
"Nanti temenin begadang ya, Dek?"
"Temenin?"
"Iya," balas Jiwo sambil merapatkan badannya dengan badan sang istri. "Aku pasti nanti nggak bisa tidur lagi."
"Ya udah, nanti aku temenin, tapi nanti kalau aku ngantuk, aku tidur duluan nggak apa apa?"
"Nggak apa apa, Sayang."
Jiwo mengeratkan lingkaran tangan kanannya di pinggang Alena. Jika boleh jujur. sejak malam pertamanya bersama Alana, hasrat Jiwo terus bergejolak jika sedang bersama para istri. Jiwa liar Jiwo sangat ingin menyentuh istri istrinya satu persatu. Apa lagi banyak faktor yang mendukung Jiwo untuk melakukannya. Salah satunya, dia sudah punya hak penuh atas semua istrinya, terus tentang cerita oknum yang masih mengincar ketiga belas istrinya, membuat Jiwo berpikir dia memang harus menyentuh semua istrinya agar mereka benar benar terlindungi luar dan dalam.
Namun, dalam sisi hati Jiwo yang lain, dia masih merasa tidak tega jika harus merusak semua istrinya. Dia takut, jika disaat takdir membawa mereka kembali ke negaranya, mereka akan kesulitan mencari pendamping hidup lagi. Apa lagi mereka wanita, pastinya akan banyak cibiran buruk yang menghampiri mereka nanti.
"Mister nggak lapar? Dari siang Mister belum makan loh," pertanyaan Alena membuyarkan pikiran Jiwo yang sedang berkelana.
"Laper sih. Kita keluar yuk, Dek? Aku lagi pengin makan di luar?"
"Loh, tapi kita udah siapin makanan loh buat Mister. Lagian, masa aku keluar pake daster?"
"Ya nggak apa apa. Nanti dilapisi jaket, Yuk?"
"Nanti kalau yang lain pada iri gimana?"
"Hari ini kan memang jatahnya kamu, Dek? Pasti mereka mau ngerti lah. Mau nggak nemenin makan diluar?"
Alena pun mengiyakan. Mereka segera bangkit dan Jiwo meraih dua jaket yang ada di lemarinya. Satu jaket dipakai sendiri, satu jaket dia kasih untuk istrinya. Pelan pelan mereka keluar dari kamar menuju arah dapur. Mereka keluar rumah lewat pintu belakang. Agar tidak menimbulkan suara bising, Jiwo menuntun salah satu motor yang biasa dia gunakan buat pergi, agak menjauh dari rumah. Setelah dirasa aman, mereka segera berangkat.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Jiwo dan Alena sudah sampai di tempat tujuan. Sekarang mereka berada di tempat penjual nasi goreng pinggir jalan yang sudah lama menjadi langganan Jiwo. Setelah memesan dua porsi nasi goreng, Jiwo dan Alena memilih duduk di atas tikar bersandar pada gerbang sebuah toko.
Beberapa saat kemudian pesanan nasi goreng mereka datang. Mereka segera menyantapnya sembari bercengkrama.
"Hmmm ... enak banget, Mister," puji Alena yang terlihat sangat lahap menikmati nasi goreng untuk pertama kalinya. Jiwo hanya tersenyum lebar melihat tingkah istrinya yang menggemaskan sambil menikmati makanannya.
Tidak sampai dua puluh menit, nasi goreng mereka telah habis. Selain sangat kenyang, Alena juga merasa sangat senang bisa makan berdua dengan sang suami. Jiwo juga merasa senang bisa membuat salah satu istrinya bahagia dengan cara sederhana. Karena waktu yang sudah malam, mereka memilih langsung pulang dan menghabiskan waktu berdua di dalam kamar.
Karena merasa gerah, Jiwo melepas kaosnya hingga membuat mata Alena hampir melompat dari tempatnya. Apa lagi saat Jiwo mulai berbaring disebelahnya, Alena semakin dibuat salah tingkah.
"Mister, kenapa nggak pake baju?" tanya Alena sedikit agak gugup.
"Gerah, Dek. Panas banget," balas Jiwo setelah menyalakan kipas angin kecil yang tergeletak di lantai di sebelah kasur.
"Ya wajarlah gerah, orang Mister mandinya cuma tadi pagi aja," cibir Alena.
Alena bergidik sambil melirik, seakan akan mengatakan kalau suaminya itu jorok. Tapi Jiwo malah terkekeh lalu mencium aroma ketiakya sendiri. Di saat bersamaan, timbullah ide untuk mengerjai Alena.
"Dek?"
"Hum?"
"Kamu mau nggak?"
"Mau apa, Mister?"
Hisap aroma ketiakku?" tanya Jiwo sambil cengengesan. Sontak saja mata Alena langsnung memicing.
__ADS_1
"Hih! Jorok!"
"Enak kok, Dek. Seger banget nih ... hmmm ..." balas Jiwo sambil praktek cium ketiaknya yang berbulul lumayan lebat.
"Apaan Sih Mister? Jorok banget, ih."
Tapi Jiwo tidak menyerah begitu saja. Dia bergeser ke arah Alena dan mengunci tubuh Alena dengan salah satu kakinya di silangkan dan menindih paha sang istri. Alena yang mendapat serangan dari Jiwo berusaha membelot, dan terjadilah perdebatan kecil diantara keduanya dengan sesekali disertai suara tawa.
Mister, ih ... lepasin," rengek Alena meski dalal hatinya dia bahagia di dekap Jiwo saat ini.
"Cium ketiakku dulu," balas Jiwo memberi syarat.
"Apaan sih, Mister. Kayaknya nggak ada kerjaan aja, ciumin ketiak."
"Ya emang nggak ada kerjaan, makanya ayo cium!"
"Nggak mau!"
"Kalau nolak, maka aku yang akan ciumin kamu, gimana?" ancam Jiwo.
"Emang berani?" cibir Alena meremehkan.
Jiwo langsung menyeringai, tanpa pikir panjang dia langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Alena.
Cup!
Mata Alena membelalak seketika.
__ADS_1
...@@@@@...