
Setelah selesai urusan perkoloran dan perdasteran dengan para istri, Jiwo memutuskan pergi keluar menuju ke rumah tukang yang akan dimintai tolong untuk memperbaiki lapak yang akan digunakan para istrinya. Bukannya Jiwo lupa, tapi dua hari kemarin memang banyak kejadian tak terduka yang harus Jiwo lewati. Jadi urusan lapak agak terbengkalai sejenak.
Di temani salah satu istrinya yang bernama Andin, motor Jiwo menembus jalan raya yang lumayan ramai ke kampung sebelah. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di sebuah usaha rumahan yang biasa menjadi tempat beberapa pedagang memesan sesuatu. Begitu juga Jiwo, dulu dia dan Bapaknya juga selalu pesan di tempat itu tiap ada yang dibutuhkan untuk lapak.
Jiwo disambut baik oleh si pemilik usaha. Jiwo dan istrinya dipersilakan duduk di kursi yang ada di sana. Setelah basa basi sejenak, Jiwo pun menceritakan tujuannya datang ke tempat itu. Dengan detail Jiwo menjelaskan apa yang dia inginkan untuk lapaknya nanti.
Setelah ngobrol selama satu jam lebih, akhirnya, Jiwo dan tukang itu sampai pada kesepatakan bersama. Begitu urusannya selesai, Jiwo dan Andin lantas pamit pulang. Di tengah perjalanan, Jiwo mengarahkan laju motornya menuju warung bakso dan mie ayam yang sudah menjadi langganannya.
"Mister, masih lapar?" tanya Andin begitu motor telah terparkir di depan warung bakso.
"Lagi pengin aja yang segar segar," balas Jiwo. Lantas dia mengajak sang istri masuk.
Mungkin karena belum waktunya jam makan siang, warung bakso itu masih nampak sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di sana. Setelah melakukan pemesanan, Jiwo memilih duduk dipojokan sebelah kanan yang tidak terlalu ramai. Hanya ada satu pria yang duduk disana.
Karena pesannya mie ayam, jadi Jiwo dan Andin nunggu lumayan lebih lama daripada yang beli bakso. Mereka pun melewatkannya dengan saling bercengkrama satu sama lain. Di saat keduanya asyik mengobrol, pria yang duduk di sebelah Jiwo tiba tiba menyapa.
"Maaf, Mas, boleh tanya?" tanya pria itu sopan.
__ADS_1
"Eh iya, Mas, tanya apa yah?" balas Jiwo tak kalah sopannya.
"Mas yang memiliki istri tiga belas itu kan, ya?" sontak saja pertanyaan tersebut membuat Jiwo sedikit terkejut.
Iya, Mas, kok tahu?" balas Jiwo sambil tersenyum lebar. Terlihat jelas sekali binar bangga di wajah pedagang kolor tersebut.
"Ya tahu lah, Mas, orang kita tetangga desa. Cuma beda barat dan timur aja, kan?" jawab pria itu sambil ikutan tersenyum juga. "Gini, Mas, boleh nggak kisah Mas Jiwo yang memiliki tiga belas istri, aku bikin cerita novel?"
Lagi lagi Jiwo terkejut dengan kening berkerut. "Cerita novel?" Pria itu mengangguk. "Apa jangan jangan kamu yang suka bikin cerita novel online ya, Mas? Kalau nggak salah yang terakhir judulnya tiga pria dari desa?"
"Wah, keren! Ya tahu lah, aku kan pelanggannya emak emak. Kadang ada tuh yang cerita soal novel dan katanya penulisnya satu kampung dengan saya. Eh nggak tahunya ketemu disini," terang Jiwo antusias sambil mengaduk pesanan mie ayamnya yang baru datang.
"Hahaha ... keren apaan. Masih belajar, Mas. Namanya juga masih polos. Masih butuh ini itu buat pembelajaran."
"Hahaha ... bisa aja kalau ngomong, Mas. Ya silakan kalau memang mau dibikin novel, tapi jangan terlalu kelihatan kalau itu kisah aku ya, takut viral."
"Siap, Mas Jiwo. Makasih."
__ADS_1
Dan obrolan tak penting itu terhenti karena dua pria itu segera menikmati pesanan mereka. Sedangkan Andin, sedari tadi diam dan menikmati makanannya juga sambil mengamati obrolan dua pria di hadapannya. Hingga tak butuh waktu lama, Jiwo dan Andin telah menghabiskan mie ayam mereka.
"Sekarang kita langsung pulang atau mau kemana lagi, Mister?" tanya Andin saat mereka berada di dekat motornya yang terparkir.
"Kita ke pasar dulu, kita cek lapak, biar kita tahu apa aja yang dibutuhkan lagi," jawab Jiwo sambil menyalakan mesin motornya. Andin segera naik di bagian jok belakang, lalu motor pun melaju ke arah yang Jiwo tuju.
Sedangkan di tempat lain, terlihat dua orang sedang melakukan pertemuan secara sembunyi sembunyi di sebuah cafe. Dari gerak geriknya, mereka terlihat sedang berdebat sangat sangat serius. Dua orang yang jelas sekali perbedaan usianya itu, memasang wajah yang penuh amarah.
"Setidaknya Tuan Suryo ikut tanggung jawab! Jangan lepas tangan begitu aja!"
"Siapa yang lepas tangan, Hendrik? Aku juga sedang nyari solusi agar kita aman! Kamu pikirkan aja, bagimana caranya membungkam pria yang menolong wanita wanita itu!"
"Soal itu nggak perlu khawatir! Aku juga nggak akan sungkan membungkam mulut anda selamanya jika anda tidak membantu saya, Tuan Suryo!"
Deg!
...@@@@@...
__ADS_1