MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Peraturan


__ADS_3

Waktu terus merangkak maju. Kini jam di dinding menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit, bertanda kalau pagi telah menyapa kembali. Dari dalam kamar di salah satu rumah penduduk, seorang pria nampak tersadar dari lelapnya. Pria itu terdengar mengeluarkan suara khas orang bangun tidur sembari mengerjapkan matanya.


Begitu mata yang masih ada sisa rasa kantuk perlahan terbuka, mata pria itu menatap seorang wanita yang masih terlelap sembari memunggunginya. Bibir pria itu merekahkan senyum tipisnya saat kepalanya teringat dengan malam panjang yang baru saja dia lewati bersama wanita itu. Bahkan hingga saat bangun tidur, pria itu tidak berbusana. Hanya ada selimut yang menutupi bagian perut ke bawah, sedangkan sisa selimut yang lain menutupi tubuh istrinya.


Jiwo lantas bangkit perlahan dan duduk bersandar. Matanya terus menatap lekat wanita yang telah memberi sesuatu yang berharga untuk dirinya. Masih teringat jelas dalam ingatan Jiwo, permainan ronde kedua yang diminta istrinya. Wanita itu dengan sangat suka rela membiarkan Jiwo mencoba berbagai macam gaya yang Jiwo minta. Dengan senyum penuh ketulusan, Alana menuruti semua gaya yang Jiwo inginkan.


Jika boleh jujur, sebenarnya ada rasa malu dalam diri Jiwo. Dia yang awalnya beberapa kali menolak ajakan Alana, tapi di ronde kedua, Jiwo yang paling semangat dan beringas hingga hampir satu jam lamanya permainan di ronde kedua.


Setelah cukup puas membayangkan kejadian malam pertamanya, Jiwo bergerak meraih pakaiannya yang berserakan di lantai dan mengenakannya. Sebelum beranjak keluar kamar, Jiwo mengecup pipi Alana dengan penuh perasaan dan membiarkan wanita itu tetap tertidur.


"Pagi, Mister?" sapa beberapa istri Jiwo begitu pria itu keluar.


Pagi juga," balas Jiwo agak canggung. "Emak udah berangkat?"


"Udah, tadi berangkat bareng Ais, Adiba dan Andin." jawab Alifa dan dia juga tak lupa melempar pertanyaan. "Alana masih tidur apa, Mister?"


Sebelum menjawab, Jiwo mendudukan tubuhnya di kursi panjanng dekat istri istrinya berada. Sedangkan salah satu istrinya memilih bangkit menuju dapur guna menyiapkan kopi untuk Jiwo.


"Alana semalam tidak bisa tidur. Biarkan saja dia istirahat di kamarku," kilah Jiwo. Tentu saja Jiwo terpaksa berbohong. Dia tidak mungkin mengakui tentang apa yang terjadi antara dia dan Alana semalam. Entah apa yang akan terjadi jika istri istrinya tahu, Jiwo telah ingkar janji. Apa mungkin mereka akan kecewa?

__ADS_1


"Anum, kamu sendiri gimana keadaannya? Kamu baik baik saja kan?" tanya Jiwo kepada salah satu istrinya yang duduk di lantai.


"Saya baik baik saja, Mister. Terima kasih. Lewat Mister, Tuhan masih melindungi saya."


"Apa Alana sangat terguncang, Mister?" tanya Aluna.


"Bisa jadi. Maka itu, kalian harus bisa bekerja sama untuk menjaga diri kalian sendiri. Kalian pasti tahu kan? Saya belum tentu selalu ada dan datang tepat waktu jika masalah menimpa kalian. Setidaknya kalian harus lebih waspada lagi. Mungkin saja saat ini mereka juga sedang merencanakan hal lain lagi," ucap Jiwo lumayan panjang. Dia meraih cangkir kopi yang diletakan di meja sebelah kanannya, lalu menyeruput isinya.


"Baik, Mister. Kami juga minta maaf, karena sejak kami disini, kami selalu merepotkan."


"Hust! Jangan ngomong kayak gitu. Saya sudah berulang kali bilang, kalian itu sekarang menjadi istri istri saya, jadi sudah menjadi kewajiban saya melindungi kalian. Tapi saya juga meminta pada kalian, kalian juga harus bisa saling jaga diri, mengerti?"


"Mengerti, Mister!" jawab para istri hampir bersamaan. Jiwo sontak mengulas senyum dan mereka kembali larut dalam obrolan pagi. Mereka saling berbagi kisah dan juga saling melempar candaan satu sama lain hingga suara tawa memecah ruang tengah tersebut.


"Yah, kenapa? Oh iya, agar lebih mudah, aku memangggil kalian Dek saja ya?" ucap Jiwo.


"Terserah Mister saja enaknya gimana," timpal Alifa.


"Baiklah, ada apa?" tanya Jiwo dengan tatapan tertuju pada Aziza.

__ADS_1


"Jika suatu saat kami tidak bisa kembali ke negara kami? Apa Mister akan tetap menganggap kami istri istri Mister?"


Sejenak Jiwo tertegun mendengar pertanyaan dari Aziza. Baru saja Jiwo semalam membahas tentang ini dengan Alana, sekarang malah istri yang lain juga mempertanyakannya.


"Kalau kita memang ditakdirkan menjadi suami istri sampai tidak ada batas waktu, berarti selama itu pula kalian akan tetap menjadi istri istri saya. Dan saya tidak akan mengucap talak jika kalian yang minta."


"Mister tidak akan memilih salah satu diantara kita?" tanya Anisa.


"Tidak. Jika saya memillih salah satu, harusnya dari awal saya memilih. Lagian jika saya memilih nantinya, apa kalian siap lepas dari saya?"


"Tidak, Mister. Saya ingin tetap jadi istri Mister."


"Iya, saya juga."


"Saya juga."


"Saya juga iya."


"Ya udah, sekarang sudah jelas kan? Tidak akan ada yang saya lepaskan, tapi kalian juga harus mematuhi peraturan yang saya buat selama kalian jadi istri saya, bagaimana?"

__ADS_1


"Peraturan?"


...@@@@@...


__ADS_2