MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Di Toilet Pasar


__ADS_3

"Dek, aku ke toilet dulu ya? Setelah itu kita pulang. Kamu jangan kemana mana, tunggu disini aja."


"Baik, Mister."


Jiwo dengan langkah santai langsung menuju ke arah toilet terdekat. Di pasar memang ada beberapa toilet. Bahkan ada kios yang sengaja dijadikan toilet oleh pemiliknya. Usaha toilet memang lumayan menguntungkan. Dengan tarif seribu untuk buang air kecil, dua ribu untuk buang air besar dan lima ribu untuk mandi, menjadikan usaha itu, dilirik oleh sebagian orang.


Sementara itu, di dalam sebuah toilet, salah satu istri Jiwo juga sedang berada di dalam sana. Setelah buang air kecil, istri Jiwo yang sudah terbiasa dipanggil Adiba itu keluar dari kamar mandi dan berdiri di depan kaca yang tersedia disana untuk merapikan diri.


Tanpa Adiba sadari, diluar toilet tersebut ada pria yang sedang menunggu dia keluar. Dengan perasaan was was, pria bernama Wito menunggu sembari mengawasi keadaan. Kebetulan pada saat itu penjaga toilet baru saja pergi buat beli nasi bungkus, sedangkan letak toilet berada di salah satu sudut pasar yang terbilang sepi.


Pria bernama Wito itu berencana mengancam Adiba diam diam agar mengikutinya. Sebuah belati juga sudah dipersiapkan di balik jaket tebal yang dia pakai. Sementara itu tak jauh dari keberadaannya, Hendrik dan Kamso juga mengawasi gerak gerik Wito dan memantau keadaan sekitar.


Hendrik memberi kode supaya Wito masuk ke dalam toilet. Wito pun mengangguk dan dia segera saja beranjak masuk. Tapi saat langkah kakinya hampir memasuki toilet dimana Adiba berada, seorang pria datang mengejutkannya. Wito terkesiap, dia kenal siapa laki laki itu.


"Itu kan toilet wanita, Mas. Ngapain mau masuk disitu? Mau mesum ya?" hardik pria itu yang baru datang dengan tatapan curiga.


Wito pun semakin panik dan dia langsung berpikir untuk mencari alasan. Wito berusaha tenang dari rasa panik yang menyerang. "Ah iya, maaf aku nggak tahu."

__ADS_1


"Masa nggak tahu, tulisan segede itu?" cerca si pria tadi sambil menunjuk tulisan wanita yang nempel di pintu masuk toilet.


"Serius, Mas, aku nggak tahu," ucap Wito berusaha meyakinkan.


Bersamaan dengan itu, sang penjaga toilet pun datang dengan menenteng kantung plastik berisi nasi bungkus. Pria yang baru saja datang itu langsung melapor apa yang baru saja terjadi. Tentu saja Wito dan penjaga toilet terkejut.


"Bukankah Masnya yang dari tadi berdiri disini? Aku pikir lagi nungguin istrinya keluar?" ucap si penjaga toilet dengan pandangan ke arah Wito.


Dan didetik itu juga, Adiba keluar toilet dan langsung bersuara karena merasa terkejut melihat seseorang tanpa curiga dengan apa yang sedang terjadi. "Eh, ada Mister?"


"Loh, Dek, kamu di dalam?" tanya Jiwo masih memasang wajah terkejutnya.


Pria bernama Wito sontak saja makin panik. Dia segera saja langsung kabur di saat Jiwo dan penjaga lengah.


"Ah, brengsek! Kabur dia!" seru Jiwo. "Heh cabul berhenti!"


Jiwo dan penjaga toilet langsung saja mengejarnya. Tapi sayang, banyaknya lapak dan orang orang berlalu lalang, membuat mereka kehilangan jejak. Mereka lantas kembali ke toilet sambil menceritakan kronologi kejadian pada penjaga toilet.

__ADS_1


Seandainya saja, Jiwo bisa mengingat siapa pria itu, pasti dia bakalan kaget. Wito adalah salah satu orang yang dulu pernah Jiwo lepaskan bersama Bejo dan si plontos. Tapi sayang, Jiwo tidak mengingat wajahnya sama sekali.


"Lain kali hati hati, Mas. Jangan sampai ada kejadian seperti itu lagi. Kalau perlu pasang CCTV," ucap Jiwo menasehati.


"Iya, Mas, terima kasih, nanti aku usahakan," jawab penjaga toilet merasa tidak enak hati. Apa lagi setelah dia tahu kalau wanita yang ada di dalam toilet adalah istri Jiwo, perasaan penjaga toilet makin nggak enak.


"Tadi siapa, Mister?" tanya Adiba begitu melihat suaminya kembali ke tempat semula.


"Nggak tahu, sepertinya dia mau mesum sama kamu, Dek," balas Jiwo. Nada bicaranya masih terdengar kesal. "Lain kali kalau ke toilet minta ditemenin, Dek. Jangan sendirian. Takut kejadian kayak gini lagi."


"Oh iya, Mister, maaf."


Jiwo dan Adiba lantas pergi meninggalkan toilet. Sedangkan Wito sedang terengah engah sembari duduk disalah satu sudut pasar yang lainnya. Dia segera memberi tahu Bos dan rekannya, dimana Wito berada sekarang.


"Sial! Hampir saja aku ke tangkap lagi."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2