
Jiwo tertawa geli mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh salah satu istrinya. Dia benar benar tidak menyangka, para wanita juga bisa ngobrolin tentang hubungan ranjang dengan sangat gamblang. Apa mungkin karena di depan suaminya? Jadi mereka cuek saja berbicara tentang urusan ranjang? Sungguh, Jiwo baru menyaksikannya sendiri kali ini.
Di tambah lagi pertanyaan terakhir yang terlontar tentang ukurun isi celana, membuat Jiwo terkekeh sendirian di dalam kamar. Wajar jika salah satu istrinya yang bernama Anum mempertanyakan ukuran benda kebanggaannya, karena dia belum mendapat jatah malam pertama dengan Jiwo. Jadi mungkin dia penasaran hingga tanpa malu melempar pertanyaan seperti itu.
Puas tertawa sendiri di dalam kamar, Jiwo segera mengambil handuk kering yang terlipat rapi di atas meja kecil dekat lemari dan membawanya keluar kamar menuju kamar mandi. Istri istri Jiwo masih berkumpul tapi sepertinya mereka sudah membahas ke hal yang lainnya. Jiwo melenggang melewati mereka menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Jiwo melepas semua kain yang menempel di tubuhnya hingga dia benar benar polos. Sebelum mandi, mata Jiwo memandangi benda yang menggantung di bawah perutnya dalam keadaan setengah menegang. Senyumnya kembali merekah saat para istri mempertanyakan kekuatan miliknya jika melawan semua istri secara bersamaan. Benar benar pertanyaan yang konyol tapi cukup membuat Jiwo seperti tertantang kelelakiannya.
Bukankah laki laki suka tantangan? Begitu juga dengan Jiwo. Memikirkan obrolan para istri tentang main satu lawan banyak, seakan ada yang berbisik pada telinga Jiwo, kalau pria tiga puluh satu tahun itu harus mencobanya. Tapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah istri istrinya mau?"
Jiwo masih menunduk, memandangi benda di bawah perut yang masih setengah menegang. "Kamu kuat nggak? Lawan tiga belas cewek sekaligus? Harus kuat dong? Kamu harus bisa bikin pemiliknya bangga. Apa? Obat penguat? Nggak perlu! Kamu pasti kuat tanpa obat, oke?"
Jiwo terkekeh sendiri. Dia sudah seperti orang gila, berbicara pada benda di bawah perutnya. Takut kebablasan, Jiwo langsung saja mengambil gayung dan menyiram tubuhnya. Selesai mandi, Jiwo keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya. sontak saja, begitu Jiwo melangkah hendak menuju kamar, semua mata yang ada di ruang depan televisi, menatapnya hampir tak berkedip.
Jiwo yang merasa sedang diperhatikan berlagak cuek. Bahkan gayanya dibuat sekeren mungkin agar para istrinya meleleh. Sekarang Jiwo sudah tidak malu lagi memamerkan tubuh atletisnya saat berada di rumah.
__ADS_1
"Wow! Ternyata tubuh Mister benar benar keren ya? Kayak tubuh orang india. Gagah dan tegap banget," ucap Arum penuh kekaguman.
"Bagaimana rasanya jika sedang di bawah kungkungannya yah? Pasti seneng banget tuh," Aisyah menimpali.
Sedangkan lima istri Jiwo yang sudah merasakan tubuh suaminya hanya bisa diam dan pura pura ikut membayangkan. Sebenarnya mereka juga ingin merasakan lagi berhubungan dengan Jiwo, tapi mereka sadar, semua sudah ada jatahnya dan harus menunggu giliran.
Tanpa terasa kini petang telah menjelang. Setelah semuanya selesai dengan urusan sama Tuhannya, kini Emak dan para kembali duduk di depan televisi sambil mempersiapkan dagangan Emak buat esok hari.
"Mister mau makan?" tanya Andin beberapa saat kemudian setelah Jiwo keluar kamar dengan berpakaian santai seperti biasanya. Kaos dan selembar sarung, menjadi pilihan yang tepat untuk santai di rumah pada petang menjelang malam. Jiwo mengangguk dan langsung menuju meja makan disusul oleh Andin yang mendapat jatah menemani Jiwo.
"Kalian kok makin pandai membuat masakan khas negara ini? Ini enak banget loh," puji Jiwo saat menikmati hidangan berupa telor ceplok bumbu balado dan tahu goreng tanpa tepung.
"Kalian bagi tugas sampai segitunya?" tanya Jiwo takjub.
"Ya harus, Mister, kita cuma berusaha melakukan yang terbaik untuk Mister."
__ADS_1
Jiwo tersenyum simpul, lalu kembali melanjutkan nenikmati hidangannya hingga habis. Seperti malam malam sebelumnya, Jiwo akan duduk di teras rumah sambil menyesap rokok tiap habis makan. Andin menghampiri dengan membawa secangkir kopi yang Jiwo pesan.
"Malam ini kok kayak panas banget ya cuacanya?" tanya Andin sambil mengipasi tubuhnya dengan telapak tangan.
"Mungkin nanti malam mau hujan, Langit aja nggak ada bintang satu pun," balas Jiwo sembari matanya menatap langit. Andin pun mengikutinya.
"Ah iya, mungkin bentar lagi akan musim hujan ya, Mister?"
Ya, sepertinya," balas Jiwo sambil menyeruput kopi hitam yang masih panas.
"Mister."
"Hum? Ada apa?"
"Mister serius? Nggak ingin nyoba dengan apa yang ditanyakan Alana?"
__ADS_1
"Waduh!"
...@@@@@...