa mengajak Grace pulang setelah melihat kopernya yang basah tergeletak di tanah, tetapi langsung Grace menggeleng menolak, bagaimanapun Grace masih memikirkan kondisi kesehatan Ayahnya.


Grace tidak ingin berbagi kesedihan dengan Ayahnya bahkan Ia masih memikirkan harga diri Leo jika Ayahnya mengetahui masalahnya saat ini.


Anita meraih wajah Grace yang sendu mengajaknya untuk pulang dan meyakinkan jika Bram tidak akan mengetahui masalah yang menerpanya, terlebih Bram sedang berada di luar kota selepas pesta kemarin dia langsung berangkat untuk kepentingan bisnisnya.


mendengar itu, Grace mengangguk mengiyakan untuk pulang ke rumah orangtuanya.


____


sementara ditempat lain Leo kini telah tiba di kediamannya setelah Megan memberi tahunnya jika Grace pergi hanya untuk pulang.


Leo mengacak rambut kasar seraya meremas selembar kertas dan meratapi kebodohannya, terlebih Lilis telah menuturkan kesalahan pahaman yang terjadi tempo hari , bahkan Lilis bisa menjamin jika Grace tidak bersalah sebab dia sendiri yang menjadi saksinya.


Leopun bergegas keluar mencari keberadaan Grace setelah Lilis memberi tahunnya jika Grace pergi dengan membawa kopernya.


Seketika langkahnya terhenti saat kedua orang tuanya menghadangnya di ambang pintu.


Tanpa aba-aba Hendri menampar Leo membuat sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah.


"Itu masih kurang Leo.. tak sebanding dengan perasaan Istrimu saat ini.. Papah gak ajarin kamu jadi laki-laki pengecut, gak becus jaga jiwa juga raganya.. "


ucap Hendri menggebu-gebu dengan sorotan tajam.


Hendri dan Deti menerima kabar dari sekolah mengenai masalah anak dan menantunya yang bertengkar di sekolah. Keduanya juga sudah mengetahui akar permasalahannya setelah Exel memberi penjelasan secara terperinci. tetapi tetap saja rasa kesal terhadap Leo tak bisa terbendung, sebab kali ini memang putranya bersalah dan benar-benar terlihat sebagai pecundang.


"Mamah bener-bener gak nyangka sama kamu nak, mamah kecewa sama kamu Leo.. "


ucap Deti terisak menatap putranya penuh kekecewaan.


Leo diam menunduk tanpa mengelak membela diri sedikitpun, merasa dirinya memang bersalah sudah bersikap keterlaluan terhadap Grace.


"Apa kamu tahu emosional seorang Ibu hamil..? Apa lagi istrimu masih labil usianya, mamah gak bisa bayangin gimana kacaunya perasaannya saat ini..


Bisa-bisanya kamu sebagai suaminya gak ngakuin anak yang dikandungnya.. Kamu pikir ini lelucon hahh.. ?"


Deti kembali terisak membayangkan keadaan menantunya sekarang, tentu pasti sakit dan kacau.

__ADS_1


sementara Leo lagi-lagi hanya terdiam menunduk mengutuk dirinya sendiri atas kesalahannya terhadap Grace.


"Selesaikan sendiri masalahmu segera.. Jangan jadi pengecut, atau papah yang akan bertindak memisahkan kalian sebab kamu memang tidak becus..!! bikin malu keluarga saja.. "


ucap Hendri masih dengan sorotan tajam membuat Leo mengangguk bergegas mencari keberadaan Grace.


...****************...


Grace sedang duduk di sofa ruang keluarga membiarkan televisi menyala tanpa di tontonnya.


Anita menghampiri Grace dengan membawakannya secangkir teh hangat berniat mengajaknya berbicara dari hati ke hati.


Grace menoleh kearah Anita yang kini duduk di sampingnya.


"Bu.. " lirihnya menatap sendu Anita


"Iya nak? " ucap Anita lembut


"Apa boleh Grace tidur dipangkuan Ibu sebentar saja.. ?" ucap Grace gugup menunduk takut Anita keberatan dengan permintaanya.


Anita mengangguk antusias menepuk kedua pahanya, membuat Grace mengulas senyuman seraya menjadikan paha Anita sebagai bantalan kepalanya.


Grace mulai terisak teringat kembali dengan perlakuan Leo terhadapnya.


"Leo jahat bu.. "


Anita diam tak menyahuti sebab belum paham apa yang sebenarnya terjadi.


"Boleh bu.. " ucap Grace melihat telapak tangan Anita yang gemetaran menggantung di atas kepalanya hendak menyentuh rambutnya.


Grace merasa memang membutuhkan belaian hangat dari sosok seorang Ibu yang lama Ia rindukan.


Anitapun membelai lembut kepala Grace seraya mendengar curahan hatinya.


Grace kini mengadu perihal masalahnya pada Anita tanpa rasa canggung. entah mengapa Grace merasa sangat nyaman meluapkan semua isi hatinya di pangkuan Anita.


bahkan dengan Ibu kandungnya sendiri Grace tidak pernah se terbuka ini.


"Terimakasih bu udah bersedia dengerin Grace.. "


ucap Grace mulai tenang seraya bangkit dari pangkuan Anita.


"Iya nak.. Sekarang makan dulu ya.. " timpal Anita dengan lembut langsung di angguki oleh Grace.


"Masakan Ibu pasti enak.. " puji Grace mengikuti Anita menuju dapur, mengingat waktu menginap bersama Leo.


Anita hanya mengulas senyuman seraya menyendokkan makanan untuk Grace.


Grace begitu lahap memakan makanannya, ditengah kekacauan hatinya Ia tetap harus memikirkan nutrisi untuk anak yang dikandungnya.


Selepas makan malam Grace pergi ke kamarnya untuk istirahat, namun pikirannya kembali terganggu saat mengingat lagi kejadian tadi siang.


Tak lama Leo datang meminta ijin kepada Anita untuk menjemput Grace. tidak lupa Leo mencoba menjelaskan terlebih dahulu kepada Anita apa yang sebenarnya terjadi.


sementara Anita tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya merasa tidak punya kewenangan untuk menolak atau mengusir Leo.


Anitapun mengijinkan Leo untuk menghampiri Grace di dalam kamarnya tanpa memikirkan dampak untuknya, bisa saja setelah ini Grace akan kembali membencinya. tetapi Anita yakin semua akan baik-baik saja.


Leo masuk kedalam kamar Grace. Ia terhenti sejenak saat mendengar suara petikan gitar dari arah balkon kamar. Leo kembali merasa Dejavu saat Grace menyimpan dukanya sendiri tanpa mau berbagi.


Leo menghampiri Grace yang tengah duduk di kursi dengan gitar yang berada di dekapannya.


Grace terkejut dengan kehadiran Leo yang kini bersimpuh di bawah kakinya seraya meraih tangannya, dengan segera Ia menepis tangan Leo tanpa berucap.


"Grace.. gue tau gue gak pantes dapet pengampunan dari lo, tapi beri gue waktu buat jelasin semuanya.. "


Ucap Leo bersungguh-sungguh, tetapi Grace diam tak menyahuti masih membuang mukanya.


Melihat Grace hanya diam tanpa mengusirnya, seolah memberinya kesempatan untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Leopun mulai menjelaskan dengan pelan dan tenang seraya meraih kembali tangan Grace untuk Ia genggam, beruntung kali ini Grace membiarkannya.

__ADS_1


"Beri gue kesempatan buat memperbaiki semuanya Grace.." ucap Leo dengan lirih setelah menuturkan semuanya dengan rinci.


Grace masih diam tak bersuara, tetapi sedari tadi Ia ekor matanya mencuri pandang ke arah Leo saat sedang menjelaskan semuanya.


Penampilan Leo terlihat berantakan membuat Grace sedikit terenyuh dan rasanya ingin sekali mengobati luka disudut bibir Leo karena ulahnya, tetapi rasa sakit hati dan ego lebih menguasai dirinya saat ini.


Grace menghela napas mulai mengeluarkan suaranya setelah mendengar dan mencerna dengan baik penuturan dari Leo.


"Udah cukup kan ngejelasinnya..?" ucap Grace santai membalas menatap Leo.


sementara Leo terdiam sebab bingung harus menjelaskan apa lagi untuk meyakinkan Grace.


"Okeh.. Buat masalah lo sama tuh cewek gue bisa percaya, sekarang lo bisa pergi.. "


Ucap Grace datar, Ia memang percaya setelah mencerna dengan baik ucapan Leo, terlebih penjelasannya sesuai data juga fakta.


Leo langsung menggeleng menolak saat Grace mengusirnya, walaupun sempat bernapas lega karena Grace percaya dengan ucapannya, tetapi tetap saja Leo merasa belum puas jika belum mendapatkan pengampunan dari Grace.


"Kenapa..? Gue udah percaya sama penjelasan lo.. Silahkan lo pergi.. "


Ucap Grace kembali mengusir Leo dengan tatapan tak suka .


" beri gue kesempatan Grace.. Tolong maafin gue.. " ucap Leo memohon seraya menatap lekat manik mata Grace dan meraih kembali tangan Grace. sayangnya dengan cepat Grace menepisnya.


"Cih.. Lo pikir buat maafin lo itu semudah ngeraguin siapa ayah dari anak yang gue kandung..? Lo enteng banget nyimpulin sesuatu yang belum jelas kebenarannya.. "


Ucap Grace menatap kosong ke depan.


"Biarin gue sendiri .. Itu kan yang lo mau? " ucapnya kembali seraya menyunggingkan senyuman tanpa menoleh ke arah Leo.


Lagi-lagi Leo menggeleng, "Gue mau nemenin lo.. " ucapnya yang tak henti menatap Grace, berharap Grace akan segera luluh.


"Pergi.. Gue gak perlu lo temenin.. " timpal Grace dengan meninggikan suaranya membuat Leo tersentak dan bangkit.


Leo sendiri tak ingin Grace kembali emosi, mengingat ucapnya Ibunya tadi.


Ia menatap sendu wajah Grace seraya mengusap lembut dan mencium pucuk kepalanya.


entah mengapa Grace tidak bisa menolak perlakuan Leo yang satu ini. Ia malah memejamkan mata bersamaan dengan jatuhnya buliran cairan yang sedari tadi tertahan.


kini pandangan Leo beralih menatap perut Grace, lalu Ia mencoba hendak mengusapnya, tetapi dengan cepat Grace langsung menepisnya.


"Ini anak gue.. bukan anak lo..'' ucap Grace dengan ketus. dirinya masih ingat dengan Leo yang tidak mengakui anak yang di kandungnya, itu memang alasan mengapa Grace tidak ingin memaafkan Leo.


Leo menggeleng masih kekeh ingin mengelus perut Grace, namun Lagi-lagi Grace menepisnya.


"Cih.. Bahkan gue ragu selama ini lo ngidam buat anak yang mana..? " sarkas Grace tersenyum kecut membuat Leo berasa tertampar dengan sindirannya.


"Ok kalo gitu gue pergi.. Jaga diri lo dan anak kita baik-baik.. " ucap Leo dengan pasrah.


"Tanpa lo minta, gue bisa jaga diri gue sendiri karna anak gue yang kuat buat gue bisa bertahan, Gak kaya bapaknya lemah, payah, gak punya pendirian.. " timpal Grace merasa belum puas.


sementara Leo hanya diam, sebab perkataan Grace memang benar adanya. Ia benar-benar merasa sudah gagal menjadi pelindung Istri juga anaknya. kata siap yang dulu tersemat di jiwanya untuk menjadi seorang ayah nyatanya seperti hanya kiasan semata. mungkin memang keduanya dalam usia labil.


"Jangan lupa obatin luka lo, Ya..walaupun sakitnya gak sebanding dengan luka hati orang yang udah ngelakuinnya.. "


Grace benar-benar belum puas sampai Leo pergi dari hadapannya.


dan benar saja Leopun menyerah dan pergi meninggalkan Grace, sebab tidak ingin Grace semakin menjadi-jadi. Leo memberikan Grace untuk menyendiri tanpanya yang tak berguna untuk saat ini.


Grace berdiri mematung di atas balkon kamarnya melihat kepergian mobil Leo keluar dari pintu gerbang. kembali dirinya meneteskan air mata.


" ck.. cowok kayak lo gak pantes gue tangisin.." batin Grace dan langsung menyeka airmatanya seraya masuk kembali ke dalam kamar.


sebenarnya Leo tidak benar-benar pergi, Ia bertekad ingin menjaga Grace walaupun harus menjaga jarak dengannya, demi kenyamanan Grace Ia rela melakukannya sampai Grace bisa menerima dirinya kembali.


Leo menepikan mobilnya di tepi jalan dekat dengan kediaman mertuanya sampai Ia tidak sadar terlelap didalam mobilnya.


Malam semakin larut, Leo terjaga bersamaan dengan ponselnya berdering tertera nomor telepon rumah mertuanya memanggil. ternyata Anita yang mencoba menelponnya.

__ADS_1


"Iya bu, Apa..??? Iya saya ke sana sekarang"


__ADS_2