
Setelah memarahi anak buahnya habis habisan, Hendrik meluruhkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Dia baru kali ini terlihat sangat frustasi karena masalah yang terjadi dalam bisnisnya. Sesekali dia memijat pelipisnya yang merasa pusing akibat masalah berat yang datang akibat kebodohan anak buahnya.
Disaat dia pusing mencari jalan keluar untuk masalahnya, Suryo datang dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Jelas sekali ada amarah yang ingin pria itu luapkan kepada rekan bisnis kotornya. Hendrik hanya bisa pasrah jika Suryo akan memakinya.
"Bagaimana bisa gadis gadis itu menikah, Hendrik? Bagaimana bisa kita kecolongan sejauh ini?" tanya Suryo dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan itu.
"Aku sendiri juga baru dengar kabar itu belum lama ini, Tuan. Aku aja kaget dan nggak percaya mendengarnya," balas Hendrik dengan sikap berusaha sesantai mungkin.
Terus kalau mereka sudah tidak suci lagi, kita rugi besar, Hendrik!" ucap Suryo berang.
"Ya mau bagaimana lagi, Tuan Suryo. Aku sendiri nggak tahu bakal ada kejadian seperti ini," balas Hendrik masih dengan menahan emosinya. "Tapi ada hal lain yang lebih membahayakan lagi untuk kita, Tuan."
"Apa itu?"
"Wanita wanita itu mengaku kalau mereka akan dijadikan wanita panggilan."
"Apa!"
Di saat para oknum sedang kelimpungan dengan kabar yang baru saja mereka dengar, di saat yang sama, para wanita itu justru sedang tertawa riang bersama satu pria yang menjadi suami mereka. Di hadapan mereka, berserakan barang dagangan yang sedang di pilah sesuai jenis dan harganya.
Jiwo memang rutin seminggu sekali mengontrol barang dagangannya. Dia akan menghitung dan memperkirakan kapan dia akan pergi belanja untuk memenuhi stok yang yang berkurang atau bahkan habis. Selain itu, dia juga sedang membahas rencana usaha yang akan dijalani istri istrinya agar tidak jenuh berada di rumah terus tiap hari.
Sejak memiliki banyak istri, pekerjaan Jiwo memang benar benar menjadi sangat ringan. Biasanya jika sedang mengontrol barang dagangan Jiwo hampir menghabiskan waktu seharian. Tapi saat ini,semua pekerjaannya hampir selesai hanya dalam waktu dua jam lebih sedikit.
__ADS_1
"Jadi kira kira kapan Mister akan pergi belanja?" tanya Anisa.
"Mungkin dua minggu lagi, sekalian beli dagangan buat kalian. Harusnya hari ini kita ke pasar buat ngecek lapak," balas Jiwo sambil sesekali menyesap batang rokok yang terselip di celah jarinya.
"Mister mau belanja sendiri atau gimana?" tanya Arum.
"Mungkin aku akan ngajak salah satu diantara kalian, nggak apa apa kan?"
"Ya nggak apa apa, Mister. Lagian kalau kita ikut semua yang ada malah tambah repot," balas Alifa.
Jiwo tersenyum tipis. "Makasih ya atas pengertian kalian. Entar deh kalau ada waktu, kita rame rame main ke pantai."
"Benarkah?" Jiwo mengangguk pasti. "Yeeh!" semua istri Jiwo bersorak senang, dan Jiwo hanya bisa menyunggingkan senyum melihat kebahagiaan sederhana para istrinya.
"Biar aku saja yang membuka pintu," ucap Jiwo sembari berdiri dan beranjak menuju pintu di ruang tamu.
"Eh, Pak Rt, ada apa?" tanya Jiwo begitu tahu siapa yang datang bertamu.
"Loh? Kamu di rumah, Wo?" bukannya menjawab, Pak Rt malah melempar pertanyaan dengan raut terkejut.
"Libur dulu lah, Pak. Capek. Duduk dulu, Pak," balas Jiwo lalu mempersilakan Pak Rt duduk di kursi teras depan. "Pak Rt ada perlu?"
"Iya, Wo. Itu soal mobilnya penjahat, mau diapain? Nggak enak sama yang punya lahan, Wo. Kenapa nggak diserahkan saja ke pihak polisi sih?"
__ADS_1
"Penginnya sih gitu, Pak, tapi kan orangnya sudah kabur. Padahal itu bisa jadikan barang bukti."
"Terus? Gimana nasib tu mobil? Apa nggak sebaiknya di taruh di halaman rumah kamu aja? Kunci mobilnya ada di kamu kan?"
Jiwo nampak manggut manggut beberapa kali. "Baiklah, nanti aku ambil aja, Pak Rt."
"Iya, gitu lebih baik. Emang kemarin beneran, Wo? Yang menculik istri kamu itu oknum yang mau menjual istri istri kamu?"
"Ya beneran lah, Pak. Buktinya mereka bisa menemukan istri istriku sampai sini. Berarti kan mereka memang mencarinya."
"Iya yah? Mereka pasti nggak mau kehilangan sumber uang mereka begitu saja. Kalau masih segel, bisa laku dengan harga tinggi, wo."
"Ya, sepertinya begitu. Heran sama orang yang tega menjebak mereka. Orang lagi pada susah malah dijerumuskan."
"Iya benar, Wo. Maka itu, Wo, sebaiknya kamu buruan gerak cepat? Kamu amankan istri istri kamu!"
Gerak cepat? Maksud Pak Rt?"
"Kamu renggut semua mahkota istri istri kamu aja, Wo. Jika itu terjadi, para penjahat bisa apa?"
Deg!
@@@@@@
__ADS_1