MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Alasan Para Istri


__ADS_3

"Lagian aku tuh heran, kenapa sih kalian lebih sering mempermasalahkan hubungan ranjang? Dan tidak mempermasalahkan nafkah yang berbentuk uang? Kenapa? Hayo!"


Semua istri istri Jiwo saling pandang satu sama lain, kemudian mereka saling melempar senyum tanpa ada yang menjawab pertanyaan suaminya. Jiwo yang duduk bersila kaki di hadapan mereka juga ikut tersenyum lebar melihat satu persatu wajah istrinya dalam keadaan malu.


Wajar jika Jiwo melempar pertanyaan seperti itu, karena apa yang Jiwo tanyakan memang ada benarnya. Selama menikah, istri istri Jiwo sama sekali tidak pernah menuntut nafkah dalam bentuk uang. Setiap ada pembahasan, justru yang dibahas lebih sering ke masalah hubungan ranjang.


Meski para istri tidak pernah menyinggung soal uang, tapi sebagai suami yang ingin bersikap bijak, Jiwo menyimpan uang untuk istri istrinya di dalam kamarnya. Mungkin memang saat ini semua istrinya tidak membutuhkan uang, tapi suatu saat nanti bisa saja mereka butuh untuk suatu keperluan.


"Bagaimana mungkin kami bisa mempermasalahkan soal uang, Mister? Kalau selama disini saja kebutuhan perut kita terpenuhi," jawab Adiba mewakili isi hati semuanya.


"Tapi apa kalian nggak ingin kayak wanita lain gitu loh? Membeli alat rias, atau kebutuhan lainnya?"


"Kebutuhan lain seperti apa, Mister? Untuk make up aja, kami cukup pake bedak dan lipstick. Nggak mau berlebih. Untuk pakaian, kita nggak terlalu butuh baju bagus, karena kita kan tiap hari paling di rumah dan ke pasar," balas Aisyah.


"Mister nggak perlu merasa nggak enak sama kita. Bagi kita, Mister sudah menjadi suami yang baik, jadi Mister jangan merasa terbebani karena kami nggak minta uang," sambung Alifa.

__ADS_1


Jiwo menghirup nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ada ketenangan yang menyeruak di dalam hati Jiwo saat mendengar penuturan Alifa. Jiwo tidak pernah menyangka ketiga belas istrinya akan sepengertian itu dalam mengungkap rasa syukur karena ditolong Jiwo dalam masa sulit mereka.


"Baiklah, baiklah, terserah kalian saja enaknya bagaimana. Tapi ingat, kalau ada apa apa, langsung ngomong sama saya. Terutama jika ada keinginan pribadi, segera dibicarakan, jangan dipendam, oke?"


Semua istri Jiwo kompak mengiyakan lalu mereka saling melempar senyum dan mereka beralih kepembahasan lainnya. Emak pun tak lama kemudian ikut gabung dengan mereka setelah musyawarah rumah tangga anaknya selesai. Tak lupa juga, Emak menceritakan kejadian di warung saat bertemu Darmi tadi sore. Jiwo tak berkomentar apapun, dia cukup mendengarkan cerita Emaknya dengan baik.


Jiwo memang sudah sangat tidak peduli dengan Darmi dan anak serta menantunya. Setelah kejadian bersama Pak Lurah, Jiwo memang tidak pernah lagi mendengar sesuatu tentang mereka. Bahkan dia juga tidak pernah lagi melihat Malik dan Titin lewat di komplek rumahnya. Biasanya mereka rutin ke rumah Bu Darmi dan sering tak sengaja ketemu Jiwo di jalan. Tapi beberapa hari ini, batang hidung mereka sama sekali tidak kelihatan.


Saking asyiknya ngobrol, tak terasa mereka mendengar suara merdu penanda waktu ibadah telah datang. Mau tidak mau obrolan mereka pun berhenti dan membubarkan diri untuk melakukan ibadah di waktu senja. Para istri Jiwo melakukan ibadah secara bergantian, kecuali yang sedang datang bulan.


"Mister loh seneng banget tiap malam duduk di sini," ucap Aziza sambil membawa segelas kopi buat suaminya. Dia lantas duduk di tembok tepi teras yang tingginya sekitar satu meter.


"Ya abis mau ngapain lagi, kalau jam segini kan memang nggak ada kegiatan," balas Jiwo sedikit tertawa saat mendengar ucapan istrinya.


"Mister nggak pengin main gitu? Ngumpul sama teman, buat ngusir jenuh."

__ADS_1


Lagi lagi Jiwo tertawa lirih. "Udah tua, Dek. Udah bukan jamannya main main lagi. Teman teman juga kebanyakan udah pada nikah, ya mending di rumah, sama istri."


"Loh, terus sebelum nikah, Mister ngapain kalau jam segini?"


"Biasanya ya aku paling beres beres dagangan, Emak juga mempersiapkan bahan bahan dagangannya."


Aziza nampak ber'oh' saja sambil manggut manggut. "Oh iya, nanti sebelum tidur, Mister minum jamu dulu yah?"


Kening Jiwo mengernyit sembari menatap istrinya. "Jamu? Jamu apa?"


"Cuma ramuan tradisional kok, Mister. Biar Mister tetap sehat dan bugar. Apa lagi kan Mister punya istri banyak, biar makin kuat gitu saat di ranjang."


"Astaga!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2