MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Tidak Pernah Menyesal.


__ADS_3

Malam semakin larut. Udara juga sudah mulai agak dingin. Hampir semua badan yang merasakan lelah, sudah dipastikan kalau malam ini telah terlelap di pembaringan mereka masing masing. Meski banyak juga mata yang terjaga untuk menghabiskan malam dengan caranya masing masing.


Begitu juga dengan dua manusia di dalam sebuah kamar yang masih terjaga di malam yang semakin larut. Jam di dinding menunjukan pukul sebelas malam lebih tiga puluh menit, tapi sepasang suami istri itu masih saling menempel tanpa selehai benangpun yang menutupi tubuh mereka.


Karena rasa bersalah yang menyeruak dari relung hatinya, sang suami mendekap erat tubuh polos istrinya yang telah dia kecewakan hanya dengan pertanyaan bodoh yang tidak pantas untuk dilontarkan. Jiwo, nama sang suami berkali kali mengecup pundak Alana dan meminta maaf dengan penuh kelembutan.


"Saya itu bangga menyerahkan mahkota saya kepada Mister, tapi kenapa Mister masih meragukan?"


"Iya, Sayang. Maaf ya? Saya minta maaf."


"Coba seandainya saya tadi diculik dan saya jadi di jual oleh penjahat itu, kebanggaan apa lagi yang saya punya, Mister? Bukankah itu lebih menjijikan?"


"Iya ... iya maaf. Oke? Saya salah. udah ya? Saya minta maaf."


Alana bergerak membalik tubuhnya dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami. "Saya tidak akan pernah menuntut Mister untuk tangggung jawab. Ini sudah jadi keputusan saya melayani suami saya. Jadi tolong, Mister jangan pernah berpikir yang lainnya."


"Baiklah, maaf sudah menyinggung perasaan kamu, Sayang."


Kembali mereka saling diam dalam pelukan. Hati Jiwo menghangat karena sang istri sepertinya sudah memaafkannya. Jiwo mendekap erat tubuh mungil istrinya.


"Udah malam, sebaiknya kita tidur yuk?" ajak Jiwo dengan suara lembut dan tangan yang masih membelai rambut Alana.

__ADS_1


"Saya belum mengantuk, Mister."


"Kenapa? Hampir jam dua belas malam itu loh."


"Nggak kenapa kenapa, Mister. Saya cuma masih belum bisa lupa saat punya Mister masuk ke dalam lubang saya. Mister kelihatan sangat keren dan gagah sekali."


Jiwo mengulum senyum. Dalam hatinya ada rasa bangga karena mendapat sesuatu yang tidak dia duga sebelumnya. "Apa lubang kamu masih sakit?"


"Sedikit, Mister. Senut senut gitu."


"Saya pijat ya? Boleh?" Bukannya menjawab pertanyaan Jiwo, Alana malah melepas pelukannya dan bangkit kemudian duduk dihadapan Jiwo dengan kedua kaki menekuk dan sedikit membentang. "Astaga! Kenapa mesti duduk? Kan bisa sambil berbaring."


Alana tersenyum lebar. Dia kembali berbaring dengan kedua kaki yang terbuka. Dari samping, Jiwo menjulurkan tangan kanannya hingga jari kekar Jiwo menempel di lembah milik Alana dan Jiwo mulai memijatnya perlahan.


"Apa kamu disana punya saudara?" tanya Jiwo tiba tiba. Dia sengaja melempar pertanyaan agar dia mampu meredam hasrat yang kembali perkobar akibat pijatan yang dia lakukan.


"Saya anak tunggal, Mister. Ayah sudah meningggal. Ibu menikah lagi. Saya tinggal bersama kakak dari ayah saya. Tapi entah kabar dia bagaimana saat ini," jawab Alana sambil sesekali membalas tatapan Jiwo yang sedang berbaring miring dengan tangan kanan masih memijat di bawah perut Alana. "Disini saya punya suami. Seandainya di ijinkan, saya ingin tetap berada di sini menemani suami saya."


"Tapi kan suami kamu memiliki istri yang banyak, Sayang. Apa kamu rela, berbagi suami?"


"Kalau itu sudah menjadi jalan saya ya saya akan menerimanya, Mister. Bukankah dari awal kita nikah, Saya dengan yang lain memang sudah berbagi suami ya, Mister?"

__ADS_1


"Tapi kalian tahu kan? Alasan saya menikahi kalian? Salah satunya melindungi kalian dari para penjahat."


"Tapi, Mister. Jika suatu saat nanti kami semua memutuskan tetap menjadi istri Mister? Apa Mister akan tetap menerima kami?"


"Ya tentu saya akan tetap menerima kalian, tapi tentunya dengan syarat yang harus kalian patuhi."


"Syarat?"


"Iya, Kalian semua harus menerima syarat dari saya. Kalian tidak boleh bertengkar. Tidak boleh ada adu mulut. Jika ada beda pendapat dan masalah, harus segera diselesaikan dan berakhir dengan damai dan saling memaafkan. Dan tentunya kalian harus ikhlas saling berbagi satu sama lain."


"Kalau aku sih kayaknya sanggup, Mister. Kalau yang lain nggak tahu."


"Ya saya akan melihatnya. Siapa yang mampu bertahan, itu yang akan saya pertahankan menjadi istri saya."


Alana melempar senyum. Sejenak dia terdiam sambil terus menikmati pijatan tangan Jiwo yang semakin membangkitkan hasratnya.


"Mister?"


"Hum."


"Sebelum tidur, apa boleh saya minta lubang saya dimasukin lagi?"

__ADS_1


Jiwo langsung menyeringai. Tanpa menjawab pertanyaan Alana, mulut Jiwo langsung menyerang benda kenyal di dada istrinya. Dan ronde kedua pun dimulai.


...@@@@@...


__ADS_2