
Hujan yang sedari tadi deras, kini mulai berkurang. Meski begitu, tanda tanda hujan berhenti sepertinya belum ada. Walaupun hanya sisa gemericik, tapi hujan yang seperti ini, biasanya lebih lama dari hujan yang deras sekalian. Hingga menjelang petang gemericik hujan masih berlangsung.
Sejatinya hujan itu rejeki. Apalagi bagi makhluk hidup yang tidak bergerak seperi pohon. Meski begitu, ada sebagian orang yang sering mengeluh jika hujan turun. Bahkan tidak sedikit pula banyak yang berujar kalau hujan menghambat rejeki mereka.
Di salah satu rumah, nampak beberapa wanita sedang duduk bersama di atas karpet sambil bercengkrama. Para wanita yang memiliki suami yang sama itu, terlihat sedang membicarakan rencana esok hari sambil sesekali melihat cacatan pada sebuah buku yang tergeletak diantara mereka. Sedangkan di ruang tengah, nampak wanita paruh baya sedang asyk menonton sinetron di layar televisi yang ada di hadapannya.
"Jualan pertama langsung rame nggak yah?" ucap Alifa.
"Ya belum lah, biasanya pembukaan masih sepi. Kan orang belum pada tahu. Nanti seiring berjalannya waktu baru kelihatan," balas Aziza.
"Hehehe ... aku takut aja, jualannya nggak terlalu laku. Kasian Mister, sudah keluar modal banyak," ucap Alifa lagi.
"Ya kita berdoa aja. Yang penting usaha kita dulu bagaimana, nanti setelahnya baru kita pasrahkan pada Tuhan," kata Aisyah.
"Ini Mister nggak dibangunin? Udah jam lima itu loh, Kasihan Mister dari siang belum makan," kini Anisa yang berkata.
"Rum, coba Mister dibangunin," perintah Alana.
"Baiklah," jawab Arum lalu dia bangkit dan beranjak menuju kamar Jiwo. Hari ini memang jatahnya Arum untuk melayani Jiwo jadi wajar jika Alana menyuruh Arum yang yang membangunkannya.
__ADS_1
Arum mengetuk pintu kamar sambil memanggil nama suaminya, tapi mungkin Jiwo terlalu nyenyak hingga tidak ada sahutan dari dalam.
"Masuk aja, paling nggak dikunci," ucap Emak yang memang sedari tadi ada di depan televisi.
"Iya, Mak," balas Arum. Benar saja pintu tidak dikunci. Arum segera saja masuk secara perlahan.
Baru dua langkah Arum masuk ke dalam kamar, matanya sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tidak biasa hingga mata Arum membelalak. Bahkan Arum spontan menutup mata karena apa yang dia lihat, benar benar sesuatu jadi pertanyaan dalam benaknya.
Sejenak Arum jadi bimbang dengan tugasnya. Dia tetap membangunkan Jiwo atau keluar saja karena merasa tak enak. Tapi Arum segera sadar kalau ini tugas dia. Arum pun akhirnya melangkah mendekat ke arah kasur dengan jantung yang berdetak lebih kencang.
Begitu sampai di dekat kasur, Arum langsung berjongkok. Bukannya langsung membangunkan, Arum malah memandangi Jiwo yang terlelap. Jiwo tidur dengan memakai kaos dan juga sarung. Tapi sarung itu melorot hingga benda yang ada dibawah perut Jiwo terlihat. Itulah mengapa Arum kaget saat masuk tadi.
"Kalau pengin pegang ya pegang aja, Dek," Arum langsung terkesiap mendengar suara suaminya secara tiba tiba. Dia tidak menyangka, aksinya kepergok suaminya yang ternyata sudah bangun. Wajahnya langsung bersemu merah dan dia salah tingkah.
Jiwo langsung membuka matanya dan tersenyum nakal pada sang istri. Jiwo sebenarnya sudah terbangun sejak Arum jongkok di tepi ranjang dan dia enggan membuka matanya karena masih merasa ngantuk. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan tingkah istrinya, makanya dia diam diam ingin tahu apa yang Arum lakukan.
Awalnya Jiwo kaget saat tahu Arum memandangi sesuatu di bawah perutnya. Tapi rasa kaget Jiwo berubah menjadi rasa gemas saat melihat Arum senyum senyum sendiri melihat kejantannya dengan rasa kagum.
"Pegang aja, Sayang. Jangan hanya dilihatin aja," ucap Jiwo lagi.
__ADS_1
"Ih Mister mesum, ayo bangun! Apa Mister nggak lapar?" balas Arum sambil memalingkan wajahnya dan hendak berdiri. Namun dengan cepat Jiwo menahan tangan Arum hingga wanita itu terduduk di tepi kasur.
"Mister!" pekik Arum.
"Pegangin! Kalau nggak mau pegang, aku nggak mau bangun dan nggak mau makan!" ancam Jiwo.
"Loh, kok maksa sih? Kayak anak kecil aja."
"Cepat pegangin! Perintah suami harus nurut loh!"
"Astaga!"
Tak ada pilihan lain, Arum mau tidak mau menuruti perintah suaminya. Jiwo tersenyum lebar saat dia merasakan tangan Arum sudah mendarat dan menggenggam benda di bawah perutnya.
"Tangannya gerakin, Sayang. Nah kayak gitu, bagus."
"Dih!"
...@@@@@...
__ADS_1