
Kabar kedatangan dari kedutaan telah di terima oleh keluarga Jiwo. Kabar itu di sampaikan secara berantai hingga sampai ke telinga Jiwo yang saat itu baru saja terbangun dari tidurnya. Beruntung Jiwo sudah mengantisipasinya, jadi saat berita itu benar benar pasti, Jiwo bisa menyambutnya dengan sebaik mungkin.
Bukan hanya dari pihak kedutaan yang akan datang, Jiwo juga mendengar ada pihak dari dinas pemerintah lainnya yang turut serta dalam kunjungan tersebut. Entah ada hal apa yang membuat mereka mau datang ke rumah pria itu. Yang pasti pagi ini dilalui Jiwo dengan perasaan yang tidak tenang.
Berita tentang Jiwo yang menikahi tiga belas wanita pengungsi dari luar negeri sudah meluas ke berbagai kalangan di seluruh penduduk negara ini. Beberapa hari ini, berita tentang Jiwo terus digencarkan berbagai media. Tentu saja dengan mencuatnya berita tersebut, pro dan kontra lantas bermunculan.
Banyak yang mendukung keputusan Jiwo saat mereka mendengar alasannya, tapi tak sedikit pula yang mencibir dan berkata buruk tentang pernikahan itu. Dan banyak juga yang menganggap pernikahan Jiwo adalah hal yang lucu juga membuat iri.
Salah satu yang membuat para netizen penasaran adalah tentang damai dan akurnya para istri Jiwo. Dalam sebuah wawancara disebutkan para istri Jiwo selalu terlihat akur serta kompak. zHal itu membuat banyak warga tidak percaya serta mereka seakan akan menuntut bukti.
"Hebat ya Jiwo, bisa menikahi tiga belas wanita sekaligus! Mana ceweknya bening bening banget lagi, pake dukun mana dia yah?" ucap seorang laki laki kepada temannya di sebuah warung makan dekat terminal.
"Hahaha ... pakai dukun? Mana ada! Lagian kan Jiwo nikahnya udah lama, kenapa sekarang baru viral ya?" ucap temannya sambil menguyah makanannya.
"Udah lama? Kata siapa, Bro?"
__ADS_1
"Ya banyak yang cerita. Hampir semua orang pasar juga pada tahu. Malah istri istrinya juga ikut jualan, dan nyatanya memang mereka itu cantik cantik banget."
"Yang bener, Bro? Wah mantap! Jadi pengin lihat."
"Lihat aja sana ke pasar! Deket toko baju 'Busana Inyong' yang jalan masuk ke pasar itu. Mereka jualannya disitu."
Itulah salah satu dari banyaknya mulut yang bercengkrama membahas tentang Jiwo dan kisahnya. Dari cerita yang bergema kemana mana, membuat dua orang yang sangat membenci Jiwo semakin meradang. Dua orang berstatus suami istri tersebut selalu mengumpat setiap kali mendengar Jiwo sedang menjadi bahan pembicaraan.
"Kalau bukan karena saya, mana mungkin Jiwo bisa viral kayak gini!" ucap Malik dari lantai dua ruko yang dia tempati bersama istrinya. "Harusnya dia berterima kasih sama saya, karena dia jadi terkenal begitu karena postingan saya!"
"Ngomongnya jangan keras keras, Mas! Nanti ada yang dengar. Kamu mau dapat masalah lagi?" ucap Titin menasehati yang suami dengan pelan. Sejak Pak Lurah dan istrinya mendiamkan mereka berdua, sepasang suami istri tersebut memilih hidup di ruko tempat dagang mereka.
"Kalau ada orang yang dengar, Mas Malik yang posting tentang Jiwo bagaimana? Apa lagi postingan itu isinya berita yang nggak benar. Mas Malik mau, dituntut oleh Jiwo?" balas Titin mengingatkan.
"Dituntut bagaimana? Harusnya dia berterima kasih bukannya menuntut. Lagian dia dapat uang dari mana untuk nuntut saya? Untuk makan aja dia harus keliling dulu. Ditambah lagi dia menyuruh istrinya cari duit, jadi, mana mampu dia nuntut aku," balas Malik dengan sombongnya.
__ADS_1
"Ya kan kali aja dia mendapat bantuan. Mas lihat kan kemarin? Bupati aja salut sama Jiwo dan mengutuk keras orang yang posting. Bisa saja Jiwo memanfaakan keadaan itu untuk mencari simpati dan bantuan."
Malik tersenyum sinis. "Wajarlah kalau Bupati salut, Jiwo kan paling pinter bermuka dua. Paling kemarin juga Jiwo cuma ngedrama doang biar yang lain pada simpatik," balas Malik dengan segala pikiran buruknya. Setelah itu dia bangkit dan beranjak turun ke lantai dasar.
Pada saat telapak kaki Malik menginjakan kakinya di lantai dasar, telinga Malik mendengar percakapan salah satu karyawan tokonya bersama seorang pembeli. Malik mendengus sebal karena mereka ternyata juga sedang menceritakan tentang Jiwo.
"Kenapa sih, Bu? Jiwo terus yang dibahas? Dimana mana Jiwo terus yang diributkan, sampai bosen aku mendengarnya," ucap Malik menyela pembicaraan yang terjadi di hadapannya.
"Ya kan Jiwo emang lagi rame, Pak Malik. Wajar jadi bahan pembicaraan," balas sang pembeli dengan santainya.
"Ramai apaan? Orang biasa aja," cibir Malik terlihat sangat kesal.
"Loh, Pak Malik nggak tahu?"
"Tahu apa?"
__ADS_1
"Jiwo kan di undang di berbagai acara televisi sebagai bintang tamu, hebatkan!"
...@@@@@...