MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Selalu Mencari Kesempatan


__ADS_3

Pembahasan soal bau ketiak sudah berakhir. Kini para istri Jiwo sudah kembali lagi menghafal harga barang dagangan. Sedangkan Jiwo masih setia bermain game sambil rebahan di kursi tamu. Matanya sesekali melirik istri istrinya yang sedang semangat karena sebentar lagi mereka akan memiliki kesibukan baru.


Jiwo tersenyum tipis. Dia tidak pernah menyangka ketiga belas istrinya akan sesemangat itu. Padahal untuk menghafal harga tidak terlalu perlu melakukan hal seperti itu. Jiwo juga sudah mengajari triknya. Tapi para istri berkata, katanya tidak apa apa, itu untuk kegiatan daripada bengong di rumah tidak ada pekerjaan.


Jiwo juga tidak menyangka, banyak perubahan sikap pada ketiga belas istrinya. Jiwo pikir mereka adalah para wanita yang kalem dan pemalu. Tapi seiring berjalannya waktu, beberapa diantara mereka malah ada yang bar bar, bahkan cuek. Contoh saja Anisa dan Andin. Jiwo tidak menyangka mereka bisa bersikap sadis jika ada yang mengusiknya.


Yang lebih mencengangkan bagi Jiwo, mereka juga tidak malu lagi mengungkapkan pikiran nakalnya. Seperti halnya tadi saat mereka makan bersama, bisa bisanya mereka membahas bau badan suaminya tanpa rasa mual. Bahkan mereka sampai bertaruh dan menjadikan Jiwo kelinci percobaan. Jiwo tidak menyangka saja, kalau ketiga belas istrinya akan sekompak itu.


Di luar hujan masih rintik rintik, dan di dalam rumah suasana masih agak ramai. Hingga berjalannya waktu yang terus maju, kini keramaian tersebut berangsur angsur surut. Satu persatu istri Jiwo masuk ke kamar begitu jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Sekarang di ruang tamu hanya menyisakan dua orang berbeda jenis yaitu Arum dan suaminya.


Jiwo masih setia rebahan di ruang tamu sedangkan Anum masih setia duduk diatas karpet dekat dengan karung karung berisi dagangan. Wanita itu setengah berbaring bersandar ke salah satu karung. Jiwo sontak bangkit dan menghampiri sang istri.


"Kalau mau tidur, tidur di kamar langsung aja, Dek," ucap Jiwo saat melangkah mendekati istrinya.


"Belum ngantuk, Mister," balas Arum sambil membenarkan posisi tubuhnya agar lebih nyaman.

__ADS_1


Jiwo lantas duduk disisi Arum dan bersender pada salah satu karung juga. "Ya daripada rebahan disini, mending di kamar sekalian kan?"


"Gimana mau ke kamar, orang Mister aja masih di luar. Yang ada malah bingung di kamar sendirian mau ngapain," gerutu Arum hingga menyebabkan Jiwo terkekeh karena gemas mendengar istrinya menggerutu.


"Mau megangin isi sarungku lagi nggak, Dek?" tanya Jiwo saat suara tawanya mulai mereda dan yang tersisa hanya senyuman nakalnya.


Mata Arum memicing. "Mulai deh pikiran mesumnya."


"Ya nggak apa apa, kan? Sama istri sendiri ini? Lagian tadi sore udah megang, kan? Jadi nggak perlu malu," balas Jiwo sedikit memaksa.


"Nanti kalau ada yang lihat bagaimana? Mana ngomongnya keras banget lagi? Nggak bisa ngomong yang lirih apa?" sungut Arum gemas.


Arum lantas bangkit sejenak untuk mematikan salah satu lampu ruang tamu, setelah itu dia kembali duduk di sebelah suaminya.


"Pegangin dong, Dek! Biar dia nggak kedinginan," pinta Jiwo lagi hingga sang istri merasa takjub mendengar rengekan suaminya.

__ADS_1


"Masih bau kan? Bau keringat?" ucap Arum berusaha menolak secara halus.


"Udah di cuci kok, kan tadi kamu lihat aku ke kamar mandi," kekeh Jiwo tak mau menyerah.


"Astaga! Cuma itunya doang yang di cuci, tapi badannya nggak mau dimandiin? Jorok."


"Hahaha ... ayo dong, Sayang, pegangin. Yah?"


Arum sontak mendengus. Mau tidak mau dia harus mengabulkan rengekan suaminya. Kalau tidak dikabulkan, sudah pasti rengekan itu tidak akan berhenti. Apa lagi malam ini jatahnya Arum menemani Jiwo tidur. Bisa dipastikan Jiwo akan merengek terus jika tidak diturutin.


Arum mulai menggerakan tangan kanannya. Awalnya Arum ingin memegang dari luar sarung saja tapi Jiwo malah melepas lilitan sarung dan membukanya agar tangan Arum bisa masuk ke dalam. Tidak ada pilihan lain, tangan Anum masuk ke dalam sarung dan meraih benda yang hendak menegang milik suaminya.


"Nah, kalau gini kan enak ngobrolnya," ucap Jiwo sambil kembali membuat lilitan disarungnya. "Tangannya gerakin dong, Dek. Masa diam aja."


"Astaga!" pekik Arum namun dia melakukan apa yang diperintahkan suaminya.

__ADS_1


Jiwo hanya bisa cengengesan dan untuk sementara, mereka hanya terdiam menikmati apa yang sedang mereka lakukan saat ini di iringi suara rintik hujan.


...@@@@...


__ADS_2