MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Jalan Jalan Pagi


__ADS_3

Tanpa terasa kelima istri Jiwo, Aluna, Alena, Alana, Arin dan Anisa telah memasuki bulan ke delapan kehamilan. Perut mereka sudah sangat terlihat besar. Mereka tinggal menunggu saat anak yang mereka impikan lahir ke dunia ini.


Kabar bahagia juga datang dari istri Jiwo yang lain. Aisyah dan Alifa kini sedang mengandung lima bulan, Adiba, Arum dan Alina, masing masing sedang hamil dua bulan. Yang belum mendapat kesempatan adalah Aziza, Andin dan Anum. Ketiga istri jiwo yang belum hamil pun selalu sabar dan berdoa agar secepatnya merasakan kehamilan yang sama seperti istri Jiwo yang lain.


Beruntung bagi Jiwo, kehamilan ke sepuluh istrinya tidak ada yang ngidam aneh aneh. Mereka ngidam sewajarnya seperti orang hamil kebanyakan. Yang paling aneh cuma ngidamnya Arin dan Arum. Mereka semakin tergila gila dengan bau badan Jiwo di awal awak kehamilannya.


Jatah penyodokan pun kembali di atur ulang oleh Jiwo. Berhubung mereka lagi hamil, Jiwo memilih berkonsultasi dengan dokter tentang hubungan ranjang Jiwo dan istri istrinya. Jiwo melakukan hal itu agar dia bisa lebih pandai bersikap saat menyodok lubang istrinya dengan baik di saat kehamilan mereka.


Kehamilan bersama para istri Jiwo juga sering menjadi perhatian para warga. Terutama jika istri istri Jiwo sedang melakukan aktifitas, mereka selalu menjadi pusat perhatian setiap berada di suatu tempat.


Seperti pagi ini, Jiwo dan lima istrinya yang perutnya sudah besar juga jadi pusat perhatian para warga yang sedang berolah raga pagi atau sekedar lewat di jalan komplek yang menghubungkan desa tempat tinggal Jiwo berada dan desa sebelah. Jiwo dan para istrinya yang saat ini sedang jalan jalan pagi di jalan depan rumahnya yang menuju ke arah persawahan dan kampung sebelah, menjadi pusat perhatian orang orang yang melintas.


"Ya ampun, Mas Jiwo, istrinya kompak bener? Hamilnya barengan," celetuk seorng ibu.


"Iya nih, Bu, Alhamdulillah," balas Jiwo sambil cengengesan.


"Wah! Semuanya sehat kan, Mas Jiwo?" tanya Ibu yang lain.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Bu. Semuanya sehat," Jiwo masih menjawab dengan ramah.


Syukurlah, Mas. Pasti bakalan repot banget ya, Mas?"


"Hehehe ... iya, Bu, tapi nggak apa apa. Namanya juga orang tua, wajar kalau di repotin anak. Apa lagi mereka masih bayi."


"Benar, Mas, tapi kamunya juga harus jaga kesehatan, Mas. Kasian nanti istri kamu jika kamu sakit."


"Iya, Bu, terima kasih."


Dan mereka pun saling undur diri dengan arah yang berlawanan. Kini Jiwo dan para istri telah sampai di suatu tempat di mana tempat itu seperti menjadi garis akhir jika para warga melakukan olah raga pagi atau sekedar jalan jalan.


"Nggak nyangka ya, Mister. Tarnyata aku berada di negara ini sudah hampir dua tahun lamanya," ucap Anisa sambil melempar pandangannya ke arah hamparan sawah yang sepertinya habis di bajak kemarin.


"Iya, aku juga nggak nyangka, disini aku malah mendapatkan suami yang hebat," sambung Alana.


"Kita semua satu pemikiran. kadang, aku juga sering berpikir, apa jadinya hidup aku jika dulu tidak sembunyi di dalam mobil yang membawa kita ketemu sama Mister, pasti tidak akan seindah ini perjalanan hidupku," sambung Aluna.

__ADS_1


Jiwo langsung mengulas senyum sambil menoleh ke arah istrinya. "Jangan terlalu memikirkan hal hal yang buruk, Sayang. Nikmati aja apa yang sedang kita jalani saat ini."


"Wajar jika kita mengingatnya, Mister. Kan kita yang mengalaminya. Seperti Mister, pasti juga pernah mikirin manta pacar Mister yang sekarang menjadi janda, iya kan?" tuduh Alena.


"Loh, loh, loh, kok malah larinya kesana? Apa hubungannya?" ucap Jiwo berkilah. Biar bagaimanapun Jiwo juga pernah terlintas kenangan saat dirinya masih bersama Titin. Hubungan selama tujuh tahun tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja. Apalagi Selama tujuh tahun itu, Jiwo yang sering tersakiti. Wajar jika kenangangnya sangat membekas.


Titin sekarang memang sudah jadi janda. Sejak Jiwo menjebloskan Malik ke penjara, katanya hubungan mereka merenggang. Di tambah lagi Pak Rohim yang sekarang sudah tidak menjadi lurah dan istrinya semakin membenci sikap Titin, membuat wanita itu memilih lepas dari ikatan pernikahannya dengan Malik.


"Jangan jangan, mendengar mantan kekasihnya sudah jadi janda, Mister bakalan mendekatinya," Aluna ikut berprasangka. "Secara hubungan tujuh tahun pasti membekas banget kenangannya."


"Iya benar, nanti kalau Mister balikan sama mantannya yang sudah menjadi janda, aku bakalan cincang cincang isi celana Mister," ancam Anisa.


"Astaga!" pekik Jiwo lalu dia terkekeh karena merasa gemas dengan pemikiran istri istrinya.


Di saat bersaman, Alena nyeletuk sambil menunjuk ke salah satu arah. "Nah, panjang umur tuh! Ada mantan pacar Mister! Wah, jangan jangan sudah janjian yah?"


"Aduh!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2