
"Sebenarnya, yang anda inginkan itu apa, Pak? Katakan saja? Tidak perlu memutar mutar seperti itu?" tanya pihak kedutaan yang lain.
"Saya ingin anak saya ikut dengan saya."
Semua nampak terkejut dengan apa yang dikatakan pria tua itu kecuali Jiwo. Kebetulan pada saat pertanyaan itu terlontar, orang kedutaan melempar pertanyaan tersebut dengan bahasa dari negara istri asal para istri, jadi Jiwo hanya terdiam dan terlihat biasa saja.
Berbeda dengan ekspresi wajah dari orang orang yang tahu dengan bahasa orang itu. Wajah mereka rata rata menegang, terutama istri Jiwo yang bersangkutan. Wajahnya nampakk marah dan kecewa dengan sikap orang tuanya yang seakan tidak tahu berterima kasih.
"Kenapa Ayah tidak bisa berpikir positif sih? Kebiasaan," protes wanita yang namanya berubah menjadi Anisa.
"Tidak bisa berpikir positif gimana?" tanya Ayahnya nampak seperti orang terkejut.
"Ya itu, Ayah selalu mencari celah untuk merusak kebahagiaan anaknya. Kenapa Ayah lebih suka anaknya menderita sih?" sungut Anisa yang wajahnya nampak sangat kesal.
"Ya ampun. Mana ada orang yang tidak ingin anaknya bahagia? Kamu itu dari dulu suka berpikiran buruk dengan orang tua kamu," balas Ayah tak terima.
"Loh, kalau Ayah memang ingin aku bahagia, harusnya Ayah lihat dong, aku bahagia nikah sama pria itu. Orang aku udah jelasin dari tadi, pria ini sangat baik dan bertanggung jawab. Ayah malah masih ngeyel."
__ADS_1
Ayah Anisa menghembus kasar nafasnya lalu menatap pria yang telah menjadi suami dari anaknya. Biar bagaimanapun juga, orang tua mana yang akan rela begitu saja membiarkan anaknya berbagi suami? Itulah sebenarnya yang membuat ayah Anisa berat melepas anaknya. Hal itu juga dirasakan oleh keluarga istri Jiwo yang lain.
"Apa kamu tidak ingin memiliki suami yang hanya untuk kamu seorang?" tanya Ayah Anisa dengan raut wajah berubah sendu. Anisa sontak langsung menggenggam tangan ayahnya.
"Wanita mana Ayah yang tidak ingin memiliki suami yang tidak terbagi. Aku dan yang lain pasti menginginkannya. Namun, ayah juga harus tahu, tidak semua keinginan dapat kita wujudkan. Sama halnya tentang pasangan hidup kita. Ayah tidak perlu khawatir, meski aku berbagi suami dengan banyak wanita, tapi disini aku menemukan bahagia yang penuh ketulusan, Ayah. Dia laki laki hebat sama seperti Ayah."
Pletak!
"Bisa aja kamu kalau ngomong," balas sang ayah sembari menjitak kepala anaknya.
"Aduh! sakit, Ayah," sungut Anisa, tap tak lama setelahnya mereka saling melempar senyum dan berpelukan.
Meski berat hati, akhirnya semuanya rela melepas tiga belas wanita itu memiliki satu suami. Biar bagaimanapun mereka ingin para wanita itu menemukan kebahagiannya dan mereka melihat kebahagiaan itu bersama satu laki laki.
Karena tanpa persiapan khusus, hidangan yang disajikan pun hanya ala kadarnya dan itu semua juga dimasak mendadak oleh Emak dan istri paman serta bantuan beberapa tetangga.
Hingga menjelang petang, istri istri Jiwo pun harus kembali berpisah dengan anggota keluarga mereka. Lagi lagi airmata ikut mewarnai perpisahan antar anggota keluarga tersebut. Dengan berat hati para istri Jiwo melepas kepergian orang orang yang sangat mereka sayangi.
__ADS_1
Sebelum pergi, keluarga para istri juga tak lupa memberi pesan kepada Jiwo hingga pria itu begitu tersentuh. Mereka memasrahkan ketiga belas wanita itu, agar Jiwo bisa menjaga dan membahagiakan mereka. Biar bagaimanapun, mereka tidak punya siapa siapa lagi di negara ini selain Jiwo dan keluarga Jiwo.
Jiwo, Emak dan yang lainnya pun hanya mammpu memandang iba tanpa bisa berkata apa apa. Mereka hanya bisa menenangkan istri istri Jiwo yang nampak belum rela berpisah kembali dengan keluarga mereka.
"Sabar, ya? Yang penting mereka sudah tahu, kalau kalian baik baik saja," ucap Emak lembut.
"Iya, doakan saja mereka yang baik baik," sambung Bi Siti, istrinya paman.
Para istri Jiwo hanya mengangguk, lalu satu persatu mereka memasuki kamarnya dengan perasaan yang tak menentu. Hanya terdengar suara isak tangis dari luar kamar.
"Biarkan saja mereka, Wo. Biarkan mereka menenangkan hati mereka dahulu," ucap Emak.
"Iya, Mak."
Jiwo duduk di ruang tamu. Kini suasana begitu terasa dingin. Jiwo menyesap batanng rokok dan menghembuskan asapnya secara kasar. Hati Jiwo pun saat ini sedang bergejolak. antara bahagia dan sedih, itu yang sedang Jiwo alami saat ini.
Jiwo bahagia karena ketiga belas wanita itu memilih bertahan menjadi istrinya, tapi Jiwo juga merasa sedih karena dia merasa dirinya menjadi menjadi penghalang para istri untuk berkumpul dengan keluarga mereka. Jiwo menggalau. Batinnnya berkecamuk hebat.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" gumam Jiwo ditengah kegundahannnya.
...@@@@@...