
"Cie yang habis reuni sama mantan. Kayaknya nggak rela tuh mantan pergi. menatapnya gitu banget," ledek Aluna.
"Mampus aku!" pekik Jiwo dalam hati.
"Udah, Mister, nggak usah tegang wajahnya. Orang lagi senang juga," Alana ikutan meledek juga.
Jiwo mendengus dan memandang semua istrinya yang kompak senyum senyum meledeknya. "Apaan sih, Dek. Lebih baik kita pulang, udaah siang," ucap Jiwo lalu dia bergebas balik badan dan melangkah terlebih dahulu dengan langkah cepat. Hingga beberapa meter berlalu, Jiwo merasa di sekitarnya sepi. Saat dia menoleh ke belakang, Jiwo dibuat terkejut karena ke lima istrinya tidak ada yang mengikutinya. Mau tidak mau, Jiwo kembali ke tempat istrinya berada.
"Wah! Yang habis ketemu mantan, istrinya sampe ditinggalin begitu aja," celetuk Arin.
"Siapa yang ninggalin? Kan aku udah ngajak tadi? Kenapa kalian malah nggak ngikutin?" bantah Jiwo sedikit kesal.
"Biasanya juga jalan bareng kalo ngajak pulang? Nggak pergi begitu saja? Apa segitu kuatnya pengaruh wanita itu? Baru sebentar ngobrol aja langsung istrinya ditinggalin?" cerca Anisa.
"Ya nggak gitu," Jiwo merasa frustasi. "Ya udahlah terserah kalian mau gimana," ucap Jiwo pasrah lalu dia kembali berbalik badan dan melangkah meninggalkan istrinya dengan perasaan kesal.
__ADS_1
Suasana hati Jiwo mendadak berubah jadi buruk setelah bertemu dan berbicara dengan mantan kekasihnya yang sudah janda. Dia tak habis pikir, kenapa wanita itu seperti tidak punya malu berbicara sepeti tentang perasaanya. Sudah tidak pernah merasa bersalah, sekarang malah sok sokan bersikap manis. Maksudnya apa coba.
Belum lagi ledekan para istrinya. Daripada nanti dia malah meluapkan emosi kepada para istri karena ledekan mereka, Jiwo memilih pulang terlebih dahulu. Meninggalkan istrinya. Namun sikap Jiwo justru malah membuat istrinya salah paham.
"Sepertinya, Mister memang belum bisa move on dari mantannya. Tuh! Dia ninggalin kita gitu aja," ucap Alana yang merasa kecewa.
"Wajar sih, secara, hubungan mereka terjalin selama tujuh tahun. Pasti bekasnya masih tercetak jelas di hati Mister. Nah kita, nikah aja pake surat perjanjian. Terus selama ini, apa Mister pernah bilang cinta ke kita? Tidak pernah, kan?" Alena pun ikut bersuara.
"Tapi kan Mister sering bilang sayang sama kita? Bukankah sama aja yah? Sayang dan Cinta itu?" ucap Arin.
"Beda lah, Rin," balas Aluna. "Kalau cinta sudah pasti sayang, tapi kalau sayang belum tentu cinta."
"Nih contoh ya, lihat diri kita. Sebagai istri yang mempunyai satu suami, kita saling menyayangi, tapi tidak ada cinta, kan, diantara kita? Berbeda dengan Mister, mungkin dia sayang sama kita, tapi tidak pernah ada cinta dihatinya untuk kita. Lain halnya Mister dengan janda itu. Mereka pernah saling mencintai, apa lagi dalam waktu yang lama. Pasti Mister sering mengatakan kata cinta pada dia dulu. Ya pasti masih membekas sampe rasanya sampe sekarang," jawab Aluna dengan gamblang.
"Bener juga sih kata Aluna, aku aja sampe sekarang kadang ke ingat mantan pacarku, mungkin karena pernah cinta kali ya?" ucap Alana. "Padahal aku dan pacar pacarku dulu berhubungan cuma beberapa bulan aja, tapi sampe sekarang kadang masih ke inget, apa yang kita lakukan dan sebagainya."
__ADS_1
"Aku juga," sambung Alena. "Malah dulu, sebelum ada konflik, aku juga sering loh, membayangkan balikan sama mantan. Kalau ketemu juga suka salah tingkah gitu."
"Nah itulah bedanya cinta sama sayang. Selama ini, hanya kita yang mencintai Mister, tapi tidak dengan Mister. Dia hanya sayang sama kita dan merasa tanggung jawab aja," ucap Aluna.
"Terus nasib kita gimana? Apa Mister akan membuang kita?" tanya Anisa.
"Nggak tahu deh, ya kita harus siap diri aja jika itu terjadi. Atau kita aja yang berinisiatif pergi duluan. Daripada kita nanti yang terusir. Apa lagi kita hanya nikah siri. Akan sangat mudah buat Mister membuang kita."
"Ternyata pesona mantan lebih kuat pengaruhnya daripada kita para istri. Sekarang aja, Mister sudah pulang duluan tanpa peduli kita yang sedang hamil besar. Miris!"
Kelima istri Jiwo tersenyum kecut. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang dengan perasaan kecewa. Berbeda dengan Jiwo yang lebih dulu sampai rumah. Dia langsung masuk ke kamar lamanya tanpa peduli dengan pertanyaan para istri yang ada di rumah. Setelah merebahkan badannya beberapa saat sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi, lama kelamaan rasa kantuk pun menghampiri. Akhirnya Jiwo kembali terlelap saat itu juga.
Hingga dua jam kemudian, Mata Jiwo terbuka. Dia melihat jam di dinding udah pukul sembilan pagi. Dia pun bergegas bangun dan beranjak keluar kamar.
Jiwo tercengang. Begitu keluar kamar, rumah terlihat begitu sepi. Jiwo melangkah ke rumah baru, tapi hasilnya sama. Tidak ada satupun orang disana. Sedangkan Emak memang pergj ke rumah adiknya Jiwo.
__ADS_1
"Istri istriku pada kemana?"
...@@@@@@...