
"Emang ada perlu apa ya, Pak, orang orang kedutaan datang kemari?" tanya Aisyah.
"Untuk lebih jelasnya, biar mereka aja yang menjawab," balas Pak Lurah, lalu mempersilakan kedua orang berpakaian rapi itu untuk mengatakan maksud kedatangan mereka.
"Maaf sebelumnya jika kedatangan kami sangat mengejutkan," ucap wanita yang mengaku dari kedutaan. "Kedatangan kami kesini, untuk membawa kalian pulang ke negara kalian."
"Apa!" pekik semua istri Jiwo yang ada di sana. "Pulang ke negara kita?" tanya Adiba.
"Iya, kami di utus dari kedutaan untuk menjemput kalian dan mengantar kalian pulang ke negara kalian," kini giliran tamu pria yang berbicara. "Sebelumnya perkenalkan, kami adalah pegawai di kantor kedutaan negara kalian, saya Ridwan bagian administrasi dan ini Anita, sama seperti saya bagian administrasi juga."
Semua istri nampak mengangguk, tapi mereka terdiam dengan pikiran berkelana kemana mana. Tentu saja kabar ini sangat mengejutkan. Tentu saja mereka belum siap jika harus pulang secepat ini. Di sini mereka sedang menikmati hidup yang penuh kebahagiaan dan tiba tiba mendapat kabar tentang kepulangan. Sontak hati mereka langsung gundah.
"Gimana? Kelihatannya kalian tidak senang dengan kabar ini?" tanya Pak Rt saat melihat wajah istri istri Jiwo nampak gelisah.
"Bukannya tidak senang, Pak. Ini sangat mengejutkan bagi kami," balas Aisyah sembari memaksakan diri untuk tersenyum. "kabar ini begitu mendadak jadi kami merasa kaget saja, Pak."
Pak Lurah malah terkekeh lalu bertanya, "Sepertinya kalian memang sudah betah tinggal di sini ya?"
"Iya, Pak," jawab Anum mewakili semua istri Jiwo yang terpaksa tersenyum. "Disini terlalu nyaman."
__ADS_1
Pak Lurah lantas menoleh ke arah orang yang mengaku bernama Ridwan dan Anita, lalu dia berkata, "Mending Bapak dan Ibu nanti kesini lagi setelah suami mereka pulang. Biar bagaimanapun disini ada orang yang bertanggung jawab atas mereka."
Ridwan dan Anita sontak dahinya berkerut dan mereka sejenak saling tatap. "Tapi mereka harus secepatnya dipulangkan, Pak. Kasihan para pengungsi lain yang sedang menunggu," jawab Ridwan.
"Memang berangkatnya kapan?Terus kumpulnya dimana?" pertanyaan Pak Rt membuat Ridwan terkesiap, lalu dia melirik ke arah Anita.
"Berangkat masih sekitar satu minggu lagi kok, Pak," balas Anita tenang hingga Ridwan merasa terselamatkan.
"Ya masih ada waktu kalau begitu," ucap Pak Rt. "Agar kalian bertemu suami mereka, mending nanti sore kalian datang aja kesini. Biasanya suami mereka kalau sore sudah ada di rumah."
"Baiklah, nanti sore kami akan mengusahakan untuk datang lagi kemari," jawab Anita ramah.
"Bagaimana ini? Apa kita akan pulang secepat ini?" ucap Alifa dengan perasaan yang sangat kalut.
"Iya, jujur aja aku belum siap, aku nggak mau jauh dari Mister," ucap Anum dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Aku juga, aku nggak siap diceraikan oleh Mister," Arin ikut bersuara.
Istri Jiwo yang lain hanya terdiam. Isi hati mereka sama persis dengan apa yang diucapkan Alifa, Anum dan Arin. Semua belum siap berpisah dengan satu pria yang telah mengisi hati mereka dan membuat mereka bahagia meski harus berbagi suami.
__ADS_1
"Ya udah, Adiba dan Alana, mending kalian siap siap berangkat ke pasar, udah hampir jam dua belas itu, nanti aku siapin bekal buat makan siang Mister," ucap Aisyah memecah kebimbangan mereka.
Di saat itu pula, Emak dan tiga menantu yang lain baru saja pulang. Mereka di sambut oleh orang orang rumah. Emak duduk di kursi dekat meja makan dan mengobrol sejenak dengan menantunya sambil melepas lelah. Setelah itu Emak memilih masuk ke kamar, sedangkan tiga memantu yang lain berkumpul di ruang tengah.
"Gimana tadi? Kalian mampir nggak ke lapak yang baru?" tanya Anum.
"Mampir," jawab Arum singkat.
"Rame ngga?" tanya Anum lagi.
"Ya nggak terlalu sih, tapi mending ada yang beli," balas Anum lagi. "Tapi kayaknya kita harus waspada deh."
"Waspada? Waspada kenapa?" tanya Aifa.
"Tadi aku dan Aluna lihat pimpinan dari orang orang yang dulu menculik kita?"
"Apa!"
...@@@@@@...
__ADS_1