MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Aturan Untuk Para Istri


__ADS_3

"Sekarang sudah jelas kan? Tidak akan ada yang lepaskan, tapi kalian juga harus mematuhi peraturan yang saya buat selama kalian jadi istri saya."


"Peraturan?" tanya Aluna. Semua istrinya sejenak saling pandang lalu kembali memandang satu satunya pria yang ada di depan mereka.


"Iya, saya juga mempunyai peraturan yang harus kalian patuhi," ucap Jiwo dengan menunjukkan wibawanya sebagai suami.


"Apa saja peraturannya, Mister?" Andin bertanya.


"Oke, dengarkan baik baik dan tolong ingat dalam hati kalian. Saya tidak mau ada pertengkaran diantara kalian. Saya mau rumah tangga yang saya jalani selalu terlihat damai dan tenang. Jika ada yang bertengkar, harus saling mengalah dan secepatnya diselesaikan. Jika ada yang mengganjal dalam hati kalian, sampaikan kepada saya. Jangan dipendam karena saya tidak mungkin mengetahui isi hati kalian jika kalian tidak bercerita. Dan juga, jika kalian merasa saya kurang adil, tegur saya. Tunjukan dimana letak salah saya. Apa kalian mengerti?"


"Saya sih mengerti, Mister. Tapi apa Mister sanggup menghadapi kami semua? Maksud saya, kita semua kan mempunyai sifat yang berbeda beda, Mister?" Tanya Alin.


"Semua itu tergantung sikap kalian juga bagaimana? Kalau egoisnya lebih besar, mungkin saya sendiri nggak bakalan sanggup. Tapi yang pasti, saya tidak akan pernah memilih diantara kalian. Ada yang mau bertahan sama saya ya berarti itu yang harus saya pertahankan."


Semua istri Jiwo nampak manggut manggut sebagai tanda mengerti dengan apa yang laki laki itu ucapkan. Entah apa yang sedang mereka pikirkan, tapi untuk sejenak keadaan memang terlihat hening. Jiwo juga hanya mengulas senyum sembari meraih cangkir kopi yang isinya tinggal setengah.

__ADS_1


"Mister, apa saya boleh tanya sesuatu? Jujur, ini sangat mengganjal dalam hati saya sendiri," kini Alifa yang bertanya.


"Katakan saja, mumpung kita lagi membahas rumah tangga kita, apa yang ada dalam benak kalian, keluarkan saja."


"Gini, Mister. Kita menikah sudah jalan hampir satu minggu, Apa Mister sama sekali tidak ingin meminta hak Mister sebagai seorang suami?"


"Benar, Mister. Kenapa Mister tidak memintanya?" sambung Alena.


Sejenak Jiwo tercengang dengan pertanyaan kedua istrinya. Jiwo memandang satu persatu istrinya. Jiwo sedikit kaget saat menangkap eksrpesi mereka. Sepertinya semua istri Jiwo telah sepakat untuk membahas masalah ini.


"Apa kalian sering membahas tentang ini di belakang saya?" tanya Jiwo, dan di jawab anggukan oleh beberapa istrinya. "Kenapa?"


Senyum Jiwo kembali tersungging tipis sembari mencerna setiap kata yang diucapkan istrinya. Sebenarnya ini kesempatan Jiwo untuk meminta haknya sebagai suami, tapi lagi lagi Jiwo harus menahan diri karena perjanjian yang dia buat dengan para istrinya. Cukup Alana saja yang Jiwo sentuh, istri yang lainnya biarlah begitu adanya. Jiwo tidak mau pada saatnya mereka kembali nanti, mereka kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi seoarang wanita.


"Kan saya sudah bilang, jangan terlalu memikirkan hal seperti itu. Apa kalian lupa dengan apa yang kalian ucapkan sebelum kita menikah. Saya tidak apa apa jika saya tidak mendapat hak saya sebagai suami kalian. Saya tidak mau disaat nanti kita berpisah, ada sebuah penyesalan yang bisa saja terjadi diantara kita. Saya tidak akan menuntut apapun dari kalian, mengerti?"

__ADS_1


"Tapi Mister ..."


"Sudah, saya bilang jangan terlalu dipikirkan. Oke?" ucap Jiwo penuh penekanan hingga mau tidak mau semua istri Jiwo mengangguk pelan. "Apa ada yang mau di sampaikan lagi?"


"Belum ada, Mister."


"Ya udah, kalau gitu saya mau mandi, hari ini siapa yang mau ikut jualan?"


"Saya Mister," ucap Aluna.


"Baiklah."


Jiwo bangkit dan beranjak menuju kamar untuk mengambil handuk. Matanya menangkap sosok tubuh wanita yang masih terlelap tapi dengan selimut yang tersingkap hingga tubuh polosnya terpampang di depan mata. Jiwo pun mendekat dan kembali menyelimuti tubuh Alana. Dikecupnya pipi Alana sejenak lalu Jiwo bangkit dan beranjak keluar kamar mandi.


Sementara itu jauh di tempat lain, senyum Hendrik juga terkembang sempurna setelah mendapat laporan kalau ketiga belas wanita itu telah ditemukan. Hendrik semakin bahagia saat mendengar, pernikahan yang dijalani ketiga belas wanita itu hanya pernikahan sandiwara. Dengan kabar ini, Hendrik sangat meyakini kalau ketiga belas wanita itu pasti masih terjaga mahkotanya. Hendrik merasa harus bergerak cepat untuk menguasai wanita itu kembali.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus mencari cara agar wanita wanita itu terusir dari kampung ini. Tapi Siapa yang harus aku ajak kerja sama?"


@@@@@@


__ADS_2