MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Sebuah Berita


__ADS_3

"Selamat, ya Pak. Ketiga istri Bapak positif mengandung anak Bapak."


"Apa, Dok? Istri istri saya beneran hamil?" Sang dokter pun mengangguk dengan senyum khasnya. "Alhamdulilah, terima kasih, Dok."


Betapa bahagianya hati Jiwo pagi ini. Kabar baik itu akhirnya datang juga setelah delapan bulan usia pernikahannya. Kini Jiwo sudah bisa bernafa lega. Minimal dia menjawab dengan mantap jika ada yang bertany, sudah punya anak atau belum.


Setelah mendapat beberapa saran dan nasehat dari dokter, Jiwo kembali ke ruangan UGD dimana para istrinya terbaring. Kabar baik itu juga langsung Jiwo sampaikan kepada beberapa istrinya yang ikut mengantar ke rumah sakit. Mereka semua bahagia mendengar kabar baik tersebut.


Selang dua jam kemudian, istri istri Jiwo pun diperbolehkan pulang. Orang rumah yang awalnya cemas menunggu kabar, berubah menjadi rasa bahagia dengan kabar kehamilan tiga istri Jiwo. Alana, Arin dan Anisa langsung di tempatkan di kamar utama di rumah baru.


"kalian juga coba cek diri kalian? Siapa tahu diantara kalian ada yang hamil juga?" ucap Emak kepada istri Jiwo yang lain.


"Mana mungkin, Mak. Kita kan nggak muntah muntah?" balas Andin.


"Yang namanya hamil nggak harus muntah muntah. Coba di ingat ingat, kapan kalian terakhir datang bulan?"


Para istri Jiwo sontak pada berpikir, namun ada yang langsung jawab. Dua orang sedang datang bulan. Empat orang baru saja berhenti selesai datang bulan sekitar satu dan dua minggu yang lalu. Dua orang sedang menunggu datang bulan apa tidak bulan ini. Dan sisa dua istri yang sedang baru ingat kalau mereka bulan ini memang melewati tanggal perhitungan datang bulan mereka.


"Nah kan? Nanti coba ke Apotik beli alat tes kehamilan," titah Emak kepada Alena dan Aluna.


"Tapi kita nggak ngerasain apa apa, Mak," ucap Aluna.


"Tetap di tes aja, demi kebaikan kalian juga. Daripada kecolongan."


"Oke, Mak."

__ADS_1


Emak dan para istri Jiwo yang lain pun keluar meninggalkan Jiwo dan tiga istrinya yang terbaring dan terlihat lemah. Hati Jiwo menghangat. Dia tidak menyangka akan mendapat tiga anak sekaligus dari tiga wanita yang berbeda.


"Gimana keadaan kalian, udah lebih enak?" tanya Jiwo lembut.


"Mendingan, Mister," balas Alana.


"Kalian ingin apa? Ngomong aja kalau kalian menginginkan sesuatu, ya?"


"Mister mau menjadi suami siaga?" tanya Anisa.


"Iya dong, demi kalian dan anak anak."


"Kalau aku lagi nggak pengin apa apa, Mister," ucap Alana.


"Aku juga, cuma ingin istirahat," sambung Anisa.


"Aku ingin menghirup aroma isi celana Mister," balas Arin.


"Astaga! Masa ada ngidam kayak gitu?" tanya Jiwo terkejut.


"Iya, Arin. Ada ada aja kamu. Itu sih bukan keinginan bayi, tapi keingin kamu," ucap Anisa.


"Benar, kamu kan emang paling doyan menjitali isi celananya Mister," Alana menimpali.


"Tapi aku serius ingin banget ciumin bulu bulu di dalam celana Mister," ucap Arin membela diri.

__ADS_1


"Udah udah jangan berdebat, Sayang. Iya aku akan kabulkan keinginan Arin. Alana dan Anisa mending istirahat. Nanti jika makanan datang, aku bangunin."


Kedua istri Jiwo langsung nurut. Arin pindah posisi dan dia merebahkan kepalanya di salah satu paha kekar suaminya dan mulai menghirup aroma bulu bulu yang sudah rimbun di bawah perut Jiwo. Sambil menemani istrinya, Jiwo mengambil ponsel dan mencari info menjadi ayah yang baik dan benar serta info seputar kehamilan.


Hari ini Jiwo memutuskan untuk libur jualan. Dia akan menghabiskan waktunya untuk menemani istri yang lagi hamil dan juga membantu perkerjaan istri yang lainnya. Beruntungnya istri istri Jiwo yang lain mau mengerti. Sungguh, rasa syukur Jiwo tidak pernah habis karena mendapatkan istri seperti mereka. Entah terbuat dari apa, hati istri istrinya. Yang pasti Jiwo akan selalu berusaha adil dan membahagiakan semuanya.


"Mister sarapan dulu, mumpung mereka lagi pada tidur," ucap Aisyah sambil membawa nampan berisi makanan untuk suaminya.


"Terima kasih, Sayang," Jiwo perlahan mengangkat kepala Arin dan dia bangkit menuju ruang serba guna di depan kamar utama.


"Pekerjaan kamu gimana, Dek? Udah selesai?" tanya Jiwo di sela sela menikmati sarapannya yang termasuk telat dari jam biasanya.


"Tinggal bikin buat yang dagang siang, Mister. Buat dua orang."


"Yang ikut jualan nambah lagi?"


"Iya, baru dua hari yang lalu."


"Syukurlah, aku seneng mendengarnya. "Tapi kamu jangan terlalu capek, Dek."


"Kalau yang sekarang nggak terlalu capek, Mister. Dulu waktu masih keliling bener benar capek itu, padahal ada tenaga bantuan."


"Ya syukurlah, semoga makin lancar usaha kita, Sayang."


"Aamiin," Aisyah dan Jiwo lantas saling melempar senyum. "Sekarang tinggal nunggu kabar dari Alena dan Aluna. Semoga saja mereka juga positif hamil."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2