
Waktu yang ditunggu pun tiba. Iring iringan mobil Bupati terlihat memasuki komplek rw dimana rumah Jiwo berada. Dengan perasaan was was, Jiwo, Emak, istri istri Jiwo dan beberapa warga termasuk Pak Rt, menunggu kedatangan tamu penting tersebut.
"Semoga semuanya lancar tanpa ada berita buruk," gumam Jiwo penuh harap. Dengan memakai baju batik, Jiwo menyambut kedatangan Bapak bupati beserta rombongan. Di sana Jiwo tidak sendirian. Dia ditemani Paman, Pak Rt dan para tetangga yang pada antusias menyambut orang nomer satu di kabupaten itu. Warga yang lain juga banyak yang datang. Mereka rata rata pada penasaran dengan tujuan Bupati datang ke rumah Jiwo.
Rumah Jiwo sudah disulap sedemikian rapinya agar dipandang layak karena sudah kedatangan pria nomer satu di kabupatennya. Beberapa kursi berjejer di teras dan halaman depan. Kursi ruang tamu tetap ada di tempatnya. Tapi di sisi ruang tamu yang lain, dijadikan tempat prasmanan.
Bupati dan rombongan juga menyapa Emak dan istri istri Jiwo. Meski memakai pakaian yang sangat sederhana, istri istri Jiwo tetap kelihatan cantiknya. Padahal yang mereka kenakan adalah pakaian bekas, tapi mereka tidak sedikitpun merasa malu saat memakainya karena adanya seperti itu. Mereka juga tidak mau terkesan buruk dimata tamunya. Mereka sungguh berusaha menjaga nama baik suaminya agar tidak dipandang buruk seperti yang diberitakan.
"Berarti semua yang dikatakan dalam postingan tersebut salah besar?" tanya Bupati setelah tadi sempat basa basi beberapa saat dengan berinteraksi bersama warga yang berkerumun disana.
"Iya, Pak. Saya tidak pernah memperlakukan istri istri saya dengan buruk. Bapak bisa tanyakan langsung pada mereka," jawab Jiwo sesopan mungkin.
__ADS_1
Pak Bupati menatap beberapa istri Jiwo yang juga ikut duduk bersama sang suami di ruang tamu, lalu beliau menatap kembali kembali ke arah Jiwo. "Sebenarnya motivasi apa yang melatar belakangi kamu menikahi mereka? Secara, mereka kan sebenarnya imigran gelap?"
Pertanyaan itu sukses membuat hati Jiwo gundah, tapi dia sebisa mungkin menyembunyikan kegundahannya dengan senyuman. Jiwo lantas memceritkan awal kejadian sampai dia memutuskan menikah dengan para wanita itu. Pak Bupati nampak terkejut saat Jiwo bercerita tentang nasib yang menimpa para istrinya yang dikejar para oknum.
"Astaga! Jadi seperti itu ceritanya?" tanya Pak Bupati. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. "Terus oknum itu sekarang nasibnya gimana? Apa masih mengejar istri istrimu?"
"Kemungkinan sih sudah enggak lagi, Pak. Kebetulan, saya dibantu Pak Lurah, Pak Rt dan beberapa warga berhasil membekuk mereka. Saat ini para oknum itu sedang menjalani proses hukum."
Pak Bupati nampak menggut manggut sembari mencerna pertanyaan Pak Lurah. Beberapa saat kemudian Pak Bupati menjelaskan duduk permasalahannya. "Memang benar ada sedikit masalah, terutama pihak kedutaan dari negara istri Jiwo berasal. Mereka merasa kecewa karena negara kita dianggap tidak bisa melindungi para pengungsi. Tapi saya yakin, setelah mereka mendapat kabar dari Jiwo dengan cerita yang sesungguhnya, masalah bakalan tuntas. Pihak kedutaan juga pasti sudah melihat berita konfirmasi dari saudara Jiwo. Jadi Jiwo tidak perlu khawatir. Jawab aja apa adanya jika pihak kedutaan datang kemari."
"Pihak kedutaan mau kemari, Pak?" kini Pak Rt yang bersuara.
__ADS_1
"Yang saya dengar ya seperti itu. Mereka juga harus mengkonfirmasi langsung agar jelas semuanya."
Semua yang mendengar ucapan Pak Bupati nampak manggut manggut. Obrolan kembali berlangsung diantara Pak Bupati dan warganya. Percakapan bukan hanya membahas masalah Jiwo saja, tapi juga melebar ke hal yang lainnya. Seperti tentang bantuan pemerintah, sarana dan prasarana, serta pelayanan lainnya yang menjadi keluhan warga.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, obrolan ditutup dengan menyantap hidangan yang telah disediakan. Baik Bupati dan pengikutnya merasa senang dengan sambutan yang mereka terima. Setelah semuanya selesai, Bapak Bupati lantas pamit karena masih ada pekerjaan lain yang harus dia kerjakan. Jiwo juga merasa lega karena hal buruk yang sempat dia pikirkan, tidak terjadi sama sekali.
Di saat Jiwo sedang bersuka cita, justru orang yang menyebar berita tentang Jiwo sedang meradang setelah menyaksikan sendiri bagaimana Bupati memperlakukan Jiwo dengan baik.
Ya Malik dan Titin sengaja datang dan bersembunyi diantara kerumunan warga dengan tujuan ingin melihat Jiwo ditegur kalau bisa dihukum karena melindungi imigran gelap. Tapi kenyataan yang mereka lihta membuat mereka ternganga. Apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang Malik inginkan.
"Sial! Kenapa bisa jadi seperti ini? Ini nggak bisa dibiarkan, nggak!" umpat Malik penuh amarah.
__ADS_1
...@@@@@@...