
"Kenapa kalian malah nyusul? Ngikutin aku lagi?" ke empat wanita yang sedang memegang gelas berisi es cendol sontak nyengir bersamaan ketika suami mereka melempar pertanyaan. "Orang disuruh nunggu di rumah, malah ngikutin. Dasar bandel kalian."
"Kami ngikutin kan karena kami khawatir, Mister. Kalau Mister kenapa napa, bagaimana?" ucap Arin membela diri.
"Iya, kalau Mister terluka gimana?" sambung Aluna.
"Aku malah mikirnya, Mister akan ngebunuh orang itu karena sangat emosi," timpal Adiba.
"Hahaha ... kalian ini, mikirnya kejauhan!" balas Jiwo lalu dia ikutan menyeruput gelas berisi es cendol juga.
Setelah drama yang terjadi di depan ruko milim Malik, Jiwo beserta empat istrinya memilih duduk di taman kota. Meski masih emosi, karena desakan warga dan para istrinya, Jiwo memilih mengalah dan mengakhiri semuanya. Namun Jiwo juga tidak main main dengan ancamannya. Dia akan bertindak tegas. Jiwo akan melaporkan perbuatan Malik ke pihak yang berwajib.
Jiwo tak habis pikir, hanya karena masa lalu, Malik masih menyimpan dendam tak berkesudahan sampai dia bisa melakukan perbuatan sepengecut itu. Tapi ucapan terakhir Titin ada benarnya, kalau bukan karena ulah Malik, Jiwo tidak akan mendapat rejeki bertubi tubi di usia pernikahannya yang menuju dua bulan.
"Kalau Mister menghilangkan nyawa orang, terus yang melindungi kita siapa? Ada ada aja kamu, Dib," ucap Arin.
"Tapi kok tadi Mister nggak pukul aja orang itu sih? Padahal aku sudah sangat geregetan loh. pengin mukul itu orang," Anisa ikut bersuara.
"Hust! Jangan sembarang memukul orang, ada hukumnya. Nanti malah kita yang rugi," balas Jiwo lalu dia teriak ke pedagang cendol. "Pak, bungkusin sepuluh lagi ya?"
"Siap, Mas," jawab si penjual cendol dengan wajah berbinar karena dagangannya ada yang memborong.
__ADS_1
Setelah bercengkrama di taman kota lumayan lama, Jiwo dan istrinya segera saja kembali ke rumah. Semua yang terjadi langsung diceritakan oleh istri Jiwo ke istri yang lain begitu mereka sampai rumah. Sedangkan Jiwo memilih masuk kamar dan merebahkan badannya disana. Seperti biasa, jika sudah merebahkan badan seperti itu, tak lama kemudian, Jiwo akan terlelap.
Para istri sedang asyik membahas tentang kejadian tadi. Bukan hanya itu saja pembahasan mereka juga mengarah ke hal yang lainnya. Namanya juga wanita, meski mereka sering bertemu, bahkan hidup satu rumah, ada saja yang bisa dijadikan bahan obrolan yang begitu seru.
"Emak lagi ngapain?" tanya Aisyah saat melihat Emak keluar kamar dengan menenteng sebuah tas yang lebar. Pandangan istri Jiwo sontak saja beralih ke arah Emak semua.
"Mau ngecek berkas berkas surat tanah," balas Emak. "Sepertinya Emak lupa naruh."
"Ya udah, sini aku bantu nyariin," tawar Aisyah dan dia langsung berdiri.
Emak menyuruh Aisyah mengeluarkan dua kotak yang ada di atas lemari di dalam kamar Emak. Dengan dibantu istri yang lain, dua kotak itu berhasil di ambil.
"Buat ngecek tanah sebelah. Rencananya kan mau dibangun sebagian buat kamar kalian," balas Emak. "Nah itu dia!" seru Emak saat Alin menumukan apa yang Emak cari. Alin pun menyerahkan berkas yang dia temukan ke tangan Emak.
"Ini siapa, Mak? Lucu amat?" tanya Aisyah yang sedang mengorek kotak yang satunya dan menemukan foto bayi yang sedang merangkak.
"Suami kalian itu," balas Emak.
"Wahh! Mister imut banget, gemesin ya?"
"Coba lihat," pinta istri yang lain. Mereka berebut ingin melihat foto masa kecil Jiwo. Bukan hanya foto masa kecil Jiwo yang ada disana, foto Jiwo pas masuk Tk, Sd dan Jiwo saat remaja juga ada. Di sana juga ada foto kakak dan adik Jiwo serta Emak juga Bapak.
__ADS_1
"Mak ini tanggal apa sih?" tanya Alifa saat melihat sebuah tanggal di sebuah bingkai dan ada foto Jiwo yang masih bayi sedang berbaring.
"Itu tanggal lahir Jiwo, tiap bingkai kan ada tanggal lahirnya anak anak Emak."
Alifa nampak manggut manggut sambil menatap tiga bingkai foto milik Jiwo serta kakak dan adiknya.
"Kalau ini tanggal lahir Mister, berarti besok Mister ulang tahun dong," ucap Alena. "Lihat tuh tanggalnya," tunjuk Alena ke arah kalender yang menggatung di dinding delat televisi. Semua mata langsung beralih memandang ke arah yang sama.
"Ah iya benar, besok Mister ulang tahun!" seru Alana.
"Wah! iya, duh gimana nih? Apa yang akan kita lakukan?" ucap Arum. Seenggaknya kita harus merayakannnya. "Ini ulang tahun pertama Mister setelah menikah loh."
"Iya, tapi ini mendadak banget, apa yang akan kita buat?"
"Kita juga harus kasih Mister hadiah."
"Nah iya, hadiahnya apaan? Mana udah sore begini, pasti toko toko udah pada tutup."
Semua istri seketika langsung berpikir, hingga tiba tiba Arum berseru, "Ah! Aku ada ide."
...@@@@@...
__ADS_1