
"Akhh! Tidak! Cukup!"
"Sialan! Hentikan! Aduh!"
"Aduh! Perih, Woy! Akhh!"
Dan suara kesakitan terus bersahutan dari empat pria yang tangan dan kakinya di ikat. Mereka sedang diberi hukuman oleh warga pria tapi atas saran dari seorang wanita. Hukuman yang mungkin tidak akan pernah terlupakan dalam kehidupan Hendrik dan anak buahnya.
"Makanya kalau kalian ingin kami menghentikan hukumannya, kalian tinggal ngaku dan ngomong apa adanya. Nggak usah gengsi," ucap salah seorang warga dengan gemasnya langsung melanjutkan hukuman untuk para oknum.
"Mereka lebih suka di hukum mase, daripada ngomong jujur," timpal warga yang lain sambil terus melanjutkan hukuman yang sedang dia kerjakan.
"Selama kalian tidak mau buka suara, selama itu pula aku akan habiskan hutan belantara kalian! Hahaha ..." ucap yang lainnya lagi. Para warga pria itu terlihat sangat bersemangat memberi hukumann yang tidak biasa.
Ketika di dalam rumah kontrakan sedang bersenang senang, di luar kontrakan justru Jiwo dan beberapa warga yang tidak ikut memberi hukuman sedang merasa heran dan juga merasa geli hingga bergidig mendengar jerit kesakitan dari dalam rumah. Sedangkan penduduk wanita malah pada ketawa ketiwi membayangkan hukuman aneh tapi lucu yang sedang berlangsung.
Anisa, si pemberi ide, justru sedang menghadapi wanita yang mengaku dari kedutaan. Bersama dengan Andin dan Alana juga ibu ibu tetangga mereka memberi hukuman pada wanita itu dengan kata kata kasar dan hinaan juga cibiran.
"Ya ampun, Mbak, Mbak ... padahal sama sama wanita, kok ya mau maunya sih berbuat seperti itu? Apa Mbaknya juga dulu korban penculikan? Atau Mbak memang langsung jual diri jadi nggak punya hati?"
__ADS_1
"Wanita seperti dia ya jelas langsung jual diri lah, Jeng. Lah wong hidup serumah sama empat pria aja malu."
"Mungkin Mbaknya waktu masih remaja udah biasa digratisin kali? Dalam satu hari kuat berapa batang yang masuk, Mbak?"
"Orang lagi kena musibah malah diculik buat dijual, dasar manusia nggak ada otak!"
Di tempat yang sama, Jiwo malah memilih diam dan duduk manis bersama Pak Lurah, Pak Rt dan beberapa warga yang lain. Sedari tadi mereka heran dengan ide dari Anisa. Bisa bisanya wanita itu punya ide seunik itu untuk menghukumnya. Tak terbayangkan rasa ngilu yang dirasakan para tersangka saat ini.
Mencabut bulu bulu keriting satu persatu yang ada di balik celana para pria dengan tang atau alat pencabut bulu ketiak, itulah ide hukuman agar para penjahat mau mengakui tujuan mereka yang sebenarnya. Terlihat biasa saja, tapi rasa ngilunya sampai semua orang ikut merasakannya. Sebagai suami, tentu saja Jiwo sangat takjub. Mungkin hukuman itu juga mewakili perasaan Anisa dan istri Jiwo yang lain, yang pernah disekap dan hampir saja pernah dijerumuskan.
"Apa tidak sebaiknya, kita langsung saja bawa mereka ke kantor polisi?" usul Pak Lurah. "Mungkin mereka bisa langsung mengaku saat disana?"
"Kita bisa saja membawa mereka langsung, tapi menururku, masih ada oknum lain yang turut andil membantu mereka," Jiwo ikut bersuara.
"Yang benar, Wo?" tanya Pak Rt.
"Bener lah, Pak Rt ingat nggak orang yang kemarin menodongkan pisau kepada Bu Romlah, itu bosnya beda dengan tiga orang yang kita tangkap sebelumnya," terang Jiwo.
"Masa, Wo? Jadi masih oknum lagi?" tanya Pak Rt dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
"Maka itu mereka dihukum disini dulu, biar ngaku siapa lagi orangnya. Takutnya malah ada orang yang lebih berkuasa dan malah bebasin mereka, yang ada masalah malah nggak kelar kelar dan hidup istriku makin nggak tenang."
"Bener juga," ucap beberapa orang hampir bersamaan.
Sementara di dalam ruangan, pelaksanakan hukuman masih teru berlanjut. Para tersangka masih teriak teriak pedih dan memohon untuk dihentikan. Bahkan salah satu dari mereka sampai menangis saking tidak kuatnya menahan pedih atas pencabutan bulu bulu di bawah perutnya satu persatu.
"Tolong, aku mohon hentikan! Aku mohon," rintih pria bernama Ridwan dengan airmata yang berlinang. "Aku akan jujur, aku akan mengakui semuanya."
"Benarkah?" tanya salah satu warga memastikan.
"Jangan! Jangan ngomong apa apa kamu!" titah Hendrik. "Akhh! Sialan! Aduh!"
"Disini yang berkuasa itu kita, bukan kamu! Jadi mending kamu nikmatin hukumanmu!" hardik pria yang sedang menghukum Hendrik. Tiga helai bulu keriting tercabut bergantian hingga Hendrik teriak kesakitan.
"Udah, cepat katakan!" titah pria yang menghukum Ridwan sambil menyalakan rekaman lewat ponsel.
"Baik, hiks ... hiks ... hiks ..."
...@@@@@...
__ADS_1