MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Obrolan Suami Istri Yang Begadang


__ADS_3

"Kalau nolak, maka aku yang akan ciumin kamu, gimana?" ancam Jiwo.


"Emang berani?" cibir Alena meremehkan.


Jiwo langsung menyeringai, tanpa pikir panjang dia langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Alena.


Cup!


Mata Alena sontak membelalak. Dia benar benar terdiam dengan degup jantung lebih cepat dari biasanya. Jiwo melepas bibirnya lalu menatap wajah Alena dengan senyum kemenangan.


"Mister!" pekik Alena sambil menutup mulutnya.


"Kenapa?" tanya Jiwo sambil cengengesan.


"Mister telah mencuri ciuman pertama saya!"


"Hahaha ..." tawa Jiwo sontak meledak. "Wah! Berarti aku beruntung dong menjadi yang pertama? Kalau bibir aja yang pertama, berarti yang lain ..."


"Hih! Mister mesum."


Hahaha ... kan, mesumnya sama istri sendiri? Nggak salah dong ya?"


Alena hanya mendengus dan dia hendak memiringkan tubuhnya tapi tidak bisa karena sebagian tubuhnya tertindih kaki Jiwo. Akhirnya dia diam dan pasrah hingga tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata suami yang sedari tadi memandanginya sambil mengulum senyum.


"Mister, kenapa lihatin aku terus?" tanya Alena sembari menahan rasa malu. Senyum Jiwo melebar lalu dia mengecup kening Alena dengan segenap perasaan hingga wanita itu merasa sangat nyaman.


"Karena kamu cantik, Dek," jawab Jiwo setelah bibirnya terlepas.

__ADS_1


"Bohong!"


"Benar, Sayang. Aku tuh sempet heran loh, kalian itu kenapa pada cantik cantik banget? Apa saat kalian diculik dulu, dipilih satu persatu?"


"Mungkin, Mister. Apa lagi kan, kita mau di jual, wajar jika para oknum mencari yang cantik. Tapi sebelumnya waktu di pengungsian, kita memang sudah saling kenal, Mister. Cuma tidak seakrab sekarang."


"Nah kan, makanya aku heran, kenapa kalian cantik cantik banget."


Mereka saling melempar senyum, sejenak mulut mereka terdiam. Hanya dua pasang mata yang saling menatap dan mengagumi masing masing pihak dari dalam hati.


"Mister, ini kakinya bisa diangkat nggak?" pinta Alena sambil terus bergerak pelan untuk menyingkirkan kaki kekar suaminya.


Bukannya mengabulkan, Jiwo malah terkekeh lirih, "Nggak mau. Ini nyaman."


"Nanti Mister hilaf loh," balas Alena mengingatkan. Namun Jiwo semakin cengengesan dan merasa sangat gemas melihat wajah Alena.


Kening Alena berkerut dengan mata memicing menatap suaminya. "Apa Mister lupa? Bukankah Mister sendiri yang melarang kami agar tidak memikirkan hubungan suami istri?"


Jiwo tersenyum tipis. Dia mengangkat kaki yang menindih tubuh Alena dan menarik pinggang sang istri hingga posisi mereka berubah. Jiwo memeluk istrinya dari belakang.


"Sejujurnya, aku tuh merasa dilema loh, Dek," ungkap Jiwo membuka obrolan kembali.


"Dilema kenapa?" tanya Alena dengan kening yang berkerut. Matanya sedikit melirik ke arah belakang.


"Sebagai laki laki, tentu saja aku ingin menyentuh kalian. Apa lagi kalian istri istriku dan aku punya hak. Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya bagaimana. Jika kita ditakdirkan berpisah, terus nasib kalian bagaimana? Saya takut nanti kalian akan kesusahan mencari pendamping hidup karena kalian telah aku sentuh. Terus nanti kalian akan dianggap wanita yang tidak benar. Itu yang selalu mengganjal dalam benakku, Dek. Di tambah lagi oknum oknum itu masih mengincar kalian, bukankah itu semakin membingungkan?"


Alena nampak manggut manggut. Apa yang dikatakan sang suami ada benarnya. Jalan takdir memang susah ditebak. Sekarang Alena mengerti isi hati suaminya yang sebenernya.

__ADS_1


"Harusnya, Mister bicarakan hal ini pada yang lainnya. Mister nyuruh kami terbuka, tapi Mister sendiri nggak terbuka pada kami. Kalau Mister terbuka kayak gini kan enak? Jadi nanti bisa cari solusi sama sama. Kami semua itu sayang sama Mister, sayang sama Emak. Disini kami menemukan keluarga yang melindungi kami, bukankah sangat pantas jika kami juga memberikan apa yang menjadi hak Mister?"


Jiwo makin mengeratkan lingkaran tangannya. Dia juga sekarang lebih berani bertindak duluan meski hanya sebatas mencium leher istrinya.


"Maaf ya, Dek. Secara tidak langsung, aku sudah berlaku tidak adil pada kalian. Tapi apa benar kalian semua siap disentuh oleh aku, Dek?"


"Loh, pas kemarin pagi pagi kan sudah dibahas? Malah Mister yang melarang keras kita agar tidak mikirin hal begituan."


"Hehehe ... iya, yah? Ya udah deh, besok kita bahasa lagi."


"Besok Mister libur lagi?"


Iya lah, Mau ngurusin jendela dan yang lainnya."


Alena kembali mengangguk dan mereka terdiam seperti kehabisan bahan pembicaraan. Pikiran mereka pun berkelana kemana mana, tapi mereka semakin merapat demi rasa nyaman yang hadir sejak tadi.


"Dek," Jiwo kembali membuka suara beberapa saat kemudian.


"Iya, Mister kenapa?"


"Kamu sendiri gimana, Dek?"


"Aku? Maksudnya?"


"Iya kamu ... kamu sendiri gimana? Mau disentuh atau tidak, Dek?"


Deg!

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2