
"Mau dikeluarin di dalam apa di luar, Sayang?"
"Kenapa mesti tanya? Biasanya keluar dimana?"
"Di dalam."
"Ya udah di dalam, pake tanya segala!".
"Astaga! Galaknya!"
Jiwo hanya bisa mengelus dada agar lebih sabar lagi. Padahal saat ini dia sedang berhubungan suami istri, tapi setiap kali Jiwo bertanya, Aziza pasti akan menjawabnya dengan ketus. Padahal jika dilihat dan dirasakan, Aziza yang paling bersemangat.
Dari berbagai gaya bercinta, Aziza selalu menunjukkan keganasannya. Wanita itu seperti singa yang kelaparan. Maklum seminggu tidak disentuh jadi dia lebih buas dari biasa.
Plak! Plok! Plak! Plok!
Bunyi khas suara orang yang sedang berhubungan, menggema dan memenuhi ruang tersebut. Erangan kenikmatan juga turut memberi warna dalam permainan di siang hari yang udaranya terasa sangat panas. Sepasang suami istri itu sedang melakukan gaya naik kuda,
"Sayang, aku mau keluar, kamu telentang ya?" pinta sang suami sambil mencabut benda menegang yang sangat basah berlumuran benih cinta milik sang istri.
Aziza langsung gerak cepat menelentangkan badannya dan membuka kakinya lebar lebar. Tanpa membuang waktu, Jiwo kembali memasukan benda menagang miliknya hingga tenggelam semuanya di belahan daging yang sangat nikmat.
"Pelan amat? Sodok yang kencang dong, Mister? Emangnya aku lagi hamil apa?" protes Aziza.
"Iya, sayang, iya," jawab Jiwo masih dengan kesabaran yang sangat tinggi. Dia pun langsung memenuhi permintaan istrinya, mempercepat gerakannya.
__ADS_1
Plak! Plok! Plak! Plok!
Hingga akhirnya Jiwo pun merasakan ada sesuatu yang harus dia keluarkankan. Benar saja, tak lama kemudian tubuh Jiwo menegang dan bergetar bersama dengan benih cinta yang keluar di dalam sarang istrinya. Jiwo terdiam, hanya di bawah sana yang berkedut menuntaskan cairan hingga tetes terakhir.
Begitu tetesannya merasa sudah tuntas, Jiwo mencabut benda menegangnya lalu duduk di kursi yang sama dengan nafas tersengal sengal. Sedangkan Aziza posisinya masih sama, terbaring di kursi dengan nafas yang menderu juga.
Kita istirahat di kasur aja, yuk, Dek," ajak Jiwo begitu deru nafasnya kembali normal. Tanpa menjawab, Aziza langsung bangkit dan menerima uluran tangan suaminya. Jiwo tesrsenyum manis, lalu mereka beranjak ke kamar utama meninggalkan pakaian yang berserakan.
"Maaf," bisik Jiwo setelah mereka merebahkan tubu mereka di atas Ranjang. Jiwo melingkarkan tangannya diperut sang istri dengan telapak menggengam salah satu bukit kembar.
"Maaf untuk apa?" tanya Aziza masih terasa ketus.
"Maaf, untuk segalanya. Maaf atas sikap aku yang mengecewakan kalian semua," jawab Jiwo penuh rasa sesal.
"Loh? Kenapa minta maafnya sama aku aja? Ya ke semuanya juga dong."
"Mau kemana?" tanya Aziza saat menoleh dan melihat Jiwo yang sepertinya pergi.
"Mau minta maaf sama yang lain," jawab Jiwo datar.
"Ya nggak perlu sekarang juga kali. Lagian mereka lagi pada tidur, kita juga baru main satu ronde dan Mister main pergi gitu aja? Enak benar," sungut Aziza lalu dia mamalingkan wajahnya.
Senyum Jiwo sontak terkembang. Bukannya marah digalakin istri, tapi malah senang. Apa lagi sang istri minta jatah dua ronde, makin bahagialah Jiwo dibuatnya. Dia pun kembali merebahkan badannya dan memeluk sang istri dengan erat serta mencium pipi dan juga pundak istrinya dengan segenap perasaan.
"Kamu dan yang lainnya itu sangat berarti buat aku. Aku pernah bilang, kan? Kalau kalian itu istimewa? Itu tuh benar adanya. Kalian akan selamanya menempati hat aku," ucap Jiwo pelan dan lembut.
__ADS_1
"Terus dengan sang mantan gimana? Bukankah Mister tadi berduaan?" ucap Aziza masih dengan nada ketus.
"Siapa yang berduaan? Orang dia yang tiba tiba menghampiri aku. Aku aja kaget waktu tahu dia udah di belakang aku."
"Dia menghampiri Mister? Ngapain?"
"Awalnya sih, katanya mau minta maaf, tapi makin kesini ucapannya makin bikin nggak nyaman. Mana dia minta nomer hp aku lagi."
"Mister kasih?"
"Ya enggaklah, buat apa. Aku juga bilang kalau aku sudah sangat bahagia dengan istri istriku. Bukan karena dendam atau bikin panas, tapi apa yang aku katakan jujur apa adanya. Kalau istri istri aku tuh bidadari tak bersayap. Dia kayak nggak terima gitu, terus ngungkit masa lalu, kalau aku bucin banget sama dia. Ya aku kesal dong. Eh kekesalanku malah bikin istri istriku kecewa dan salah paham," ungkap Jiwo sejelas jelasnya.
"Jadi dia berniat merebut Mister dari kami? Mentang mentang udah janda, dia pikir Mister masih mau sama dia?"
"Nah itu dia, aku juga kaget mendengarnya. Dia kayak nggak punya harga diri gitu," ucap Jiwo yang tidak sadar telah membangkitkan amarah istrinya lebih besar dua kali lipat.
"Sekarang kita main ronde kedua, cepat!" seru Aziza.
"Sekarang? Kenapa mesti cepat cepat?" tanya Jiwo merasa bingung. "Punya aku aja belum tegang lagi?"
"Uh kelamaan, sini aku tegangin pake mulut, cepat!"
Meski kebingungan, Jiwo tetap menuruti perintah istrinya. Dia menyodorkan benda miliknya yang masih lemas. "Kenapa mesti cepat cepat sih?"
"Aku akan labrak janda itu!"
__ADS_1
"Waduh!"
...@@@@@...