
"Apa ada masalah lagi, Pak?" tanya Jiwo setelah tadi berbasa basi sejenak saat untuk memulai obrolan dengan Pak Lurah.
"Apa kamu sudah dengar berita tentang kamu dan istri istri kamu, Wo?"
"Sudah, Pak. Tadi aku sudah baca semuanya. Emang ada apa, Pak? Apa ada masalah?"
"Iya, Wo. Masalah besar. Besok Bupati akan kesini untuk bertermu, Wo."
"Apa!"
Betapa terkejutnya Jiwo begitu mendengar kabar tersebut. Apa lagi kata Pak Lurah, Bupati datang kesana untuk meminta klarifikasi Jiwo tentang berita yang menyebar. Jiwo tidak menyangka efek dari berita yang tersebar menyebabkan kekisruhan antara kedutaan dan pemerintah.
Setelah berbicara cukup lama, Pak Lurah lantas pamit. Semenjak itu, Jiwo jadi kepikiran akan kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa dirinya. Sebelum semuanya jelas, Jiwo memilih tidak menceritakan berita itu kepada istrinya. Jiwo hanya mengatakan kalau besok akan ada tamu penting tanpa menceritakan alasan sang tamu datang ke rumah itu.
"Wo, sebenarnnya siapa sih yang nyebarin berita nggak benar kayak gitu?" tanya Emak beberapa menit kemudian kemudian setelah Pak Lurah pulang. Kini mereka sedang duduk di ruang tamu.
"Nggak tahu, Mak. Paling orang dekat. Abis bisa tahu banget tentang kita. Mana semuanya pake foto lapak segala lagi. Bener bener niat itu orang untuk ngancurin nama baikku," jawab Jiwo sambil mencomot singkong goreng diatas meja.
"Kok ya iseng banget gitu? Kalau ada masalah, harusnya ngomong langsung. Nggak bikin fitnah begitu."
__ADS_1
"Ya udahlah, Mak, biarin aja. Emak pikirkan aja menu buat menjamu Pak Bupati besok."
"Emang jam berapa datangnya?"
"Katanya sih siang. Tunggu kabar saja dari Pak Lurah."
"Berarti Emak harus pagi pagi ke pasarnya. Baiklah, besok masak yang spesial, masakan istri kamu kan enak.".
"Terserah Emak aja enaknya gimana."
Pembahasan pun berakhir begitu terdengar suara merdu dari arah masjid. Mereka langsung melakukan kegiatan petang seperti biasanya. Setelah ritual petang selesai, Jiwo memilih duduk di teras rumah sambil menyesap batang rokok serta memikiran semua hal yang sedang dia alami.
"Mister lagi ngapain?" suara seorang wanita menyadarkan Jiwo yang sedang melamun. Pria itu menoleh lalu mengulas senyum kepada si wanita yang merupakan istrinya.
"Nggak ngapa ngapain, Dek. Bengong aja ini," balas Jiwo lalu kembali menyesap batang rokoknya.
Alena memilih duduk di atas tembok. "Berarti besok kita libur jualan semua?"
"Iya lah, kan tadi aku udah bilang."
__ADS_1
"Hmm ... padahal lagi seru serunya jualan, kok ya ada aja masalah gara gara kita," keluh Alena merasa tidak enak hati. "Sejak kita datang, masalah juga datang menghampiri Mister dan Emak. Kenapa bisa begini? Apa kedatangan kami hanya sebagai pembawa sial?"
Jiwo terdiam, ditatapnya wanita yang sedang menatap lurus ke depan itu, lalu Jiwo mengulas senyum. "Jangan berpikiran yang tidak tidak. Nggak ada namanya orang yang disebut sebagai pembawa sial. Yang ada ini memang jalan takdir."
"Kalau ini memang jalan takdir, kenapa takdir baik seperti tidak memihak pada kami? Bahkan Mister dan Emak juga. Sudah sebulan kita disini, tapi yang didapat kok ya masalah mulu," keluh Alena dengan nada kesal. Dia merasa kesal dengan keadaan yang selalu mengusik ketenangan dirinya dan juga istri Jiwo yang lain.
"Kalau nggak ada masalah, berarti bukan hidup namanya, Dek. Semua yang namanya makhluk hidup itu punya masalahnya sendiri sendiri. Kita bisa saja melihat orang lain seperti tidak ada masalah. Bisa saja yang sebenarnya masalah orang itu lebih berat dari kita. Kita nggak ada yang tahu, Sayang."
Alena terdiam. Tidak ada bantahan lagi yang keluar dari mulutnya begitu mendengar perkataan sang suami. Sepertinya dia mencerna ucapan sang suami dan menemukan kebenaran dalam kata katanya. Alina memutar lutut hingga kini dia menatap suaminya.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan kali ini, Mister?"
Sejenak Jiwo mengulas senyum sembari membalas tatapan Alena. "Untuk saat ini, kalian tidak perlu melakukan apa apa. Biarlah nanti aku yang menghadapi. Jika dibutuhkan, baru aku akan meminta kalian untuk membuka suara dan mengatakan yang sebenarnya."
Dengan tatapan memicing, Alena menatap suaminya sambil berpikir. Beberapa detik kemudian dia mengangguk dengan mengulas senyum. Jiwo lantas membalas senyuman Alena juga.
"Malam ini Mister mau masukin barang Mister yang di dalam sarung nggak?" Jiwo langsung terbahak mendengar pertanyaan Alena. Bisa bisanya Alena bertanya seperi itu saat obrolan mereka sedang sangat serius.
"Lihat saja nanti, Sayang," balas Jiwo dan Alena hanya mengangguk pasrah.
__ADS_1
...@@@@@@...