
"Eugh!"
Suara lenguhan terdengar keluar dari mulut seorang pria. Padahal jam baru menunjukkan pukul dua dini hari, tapi pria itu menunjukkan tanda tanda kalau pria itu terbangun di jam segini. Perlahan mata pria itu terbuka dan dia terkejut saat melihat sesuatu.
"Lagi ngapain sih, Sayang?" tanya pria itu saat melihat kepala salah satu istrinya sedang bergerak naik turun di bawah perut pria itu.
"Sedang ngidam," jawab sang istri dengan kepala mendongak dan cengengesan. Lidahnya terulur menjilati puncak benda menegang milik suaminya.
"Tapi itu kotor, Sayang. Lapasin, biar aku cuci dulu."
"Nggak mau ah, nggak enak kalau di cuci. Bau keringatnya hilang, nggak seger lagi. Enak begini."
"Tapi itu kotor, Sayang. Nanti kalau ada apa apa dengan anak kita gimana?"
Seketika sang istri langsung menghentikan aksinya. Dia melepas genggaman tangan yang memegang batang suaminya. Dia bangkit dan beranjak keluar kamar dengan wajah di ketuk.
Sontak saja Jiwo kaget melihat istrinya yang diberi nama Arin tiba tiba menghentikan aksinya lalu dia langsung pergi. Jiwo merasa istrinya marah saat itu juga. Jiwo tahu Arin memang paling suka memainkan batangnya yang bau keringat dengan mulut. Tapi kali ini, Jiwo hanya ingin menjaga wanita dan anak yang dia kandung, jadi usul agar batangnya dicuci dulu biar besih, malah sang istri telihat marah.
Saat Jiwo melihat kemarahan istrinya, dia sadar kalau wanita yang sedang hamil itu katanya lebih sensitif perasannya. Jiwo sontak menepuk keningnya sendiri dan beranjak menyusulnya. Rasa kantuk Jiwo sontak saja langsung memghilang. Jiwo mendapati istrinya sedang duduk di ruang serba guna dengan wajah ditekuk. Jiwo mendekat dan kembali menyodorkan batangnya tepat di hadapan wajah Arin.
__ADS_1
"Makanlah," ucap Jiwo.
"Nggak mau! Katanya takut anak kita kenapa kenapa," balas Arin ketus.
Jiwo pun langsung tersenyum dan duduk di sebelah Arin. Wanita itu malah memunggungi suaminya, tapi Jiwo tak habis akal, dia memeluk pinggang istrinya dan mecium ceruk leher wanita itu.
"Maaf," bisiknya.
"Mister tidak salah, ngapain minta maaf?" jawab Arin ketus.
"Aku lagi minta maaf sama anakku, karena baru saja membuat ibunya marah."
Jiwo kembali mengulas senyumnya. Jiwo sadar, jika dia terus membalas ucapan Arin maka hanya akan terjadi perdebatan. Jiwo tidak mau bertengkar d jam segini. Apalagi istrnya lahi hamil. Jiwo tidak mau membuat istrinya bertambah marah. Otak Jiwo pun bekerja. Dia mencari cara agar istrinya tidak marah lagi.
Tak butuh waktu lama, Jiwo pun menemukn satu cara. Dia harus bisa membangkitkan kembali gairah sistrinya. Seketika dia tahu benar kelemahan Arin dimana. Jiwo langsung menciumi tengkuk leher Arin bertubi tubi. Hembusan nafas Jiwo yang berat membuat Arin bergidig dan perlakuan Jiwo tentu saja membangkitkan hasratnya. Jiwo melepas pelukannya dan meraih tangan sang istri lalu mengarahkannya untuk memegang batang milik Jiwo.
Berhasil. Jiwo bersorak dalam hati. Arin menggenggam benda kesayangannya. Bukan hanya menggenngam, Arin bahkan memberi pijatan dan menggerakkan tangannnya mau mundur. Jiwo terus menyerang Arin dengan memberi ciuman di ceruk leher istrinya.
"Batang kesayanganmu makan lagi ya?" bisik Jiwo. Arin tidak mengangguk, tapi dia juga tidak menggeleng. Arin malah turun dari kursi dan berjongkok diantara dua kaki Jiwo yang membentang. Dia mulai menempelkan lidahnya tepat di ujung benda kesayangannya. Pelan tapi pasti, Arin melahap benda yang selalu membuat dia melayang tinggi di awan hingga menghadirkan benih yang sekarang bersemayam dalam rahimnya.
__ADS_1
"Akhh ... akh ..." Rintih Jiwo keenakan. Dia terduduk pasrah. Matanya terus mengawasi gerakan kepala istrinya yang selalu semangat jika menikmati benda miliknya dengan mulut. Sesekali tangan Jiwo menekan kepala Arin agar benda miliknya masuk semua ke dalam mulut.
"Cukup, Sayang. Sekarang buka baju kamu, Dia udah pengin menjenguk anak kita, Sayang," Arin sontak saja tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya. Dia langsung duduk kembali di atas kursi empuk sekelas sofa. Dengan sigap, Jiwo melapaskan semua yang menempel pada tubuh sang istri.
Setelah semua pakaian terlepas, Jiwo merabahkan sang istri pada sofa tersebut dan melebarkan kakinya. Sebelum masuk, Jiwo mendekatkan mulut ke arah perut sang istri.
"Sayang, malam ini Ayah akan menjengukmu. Nanti jika Ayah meludah, kamu jangan marah ya? Itu ludah Ayah yang penuh kasih sayang untuk anak ayah," Arin kembali tersenyum mendengarnya. Diusapnya rambut Jiwo dengan penuh kelembutan.
Setelah mencium perut Arin, Jiwo menegakan badannya dan mulai memegangi benda yang sudah sangat menegang. Benda menegang itu digesekkan ke bibir lubang nikmat Arin, setelah itu Jiwo mulai memasukkkannya secara perlahan.
"Akhh ..."
Semuanya masuk tanpa sisa. Jiwo diam sesaat untuk memberi rasa nyaman lalu tak lama setelah itu pinggang Jiwo bergerak maju mundur secara perlahan. Setelah beberapa menit berlalu ketika penyodokan sedang berlangsung.
"Mister, kok nggak bunyi plok, plok, plok?"
"Biar anak kita nggak keganggu, Sayang. Kasihan dia kalau orangtuanya berisik."
...@@@@@@...
__ADS_1