MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Rencana Terbaik


__ADS_3

Kata orang, rencana Tuhan memang lebih Indah daripada rencana manusia. Mungkin ungkapan tersebut sangat tepat disandang oleh seorang pria yang sudah memasuki usia tiga puluh dua tahun. Pria bernama lengkap Sujiwo Bagaskoro itu, baru mengalami hal indah setelah takdir mempertemukannya dengan tiga belas wanita dalam kejadian tak terduga.


Sebelum bertemu dengan tiga belas wanita yang sekarang menjadi teman hidupnya, hidup Jiwo terasa sangat hambar. Dia menjalani perjalanan hidup yang monoton. Kejadian menyakitkan di masa lalu membuat dia enggan membuka hati untuk wanita dalam waktu yang cukup lama.


Tapi itu dulu. Berbeda dengan sekarang. Setelah dengan suka rela menikahi tiga belas wanita atas nama perlindungan, perjalanan hidup pria penjual kolor berubah drastis. Hidupnya lebih berwarna dan dia selalu dilimpahi kasih sayang dan penuh cinta oleh tiga belas wanita cantik yang bersedia menapaki perjalanan hidup bersamanya.


Keadaan pria itupun kini lebih maju dan terpandang. Yang awalnya hanya pedagang kolor keliling saja, kini dia mempunyai lapak yang selalu ramai setiap harinya, serta usaha dibidang kuliner yang mulai mengalami perkembangan. Dari awal yang hanya para istri jualan keliling. Sekarang ada sekitar sepuluh orang yang ikut berjualan jajanan hasil produksi istrinya. Secara ekonomi, pria yang akrab dipanggil Jiwo, mengalami kemajuan pesat.


Yang lebih membuat Jiwo saat ini bahagia adalah dengan hadirnya buah hati di dalam rahim lima istrinya. Betapa bahagianya pria itu saat ini. Meski dia sudah membayangkan kerepotan yang akan terjadi nanti, tapi tidak menyurutkan kebahagiaan yang dia rasakan.


Kebahagiaan Jiwo semakin lengkap dengan sikap istrinya yang selalu damai, kompak dan ikhlas menerima segala hal yang terjadi dalam kondisi apapun, dibalik perbedaan sifat mereka. Tidak ada hal yang sangat membahagiakan bagi seorang pria yang memiliki banyak istri tanpa keributan yang berarti. Itulah yang Jiwo rasakan saat ini.


"Mister jadi nggak merubah jadwal tidur bergilirnya?" tanya salah satu istri yang tidak sedang hamil.


"Jadi, Sayang, bentar," jawab Jiwo lalu dia menyeruput kopinya. Malam ini dia dan para istrinya sedang berkumpul di ruang serbaguna di rumah baru mereka. "Begini, berhubung yang lima sedang hamil, saya jadikan mereka satu kamar dan menempati kamar utama."


"Terus?"


"Nanti empat malam aku tidur bersama kalian yang tidak hamil dan tiga malamnnya aku tidur bersama kalian yang sedang hamil. Gimana?"


"Kok gitu, Mister?"

__ADS_1


"Iya, karena aku ingin mengawasi yang lagi hamil setiap waktu. Aku nggak mau, kalian yang tidak hamil ikut sibuk mengawasi yang hamil, sedangkan kalian sudah capek mencari uang di siang hari. Kalian ikut mengawasi sesempatnya kalian saja."


"Terus yang empat malam, tiap malamnya Mister tidur dengan dua orang gitu?"


"Iya, seperti biasanya."


"Terus, Mister, kalau lubang aku ingin dimasukin isi celana Mister, dimana tempat melakukannya? Di kamar utama juga?" tanya salah satu istri yang sedang hamil.


"Iya, maka itu aku membangun kamar utama lebih luas, salah satu tujuaannya ya seperti itu. Aku masih bisa mengawasi para istri yang hamil meskipun sedang berhubungan badan dengan yang lain."


Semua istri nampak manggut manggut sembari mencerna ucapan suami mereka. Mungkin karena sudah terbiasa berhubungan badan dan ada yang melihatnya, jadi Jiwo enak saja mengambil keputusan seperti itu. Sejak tidur sekamar dengan dua istri di mulai, sejak itulah Jiwo jadi terbiasa berhubungan badan di hadapan istri yang lain.


"Sudah, Mister. Berarti jadwal itu berlaku mulai kapan?"


"Berlaku mulai besok aja. Bukanqkah malam ini jadwalnya aku tidur dengan Arin dan Anisa, karena mereka lagi hamil ya sekalian saja, bukan?"


"Baiklah, aku setuju."


"Aku juga."


"Iya, aku juga."

__ADS_1


"Oke! Tapi jadwal ini juga sementara loh ya? Nanti jika ada yang hamil lagi, jadwal bergilir akan saya ubah lagi."


Para istri kompak mengiyakan dan Jiwo pun merasa senang karena dengan mudah para istri mau menerima keputusannya. Jiwo pun kembali melanjutkan pembahasaannya ke hal lain seperti kabar tentang jualannya.


Hingga wakunya tidur tiba, Jiwo sedang bersama para istri yang sedang hamil di kamar utama. Senyumnya terkembang saat para istri memamerkan perutnya yang masih rata. Jiwo pun mengecup satu persatu perut istrinya.


Cup!


"Hai, anak Ayah," ucap jiwo dihadapan perut istrinya. "Baik baik di dalam perut ibu ya? Jangan bikin ibu susah, oke? Ayah akan selalu menemani kalian sampai kamu hadir nanti. Ayah akan setia menungggu saat itu tiba."


"Oke, Ayah," balas salah satu istrinya dengan suara dibuat seperti anak kecil.


Jiwo pun tersenyum lebar. "Udah malam, sekarang tidurlah."


"Siap, Ayah."


Kelima istri Jiwo mulai berbaring dan Jiwo memperhatikan mereka dengan senyum yang bahagia.


"Ahh ... senangnya."


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2