
"Permisi, Bu, mau tanya boleh?"
"Silakan, Mas, tanya apa?"
"Denger denger disini ada pria yang menikah dengan tiga belas wanita sekaligus, Bu? Apa benar?"
"Oh iya, benar, kenapa emang, Mas?"
"Nggak, Bu, penasaran aja sama ceritanya. Apa Ibu tahu kejadiannya gimana?"
"Cerita selengkapnya sih aku kurang tahu, Mas. Masnya wartawan apa? Kalau iya, mending tanya langsung saja sama orangnya."
"Gitu, ya? Apa ibu tahu alamatnya?"
Si ibu pemilik warung langsung memberi alamat lengkap bersama nama pemilik rumahnya. Pria yang sedari tadi minum kopi sendirian, merasa sangat senang karena dia sudah mendapat apa yang dia cari.
Setelah alamat didapatkan, pria itu segera pamit dan menyalakan motornya menuju ke tempat yang dia cari. Kata si pemilik warung tinggal lurus sedikit terus ada gapura Rw 11 dikanan jalan, tinggal masuk.
Pria itu tak lupa bertanya lagi kepada warga sekitar untuk memastikan bahwa alamat yang sedang dia cari. Bukannya mendapat jawaban, warga yang ditanyai alamat malah merasa heran. Warga itu menatap pria si penanya alamat dengan tatapan curiga.
"Emang ada perlu apa ya, Mas? Mencari alamat rumahnya Jiwo?" tanya warga yang merupakan tetangga Jiwo. Wajar jika warga menaruh curiga, soalnya sudah dua kali ada orang yang mencari alamat rumah Jiwo dan berakhir dengan keributan.
Pria itu sedikit terkejut. Bukannya mendapat jawaban, pria itu malah di lempar pertanyaan dengan tatapan curiga. Pria itu seketika harus memutar otak untuk mencari alasan yang tepat agar tidak dicurugai.
__ADS_1
"Saya hanya pencari fakta, Bu. Ibaratnya mirip wartawanlah. Kalau tanya sama narasumbernya langsung itu akan lebih tahu faktanya, Bu."
"Oh, begitu? Emang untuk apaan sih, Mas? Apa untuk berita atau untuk hal lainnya?" tanya si Ibu semakin kepo.
Mau tidak mau, pria itu harus lebih menahan sabar lagi demi mendapat hasil yang terbaik sesuai dengan bayaran yang akan dia terima. "Itu rahasia perusahaan, Bu. Yang pasti saya mau ngumpulin informasi dulu, setelah terkumpul semua fakta yang saya dapat, baru kita publikasikan."
"Publikasikan dimana, Mas? Di televisi atau media sosial seperti yang lainnya? Nama akunnya apa?" cecar tetangga itu semakin ingin tahu hingga si pria itu semakin gusar.
"Wah! Kalau begitu rahasia perusahaan, Bu," si pria masih berusaha sabar.
"Masa rahasia? Jangan jangan sama kayak yang tiga orang yang kemarin dibawa ke penjara?" tanya Ibu itu semakin curiga.
Karena sudah tidak tahan dan bingung mau memakai alasan apa lagi, dan keadaan sekitar yang sangat sepi, pria itu merogoh tas slempangnya dan menunjukan belati lipat yang dia bawa ke arah ibu itu. Wajah ramahnya pun berubah menjadi tatapan tajam yang menakutkan hingga wajah wanita yang sedari tadi memegang sapu langsung memucat.
"Ba-baik, akan aku tunjukan," jawab Ibu itu. Dan di saat itu pula, Emak dan tiga orang menantunya kebetulan lewat tanpa rasa curiga. "I-itu orang yang kamu cari."
Si pria langsung menoleh ke arah yang ditunjuk, tapi disaat itu juga tak sengaja Alina melihat pria itu mengacungkan belati meski sudah berusaha disembunyikan pria itu agar tak terlihat.
"Heh! Apa yang kamu lakukan?" teriak Alina.
Sontak saja si pria itu langsung terkejut dan menoleh. Wajahnya seketika langsung panik dan dia langsung menyergap Ibu pemegang sapu dan menjadikannya sandra.
"Jangan mendekat dan jangan berteriak! Atau aku habisi nyawa Ibu ini!" gertak si pria lantang. Si Ibu tampak sangat ketakutan. Dia mengiba minta tolong.
__ADS_1
"Hei, pengecut! Beraninya sama perempuan! Pakai daster aja sana!" teriak Anisa tak kalah lantang. Dia sengaja berteriak agar ada tetangga yang tahu kalau ada bahaya yang menimpa tetangga mereka.
Sedangkan si pria terlihat semakin emosi mendengar ejekan dari Anisa. Meski Anisa mengatakannya agak sulit dan belepotan nyatanya hal itu bisa memancing warga yang penasaran. Beberapa warga terlihat keluar dari rumah. Betapa terkejutnya mereka saat melihat tetangganya ada yang sedang disandra.
Anisa berusaha bersikap tenang. Ditatapnya wanita yang sedang disandra lekat lekat. Mata Anisa dan ibu itu seakan berbicara. Tepatnya Anisa memberi kode agar Ibu itu tenang dan memperhatikan dirinyq. Anisa mengangkat tangannya dan memberi kode dengan menggigit pergelangan tangan sendiri.
Awalnya si ibu tidak paham dengan apa yang Anisa lakukan, tapi setelah Anisa mengulang beberapa kali sambil mengedipkan mata, si Ibu langsung paham. Si pria yang sedang panik karena sudah merasa terkepung terus memberi ancaman.
"Halah, laki laki nggak normal! Beraninya sama perempuan!" ejek Anisa.
"Paling ancamannya cuma gertakan! Biar dikira kita takut!" sambung Alina lantang.
"Apa! Kalian meragukan keseriusan saya? Hahaha ... Akhh! Brengsek!"
Si ibu berhasil menggigit tangan si pria yang memegang pisau hingga pisau itu terjatuh. Tapi sayang ibu itu belum terbebas dari cengkraman tangan satunya. Sambil menjabak rambut si Ibu, si pria berusaha mengambil kembali pisau yang terjatuh.
"Akhh! Tolong!" teriak si ibu.
Saat tangan si pria hampir berhasil meraih pisau kembali, tangannya tiba tiba ada yang menginjaknya.
"Akhh!"
...@@@@@@...
__ADS_1