
Hari berganti lagi dan pagi kini menyapa kembali. Namun pagi ini ada yang berbeda dari biasanya. Di salah satu rumah penduduk, beberapa wanita nampak lebih semangat menjalani paginya. Mereka terlihat ceria saat mengerjakan aktifitasnya di pagi itu dengan menyiapkan beberapa makanan sederhana. Alasan mereka lebih ceria dari biasanya adalah karena pagi ini mereka mendapatkan kabar kalau suami mereka akan mengajak mereka semua main ke pantai.
Ya, Jiwo yang hari ini kembali libur jualan karena ingin mengajak para istrinya melepas penat sejenak dari rutinitas seperti biasanya dan juga buat penyegaran pikiran dari masalah masalah yang menimpa istri istri Jiwo. Pemberitahuan itu disampaikan oleh istri Jiwo yang semalam mendapat giliran menjadi teman tidur.
Kebetulan hari ini Emak juga libur jualan karena Emak juga merasa lelah setelah beberapa hari beraktifitas. Tapi Emak memutuskan untuk tidak ikut ke pantai. Emak hanya ingin istirahat di rumah saja. Awalnya para menantu keberatan namun pada akhirnya mereka mengalah. Mungkin karena faktor usia jadi Emak sudah tidak terlalu suka piknik. Tapi adanya Emak di rumah ada untungnya juga bagi Jiwo, karena kaca yang pecah di ruang tamu akan dipasang hari ini. Jadi Emak bisa mengawasinya.
Di saat para istri lagi sibuk menyiapkan bekal buat acara piknik, Jiwo justru masih terlihat santai di dalam kamarnya. Sejak matanya terbuka, dia hanya asyik bermain ponsel. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Jiwo baru bangkit dari kasurnya karena perutnya merasa mules, dia segera keluar kamar dan langsung menuju kamar mandi. Para istri yang melihat tingkah Jiwo hanya mengulas senyum karena merasa gemas.
"Kalian sedang masak apa?" tanya Jiwo beberapa menit kemudian setelah dia keluar dari kamar mandi. Badannya terlihat segar dengan rambut yang basah bertanda kalau dia sekalian mandi. Jiwo mendekat ke arah meja yang ada di dapur dimana beberapa hidangan sudah terjadi di wadah yang lumayan besar.
"Tuh, ada telur balado, tahu isi sama tumis kangkung. Mister mau dimasakin apa?" jawab Alena sembari bertanya pada suaminya.
"Nggak usah, ini aja sudah cukup. Tolong siapkan sarapan yah? Aku lapar."
"Baik, Mister."
Jiwo kembali melenggang ke kamar sebentar lalu keluar dengan pakaian rapi dan santai. Lantas dia beranjak menuju meja makan dimana hidangan sudah tersaji di atasnya. Sembari menyantap sarapannya, Jiwo sesekali melempar tanya pada istri istrinya. Pertanyaan pertanyaan sederhana yang Jiwo lontarkan membuat istri istrinya bahagia. Karena, dari pertanyaan Jiwo, mereka dapat merasakan perhatian dari seorang suami.
__ADS_1
"Aku mau ke rumah teman sebentar, mau ambil mobil," ucap Jiwo begitu selesai menikmati sarapannya.
"Nggak pake mobil yang di depan, Mister?"
"Nggak lah, mana cukup mobil itu untuk kalian naiki, ya udah aku pergi dulu," pamit Jiwo dan dipersilakan para istrinya. Jiwo pun melenggang pergi meninggalkan rumahnya.
Sementara itu di rumah yang berbeda, seorang wanita parubaya nampak masuk ke dalam rumah dengan wajah ditekuk. Tangannya menenteng sayuran dan yang lainya bertanda kalau wanita baru saja pulang dari belanjanya. Sedangkan di dalam rumah, seorang pria parubaya yang menjadi suaminya merasa heran melihat wajah sang istri yang terlihat kesal dan menahan amarah.
"Ibu kenapa? Kok pulang belanja wajahnya cemberut gitu?" tanya sang suami yang akrab dipanggil Pak Salim itu. Sejenak dia menyeruput kopinya yang sudah dingin.
"Sebel aja sama ibu ibu, pagi pagi udah gosip aja. Kayak nggak ada kerjaan lain," adu istri Pak Salim yang bernama Darmi.
"Tahu lah Bapak ini, nggak bisa buat tempat cerita istrinya," sungut Darmi.
"Cerita apa? Cerita tinggal cerita kok, malah marah," balas Pak Salim santai lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Percuma! Nanti kalau Ibu cerita, pasti Bapak akan nyindir nyindir terus, kayak nggak tahu Bapak aja."
__ADS_1
"Hahaha ... Ibu kok aneh, terserah ibu aja deh," ucap Pak Salim pasrah. Dia kembali menyimak berita yang sedang dia tonton.
Di saat itu juga, dari arah pintu utama, terlihat anak perempun Ibu Darmi datang dengan kondisi yang sama dengan Darmi, wajahnya ditekuk. Kedua orang tua yang melihatnya nampak kaget dengan kedatangan anaknya.
"Ini kenapa lagi, Pagi pagi kesini dengan wajah ditekuk juga, suamimu mana?" tanya Pak Salim
Mas Malik sudah ke toko, Pak," jawab Titin setelah duduk di kursi yang tak jauh dari tempat Ibu dan Bapaknya duduk.
"Ini ada apa pagi pagi udah kesini? Ada masalah?" tanya Bapak lagi.
"Enggak, cuma aku kesini disuruh Bapak mertua buat nyampein pesan untuk Ibu."
"Pesan? Untuk Ibu? Pesan apaan?" tanya Darmi dengan kening yang berkerut.
"Kita disuruh minta maaf sama keluarga Jiwo, Bu."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@@...