
Musyawarah keluarga itu berakhir dengan kesepakatan yang menyenangkan. Baik bagi pihak istri maupuan bagi pihak suami. Sepanjang sejarah pernikahan di dunia, mungkin baru kali ini ada musyawarah untuk membahas hubungan ranjang suami istri. Ditambah lagi dari keputusan hasil musyawarah tersebut, pihak suamilah yang nampaknya dapat untung besar jika dilihat dari sudut pandang pria di seluruh dunia.
Bagaimana bisa sang suami dianggap untung besar dalam musyarawah itu? Sudah pasti sang suami yang berjumlah satu orang, bisa dengan mudah menikmati tiga belas wanita yang telah sah menjadi istrinya. Berbagai bentuk dan ukuran milik para istri akan dia nikmati semua dengan senang hati. Bukankah itu untung besar?
Itulah yang dirasakan Jiwo saat ini. Hatinya sungguh menghangat dan bahagia karena ketulusan para istrinya yang siap digilir kapanpun saat Jiwo ingin menyalurkan kebutuhan batinnya. Sejak musyarawah berakhir, angan angan dia selalu melambung dan tertuju ke arah kenikmatan surga dunia.
Setelah musyawarah selesai, Jiwo memilih merebahkan badannya di dalam kamar. Tidak banyak kegiatan yang harus bisa dia lakukan hari ini makanya dia memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sedangkan para istri seperti biasa, mereka lebih banyak berkumpul dan bersantai tiap harinya.
Sementara itu di dalam sebuah toko sembako, sepasang suami istri sedang berpikir keras tentang mencari cara untuk membuktikan ucapan mereka mengenai orang yang dia benci. Titin dan Malik sungguh sangat tidak terima jika dia harus minta maaf pada pria yang sangat mereka benci itu. Mereka lebih memilih berusaha mencari bukti agar nama Jiwo jatuh di mata masyarakat.
"Mas, kira kira orang yang kemarin ngobrol sama kita, mereka tinggal dimana ya?" tanya Titin sembari menimbang gula pasir dengan ukuran setengah kilo gram.
"Aku sih yakin, mereka masih tinggal di daerah sini. Kalau mereka memang akan menjemput istri istri Jiwo, berarti sudah dipastikan kalau orang itu nggak bakalan tinggal jauh," jawab Malik yang saat ini duduk di kursi yang biasa digunakan untuk mengurusi keuangan.
"Iya juga sih, lagian itu orang seharusnya cepat bertindak ngatasin semua istri Jiwo itu, bukannya ngilang."
__ADS_1
"Ya mungkin orang itu nunggu waktu yang tepat. Kan kita dengar sendiri kalau mereka bukan wanita baik baik, sudah pasti mereka memiliki banyak akal agar mereka bisa tetap bertahan di rumah Jiwo."
"Benar juga ya, Mas. Tapi kita juga harus gerak cepat juga kan, Mas? Sebelum Jiwo bertindak."
"Halah, punya apa dia? Mau nuntut kita? Nggak bakalan mampu, cuma beraninya maen gertak, aku juga bisa."
Titin tersenyum sinis. Terlihat jelas sekali kalau mantan kekasih Jiwo itu sangat meremehkan pria yang pernah berkorban banyak untuk wanita itu. Entah apa yang ada dihati Titin saat ini, dia seperti tidak rela melihat Jiwo mendapat kebahagiaan dari wanita lain. Dia seperti wanita yang tidak sadar diri kalau dialah yang punya salah, tapi dia malah selalu merasa senang melihat Jiwo dalam kesusahan sejak dirinya benar benar putus hubungan dengan Jiwo.
Sore kini menjelang. Sepasang suami istri itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Tapi di tengah perjalanan, mata Malik menangkap wajah seseorang yang dia kenal keluar dari sebuah toko dan masuk ke dalam mobil. Malik sontak menyeringai dan dia segera saja mendekat ke arah mobil itu sebelum mobil itu pergi.
Orang yang berada di dalam mobil sontak terkejut saat ada yang mengetuk kaca mobilnya. Kening orang itu berkerut mengingat ingat siapa pria yang telah mengetuk kaca mobilnya. Namun tak butuh waktu lama, pria itu tersenyum lebar saat dia mengingat semuanya. Orang itu lantas menurunkan kaca mobilnya.
"Wah! Kita ketemu lagi," ucap orang yang ada di dalam mobil.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" pinta Malik.
__ADS_1
"Tentu," orang itu memilih turun dari mobil. "Kita bicara dimana?"
Malik menunjuk emperan toko yang tutup dihadapan mereka. Orang itu setuju dan mereka beranjak kesana diikuti oleh istrinya Malik.
"Ada apa, Mas? Sepertinya serius banget?" tanya orang itu yang tak lain adalah Bejo. Dia bersama rekannya telah sampai di tempat tujuan mereka sejak beberapa jam yang lalu. Saat ini kedua rekannya sedang berada di kontrakan dan Bejo keluar sendirian karena ada yang harus dia beli.
"Aku butuh bantuan kamu, Mas," ucap Malik langsung ke tujuan utama dia menemui Bejo.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Bejo dengan kening yang berkerut.
Kamu tahu kan kalau tiga belas wanita itu semuanya wanita nggak benar? Kamu ikut ke rumahku dan katakan pada Bapakku kalau mereka bukan perempuan baik baik. Aku butuh bukti buat ngusir mereka."
"Waduh!"
...@@@@@...
__ADS_1